Cassanova (Chapter 2)

1015387-bigthumbnail - Copy

 

  • Title                       : Casanova
  • Scriptwriter        : Liana D. S.
  • Fandom               : f(x), Super Junior-M/ Henry Lau
  • Main Casts          : Amber Liu (Liu Yi Yun), Henry Lau (Liu Xian Hua)
  • Support Casts    : SMEnt’s China-line, Xing Zhao Lin (SMEnt’s Chinese Trainee), SNH48
  • Duration              : Three-shots (13K+ words total), in ‘Homo Homini Lupus’ series
  • Genre                   : Romance, Family, Action
  • Rating                   : NC (Not Children!)
  • Disclaimer          : Semua karakter dari SM Entertainment dan SNH48 bukan milik saya, tetapi milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Plot sepenuhnya milik saya dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.
  • Summary             : Seorang gadis tomboy tanpa sengaja bertemu seorang bocah violinis yang ternyata sangat mengerikan! Seperti stalker, bocah itu ada di mana pun Yi Yun berada. Apa yang akan dilakukan Yi Yun untuk menghalau bocah violinis itu pergi? HenBer romance, children go away! Second story of ‘Homo Homini Lupus’ series.

***

Part 2

“Baguslah kalau kau sudah berbaikan dengan Baba dan Mamamu. Lagipula… hei, bandomu tidak buruk-buruk juga, kok.” ucap Yi Xing, suatu sore sepulang sekolah saat main basket dengan Yi Yun. Wu Fan, Zi Tao, dan Lu Han kakak Yi Xing juga ada di sana. Mereka berlima sering main bersama-sama, entah basket atau sepak bola. Mereka semua akrab sekali dengan lapangan, terutama Wu Fan si kapten tim basket dan Lu Han si kapten tim sepak bola.

“Terima kasih. Aku akan mencoba membiasakan diri dengan bando ini… Yup, kena!” Yi Yun cepat mendribble bola yang berhasil ia rebut dari Yi Xing, lalu mengopernya, “Wu Fan-ge!”

Wu Fan menangkap operan Yi Yun dengan tangkas. Lu Han mencoba menghentikannya, tetapi… plos! “Argh! Three point!” Lu Han mengacak-acak rambutnya, “Hei, bisakah kita keluarkan Wu Fan dari lapangan ini? Zi Tao, masuk lagi!”

“Sialan! Kalau aku tak boleh ikut main basket, kau juga tak boleh masuk lapangan sepak bola lain kali kita bertanding!”

“Astaga, kalian berdua!” Yi Xing menertawakan dua orang tertua di kelompok itu, “Sejak pertama bertemu, kalian tidak pernah berhenti bersaing!”

“Biarkan saja Wu Fan-ge dan Lu Han-ge. Mereka memang ditakdirkan untuk bersaing selamanya.” Zi Tao ikut-ikutan menertawakan kakaknya. Wu Fan dan Lu Han menghampiri didi masing-masing dan memiting gemas adik-adik mereka.

Bahagia. Itu satu kata yang menyimpulkan suasana sore itu di lapangan basket dekat sekolah. Yi Yun tak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. Pemandangan yang hangat di depannya mungkin tak akan terasa begitu hangat jika ia tak bertemu dengan Casanova itu. Casanova yang saat ini masih sendirian. Sejenak, wajah Yi Yun murung lagi.

Seandainya Xian Hua juga ada di sini. Apa dia sudah sehat, ya?

Set! Greb!

Dua pasang kakak-beradik di lapangan itu sangat terkejut. Mereka mendapatkan tamu. Bukan mereka, tepatnya, tetapi Yi Yun.

“Hei! Apa kabar, Tampan? Oh, kau pakai bando? Cantik!”

Yi Yun terbelalak. Xian Hua tiba-tiba saja sudah memeluknya erat dari belakang dan menyapanya akrab. Zi Tao marah karena jiejienya dipegang-pegang sembarangan oleh orang asing. Ia menarik Xian Hua dari Yi Yun dan sudah siap melayangkan pukulan pada Xian Hua ketika Wu Fan menahannya. “Zi Tao, turunkan tanganmu. Dia tidak berbahaya.”

Zi Tao menurunkan tangannya, tetapi dia masih marah. “Dia memeluk Jiejie! Memangnya dia siapa?” tanyanya penuh rasa tidak suka. Yi Xing membulatkan mulutnya. “Bukankah dia itu Henry Lau si violinis? Kok dia bisa kenal kau, Yi Yun?”

“Ceritanya panjang,” Yi Yun menoleh pada Xian Hua yang masih tenang menghadapi kemarahan Zi Tao, “Kau, pergi dari sini. Aku yakin kau tidak membutuhkan apa-apa dariku, ‘kan? Kau cuma iseng saja kemari.”

