Cassanova (Chapter 1)

1015387-bigthumbnail - Copy

  • Title                       : Casanova
  • Scriptwriter        : Liana D. S.
  • Fandom               : f(x), Super Junior-M/ Henry Lau
  • Main Casts          : Amber Liu (Liu Yi Yun), Henry Lau (Liu Xian Hua)
  • Support Casts    : SMEnt’s China-line, Xing Zhao Lin (SMEnt’s Chinese Trainee), SNH48
  • Duration              : Three-shots (13K+ words total), in ‘Homo Homini Lupus’ series
  • Genre                   : Romance, Family, Action
  • Rating                   : NC (Not Children!)
  • Disclaimer          : Semua karakter dari SM Entertainment dan SNH48 bukan milik saya, tetapi milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Plot sepenuhnya milik saya dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.
  • Summary             : Seorang gadis tomboy tanpa sengaja bertemu seorang bocah violinis yang ternyata sangat mengerikan! Seperti stalker, bocah itu ada di mana pun Yi Yun berada. Apa yang akan dilakukan Yi Yun untuk menghalau bocah violinis itu pergi? HenBer romance, children go away! Second story of ‘Homo Homini Lupus’ series.

***

Part 1 

-Serigala hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya, kecuali jika salah satu pasangan ada yang mati—ada kemungkinan serigala yang masih hidup akan mencari pasangan baru. Walaupun demikian, ada perkecualian bagi serigala Casanova, serigala jantan soliter yang tidak membangun teritori atau klan. Ia memiliki multiple sex partner untuk kepuasan dirinya dan tidak memiliki ikatan batin dengan pasangannya.-

***

“Hmp!”

Jalanan sepi malam itu, jadi tak ada yang menyaksikan kejadian memalukan ini, di mana seorang pria muda berciuman dengan seorang gadis. Si gadis tampak gugup dan kehabisan napas, tetapi juga menikmati hal ini—yang tak pernah ia dapat dari kekasih aslinya. Si pria terlihat semakin ganas melumat bibir gadisnya. Belum puas, pemuda itu pindah ke daerah yang lebih bawah, daerah yang lebih pribadi.

“Kau milikku malam ini,” si pemuda mendesah penuh kepuasan, lalu mendaratkan satu lagi kecupan di leher bawah gadis itu, “Terima kasih karena sudah memberikan semuanya untukku.”

Tangan si pemuda beranjak menuju kancing baju teratas gadisnya. “Kau sangat menggilaiku, ‘kan?” katanya sembari membuka kancing kemeja gadis itu. Si gadis terengah-engah. Ia tak menjawab, tetapi jelas sekali ia sangat menggilai pemuda tampan di depannya. Si pemuda sampai pada titik paling sensitif dari tubuh seorang gadis. Karena tak ada perlawanan dari gadisnya, si pemuda mengecup bagian ‘itu’, yang sebaiknya tidak disebutkan.

Lengkap sudah.

Pandangan si gadis mengabur ketika si pemuda tampan menyelesaikan aksinya dan menjauh. Ia menarik pemuda itu mendekat lagi. “Ku….mohon… Tetaplah bersamaku…. aku… bisa mati tanpamu….. Teruskanlah, aku… aku menikmatinya…..”

Si pemuda tersenyum mempesona. Ia tahu kelemahan para wanita dan menggunakan pengetahuannya ini untuk membuat semua wanita yang ia inginkan tergila-gila padanya. “Maafkan aku. Aku tak bisa bersamamu lebih lama lagi. Aku sudah selesai denganmu. Selamat tinggal.”

Begitu mudahnya rangkaian kalimat itu terucap dari bibir si pemuda. Mendengar bahwa si pemuda tak bisa memberikannya lebih, tubuh si gadis semakin melemas hingga akhirnya pingsan. Si pemuda menoleh ke belakang, memastikan bahwa si gadis benar-benar sudah ia lumpuhkan. Ia tersenyum miring, lalu berjalan kembali dengan tatapan lurus ke depan.

Wanita adalah makhluk yang lemah, tetapi sangat nikmat.

Belum seberapa jauh berjalan, tiba-tiba ponsel si pemuda bergetar, tanda ada telepon masuk. “Ish, pasti manajer sialan itu memberitahuku untuk cepat-cepat datang. Mengganggu saja, sih,” pemuda itu merogoh sakunya, “Aku ‘kan sedang bersenang-senang.”

Biarpun malas, si pemuda tetap mengangkat telepon masuk itu. “Ya, manajer?”

“Henry, ke mana saja kau? Konser dimulai 10 menit lagi, bodoh!! Cepat kembali!”

Si pemuda, yang ternyata bernama Henry, berdecak kesal. “Aku mengerti.”

Pip. Henry mematikan teleponnya dan berjalan lebih cepat. Aku sudah menunggu lama di gedung tadi, tetapi acaranya tidak dimulai-mulai juga. Sekarang, ketika aku keluar untuk mengisi waktu luang, malah cepat-cepat disuruh kembali. Manusia plin-plan.

***

Pagi itu, di kelas 2-F, beberapa orang siswi mengelompok sambil membicarakan sesuatu yang sedang in. Di antara sekian banyak hal yang menjadi topik pembicaraan mereka, salah satunya adalah…

“Apa? Tidak mungkin! Henry Lau mau keluar dari manajemennya? Ah, tetapi kalau memang itu terjadi, aku sudah menduganya! Cowok serampangan macam dia mana mau bekerja dengan sistem manajemen agensi yang seketat itu?”

