Our Fate (Chapter 7)

request-cover-our-fate-jungli

 

TITLE : Our Fate | Chapter 7 || AUTHOR : Jungli || MAIN CAST : Amber Liu Josephine . Kris(EXO) Choi Sulli , Lay (EXO) || OTHER CAST:  Search by yourself J || GENRE: Romance , Sad|| RATING: T

 

Note: Annyeeongggggg !!!! Hehe, maaf ya baru bisa post sekarang. L Author Sibuk banget sama ulangan akhir semester. Dan baru bisa sekarang nulis ff lagi. Maaf ya yeoreobunn !! masi nunggu ff author kan? Angkat tangannya! Hihiihi. Selamat membaca!❤ Btw, masih ada yang bner2 nungguin ga sih ff ini?

 

Author POV

Kris berjalan mendekati ranjang amber, duduk disampingnya dan mengecup pelan dahi Amber.

“Kau sudah bangun?”tanya Kris begitu melihat mata Amber yang terbuka perlahan. Kris menuangkan air ke sebuah gelas dan menyodorkannya ke arah amber

“Minumlah.”ucap Kris pelan.

“Kenapa kau masih ada disini?”tanya Amber. Kris tersenyum, meraih tangan amber dan memberikan gelas tersebut.

“Minumlah dulu, kau pasti haus.”

Amber menghela napas, menggenggam erat gelas tersebut dan meneguknya cepat.

“Kenapa kau masih ada disini? Dimana Sulli?”tanya Amber, mengembalikan gelas tersebut. Kris terkekeh pelan, mengambil sapu tangan dan mengelap bibir Amber pelan.

“Tentu saja Sulli harus ke sekolah, kau tidak akan tega membiarkannya ketinggalan banyak pelajaran bukan?”

Amber menepis kasar tangan Kris, mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. Kris hanya tersenyum menanggapi sikap Amber,

“Kau pasti lapar, perawat akan segera membawakan makanan sebentar lagi. Akan kukupaskan apel untukmu, anggap saja sebagai makanan pembuka.”

Amber menghela napas kesal menatap Kris yang mulai mengupas apel perlahan,

“Kris…”

“Hmmm? Tunggu sebentar amber”

“Kris…. Bagaimana bisa aku makan apelnya jika kau juga mengupas daging apelnya! PUAHAHAHAH.”

Kris yang ditertawakan hanya menunduk malu dan melemparkan apel itu ke tong sampah, mendeham pelan.

“Kenapa kau membuangnya?”tanya Amber, menatap Kris dengan wajah bingung.

“Ne? Bukankah itu sudah tidak bisa dimakan lagi?”

“Siapa bilang? Aku hanya lucu melihatmu yang mengupas apel beserta dagingnya. Aku tidak bilang bahwa itu tidak bisa dimakan.”jawab Amber cepat. Kris menggaruk kepalanya pelan, berjalan ke arah tong sampah.

“Apa yang kau lakukan!?!?”

“Bukankah kau bilang ini masih bisa dimakan? Aku akan mencucinya, tunggu sebentar.”

Amber menatap Kris tidak percaya, memijat dahinya kesal.

“Kris…”panggil amber kesal.

“Hmm?”

“Aku sedang sakit dan kau mau memberikanku makanan yang sudah di buang di tong sampah? Aku benar-benar tidak percaya ini.”

“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau makanan ini masih dimakan?”tanya Kris bingung.

“Apakah aku ada mengatakan bahwa makanan yang berasal dari tong sampah itu masih bisa dimakan? Kapan aku mengatakannya? Apa kau masih mengingat kata-kataku? Coba kau ulangi.”

Kris berjalan mendekati Amber dan tersenyum lebar, setiap kata-kata amber pasti akan selalu dia ingat.

“Aku mengupas apel beserta dagingnya dan aku membuangnya setelah itu kau bertanya kenapa aku membuangnya,dan…. Astaga!”

“Kau mengingatnya sekarang?”Amber menghela napas kesal, menatap Kris yang masih berdiri memegang apel “bekas tong sampah” di tangannya dan menepuk pelan kepalanya seakan-akan mengingat sesuatu.