“Tentu saja aku membutuhkanmu,” Xian Hua membetulkan kerah bajunya yang agak kusut setelah dicengkeram Zi Tao, “Hei, tak kusangka kau Casanova juga. Satu, dua, tiga, empat lelaki! Keren!”

“Sebaiknya kau katakan apa yang kau butuhkan sebelum aku benar-benar marah, Xian Hua.” ancam Yi Yun dengan tangan sudah terkepal di sisi tubuh. Xian Hua mengangkat tangan di depan tubuhnya, defensif. “Hoo, tenang dulu, Cantik. Aku janji, setelah aku mendapatkan apa yang kubutuhkan, aku akan pergi dari hadapanmu dan tidak akan muncul lagi. Aku cuma butuh satu hal, kok.”

Xian Hua mengetukkan ujung telunjuknya di depan bibir sambil tersenyum nakal. “Aku cuma butuh ciumanmu.”

Duak! Yi Yun langsung menendang Xian Hua. Pemuda itu terjatuh, tetapi dengan cepat ia menjegal Yi Yun. Posisi berbalik; Yi Yun terjatuh—dan Xian Hua menangkapnya sebelum tubuh gadis itu sempat menyentuh tanah. Xian Hua sudah mendekatkan wajahnya pada Yi Yun, tetapi Yi Yun menamparnya begitu keras sampai Xian Hua terlempar ke salah satu pohon di luar lapangan. Yi Yun menyandang tas sekolahnya, lalu cepat menarik dua saudaranya. “Ayo, kita pulang!”

Yi Yun, Wu Fan, dan Zi Tao pergi dari tempat itu secepatnya. Xian Hua bangkit dan mengejar mereka, terutama Yi Yun. Yi Xing menoleh pada Lu Han. “Gege, haruskah kita hentikan anak kecil itu?”

Lu Han menggeleng sambil tersenyum jahil. “Kalau kita hentikan, mungkin teman kita tidak akan bisa mendapatkan pejantan lagi, Yi Xing.”

***

Malam itu, Wu Fan dan Zi Tao sedang belajar dalam kamar mereka (ralat; Zi Tao sedang berlatih wushu, hanya Wu Fan yang belajar) ketika Yi Yun masuk secara tiba-tiba. “Whoa!” Zi Tao mengerem kakinya secara mendadak karena kaki itu hampir menendang Yi Yun, “Jiejie, ada apa? Kok mengungsi ke sini?”

“Aku khawatir dengan serangan Xian Hua, jadi aku ke sini. Dia suka menyerangku sembarangan. Kalau aku bersama kalian, setidaknya dia akan lebih berhati-hati.” Yi Yun merebahkan dirinya di atas ranjang Wu Fan yang kosong. Buku-buku yang ia bawa tergeletak begitu saja di lantai. Wu Fan yang melihat Yi Yun malas-malasan langsung menegurnya. “Baca bukumu kalau kau masih mau di sini. Aku tidak mau kau menggangguku karena kurang kerjaan seperti yang Zi Tao lakukan.”

Zi Tao nyengir bersalah. Ia menyelesaikan ‘latihan jurus’ yang ternyata mengganggu Wu Fan itu, lalu duduk di sebelah Yi Yun. “Baik, baik, Ge, aku belajar deh,” Zi Tao mengambil bukunya dan mulai membaca, mengikuti Yi Yun, tetapi lalu bertanya pada Yi Yun, “Xian Hua itu siapa, Jie?”

“Henry Lau, maksudku. Dia bilang Xian Hua adalah nama aslinya. Dia seorang pejantan soliter Casanova dan sepertinya, dia menjadikanku sebagai target kemesumannya yang berikutnya. Hih.” Yi Yun bergidik membayangkan perlakuan yang ia dapat dari Xian Hua selama dua hari ini. Zi Tao mengangguk-angguk. “Kelihatannya, dia benar-benar menginginkanmu kalau melihat sikapnya tadi siang. Ini bagus, Jie, akhirnya ada pejantan yang menyukaimu!”

Yi Yun melayangkan jitakan maut ke kepala didinya itu. “Kalau pejantan yang menyukaiku ternyata Casanova, lebih baik aku tidak pernah disukai pejantan sama sekali!”

Wu Fan meletakkan pulpennya di atas meja. “Aku bilang, jangan menggangguku.”

Refleks, Yi Yun dan Zi Tao kembali membaca buku masing-masing. Wu Fan memang tidak membentak mereka, tetapi suaranya yang rendah dan dominansinya yang kuat sudah cukup menakutkan. Hingga Wu Fan selesai belajar, Yi Yun dan Zi Tao tak bersuara, walaupun mereka berdua sangat ingin berbicara. Karena itu, Yi Yun dan Zi Tao lega sekali saat Wu Fan akhirnya menutup buku dan memasukkannya dalam tas sekolah.