“Sok tahu. Dia bukannya keluar, tetapi dikeluarkan. Sikapnya yang serampangan itu yang jadi alasannya dikeluarkan. Dia sering terlambat kalau menjadi pengisi acara sebuah show, sehingga walaupun penggemarnya banyak, semakin jarang show yang mengundangnya. Itu ‘kan merugikan sekali bagi agensi.”

“Kudengar juga, dia adalah playboy kelas kakap! Skandalnya banyak sekali dibahas.”

“Serius? Muka anak-anak begitu ternyata bisa jadi playboy juga.”

Obrolan seru di kelas terhenti ketika pintu terbuka. Seorang siswi masuk dan langsung disambut dengan tawa teman-temannya.

“Astaga, Yi Yun!! Apa itu yang tersangkut di kepalamu?”

“Kau sedang tidak sehat, Yi Yun? Kenapa tiba-tiba pakai bando begitu?”

Banyak lagi cemoohan yang didapat Yi Yun, siswi tomboy yang baru masuk itu, atas penampilan barunya hari ini. Dalam keadaan biasa, satu-satunya hal yang menjadi pertanda bahwa Yi Yun adalah perempuan hanya rok seragam yang ia kenakan. Selebihnya, dia terlihat sangat ‘laki’: rambut dipotong pendek, tubuh yang lebih berotot daripada gadis kebanyakan, suara berat, celana olahraga selutut di bawah roknya, dan bahkan teman-teman bergaulnya kebanyakan lelaki. Akan tetapi, hari ini, ada yang berbeda dari gadis itu, yaitu sebuah bando tipis hitam yang tersemat di kepalanya.

Tak disangka, Yi Yun menginjakkan kakinya dengan keras ke atas meja salah seorang siswa (baca: murid laki-laki) yang mengejeknya. Kelas langsung sunyi.

“Bukan aku yang mau seperti ini, kalian harus tahu itu,” Yi Yun menarik bando itu kasar dari rambutnya, “Mama memaksaku memakai ini dan aku hanya ingin menyenangkan hatinya. Kalau kalian tidak keberatan, bisakah kalian kendalikan mulut kalian itu supaya tidak mencemooh sembarangan?”

 Suasana tegang. Beberapa siswa mengangguk sunyi, sedangkan beberapa lainnya menelan ludah takut. Yi Yun tersenyum miring. “Bagus kalau kalian mengerti.” Yi Yun menurunkan kakinya dan duduk di bangkunya. Suasana masih hening selama beberapa detik. Efek dominansi dan ancaman Yi Yun ternyata cukup lama, hingga akhirnya, beberapa teman dekatnya di kelas itu memberanikan diri mendekatinya.

“Yi Yun, kau tahu tidak kalau Henry Lau, si violinis terkenal itu, dikeluarkan dari agensinya?” tanya Xiao Yin, sedikit menggebu kalau menggosip tentang artis-artis. Yi Yun mendesah keras sambil menyandarkan punggung di kursinya. “Kau tahu ‘kan kalau aku tak tertarik dengan berita begitu?”

Yu Qi menyikut Xiao Yin pelan. “Nah, ‘kan. Kau salah topik kalau membicarakan artis di depan bos. Buka halaman olahraga, cepat!” kata gadis itu sambil membalik-balik koran yang dipegang Xiao Yin. Mo Han menyelamatkan situasi dengan berkata, “Oh ya, bos… eh, maksudku Yi Yun, Lakers kalah lagi di pertandingan kemarin….”

Berhasil! Mata Yi Yun melebar. “Benarkah?” Yi Yun segera merebut koran di tangan Xiao Yin, lalu membaca berita tentang tim basket kesayangannya, “Gila! Ini sudah tiga kali berturut-turut! Aaah… Wu Fan-ge sepertinya benar-benar harus jadi pemain mereka. Coba kalau dia dulu masuk di NBA.”

Xiao Yin, Yu Qi, dan Mo Han memerah mukanya. “M-maksudmu, kakakmu Wu Fan pernah hampir masuk NBA, begitu?” tanya Yu Qi.

“Keren….” Xiao Yin spacing out.

“Aduh, dia bermain untuk tim sekolah saja sudah mempesona, apalagi bermain di NBA. Oh…” Mo Han membayangkan jagoannya di tim basket yang begitu keren itu. Yi Yun geleng-geleng kepala. Sebenarnya, sihir apa sih yang dimiliki Wu Fan-ge sampai bisa mempengaruhi seluruh cewek di sekolah?

***

Pulang sekolah.

“Ya begitu. Mereka langsung ‘ah…. Wu Fan-ge keren sekali’ saat aku mengatakan tentang kau yang diterima di seleksi NBA, tetapi kau tolak.” cerita Yi Yun pada kakak dan adik lelakinya. Wu Fan tertawa saja mendengar itu. Dia memang tipikal lelaki cool yang punya banyak fans, tetapi dia sendiri tidak pernah memperhatikan satupun fans itu.

Jiejie tidak menceritakan alasan Gege menolak jadi anggota NBA, ‘kan?” tanya Zi Tao, adik laki-laki Wu Fan dan Yi Yun.

“Tentu saja tidak,” kata Yi Yun, lalu berbisik setelah mengedipkan sebelah matanya, “Itu ‘kan rahasia yang hanya boleh diketahui manusia serigala.”