“Maafkan aku amber, aku tidak bermaksud. Aku banyak pikiran dan.. sekarang aku terlihat seperti orang yang keliru. Memberikan apel bekas tong sampah pada orang sakit”Kris menekan kata-kata terakhirnya, kesal dengan dirinya sendiri yang bersikap seperti orang yang…

Amber hanya tersenyum geli, melihat Kris yang kembali membuang apel tersebut ke tong sampah dan kembali duduk di samping Amber.

“Apelnya hanya satu…..”

“Sudahlah, aku sedang tidak ingin makan apel. Kau bisa pulang Kris. Aku akan beristirahat sebentar sambil menunggu Sulli datang.”jawab Amber pelan, menarik selimut dan menutup matanya.

“Aku tidak akan pulang sampai Sulli datang, aku akan berjalan-jalan sebentar. Beristirahatlah sambil menunggu makananmu datang eoh.”

 

Sulli POV

“Lay…”panggil Sulli pada laki-laki di hadapannya yang sedang dikerumuni teman sekelasnya. Karena teman-temannya terlalu berisik memperebutkan lay, menyodorkan makanan dan hadiah-hadiah yang menurutnya ‘tidak penting’ itu. Sulli menghela napas, menendang batu-batu yang ada di bawah kakinya kesal. Semenjak memenangkan perlombaan dance yang diadakan di sekolahnya, gadia-gadis teman sekelasnya, adik kelas, kakak kelas, bahkan ibu kantin jadi mengidolakannya.

“Lay, bisakah kau cepat sedikit?”tanya Sulli dengan suara yang agak ditinggikan, berharap Lay bisa mendengarnya. Nihil, Lay sama sekali tidak bisa mendengarnya. Sulli memutar bola matanya kesal, mencoba menerobos kerumunan itu, menarik kasar tangan Lay menjauh. Terdengar ocehan kesal dari kerumunan di belakangnya, Sulli terus menarik tangan Lay sampai di gerbang sekolah.

“Sulli-ya”

“Apa? Kau harus berterimakasih padaku yang terlah membantumu keluar dari kerumunan fans gilamu itu.”ucap Sulli, melipat tangan di depan dadanya dan menatap Lay dengan senyuman yang sulit diartikan. Lay hanya tersenyum, mengangguk pelan dan menepuk pelan kepala sulli sambil mengucapkan terimakasih. Sulli tersenyum kecil memegang kepalanya dan mulai berjalan.

“Kita akan ke Rumah Sakit lagi sekarang?”tanya Lay, menyamakan langkahnya dengan Sulli.

“Tentu saja, aku sudah berjanji pada Kris oppa. Amber onnie pasti sudah menungguku. Kau tahu? Amber onnie paling benci berada di rumah sakit, benci dengan bau obat-obatan yang membuatnya mual. Padahal dia harus dirawat inap disana.”

“Sayang sekali…..”ucap Lay pelan. Sulli menghentikan langkahnya dan menatap Lay bingung.

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin mengajakmu berkencan, hehe.”jawab Lay malu. Semburat merah mulai muncul di wajah Sulli, dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke arah pohon yang berada di dekat mereka dan menatap kagum.

“Lay, kau lihat pohon ini. Bunga-bunganya mulai bermekaran.”

Lay berjalan mendekat dan menatap pohon, tersenyum. Bunga-bunga berjatuhan ke bawah karena diterpa angin, membuat sulli tersenyum kagum.

“Lay, mari berjanji di bawah pohon ini.”

“Berjanji tentang?”

Sulli menatap Lay, menangkap salah satu bunga yang jatuh.

“Berjanji tentang kita, dan juga tentang Amber onnie dan Kris oppa.”ucap Sulli pelan, menyodorkan bunga tersebut ke tangan Lay, menggenggamnya bersama.

“Aku tidak yakin, Ssul,,”

“Tidak yakin tentang? Kita hanya perlu berjanji, terserah dirimu ingin menjanjikan apa padaku. Dan kita akan membuat permohonan untuk Amber onnie dan Kris oppa. Kita mulai dengan membuat permohonan untuk mereka berdua okay? Satu orang, satu permohonan.”

“Baiklah..”ucap Lay pelan, menggenggam erat tangan sulli dan bunga yang ada di tangan mereka.

“Aku mulai duluan okay?”

Sulli menutup matanya pelan, merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya pelan.