“Aku benci sekali pada Casanova, tetapi ketika aku menceritakannya pada Mama, eh…. Mama malah senang! Mama sama sepertimu, Zi Tao, senang karena ada pejantan yang mengejarku.” kata Yi Yun segera setelah Wu Fan memasukkan buku terakhir ke dalam tas.

Baba juga senang?” tanya Zi Tao.

“Entah. Baba bilang ‘belum saatnya membicarakan masa depan’, lalu meninggalkan ruang tamu. Mama tertawa dan bilang kalau Baba mungkin takut teritorinya diserang Casanova. Sebenarnya, Baba juga senang anak perempuannya akan menjadi betina alfa baru. Mama malah mendukungku untuk membangun klan baru dengan Xian Hua. Mengesalkan.”

“Aneh, padahal Mama pernah bilang kalau Casanova adalah serigala yang tak bisa terikat dengan pasangannya. Memangnya Mama tega membiarkan Yi Yun-jie dengan pejantan seperti itu?” tanya Zi Tao yang cukup perasa untuk diajak bicara mengenai hal begini. Yi Yun mengangkat bahu.

“Mungkin, yang ingin coba dikatakan Mama adalah kau harus memanfaatkan Xian Hua supaya kau tak perlu susah membangun teritori.”

Yi Yun dan Zi Tao menoleh pada Wu Fan yang barusan berpendapat. Pemuda itu masih duduk di kursinya, menghadap dua adiknya. “Jadi… aku harus memaksanya membangun teritori kalau dia masih mengejarku? Maka aku akan mendapatkan kerja kerasnya, begitu?” tanya Yi Yun. Wu Fan mengangguk. “Casanova mungkin makhluk pemalas yang hanya suka bersenang-senang, tetapi mereka juga sangat tergantung pada keberadaan betina. Jika sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dari satu betina, maka hubungannya dengan betina itu akan selesai. Kau betina yang sulit, Yi Yun. Dia akan terus mengejarmu. Saat itulah, kau bisa memanfaatkan posisi tawarmu.”

Zi Tao bertepuk-tangan kagum. “Whoo, keren! Itu strategi yang bagus; kau bisa memakainya, Jie!”

Yi Yun mengernyit. “Kelihatannya, Xian Hua tak cukup bisa diandalkan untuk membangun sebuah teritori. Gege lihat ‘kan betapa mudahnya dia kukalahkan siang tadi? Selain itu, menurut Gege kenapa dia jadi Casanova kalau dia cukup kuat untuk ‘mengesahkan’ wilayah tertentu sebagai teritorinya?”

“Karena Casanova tak pernah mengerti arti harga diri dan kekuasaan pada hierarki. Mereka selalu sendirian; hidup mereka serampangan. Sama seperti Xian Hua. Ia mampu membuat teritori sendiri, tetapi dia tak pernah ingin melakukannya karena tak memiliki motivasi yang cukup. Kau bisa mulai memahamkannya tentang hal ini jika kau ingin memanfaatkannya.”

Memanfaatkan, ya? Itu terdengar kejam, bahkan untuk Xian Hua yang menyebalkan.

“Baik. Sekarang, anggap dia sudah memenuhi syarat yang kuberikan, lalu dia mendapatkan… ‘sesuatu’ yang ia inginkan dariku. Maka dia akan pergi, bukan? Dia yang membuat teritori, maka dia bisa saja mengusirku dari teritorinya karena sudah tidak membutuhkanku lagi.

“Saat itu, Jiejie bisa mengusirnya balik!” celetuk Zi Tao santai, “Kalahkan dia dan akui teritorinya sebagai teritorimu! Jiejie ‘kan kuat, dia pasti akan kalah.”

Yi Yun tersentak. “Hah?!”

“Kenapa? Ide Zi Tao itu lumayan bagus juga,” Wu Fan menyilangkan sebelah kakinya di atas lutut, “Tadinya, aku mau bilang kalau kau bisa langsung membunuhnya kalau dia akan pergi darimu. Sayang, ide itu terlalu beresiko karena Xian Hua seorang artis. Kematiannya akan diekspos besar-besaran.”

“Apa?! Tidak mau!”

Wu Fan dan Zi Tao menatap Yi Yun bingung. Yi Yun memalingkan muka. “Itu perbuatan manusia, Ge, Zi Tao. Kalian ingin aku melakukan perbuatan kotor begitu?”

Zi Tao tertunduk, sedangkan Wu Fan diam-diam mengepalkan tangannya. Keduanya sama-sama tak suka disamakan dengan manusia kebanyakan, yang hanya bisa memanfaatkan manusia lainnya demi keuntungan diri sendiri. Setelah direnungkan, mereka berdua sadar bahwa cara yang tadi mereka ungkapkan sangat ‘manusia’.