Sebenarnya, Wu Fan tidak jadi berangkat ke Amerika setelah lolos seleksi karena ia harus menjalani pertarungan penentuan posisi dalam hierarki melawan Zi Tao. Ia memenangkan pertarungan itu, menjadi alfa berikutnya kalau Zhou Mi—ayahnya—sudah tidak bisa menjadi alfa lagi. Yi Yun sendiri memilih tidak bertarung dan langsung memutuskan untuk menjadi betina soliter kelak.

Wu Fan mengusap-usap rambut adik perempuannya. “Gadis pintar…. Lho, tunggu,” Wu Fan mengangkat tangannya dari kepala Yi Yun, “Bandomu ke mana?”

“Di tas. Aku tidak mau memakainya, memalukan. Bayangkan, begitu aku masuk kelas tadi, teman-teman langsung mencemoohku karena bando itu. Untung mereka diam setelah aku marah.” kata Yi Yun kesal. Zi Tao mengusap-usap tengkuknya ngeri. Ia yang sudah jadi adik Yi Yun selama 15 tahun kenal betul bagaimana Yi Yun kalau sedang marah.

Mama hanya mencoba untuk membantumu mencari pejantan. Kau ‘kan sudah memutuskan untuk memisahkan diri dari klan setelah kau dewasa. Masa kau mau membangun teritori sendiri?” Wu Fan mencoba membela ibu mereka.  Yi Yun mengangguk. “Aku tidak keberatan bekerja keras menandai teritori. Aku juga tidak peduli kalau tidak ada pejantan yang suka denganku.”

“Apa kau mau jadi Casanova betina, begitu?” Wu Fan menguji keputusan adiknya, “Kau bisa bangga jika nanti jadi Casanova betina pertama, tetapi kehancuran serigala Casanova itu sangat dekat karena dia soliter. Kau harus punya penerus.”

Yi Yun benci mengakui bahwa dia butuh pejantan untuk menjaga eksistensinya. Dia menghembuskan napas keras. “Walaupun begitu….” Yi Yun mengusap-usap bagian atas kepalanya, “….apakah aku tidak bisa jadi diriku sendiri untuk menarik pejantan? Aku malas berdandan. Pakai rok juga hanya di sekolah. Rambutku tidak pernah panjang dan aku tidak pernah pakai aksesoris rambut.”

“Sepertinya sih tidak ada pejantan yang akan mendatangimu kalau kau seperti ini. Kau seperti pejantan juga, Jie.” Zi Tao yang polos berpendapat. Wu Fan mengemplangnya, lalu merangkul Yi Yun dengan sebelah tangan. “Zi Tao masih kecil, abaikan dia. Kalau masalah seperti itu, kau tidak bisa bertanya pada kami. Tanya saja pada Mama karena dia lebih mengerti.”

Yi Yun tidak begitu setuju dengan ide itu, tetapi ia diam saja. Sebenarnya, Yi Yun memiliki masalah dengan ibunya akhir-akhir ini, terutama setelah pertarungan penentuan posisi dalam hierarki. Sejak itu, sang ibu kelihatan lebih repot ‘mengubah Yi Yun menjadi betina’. Alasannya sudah diungkapkan Wu Fan sebelumnya. Akan tetapi, bagi Yi Yun, perubahan sikap ibunya ini sangat mengganggu, sehingga persahabatan Yi Yun dengan ibunya agak retak belakangan. Yi Yun sendiri tidak ingin hubungannya dengan ibunya renggang, tetapi ia sangat tidak suka dengan hal-hal yang mengarahkannya menjadi cantik. Ia ingin terus tomboy.

Di rumah, tiga bersaudara ini disambut ibu mereka, Song Qian, yang sedang membersihkan ruang tamu. Hal pertama yang wanita itu sadari setelah menyambut semua anaknya adalah menghilangnya bando Yi Yun. Wanita (yang kelihatan) muda itu langsung melebarkan matanya. “Yi Yun, mana bando yang Mama berikan?”

Santai, Yi Yun membuka ranselnya dan mengeluarkan bando hitam. “Ini.”

Song Qian menggembungkan pipinya, pura-pura marah dengan gaya (yang menurutnya) imut. Betina satu ini memang lebih sering menampakkan sisi kekanakannya. “Kok tidak dipakai?”

Mama, aku tidak suka pakai bando. Itu seperti bukan aku. Teman-teman bahkan langsung mengejekku sesaat setelah aku masuk kelas gara-gara bando itu.”

“Eh? Padahal ‘kan kau cantik pakai itu. Apakah bando terlalu mencolok, ya?” Song Qian mengernyit sambil mengamati anak gadisnya, top to toe, “Kalau begitu, pakai aksesoris apa ya yang bisa terlihat cantik tetapi tidak mencolok?”

Mama! Sudah hentikan! Aku tidak suka pakai hal-hal begitu!”

Yi Yun pergi ke kamarnya setelah membentak ibunya; satu hal yang ia sesali. Ia bisa melihat wajah sedih Song Qian saat ia pergi.

***

Setelah makan malam, Song Qian masih membicarakan tentang bagaimana membuat Yi Yun menjadi cantik. Topik bergeser dari aksesoris rambut menjadi lotion.

“Karena kau sering kena sinar matahari saat main basket, kulitmu bisa jadi lebih gelap dari gadis kebanyakan. Kebanyakan pejantan tak suka hal semacam itu, jadi kau bisa mulai pakai sun block atau lotion pencerah mulai sekarang.” nasihat Song Qian pada Yi Yun. Yi Yun diam, berusaha untuk tidak membentak ibunya lagi, walaupun ia sangat kesal.