“Aku berharap, Amber onnie bisa sembuh dari penyakitnya, menikah dengan Kris oppa, mempunyai anak-anak yang lucu. Dan hidup bahagia selamanya.”

Sulli membuka matanya pelan, menatap Lay yang mengangguk pelan ke arahnya dan menutup matanya.

“Karena semua permohonan yang ingin aku katakan sudah diucapkan oleh gadis ini. Aku berharap permohonan untuk mereka itu bisa terkabul. Hidup bahagia sampai ajal menjemput mereka.”

“Sekarang, ucapkan janjimu untuk kita.”sambung sulli.

“YA! Bukankah seharusnya kau duluan?”tanya Lay kesal, membuka matanya dan menatap Sulli bingung.

“Sudahlah, ppali!”ucap Sulli sambil terkekeh pelan.

“Baiklah, aku berjanji pada gadis di hadapanku ini, untuk selalu menjaganya, membuatnya tersenyum, dan hidup bahagia bersamaku selamanya.”

Sulli menatap Lay bingung, bingung dengan kata ‘selamanya’.

“Selamanya?”tanya Sulli.

“Yap, kau harus selalu bersamaku, karena kau adalah cinta pertamaku. Membuatku semakin menyukaimu setiap harinya. Hidup bahagia denganku ssul. Selamanya.”jawab Lay. Sulli menatap Lay tidak percaya dan mengangguk pelan. Tersenyum malu, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah dari Lay.

“Sekarang giliranmu, tidak perlu menyembunyikan wajahmu dariku. Aku sudah melihatnya, kkk~”

“Mwoya? Baiklah, aku berjanji pada laki-laki di hadapanku ini, untuk selalu membuatnya tersenyum, membuatnya semakin menyukaiku karena aku tidak ingin dia meninggalkanku begitu saja. Aku menyukainya, apa adanya. Selamanya.”

Sulli menyelesaikan kalimatnya, memeluk Lay senang.

“Kau harus menepati janjimu eoh? Karena aku sudah terlanjur terlalu menyukaimu dan kesal jika kau bersama wanita lain”

“Tentu saja, kau cinta pertamaku dan aku akan menjadikanmu yang terakhir.”ucap Lay, mencium pelan dahi Sulli.

 

Amber POV

“Amber onniee~~~~”panggil Sulli yang mulai berjalan mendekatiku.

“Kau sudah pulang?”tanyaku.

“Eoo~~”jawabnya singkat, meletakkan tasnya di sebuah kursi.

“Dimana Kris hyung? Bukankah seharusnya dia ada disini noona?”tanya Lay, berjalan mendekati sulli dan mengacak rambutnya pelan. Aku menatap mereka berdua bingung, menatap mereka berdua penuh tanda tanya.

“Jangan menatap kami seperti itu noona, kami berdua sudah resmi berpacaran.”jawab Lay, merangkul Sulli yang mulai terlihat salah tingkah.

“Hahaha, lihatlah wajahmu ssul, chukkae~~ Jagalah dia lay, jangan membuatnya bersedih atau sakit hati gara-garamu. Aku tidak mau melihatnya menangis.”

“Tentu saja noona, aku akan menjaganya. Aku tidak akan pernah membuatnya menangis, dan bisakah kau berjanji untuk tidak membuatku cemburu? Atau bisakah kau tidak terlihat cantik di depan laki-laki lain?”tanya Lay pada Sulli.

“Ya! Aku memang sudah dilahirkan seperti ini, dan bisakah kau berhenti bersikap polos di hadapan gadis lain? Kau membuat mereka ingin mencubitmu karena kepolosanmu itu.”

Sulli memukul pelan bahu Lay, dan berjalan mendekati Amber.

“Kau tahu onnie? Tadi dia membiarkanku menunggunya selama 15 menit, dikerumini fans dan menghiraukanku.”

“Ya, aku tidak bermaksud begitu, mereka tidak membiarkanku pergi. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa”bela Lay, menarik tangan Sulli mendekatinya.

“Dan seharusnya kau bersikap jantan, menerobos kerumunan itu dan menarikku pergi, bukan sebaliknya!”

“Kenapa tiba-tiba jadi kau yang ngambek seperti ini? Bagaimana dengan tadi pagi, kau lebih mementingkan sehun dari pada aku. Mengambilkan handuk dan air padanya saat bermain basket, saat aku bertanya mana untukku, kau malah berjalan pergi dan berkata ‘tidak ada’.”