“Kutarik kata-kataku,” ucap Wu Fan kemudian, “Ide itu memang buruk. Terserah kau akan menyikapi Xian Hua seperti apa. Satu hal yang pasti adalah kau harus tegas dalam keputusanmu. Jika kau ingin melindunginya, lakukanlah. Jika kau membencinya, suruh dia menjauh atau kalahkan dia dalam pertarungan. Casanova akan berusaha keras mendapatkan betina yang ia inginkan, jadi kupastikan dia tak akan menjauh dengan mudah, kecuali kau rela ‘milikmu’ terambil bersamanya.”

Yi Yun mendesah keras. Enak saja Casanova itu mengambil ‘sesuatu’ dariku, tetapi kalau ia tak menjauh dengan mudah, maka aku harus….

….. membunuhnya?

***

Gesekan biola yang menggetarkan hati sayup terdengar dari luar rumah mewah tempat tinggal Xian Hua. Anehnya, melodi yang terdengar dari biola itu lebih menyedihkan, layaknya lolongan serigala yang kesepian. Xian Hua memang selalu sendirian, tetapi baru kali ini ia merasakan kesepian. Sudah beberapa hari ini, ia ‘puasa’ mendekati gadis-gadis dan hanya berdiam di rumahnya, menggesek biola, membuat dirinya semakin hanyut dalam perasaannya sendiri.

Kesepian itu menyakitkan.

Xian Hua menggeram marah. Dilemparnya biola yang gagal menghilangkan kesedihannya itu ke atas ranjang. Biola itu tumben sekali tidak bisa melaksanakan tugasnya menghibur Xian Hua. Mungkin, ini karena rasa sakit hati Xian Hua terlalu besar. Pemuda itu kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Napasnya cepat, tak teratur.

Bagaimana mungkin betina itu tak tertarik padaku?

Xian Hua jelas sakit hati. Selama ini, ia masih memiliki semangat hidup karena setiap gadis yang ia inginkan selalu jatuh ke pelukannya. Semua gadis akan memuaskannya selama beberapa saat, menjauhkannya dari kesepian untuk sementara. Sekarang, Xian Hua berada di puncak rasa kesepiannya, dengan diusirnya dia dari agensi dan jatuhnya penilaian para gadis terhadapnya. Ia sudah menemukan seorang gadis—betina—yang ia yakin bisa meredakan kesedihannya, tetapi malah betina itu tidak menginginkannya. Sudah beberapa kali Xian Hua ‘menyerang’ Yi Yun, tetapi gadis itu bersikeras tidak mau menemuinya lagi.

Sebelumnya, Xian Hua tak pernah melihat wanita sebagai objek yang begitu bernilai. Mereka hanya makhluk yang nikmat. Selesai. Yi Yun berbeda. Dari luar, dia kelihatan tidak menggoda selera, tetapi begitu dia menunjukkan sisi kewanitaannya dengan menjaga Xian Hua malam itu….

“Aku akan keluar untuk buatkan makanan. Di rumahmu tidak ada orang lain, ‘kan? Kau tidur saja di situ, aku akan cepat kembali.”

“Nih, cepat buka mulut supaya aku cepat pergi dari sini!”

“Omong-omong, di rumah ini tak ada orang lain selain dirimu? Kalau aku pergi, siapa yang mengurusmu?”

…dia menjadi wanita yang teramat bernilai bagi Xian Hua. Yi Yun membuat Xian Hua merasa tidak lagi menjadi Casanova, melainkan manusia serigala yang memiliki keluarga. Menjadi anak serigala kecil yang masih harus banyak diurusi. Menjadi serigala kecil lemah dan butuh bantuan seorang kakak. Menjadi seorang pejantan alfa yang letih, yang membutuhkan kasih sayang betinanya. Hanya Yi Yun yang mampu membuatnya merasa begitu hanya dalam satu kali pertemuan.

Betapa Xian Hua menginginkan Yi Yun. Xian Hua merindukan kehangatan yang ia dapatkan malam itu setelah ia mabuk karena stres dikeluarkan dari agensi. Xian Hua ingin memiliki Yi Yun untuk dirinya sendiri, mendambakan untuk memiliki keluarga yang sama seperti serigala yang lain. Jiwa Casanovanya melayang entah ke mana karena ia yakin, jika Yi Yun sudah ia tundukkan, ia tak akan lagi sendirian layaknya Casanova.

Xian Hua bangkit secepatnya dari tempat tidur, lalu mematut penampilannya di depan cermin. Setelah siap, Xian Hua tersenyum pada bayangan dirinya yang tampan itu.

Aku akan mendapatkanmu hari ini, Yi Yun.

Tak ragu, Xian Hua melesat keluar rumah melalui jendela kamarnya.