“Oh ya, kau bisa juga pakai kaos lengan panjang untuk perlindungan dari sinar matahari saat main basket. Memang sih terasa agak panas, tetapi itu baik untuk kulitmu. Terlalu banyak ultraviolet akan berbahaya buat kulit.” tambah Song Qian lagi. Yi Yun masih diam. Zhou Mi, melihat anaknya tak memberi respon, akhirnya angkat bicara. “Yi Yun, Mama bicara padamu. Jawablah.”

Ck, kenapa Baba ikut-ikutan, sih?, keluh Yi Yun.

“Ya, Mama.”

 Senyum Song Qian terkembang ketika akhirnya Yi Yun memberi respon. “Mm… sepertinya Mama harus mulai mencari baju untukmu, nih. Mama bosan lihat kau pakai baju laki-laki terus—“

“Kalau Mama bosan, memangnya kenapa? ‘Kan aku yang berpakaian, terserah aku mau memakai pakaian seperti apa.” potong Yi Yun. Wu Fan, yang duduk di sampingnya, menginjak pelan kaki Yi Yun, memperingatkan supaya Yi Yun tidak bersikap begitu, apalagi di situ ada Zhou Mi. Akan tetapi, Yi Yun sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi. Kalau Song Qian mengatakan sesuatu mengenai ini lebih jauh, maka Yi Yun akan benar-benar marah.

“Tidak,” Song Qian berucap lebih pelan, berusaha berhati-hati, “Mama tidak memaksamu memakai baju tertentu, hanya memberikan saran saja. Kalau Yi Yun tidak mau pakai juga tidak apa-apa. Mama ‘kan ingin mendukungmu sebelum kamu sepenuhnya memisahkan diri dari klan, supaya nanti kamu bisa membangun klan sendiri.”

“Sejauh yang aku tangkap, saran Mama tak mengarah ke sana. Mama memberiku saran tentang fashion, bukan tentang masa depanku,” Yi Yun beranjak dari ruang keluarga, “Aku mau belajar. Besok, aku ada ujian.”

“Yi Yun, hargai ibumu jika ia sedang bicara!”

Suasana ruang keluarga tegang saat Zhou Mi berbicara dengan nada yang masih datar, tetapi lantang. Langkah Yi Yun terhenti. Biarpun tidak menoleh, Yi Yun tahu Zhou Mi sudah memandangnya dengan iris merah padam. Zhou Mi bangkit, dominansinya sudah memenuhi ruang keluarga.

“Duduk.”

Yi Yun mendengar ayahnya memberi perintah. Ia sangat benci jika Zhou Mi menyebutkan satu kata perintah dengan menunjukkan dominansi alfa. Keringat dingin mengaliri dahi gadis itu. Ia masih belum berani berbalik, lebih tepatnya enggan, tetapi ia juga takut pada ayahnya.

“Yi Yun! Kau dengar aku?”

Jantung Yi Yun seolah berhenti berdetak. Zhou Mi membentaknya. Ini tanda bahaya.

“Zhou Mi, sudah cukup. Biarkan Yi Yun ke kamarnya. Kita bisa bicarakan ini nanti,” Song Qian berkata dengan tatapan kosong, lurus ke depan, “Yi Yun, kau bisa pergi ke kamarmu.”

Yi Yun pergi ke kamar, tetapi dia tidak bisa belajar. Bagaimana ia bisa belajar jika semalaman itu ia mendengar ayah dan ibunya berdebat?

“Anak itu benar-benar harus didisiplinkan. Dia tidak menghargaimu; kau harus keras padanya!”

“Tidak bisa begitu, Mi. Yi Yun sudah dewasa dan cukup mengerti banyak hal. Jika kita keras padanya, maka dia akan semakin jauh dari kita.”

“Apa kau mau bilang kita harus melepaskannya? Dia akan semakin tak terkendali! Dia tidak bisa selalu mengambil keputusan dengan matang dan kita harus mengarahkannya!”

“Mengarahkannya, ya, aku setuju, tetapi tidak dengan kekerasan.”

“Caramu tidak berhasil mendisiplinkannya. Caraku tidak kau setujui. Lalu cara apa yang bisa kita pakai? Yi Yun sudah terlalu sering seperti ini!”

“Kau hanya membesar-besarkan masalah.”

“Apa? Aku mengungkapkan kenyataan. Kau saja yang tak bisa menerimanya!”

Yi Yun menghela napas panjang. “Wu Fan-ge bodoh. Kenapa dia tidak melakukan  sesuatu untuk menghentikan Baba dan Mama, sih? Dia ‘kan cukup dewasa untuk menyela mereka?” gumamnya saat menutup telinganya dengan bantal dan mencoba tidur, tetapi sesaat kemudian, matanya yang terpejam terbuka kembali. Hatinya tak tenang. Ia sadar bahwa Wu Fan tak melakukan apa-apa untuk menghentikan orang tuanya karena Wu Fan mengerti posisinya. Anak selalu merasa mereka mengerti apa yang orang tua mereka bicarakan, tetapi ini tidak sepenuhnya benar. Yi Yun juga merasa demikian dan akhirnya sadar bahwa perdebatan orang tuanya adalah karena egoismenya. Sayang, Yi Yun masih terlalu malu untuk mengakui kesalahannya.