“Ya! Itu karena Sehun sahabatku, itu hal yang wajar. Lagipula kau sudah mendapatkan air minum dari Krystal saat bertanya padaku. Untuk apa aku memberikanmu air lagi?”

“Tapi setidaknya kau harus memberikan air itu terlebih dahulu untukku, bukan untuk Sehun! Kau tau kan kalau dia menyukaimu, apalagi Kai, Chanyeol dan Baekhyun yang terus-terusan mencoba menarik perhatianmu”

“Mereka mungkin hanya ingin mencoba berteman denganku saja, lagipula bagaimana denganmu dan gadis lain? Daritadi pagi sampai pulang sekolah aku harus berusaha untuk menahan rasa kesalku.”

Amber menghela napas, menggeleng kepalanya menatap kedua orang yang baru saja berpacaran dan bertengkar hanya karena merasa cemburu satu sama lain. Amber meraih infusnya, dan mulai berjalan keluar.

“Amber onnie! Kau mau kemana?”tanya Sulli.

“Hanya berjalan-jalan ke luar sebentar, sudahlah jangan menghiraukanku, lanjutkan saja pertengkaran kalian yang tidak jelas itu”jawab Amber.

“Apanya yang tidak jelas onnie, seharusnya dia tidak membiarkanku menunggunya selama 15 menit hanya karena fansnya itu”

“Kenapa mengatakan hal itu lagi? Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak bisa keluar dengan mudah dari mereka.”

Amber menetap mereka tidak percaya, berjalan perlan menuju koridor rumah sakit.

“Lanjutkan saja, dan ini adalah ronde ke-2”ejek Amber, tertawa pelan.

“Onnie!” “Noona!”

 

Author POV

Amber menyusuri koridor rumah sakit tersebut, menutup hidungnya, mual dengan bau obat-obatan.

“Pilihan yang buruk, memilih berjalan keluar di koridor yang penuh dengan bau obat. Seharusnya aku yang mengusir mereka berdua keluar dari ruanganku, bukan sebaliknya.”kesal Amber.

“Amber?”panggil seseorang membuat amber menghentikan langkahnya, menunggu sosok itu mendekat.

“Kenapa kau ada disini? Seharusnya kau beristirahat di ruanganmu.”tanya Kris khawatir.

“Bosan, aku bosan jika harus terus-terusan berada di ruangan itu. Dan aku merasa pusing dengan pertengkaran sepasang kekasih yang childish itu.”

“Sepasang kekasih? Siapa dan apa dan kapan?”

“Siapa dan apa dan kapan? Tentu saja Lay dan Sulli, sepertinya kau harus mengulang pendidikanmu di Sekolah Dasar Kris. Haha, siapa dan apa? Kau pikir salah satu dari mereka adalah benda? Konyol sekali. Mereka baru saja berpacaran hari ini, dan bertengkar hanya karena rasa cemburu satu sama lain. DAN LAGI, mereka bertengkar di kamarku!”

“Sudahlah, biarkan saja mereka. Mau ke taman belakang sebentar?”tanya Kris, meraih kantung infus amber, berniat membawakannya.

“Aku kira disini tidak ada taman, aku sudah berkeliling dan tidak menemukan tempat untuk bebas dari bau obat-obattan ini.”jawab Amber, menyamakan langkahnya dengan Kris.

“Setidaknya ada beberapa obat-obatan yang dapat membantu menyembuhkanmu Amber.”jawab Kris singkat.

“Aku tau, aku tau. Dan aku tidak akan pernah meminumnya. Ini sudah takdirku, bukankah aku harus menerimanya dan menikmatinya?”

“Kau harus berjuang untuk sembuh, bukan malah sebaliknya. Tidak bisakah kau berjuang untukku? Atau untuk Sulli dan Lay, mereka akan merasa sedih jika kau terus-terusan seperti ini.”

“Jangan membicarakan hal ini, membuat moodku jelek saja. Kau darimana saja? Aku kira kau sudah bosan dan pulang.”

“Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, aku hanya berjalan-jalan sebentar dan memikirkan sesuatu yang benar-benar harus diperhitungkan.”jawab Kris

“Jangan bilang kau sedang memikirkanku, haha.”