***

Kelas fisika, seperti biasa, adalah kelas yang membosankan bagi Yi Yun. Aku capek duduk begini. Apa si botak di depan kelas tidak mau memberikan soal yang bisa kukerjakan di papan tulis? Lebih baik aku berdiri di sana daripada duduk terus seperti ini, gerutu Yi Yun, setengah terkantuk mendengarkan penjelasan gurunya mengenai medan magnet. Mata Yi Yun melebar senang ketika guru botaknya menuliskan soal di papan. Tangan Yi Yun gatal minta diangkat. Ia siap untuk terbebas dari ‘siksaan duduk’ ini.

“Ya, siapa yang ingin mengerjakan soal di depan?”

Yi Yun seketika mengangkat tangannya. Hanya dia yang mengacungkan tangan; sepertinya teman-teman sekelasnya sudah hampir mati semua… ups, maksudnya hampir tidur. “Baik, Yi Yun. Kerjakan.”

Langkah Yi Yun mantap menuju papan tulis. Dilepasnya tutup spidol dari tempatnya semula sambil mencerna tiap kalimat dalam soal itu. Ah, modifikasi. Untung, Wu Fan-ge sudah mengajariku yang seperti ini, batin Yi Yun. Dengan lancar, Yi Yun mengerjakan soalnya. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Butuh waktu agak lama untuk mengerjakan tipe soal seperti ini, jadi Yi Yun memanfaatkan waktu berdirinya untuk membuat kakinya tidak jenuh. Bukankah duduk seharian sangat membosankan bagi kaki? Apalagi tipe kaki Yi Yun adalah tipe kaki pelari.

Prang!

Semua pasang mata teralih pada jendela kaca yang tiba-tiba pecah, termasuk Yi Yun, tetapi mereka tak bisa melihat dengan jelas apa yang menyebabkan jendela itu pecah. Tiba-tiba saja, Yi Yun terdorong ke belakang dan merasa sedikit sesak.

Sial, Xian Hua! Bagus sekali; kau memelukku di depan umum!

Yi Yun bisa merasakan berpasang-pasang mata di kelas memandanginya, terkejut dan curiga. Henry Lau, violinis tampan nan berbakat yang lama tak terdengar kabarnya, kini tiba-tiba muncul di sekolah itu dengan memecahkan jendela kelas, lalu memeluk seorang siswi paling ‘laki’ di kelas itu tanpa sepatah kata pun? Apa-apaan ini?

“Aku bisa menjelaskan ini, teman-teman!” teriak Yi Yun, berusaha agar temannya tidak berpikir yang aneh-aneh. Ia mendorong Xian Hua menjauh, tetapi Xian Hua tidak mau melepaskannya. Ia lengket seperti permen karet yang menempel di bagian bawah kursi kereta. Yi Yun berdecak kesal, merasa dikuasai.

Xian Hua melompat keluar dari jendela tempat ia masuk, lalu membawa Yi Yun menjauh dari sekolah secepat kilat. “Turunkan aku!!! Kurang ajar!! Hei, kau pikir aku suka digendong seperti ini?! Xian Hua!!!” teriak Yi Yun, berusaha melepaskan diri, tetapi Xian Hua mendekapnya terlalu kuat.

Aku tidak mau melukainya, tetapi kalau seperti ini, apa boleh buat?

Akhirnya, setelah keduanya berada di sebuah lapangan rumput, Yi Yun menggunakan lututnya untuk menendang keras wajah Xian Hua. “Argh!” Xian Hua memekik kesakitan; Yi Yun terlepas dari tangannya. Gadis itu berdiri di depan Xian Hua yang tengah memegangi hidung. Yi Yun tergelak. “Masih mau mimisan lagi, Bocah? Pergilah kalau kau tak mau mati!”

Sambil mengusap darah yang mengalir dari hidungnya, Xian Hua tersenyum miring, mengancam. Mata merahnya berkilatan saat menatap Yi Yun. “Aku tak akan berhenti, Yi Yun. Sekalipun kau mencabut jantungku keluar, selama aku masih bernyawa, aku akan mengejarmu. Sikapmu yang telah mempersulitku membuatku semakin menginginkanmu.”

Yi Yun menatap sinis Xian Hua. “Kau hanya menginginkan ciumanku, ‘kan? Ciumanku tidak senikmat ciuman gadis-gadis lain di luar sana, jadi kau bisa mulai mencari gadis lain.”

“Awalnya, memang hanya itu yang aku inginkan, tetapi seiring waktu, kau terlihat semakin bernilai di mataku.”

“Tarik kembali semua rayuanmu. Aku tidak tertarik. Kau hanya serigala Casanova yang butuh teman sementara untuk menghilangkan kesepianmu. Kau pikir aku ada waktu untuk menyenangkan makhluk soliter sepertimu, yang menganggap wanita seperti permen karet: setelah manisnya habis, lalu dibuang?” Yi Yun meludah ke arah Xian Hua, “Tidak, terima kasih. Bagiku, kau tak menarik sama sekali. Tak punya teritori, tak punya perasaan, tidak mempesona—kau cuma sampah.”