Yi Yun bangkit dari tempat tidurnya dan membuka jendela kamar. Angin sepoi berhembus lembut meniup helaian rambut pendeknya. Malam ini sedikit gelap karena bulan hanya tampak sedikit, berbentuk sabit…

…tetapi itu tidak menghentikan Yi Yun untuk pergi keluar.

“Semoga setelah aku pulang nanti, tidak terjadi hal buruk antara Baba dan Mama.”

***

Yi Yun melangkah gontai menyusuri jalanan malam yang sepi.

Minta maaf tidak, ya? Kalau aku tak minta maaf, aku harus terus menghadapi kemarahan Baba. Kalau aku minta maaf, Mama akan mengubahku jadi… Hii! Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Apa aku akan menjadi seperti Bei Ting yang terobsesi meluruskan rambut?Atau Chen Li yang memakai lipstik super merah ke sekolah? Argh!

Biar dipikirkan bagaimanapun, perenungan Yi Yun hanya berujung pada satu kesimpulan: ia harus pulang dan minta maaf pada ayah dan ibunya. Kemudian, demi menyenangkan keduanya, ia harus berubah jadi feminin. Ah, man. Yang terakhir itu… haruskah ia lakukan juga? Yi Yun tahu ibunya bermaksud baik, tetapi Yi Yun tak siap kalau harus pakai bando, make-up tebal tiap hari, rok….

“Hoek!!! Uhuk, uhuk!!!”

Tepat sekali. Hoek. Menjijikkan.

Lho? Siapa yang muntah?

Tak seberapa jauh dari Yi Yun, ternyata ada seseorang yang sedang muntah-muntah hebat. Yi Yun berhenti berjalan, lalu mengernyit jijik melihat isi perut orang itu keluar dan jatuh ke parit di tepi jalan. Seluruh tubuh orang itu ikut bergerak ketika muntah, seolah-olah ikut mendorong isi perut keluar. Yi Yun tak harus melihat pemandangan tak mengenakkan itu lama-lama. Orang itu sepertinya sudah masuk ke tahap terakhir muntahnya saat Yi Yun datang, sehingga tak seberapa lama setelah Yi Yun melihat itu, lelaki itu selesai muntah. Tubuhnya limbung dan akhirnya jatuh ke jalan.

Ah, siaaal! Masalahku belum selesai, sudah ada orang ini yang muntah-muntah dan pingsan di depanku! Apa yang harus kulakukan?!, keluh Yi Yun dalam hati. Gadis itu tak tahu cara merawat orang pingsan yang benar, tetapi dia juga tak tega membiarkan orang itu sendirian. Perlahan, Yi Yun berjalan mendekati orang yang pingsan itu. Ia terkejut ketika mengetahui siapa orang yang ada di depannya.

Bukankah orang ini Henry Lau yang dibilang teman-teman, yang ada di surat kabar itu? Kenapa dia bisa ada di sini?

Merasa ragu, Yi Yun berjongkok untuk melihat lebih dekat wajah orang yang ia duga sebagai Henry Lau, si violinis terkenal idola teman sekelasnya.

Itu memang Henry Lau.

“Ck, dasar menyusahkan,” Yi Yun berdecak kesal, lalu bangkit dan menendang-nendang pelan tubuh Henry yang telentang di jalan, “Hei, jalanan bukan tempat tidur, tau! Ayo, bangun! Oi!”

Henry tak memberi respon. Yi Yun berkacak pinggang, lalu menendang-nendang tubuh yang terkapar di depannya itu lebih keras. “Ayo, cepat pergi dari hadapanku! Kau akan membuatku susah kalau tidak bangun juga! Hei!”

Masih tak ada respon.

Yi Yun menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalanan itu teramat sangat sepi. Si tomboy kembali memandang Henry, menimbang-nimbang apa yang sebaiknya ia lakukan pada pemuda berwajah anak-anak itu. Yi Yun bisa saja meninggalkan Henry tanpa ada rasa bersalah; ingat, saat itu jalanan sedang sepi. Tak ada orang yang akan melihat Yi Yun meninggalkan Henry dan menyalahkannya karena itu. Akan tetapi, apa itu tidak terlalu kejam? Kalaupun mau ditolong, berarti Yi Yun setidaknya harus memulangkan Henry. Mana ia tahu di mana Henry tinggal?

Yi Yun berjalan menjauhi Henry, pura-pura tidak melihat seseorang yang tengah pingsan di jalan itu.

Namun, tak seberapa lama, Yi Yun kembali lagi, mendekati Henry sambil menggerutu. Ia mengangkat tubuh Henry dengan mudah menggunakan satu tangannya, lalu memanggulnya di bahu. Henry masih terkulai lemas. Yi Yun mencium bau alkohol—dan satu kesimpulan berhasil ia tarik.

“Dasar anak kecil. Mabuk itu cuma untuk orang-orang dewasa! Pantas kau muntah-muntah tak karuan tadi,” gumam Yi Yun saat mengambil dompet yang terselip di saku celana Henry untuk melihat kartu identitasnya, “Ah, baguslah. Kau tinggal tak jauh dari sini, jadi aku tak akan terlalu capek.”

Baru selangkah berjalan, Yi Yun teringat sesuatu.

“Bisa susah kalau aku membawamu lewat jalan biasa. Fansmu akan membunuhku karena mengira aku sudah menghajarmu. Gawat. Sebaiknya bagaimana, ya?”