“Ting tong! Tepat sekali, kau menjawabnya dengan benar nona.”

Kris mencubit pelan pipi amber, meraih tangan gadis itu untuk mengajaknya duduk di salah satu kursi panjang.

“Jangan terus-terusan memikirkanku, karena aku tidak akan membalasnya dengan memikirkanmu juga.”

“Haha, lucu sekali. Ini pikiranku, terserah aku ingin memikirkan siapa dan apa.”

“Jika kau tidak keberatan, bisakah kau berhenti memikirkanku?”tanya Amber.

“Itu adalah yang paling atau sangat tidak bisa kulakukan. Come on, hanya kau dan orangtuaku saja yang ada dipikiranku saat ini. Dan aku tidak akan mungkin untuk tidak memikirkanmu. Kau satu-satunya gadis yang benar-benar bisa membuatku jatuh cinta.”

Amber menatap Kris, menggelengkan kepalanya dan menutup matanya. Mencoba menikmati sensasi yang ditimbulkan angin sore di taman tersebut.

“Kau tahu? Aku lebih suka jika rambutmu pendek”

“Pendek atau tidak, itu bukan urusanmu lagi Kris. Jadi lebih baik kau diam saja.”

“Tentu saja itu urusanku, aku takut akan ada lelaki lain yang menyukaimu. Karena kau terlihat sangat cantik sekarang.”

“Mana mungkin akan ada laki-laki yang menyukai gadia penyakittan sepertiku. Jangan berpikir berlebihan.”jawab Amber.

“Ohh~~ tentu saja ada.”

“Siapa dan apa?”tanya Amber, yang kemudian tertawa dengan pertanyaannya sendiri.

“Aku dan hatiku”

Amber memutar bola matanya, menatap ke arah langit sore.

“Jangan mulai lagi Kris, hentikan kata-kata konyolmu itu.”

“Kata-kata konyol?”tanya Kris tidak percaya.

“Eohh! Kata-kata konyolmu itu tidak akan mempan untukku. Carilah wanita lain dan katakan itu pada mereka. Aku berani taruhan 100.000 won mereka akan menerimamu dan jatuh pingsan”

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Apanya? Apanya yang bagaimana denganku?”

“Responmu saat mendengarku mengucapkan kata-kata tersebut.”

“Well, itu memang membuatku sedikit deg-deg an, karena sikapmu yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Dimanakah Kris yang dulu? Apakah seseorang meracunimu sehingga bertingkah seperti ini?”tanya Amber

“Kaulah yang membuatku seperti ini Amber… Kau meninggalkanku begitu saja dan kembali lagi ke hadapanku. Aku mencintaimu, melebihi diriku sendiri. Bisakah kau berhenti menolakku?”

“Aku akan menerimamu di saat ajal menjemputku. Bisakah kau menunggunya?”

“Dan melepasmu begitu saja seperti orang bodoh? Menangis dan sakit hati karena kau meninggalkanku? Aku lebih memilih untuk berjuang sekarang, mempertahankanmu. Hanya dirimu.”

“Bagaimana jika aku tidak menerimamu, maksudku. Membiarkanmu berjuang mati-matian dan tidak mendapat respon apapun dariku.”tanya Amber.

“Kau harus meresponku, seperti saat ini. Kau harus menerimaku di depan umum, kau tidak akan menolak laki-laki yang akan melamarmu di depan umum bukan?”

Kris meraih kantong celananya dan mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan cincin berlian. Kris berlutut di depan Amber, menyodorkan kotak tersebut dan tersenyum.

“Jadi nona Liu, maukah kau menikah denganku? Aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku, menerima mu apa adanya.”

Amber menatap Kris tidak percaya, melihat ke arah sekeliling mereka. Orang-orang yang berada di taman tersebut menatap pasangan di hadapan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Amber menatap cincin tersebut dan menatap wajah Kris.

“Jangan bercanda dengaku, Kris.”

“Apakah aku terlihat sedang bercanda? Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi untuk yang kedua kalinya. Menikahlah denganku dan hidup bahagia denganku. Aku tidak akan pernah menyakitimu.”

 

TBC

 

 

 

5 thoughts on “Our Fate (Chapter 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s