Rupanya, Xian Hua tidak siap menerima serangan telak itu. Dia paling tidak suka jika ada yang menyebut-nyebut tentang sikap soliter Casanova untuk menjatuhkannya. Yi Yun melakukannya dan karena gadis itu yang bilang, kata-kata itu terdengar seribu kali lebih tajam di telinga Xian Hua.

Namun, Xian Hua masih punya satu senjata untuk membalikkan keadaan.

“Aku merasakan dominansi kakakmu di hari kedua kita bertemu. Itu artinya, kakakmu adalah alfa, eh?” ucap Xian Hua, “Kau bukan alfa, jadi kau harus mencari pejantan untuk membangun klan baru. Dengan penampilan seperti itu, kau mungkin akan jadi satu-satunya Casanova betina dalam sejarah manusia serigala.”

Yi Yun mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia menggeram, iris matanya berubah semerah darah. Xian Hua berada di atas angin, walaupun rasa sakit dalam dadanya belum hilang.

“Kau akan berubah sepertiku juga.”

“Temui aku besok di gedung tua dekat lapangan basket. Kita selesaikan urusan kita besok di sana,” Yi Yun membalikkan tubuhnya kasar, berusaha menahan desiran adrenalin yang membuat kuku-kuku tangannya memanjang, “Aku pergi. Masih ada kelas yang harus kuikuti.”

Senyum miring Xian Hua bertahan.

Besok akan terjadi hal menarik.

***

Keesokan sorenya, sepulang sekolah…

“Kau benar-benar akan menyelesaikan masalahmu dengan bocah bunga itu?” tanya Wu Fan pada Yi Yun saat gadis itu mengatakan tidak bisa pulang bersama dengan teman satu ‘gengnya’. ‘Bocah bunga’ yang dimaksud Wu Fan adalah Xian Hua—yang secara bahasa berarti ‘bunga segar’. Yi Yun mengangguk, matanya sudah memerah sejak berada dalam kelas tadi. “Aku tidak akan memaafkannya karena sikapnya yang keterlaluan selama ini padaku.”

Empat pemuda di sekeliling Yi Yun bisa merasakan insting pembunuh Yi Yun yang hampir sama seperti insting pembunuh mereka saat pertarungan hierarki. Betina muda seharusnya tak mengalami lonjakan insting yang begitu drastis seperti saat ini. “Kau harus benar-benar mengendalikan dirimu, Yi Yun. Jangan sampai membunuhnya, walaupun mungkin agak sulit mengendalikan instingmu. Dia seorang yang terkenal; membunuhnya bisa membahayakan dirimu dan keluargamu.” kata Lu Han.

“Aku akan berusaha, Lu Han-ge. Baiklah, aku pergi.”

Wush! Yi Yun melesat menuju gedung tua yang menjadi tempat perjanjian.

Ternyata, saat Yi Yun datang, di lantai terbawah gedung tua yang sudah hampir hancur itu, sudah ada Xian Hua. “Kau cukup sabar menunggu,” ujung-ujung kuku Yi Yun memantulkan sedikit cahaya yang menyusup, “Sekarang, mari kita perjelas semuanya.”

“Apa lagi yang harus dijelaskan, Tampan? Inti dari semua permasalahan kita adalah ‘aku menginginkanmu’.”

“Kalau begitu, aku akan memperjelas bahwa aku menolakmu, seberapapun besarnya kau menginginkanku,” Yi Yun menanggapi, “Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap menundukkanku?”

“Tentu saja.”

Yi Yun mempersiapkan tangan kanannya yang sudah berubah fungsi menjadi alat pencabik daging. “Majulah.”

Dalam langkah yang cepat, Xian Hua maju. Tangannya terulur ke leher Yi Yun, tetapi Yi Yun menangkap tangan Xian Hua dan membanting pemuda itu keras ke tanah. Xian Hua mencengkeram bagian bawah kaki Yi Yun dan menarik kaki itu ke depan, membuat Yi Yun jatuh berdebam. Xian Hua menahan kedua tangan Yi Yun supaya gadis itu tetap telentang di bawahnya, tetapi Yi Yun menendang perut Xian Hua sampai Xian Hua jatuh terbalik. Yi Yun bangkit dan menghujamkan heel sepatunya berkali-kali ke dada Xian Hua. “Terima itu, Casanova!”

Xian Hua tersenyum miring. Ditangkapnya sekali lagi kaki Yi Yun, lalu dipuntirnya. Yi Yun menjerit kesakitan dan jadi limbung, tetapi Xian Hua menangkapnya dan menatap Yi Yun intens.

“Aku mendapatkanmu.”

“Tidak secepat itu!”