Yi Yun tak butuh waktu lama untuk berpikir. Tepi jalan itu dipenuhi dengan pohon-pohon tinggi. Ke sanalah Yi Yun menghilang. Gadis itu melompati ranting demi ranting sambil menyembunyikan diri. Ini sedikit melelahkan, tetapi bagi Yi Yun, akan lebih sulit jika ada orang yang mengetahui siapa dia—dan siapa yang dipanggulnya. Berita mengerikan tentangnya dan Henry akan menyebar. Hih. Yi Yun tidak mau dijadikan bulan-bulanan manusia.

***

Ternyata, rumah Henry berada di tempat yang cukup terpencil, dikelilingi pohon-pohon tinggi yang sudah tak berdaun. Rumah itu besar, tetapi anehnya, tak ada pengamanan di sana. Yi Yun tak mau ambil resiko masuk dari pintu depan—rumah seperti itu sangat mencurigakan untuk dimasuki dengan normal. Seperti pencuri, Yi Yun menyelinap lewat jalan memutar yang tak dilalui orang, lalu membuka jendela kamar Henry (yang tak terkunci; orang ceroboh macam apa yang meninggalkan jendelanya dalam keadaan ini?) dan masuk dengan susah payah. Ia mengunci jendela kamar Henry dari dalam, menutup tirai kamar, dan membaringkan Henry di tempat tidur.

Penglihatan Yi Yun seperti kamera yang memiliki modus malam, sehingga ia tidak perlu menyalakan lampu kamar itu untuk melihat. Sambil meregangkan lengan dan bahunya yang kaku, Yi Yun mengedarkan pandang ke kamar itu. “Apa benar ini kamarnya? Kamar ini terlalu sepi untuk ukuran kamar artis.” gumam Yi Yun sambil berjalan ke sekeliling ruangan. Pertanyaannya terjawab ketika ia melihat sebuah biola putih tersandar lesu di kursi dekat pintu. Itu biola putih yang menjadi ciri khas Henry. Yi Yun menghembuskan napas lega. Setidaknya, Yi Yun tak memasukkan Henry ke dalam kamar yang salah.

Yi Yun memandang ‘bocah’ berambut kecoklatan sebatas bahu yang sebagian besar matanya tertutup poni itu. Berbagai pertanyaan muncul di benak Yi Yun mengenai bocah itu.

Pertanyaan pertama: kira-kira, berapa usia Henry? Yi Yun saat ini berusia 16 tahun, jadi mungkin, umur Henry 15. Atau 14? Mungkinkah dengan wajah seperti itu, Henry berusia lebih tua dari Yi Yun? Kalaupun Henry lebih tua dari Yi Yun, usianya pasti 17, tidak lebih tua dari Wu Fan yang sekarang berumur 18 tahun.

Pertanyaan kedua: kenapa Henry mabuk? Yi Yun memiliki suatu hipotesis. Ini pasti ada kaitannya dengan keluarnya Henry dari agensi artisnya—gosip yang saat itu sedang panas di kelasnya. Yi Yun tak begitu mengerti duduk permasalahannya karena dia tidak pernah terlibat dalam pembicaraan mengenai itu.

Pertanyaan ketiga: kenapa rumah Henry sepi sekali? Kalau dia artis, mestinya dia memiliki bodyguard atau pelayan, tetapi sejauh yang Yi Yun dengar, tak ada manusia lain di rumah itu. Tahu begitu mestinya aku masuk lewat depan saja, gerutu Yi Yun dalam hati.

Pertanyaan keempat: bagaimana bisa rumah seorang artis ada di tempat terpencil seperti ini dan tidak ada yang mengetahuinya? Dalam bayangan Yi Yun, rumah artis sering dikunjungi fans atau turis, dipotret-potret seenaknya, atau disatroni perampok, tetapi rumah ini tidak kelihatan begitu. Yi Yun bertanya-tanya, jangan-jangan fans Henry pun tak tahu tentang keberadaan rumah ini? Aneh sekali. Apa motivasinya membangun rumah di tempat sesepi ini?

Tiba-tiba, Yi Yun melihat ujung jari tangan Henry bergerak perlahan, gemetar. Bibir mungil Henry terbuka sedikit, lalu terdengar gumaman yang tak jelas. Yi Yun mendekati ranjang Henry. Baru selangkah Yi Yun berjalan, Henry sudah membuka matanya.Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang sangat sempit itu, lalu menoleh pada Yi Yun. Gadis itu terjajar mundur sedikit ketika ditatap dengan iris merah milik bocah di atas ranjang.

Henry Lau… manusia serigala? Mana mungkin?!

“Kau,” Yi Yun memandang Henry balik dengan tajam, “Sebenarnya, kau itu apa?”

“Kau itu yang siapa?” tanya Henry, masih lemas, tetapi nadanya dingin. Menyebalkan, keluh Yi Yun dalam hati, Aku sudah susah-payah menolongmu!

“Aku Yi Yun. Aku yang membawamu—ralat, memanggulmu ke sini, Bocah,” Yi Yun memperkenalkan diri, “Aku menemukanmu sedang muntah, lalu kau pingsan di tengah jalan karena mabuk berat.”

“Kau tahu tempat ini?” Henry tersenyum miring, “Apa kau fansku atau semacamnya? Hebat, akhirnya aku punya fans laki-laki juga.”

“Tidak, sial, aku tidak mau jadi fansmu sama sekali, Henry Lau. Kau artis yang kelewat narsis. Satu hal lagi, aku betina, walaupun penampilanku seperti ini.”