Jrak! Yi Yun mencakar area mata Xian Hua, lalu meninju sekeras-kerasnya wajah Xian Hua. Terlepas dari rengkuhan Xian Hua, Yi Yun terjajar mundur, pincang dan terengah-engah. Kemudian, ia menendang Xian Hua sekuat tenaga hingga Xian Hua jatuh tersungkur. Yi Yun mencengkeram kerah Xian Hua dan melayangkan beberapa pukulan. Akan tetapi, pada saat memukuli Xian Hua itulah, Yi Yun membuat kesalahan besar. Jaraknya cukup dekat dengan Xian Hua….

….membuka jalan bagi Xian Hua untuk mendaratkan satu kecupan berdarah di pipi Yi Yun.

Yi Yun terbelalak dan semakin marah. “Kurang ajar!!!!” Ia mencekik Xian Hua dan dalam sekejap, efeknya langsung terlihat. Darah yang sedari tadi sudah mengaliri bibir Xian Hua kini semakin deras  keluar. Xian Hua batuk beberapa kali; jalan napasnya tersumbat karena cekikan dan darah. Ia sungguh telah meremehkan kekuatan gadis ini, tetapi apa daya, Xian Hua sangat menginginkan Yi Yun. Ia tak lagi hanya menginginkan ciuman Yi Yun. Ia ingin Yi Yun seutuhnya.

“Dasar penipu! Percuma aku mengasihani dirimu selama ini!” Yi Yun membenturkan kepala Xian Hua berkali-kali ke tanah selagi Xian Hua berjuang untuk bernapas kembali, “Kau sok mengerti tentang perasaan, padahal kau sendiri adalah hewan yang paling rendah! Sampah! Aku tidak akan percaya padamu lagi! Kau yang tak kenal arti keluarga dan cinta yang sesungguhnya tak akan pernah bisa mendapatkanku!!”

Srek! Yi Yun merobek bagian atas kemeja hitam yang dikenakan Xian Hua, mengekspos sedikit tubuh atas Xian Hua. Ia ingin membuat Xian Hua merasakan apa yang selama ini ia rasakan karena sikap Xian Hua: malu. “Kau pikir kau suka ketika kau diperlakukan seperti ini, hah? Ketika seseorang yang bukan siapa-siapa  bagimu mempermalukanmu dengan merobek bajumu, menunjukkan hal-hal yang ingin kau simpan sendiri? Kau suka melihatku malu karena ‘serangan tiba-tiba’ yang setiap hari kau lakukan? Hah? Ayo jawab!!!”

Xian Hua mulai memuntahkan beberapa percik darah segar dari mulutnya. Kemejanya sudah robek seperempat bagian, kiri atas, karena dirobek Yi Yun.

“Tenggelamlah dan membusuk dalam kesendirianmu!!!”

Bruak!

Entah bagaimana, kekuatan Xian Hua timbul kembali sehingga bisa meninju Yi Yun dan membuat gadis itu tersungkur. Yi Yun bangkit dengan susah payah, siap menghadapi serangan berikutnya, tetapi kemudian dia terpaku.

Apa itu yang ada di balik pakaian Xian Hua, yang ada di bahu sampai dada kiri atas?

“Kau sudah tahu rahasiaku,” Xian Hua meludahkan sejumlah besar darah ke samping, “Kau pikir aku ingin menjadi seperti saat ini, Yi Yun? Tidak. Menjadi Casanova itu—

—sangat menyakitkan.”

Yi Yun tak berkedip melihat begitu banyak bekas luka goresan dan luka bakar pada tubuh Xian Hua yang terbuka. Xian Hua mencoba menutupi tubuhnya yang penuh luka itu dengan menyilangkan lengan di depannya. “Inilah hidup Casanova yang sebenarnya, Yi Yun. Mereka sendirian dan menderita.”

Penderitaan. Yi Yun tak pernah mengenal betul kata itu karena di rumah, ia aman. Zhou Mi dan Song Qian akan membalas dengan lebih mengerikan siapa saja yang berani menyakiti anak-anak mereka. Wu Fan kakak yang kuat dan selalu melindungi adik-adiknya, terkadang sampai overprotektif. Si kecil Zi Tao lebih pencemburu dan berbahaya; ada orang asing yang mendekati jiejie tersayangnya, maka ia akan membuat orang itu sekarat kalau tak ada yang menghentikannya. Semua, semua melindungi Yi Yun, sedangkan Xian Hua tidak memiliki seorang pun di dunia ini.

Xian Hua hanya serigala kecil yang sendirian, yang tak tahu siapa orang tuanya, yang berjalan tanpa arah dan bermimpi untuk memiliki kebahagiaan. Sayang, mimpinya terlalu jauh dan besar untuk dijangkau. Ketika tangan kurusnya terulur untuk menjamah makanan, penjual makanan akan menghalaunya pergi karena makanan itu tak bisa didapat dengan gratis. Ketika ia ingin tidur, orang-orang memukulinya karena ia tidur sembarangan di depan rumah orang-orang itu. Bahkan ketika salju turun dengan lebatnya, Xian Hua tak memiliki tempat untuk berlindung dari dingin. Yi Yun kecil bisa bergelung dalam selimut yang dihangatkan Song Qian, tetapi Xian Hua kecil hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan diri.

Ah, Xian Hua juga meneteskan air mata untuk membantu menghangatkan pipinya.

Namun akhirnya, Xian Hua menemukan suatu cara untuk mendapatkan kenyamanan.

Suatu ketika, seorang wanita muda menemukan Xian Hua hampir beku. Anak kecil yang hampir mati kedinginan sudah menjadi pemandangan biasa bagi penduduk kota itu yang hatinya sudah membusuk. Wanita muda itu juga sama seperti kebanyakan orang lainnya, hendak berlalu begitu saja setelah melihat Xian Hua kecil yang mulai kehilangan napas.

Namun, wanita itu tanpa sengaja melihat mata Xian Hua.

Xian Hua menatap balik mata wanita itu dengan iris merahnya.

Wanita itu mendekat.

Xian Hua meletakkan tangannya di bahu wanita itu. Seperti robot yang mendapat perintah, tanpa sepatah kata, wanita itu menggendong Xian Hua dan membawa Xian Hua pulang. Di balik bahu wanita itu, Xian Hua tersenyum menang. Untuk mendapatkan kebahagiaan, ia hanya perlu mengendalikan wanita-wanita yang ia lihat. Terus, terus menggunakan cara itu, hidup Xian Hua membaik hingga ia besar sebagai seorang violinis. Itulah sebabnya Xian Hua menjadi Casanova: Xian Hua hanya ingin merasakan kasih sayang di tengah kehidupan yang mulai melupakan cara mencintai. Ia terus merayu, bermanja, menikmati sentuhan-sentuhan hangat para wanita itu karena ia tak pernah merasakannya di masa kecilnya, masa di mana cinta sangat dibutuhkan.

Namun, tak semua wanita bisa Xian Hua taklukkan. Wanita sejati tak memberikan kasih sayang dengan cuma-cuma. Ada harga yang harus dibayar, yaitu cinta yang sama besar, yang tidak bisa diartikan dengan sentuhan-sentuhan semata. Yi Yun meminta itu dari Xian Hua, tetapi Xian Hua tak bisa memberikannya karena ia tak tahu bagaimana cara mencinta selain dengan sentuhan-sentuhan itu. Yi Yun tak menyukai cara Xian Hua ini, tetapi Xian Hua terus maju dan membuatnya marah.

Tanpa ada cerita mengalir di antara keduanya, Yi Yun dan Xian Hua memahami satu sama lain. Hanya melalui tatapan iris merah mereka, mereka bisa membaca kisah dan keinginan masing-masing.

“Aku…”

“Aku memang tidak mengerti apa yang kau sebut kasih sayang, keluarga, atau apapun itu,” sahut Xian Hua sambil mengusap darah di tepian bibirnya, “tetapi aku ingin mengerti. Jadi, aku akan pergi untuk membawakan apa yang kau mau.”

“Kau tidak serius.” kata Yi Yun, mengantisipasi kalau-kalau ekspresi kesakitan dan kesungguhan yang ditunjukkan Xian Hua adalah kebohongan (lagi).

“Aku akan kembali. Terserah apa pendapatmu, tetapi aku pasti akan kembali dan merebutmu dengan cara yang berbeda dan tidak menyakitimu,” kata Xian Hua dengan suara rendah saat melewati Yi Yun dengan tertatih-tatih, “Sebelum itu… maafkan aku yang sudah mengganggumu selama ini.”

Xian Hua menepuk bahu Yi Yun, lalu melompat keluar gedung itu dari sebuah jendela tua yang terbuka lebar.

“Xian Hua-ge tidak akan kembali,” Yi Yun bergumam, mencoba untuk menyadarkan dirinya kembali dari peristiwa yang seolah mimpi, “Dia tidak akan berhasil.”

Namun, dalam hatinya, Yi Yun berharap Xian Hua kembali dan menjadi pejantan alfanya. Dia siap memanggil bocah itu ‘gege’. Dia mau membangun klan besar dengan anak pucat itu. Yang lebih penting, dia ingin meminta maaf pada Xian Hua karena memperlakukan Xian Hua sedemikian kejam.

Maka, Xian Hua harus kembali.

***

SECOND STORY OF HOMO HOMINI LUPUS SERIES: TO BE CONTINUED

 

3 thoughts on “Cassanova (Chapter 2)

  1. Ah sebenernya aku suka cerita kamu, tapi baca nama2 cina mereka bkin aku rada puyeng haha.

    No, its not like their chinese names are the new things for me so its confusing me.

    Mungkin lebih ke gak biasanya aku baca ff yg banyak nama cinanya kali ya haha. Buuuuuuut, since your story is so interesting, i will keep going!😄

    Yep, to the next chapter!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s