Telinga Henry tanggap ketika Yi Yun menggunakan kata ‘betina’ daripada ‘perempuan’ untuk menyebut jenis kelamin. Pantas saja ‘rasanya’ agak lain dan sesuatu terpicu dalam diriku; ternyata dia berbeda dengan yang lainnya, pikir Henry. Sekedar untuk konfirmasi, ia bertanya, “Kau sebut dirimu apa tadi? ‘Betina’?”

“Jangan pura-pura tak tahu. Mata merahmu menjelaskan siapa dirimu. Kita berdua ini sama,” Yi Yun bersedekap, pandangannya kembali beredar ke sekitar kamar, “Kau alfa? Mana teritorimu? Tak ada penanda baumu di luar sana.”

Henry memaksa dirinya duduk dari tempat tidur. “Apa kau pernah dengar…. tentang pejantan soliter Casanova? Aku termasuk salah satunya.”

Mata Yi Yun melebar sedikit ketika mendengar itu, lalu tergelak. “Anak sepertimu pejantan Casanova? Bohong! Tak akan ada perempuan yang tertarik padamu!”

Jrak!

Semua terjadi begitu cepat dan Yi Yun mengutuki kata-katanya barusan yang memicu kegilaan Henry. Sekarang, gadis itu berada dalam posisi telentang di lantai, dua tangannya ditahan oleh Henry—yang berada di atasnya. “Kau harus menarik kata-katamu, Gadis Tampan. Setampan apapun dirimu, kau akan tetap jatuh padaku.” Iris merah Henry berkilatan setelah menerkam Yi Yun. Mata Yi Yun semakin melebar ketika wajah Henry semakin dekat dengan wajahnya.

Bruak! “Argh!”

Untunglah, kekuatan Yi Yun masih lebih besar dari Henry saat ini, mengingat Henry masih belum lepas sepenuhnya dari pengaruh alkohol. Ketika bibir mungil Henry yang menipu (karena awalnya tak kelihatan berbahaya) mendekati bibir Yi Yun, Yi Yun langsung membanting pemuda itu ke sisi berlawanan. Lantai kamar itu retak karena kerasnya Yi Yun membanting Henry. Yi Yun cepat berdiri dan melihat ‘bocah’ itu meringis kesakitan, sesekali mengaduh.

“Dengar ya, kalau sekali lagi kau mencoba merayuku, aku tidak akan memaafkanmu, Casanova tak tahu malu!”

Henry merintih. Ia bersyukur tulangnya tak ada yang retak; tubuhnya lebih kuat dari manusia biasa, tetapi…. “Sakit, tau!”

“Makanya, jangan macam-macam! Kau  masih terlalu muda untuk minum-minum dan merayu perempuan, walaupun kau sudah menyatakan dirimu sebagai Casanova! Minta maaf!”

“Enak saja! Kau itu yang harusnya minta maaf karena sudah membantingku di rumahku sendi—Augh….” Henry tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena perutnya tiba-tiba sakit. Pasti efek alkohol dan muntah-muntah hebat tadi. Yi Yun memutar bola matanya. Ia mengangkat tubuh Henry lagi dengan satu tangan dan menjatuhkannya di ranjang. “Aku akan keluar untuk buatkan makanan. Di rumahmu tidak ada orang lain, ‘kan? Kau tidur saja di situ, aku akan cepat kembali.”

Henry tertegun, tetapi tak bisa berkata apa-apa hingga Yi Yun keluar kamar.

***

“Makan ini,” Yi Yun meletakkan dengan kasar sepiring roti panggang di atas selimut Henry, lalu mengancingkan jaket kulit yang ia kenakan, “Sudah ya, aku mau pergi.”

“Aku tidak bisa makan sendiri. Suapi aku.” pinta Henry manja. Yi Yun mual dibuatnya. “Astaga, Bocah! Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu makan dengan dua tanganmu? Kau masih cukup kuat, jangan manja begitu!”

Iris mata Henry memerah lagi. Ada kata-kata Yi Yun yang melukai hatinya sangat dalam, tetapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya jika tidak untuk merayu wanita.

“Begitu. Baiklah, pergi saja.”

Yi Yun terkesiap ketika Henry makan… tanpa sedikitpun menggunakan tangannya. Ia makan seperti hewan, langsung menggunakan mulutnya. Yi Yun cepat mengambil piring roti Henry. “Kau gila!”

Henry mendongak. “Kau lihat, aku memang tak pernah diajari makan dengan dua tangan. Orang tuaku tak pernah mengajariku begitu—aku bahkan ragu apa ‘orang tua’ pernah ada dalam hidupku.” ucapnya hampa. Yi Yun mengerjapkan matanya.

Astaga.

“Maafkan aku,” Yi Yun tampak enggan mengucapkan kalimat ini, tetapi ia merasa harus minta maaf atas kesalahannya, “Aku tak tahu kalau kau tak punya…”

“Tak apa,” Henry menghempaskan kepalanya ke atas bantal, lalu tersenyum tulus, “Akulah yang harus minta maaf karena sudah menyerangmu. Aku bisa makan sendiri, kok. Pergilah kalau kau mau pergi.”

Yi Yun menghembuskan napas keras. Ini sangat memalukan, tetapi aku harus menolong orang ini sampai akhir. Kalau tak sampai akhir, itu namanya bukan menolong, batinnya. Perlahan, ia membagi roti itu menjadi sobekan-sobekan kecil. Ia mengambil satu sobekan kecil dan mendekatkannya ke mulut Henry. “Nih, cepat buka mulut supaya aku cepat pergi dari sini!”

Henry menelengkan kepalanya bingung dan entah kenapa, Yi Yun merasa ingin memeluk bocah di depannya gara-gara ekspresi kekanakan bocah itu. Yi Yun mendorongkan potongan roti di tangannya. “Ayo cepat, anak kecil!!”

Patuh, Henry membuka mulutnya dan mengunyah perlahan roti panggang manis itu. “Hm, enak! Lagi, lagi!!”

“Ish, sebenarnya berapa sih umurmu? Kenapa bersikap kekanakan begitu?” Dengan raut muka yang susah dijelaskan, Yi Yun memasukkan potongan roti berikutnya ke mulut Henry. Santai, Henry menjawab, “Umurku 20.”

Hah? 20?!! “Jangan bercanda! Kakakku punya wajah yang lebih tua darimu dan umurnya masih 18!!”

“Benar, kok. Coba cek kartu identitas di dompetku. Kau harus merasa bersalah karena dari tadi memanggilku ‘bocah’. Ayo, panggil aku ‘gege’.” kata Henry di tengah-tengah kunyahan. Yi Yun memicingkan mata. “Tidak mau. Gegeku cuma Wu Fan-ge seorang. Kau bukan siapa-siapaku; untuk apa kupanggil ‘gege’?”

Henry tersenyum lagi sampai matanya yang sipit itu tertelan pipinya. “Kalau kau tidak mau, panggil aku Xian Hua saja. Jangan panggil aku Henry Lau—itu nama panggungku, bukan nama asliku. Kedengarannya tidak enak di telinga.”

“Baru kutahu kalau itu nama aslimu. Baiklah, Xian Hua. Aku sudah memanggilmu begitu; boleh aku pergi? Rotimu sudah habis.” Yi Yun tak sabar. Xian Hua mengangguk sambil menaikkan selimutnya. “Terima kasih banyak untuk hari ini, ya. Baru kali ini aku dirawat seseorang, apalagi orang unik sepertimu, Yi Yun. Aku senang.”

“Ya, ya, terserah,” Yi Yun mengibas-ngibaskan tangannya tak peduli, “Omong-omong, di rumah ini tak ada orang lain selain dirimu? Kalau aku pergi, siapa yang mengurusmu?”

Kok aku jadi memperhatikannya, sih?

“Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau saja yang hati-hati dalam perjalanan pulang,” Henry—atau Xian Hua—melambaikan tangan pada Yi Yun, “Dah.”

Pikiran Yi Yun tiba-tiba kosong, sehingga gadis itu tanpa sadar melambaikan tangannya pada Henry sebelum melompat keluar jendela kamar Henry. Setelah mendarat, baru Yi Yun sadar bahwa tindakannya melambaikan tangan balik itu sangat tidak seperti dirinya. Yi Yun berjalan menjauh dari rumah itu ketika terdengar lolongan panjang yang sangat familiar di telinganya.

“Kau dengar itu, ‘kan? Baba memanggilmu untuk kembali. Dia mengkhawatirkanmu, Yi Yun.”

“Whoa!” Yi Yun mengelus dadanya yang berdenyut cepat melihat siapa yang muncul dari balik pepohonan, “Gege…. jangan muncul tiba-tiba! Kau mengikutiku?”

“Ya, kecuali saat kau masuk rumah ini,” Wu Fan mendongak, mengamati rumah besar di hadapannya, “Jadi ini rumah Henry Lau, violinis yang sering dibicarakan anak perempuan itu, ya?”

“Jangan salah tangkap, Ge! Aku ke sini bukannya mau berbuat aneh-aneh. Dia kutemukan pingsan di jalan dan—“

Wu Fan menepuk puncak kepala Yi Yun. “Aku tahu. Aku ‘kan mengikutimu tadi,” katanya, “Sekarang, bagaimana? Kau masih marah pada Baba dan Mama? Atau mau pulang?”

Yi Yun terdiam, berpikir. Ia tak tahu apakah ia mampu menjalankan keinginan ibunya dan meminta maaf pada ayahnya, tetapi langkahnya mantap—kembali. “Kita pulang, Ge.”

Wu Fan tersenyum simpul. Ia membiarkan adiknya dengan segala perenungan.

Aku bahkan tak tahu apa ‘orang tua’ pernah hadir dalam hidupku.

Kata-kata Xian Hua meninggalkan kesan dalam bagi Yi Yun. Sikap Yi Yun ‘meniadakan’ orang tua dengan menolak perintah mereka terasa sangat kejam sekarang. Ia harus meminta maaf saat pulang nanti dengan berani. Calon betina alfa tak akan lari dari kesalahannya.

***

SECOND STORY OF HOMO HOMINI LUPUS SERIES: TO BE CONTINUED

3 thoughts on “Cassanova (Chapter 1)

  1. mbahahahaha kocak deh yang pas si berber uda mau ninggalin henhen eh tapi balik lagi sambil ngedumel, suka bagian itu😄

    Wuih~ wolfman story versi china line nih? Keren keren, haha.

    Zhutoria as the parents, taorisber as siblings, ah~~~~ cocok cocok!

    Seriusan suka karakter Amber disini, hehe. Selalu nyaman liat karakter Amber yg cool dan asik begini hehe >w<

    Oke, aku mau lanjut baca yaaaaa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s