A Remembrance

Title : A Remembrance│Author : Spark│Cast(s) : Choi Jin Ri and Park Chan Yeol│Length : Ficlet│Genre : Romance│Disclaimer : GOD│ãSpark . 2013

Title : A Remembrance
Author : Spark (@shazapark)
Main cast :

Choi Jin Ri (f(x))
Park Chan Yeol (EXO)

Genre : Romance, Fluff
Rate : PG
Length : Drabble/Oneshoot
Words : 2.112
Disclaimer : GOD
Copyright : ãSpark
Poster/Cover edited by : Spark

A/N : Annyeonghaseyo! Perkenalkan readers-nim, nama saya Shaza. Saya Author Freelance baru, dan ini adalah FF debut saya. Mohon dimaafkan apabila banyak kesalahan dalam FF ini.

The picture that we made always make me remamber all the things of you.The picture that we take, always be a memories of me. The picture that you take always be a remembrance for me.

Jin Ri meletakan tas ransel diatas sofa apartemen barunya. Matanya menyapu seluruh ruangan yang tengah ia tempati saat ini.

Kecil dan cukup nyaman.

Memang rasanya tidak buruk juga jika untuk beberapa hari kedepan, gadis itu tinggal di apartemen kecil. Apartemen yang dilengkapi satu ranjang untuk tidur, kamar mandi, dan dapur. Itu sudah lebih dari cukup menurutnya.

Gadis itu menyibak tirai yang berada di ruang tengah tersebut secara perlahan. Hanya sekedar ingin melihat pemandangan diluar sana, kota Paris. Gadis itu baru saja menginjakan kaki di Paris sekitar dua jam yang lalu.

“Apakah benar aku sudah berada di Paris? Kenapa terasa seperti mimpi?” gumamnya sembari meraih kamera yang ia kalungkan dilehernya. Ia bahkan tak menyangka, bahwa ternyata kamera yang ia bawa tersebut ada gunanya juga, sebelum ini, ia sempat berpikir bahwa tak perlu membawa kamera, karena batinnya selalu mengatakan, “Memangnya hal apa yang bisa diabadikan di kamera ini jika aku berada di luar negeri?”.

Setelah cukup puas memotret pemandangan diluar–dari atas apartemennya, gadis itupun beranjak untuk keluar dari apartemen. Sebelum ia keluar, gadis bersurai hitam tersebut membawa tas kamera beserta kamera didalam tas tersebut, pikirnya untuk persiapan jikalau ia melihat pemandangan yang menarik, lantas dapat diabadikan dikameranya.

***

Pemuda bernama lengkap Park Chan Yeol itu mengacak rambut cokelatnya dengan kasar. Sudah hampir satu jam ia memfokuskan kamera pada satu objek yang–menurutnya cukup menarik, namun tetap saja ia merasa tidak puas dengan hasil jepretannya tersebut.

“Tidak ada yang menarik,” dengus Chan Yeol ketika tangannya mulai pegal menekan shutter kamera terlalu sering. Ia sudah beberapa kali memotret sebuah objek didepannya. Menara eiffel.

Ada lautan manusia yang sedang melakukan hal sama seperti Chan Yeol. Sama-sama sedang sibuk mengabadikan pemandangan didepan mereka saat ini. Hanya saja, orang-orang disekitarnya itu selalu nampak puas setelah melihat hasil jepretannya sendiri, berbeda dengan Chan Yeol yang tak merasa puas.

Menurut Chan Yeol, sebenarnya menara didepan matanya ini sangat indah jika saja ada sedikit tambahan yang menarik, seperti–

Mata Chan Yeol segera melebar ketika melihat sosok gadis Asia yang sedang mendekatkan matanya pada kamera, ah lebih tepatnya sedang membidik suatu objek yang ingin ia abadikan dikamera hitamnya.

Gadis tersebut tengah duduk, tepat dibelakang menara eiffeldengan posisi membelakangi menara tersebutdan disampingnya terdapat  pohon lebat. Selalu ada sebuah senyuman yang tersungging dibibirnya setiap kali mendapat satu hasil karya photograph-nya. Dan itu– sangat manis menurut Chan Yeol.

Enggan menyia-nyiakan waktu, pemuda jangkung itu pun memposisikan kamera didekat wajahnya dan–

Klik.
Jepret.

Berulang kali ia melakukan itu, hanya untuk mengisi kameranya dengan senyuman gadis tersebut. Ia tak peduli dengan menara yang menjulang tinggi dibelakang gadis itu. Yang ia pedulikan adalah satu objek yang sejak tadi ia nanti-nanti akhirnya datang juga.

Gadis yang sedang tersenyum itu, menurutnya jauh lebih baik daripada menara dibelakangnya.

Gadis bersurai hitam yang dijadikan objek–model–untuk difoto oleh Chan Yeol itu rupanya menyadari seseorang tengah menatapnya. Gadis itu pun celingukan, mencari-cari seseorang yang–menurut perasaannya–sedang menatapnya.

Mata cokelat gadis itu berhenti pada satu tempat. Ah, lebih tepatnya satu hal. Seorang pemuda yang tengah mengarahkan lensa kamera kearahnya. Gadis itu tidak mengerutkan kening, namun juga tidak marah. Justru ia malah tersenyum manis.

Klik.
Jepret.

Bahkan cahaya blitzkamera sang pemuda itu nampak, setelah si gadis bersurai cokelat itu menyunggingkan senyum manis. Hm, sepertinya Chan Yeol benar-benar tak mau menyia-nyiakan pemandangan didepan matanya ini.

Menyadari bahwa manusia yang sedang memotretnya itu terlihat seperti orang Asia, perlahan-lahan, gadis bersurai hitam itu pun beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri si pemuda yang masih asyik memotretnya.

“Memotret seseorang secara diam-diam itu sebenarnya tidak baik, Tuan Park,” ujar si gadis masih dengan senyuman manisnya, tak lupa ia memakai bahasa Korea, karena ia sangat yakin bahwa orang yang memotretnya itu adalah orang Korea, sama seperti dirinya. Chan Yeol tersentak kaget saat mendengar suara sang gadis yang sangat lembut, ah tidak, sebenarnya yang ia kagetkan adalah–

“Darimana kau tahu margaku?” tanya Chan Yeol heran. Tentu saja dia heran, memangnya kapan ia memberi tahu gadis itu tentang marganya.

Gadis bersurai hitam itu hanya tersenyum, kemudian menunjuk papan nama yang berada didada kanan Chan Yeol dengan menggunakan dagu runcingnya.

“Park,” ulang gadis itu, membaca tulisan yang tertera dipapan nama tersebut. Park? Ya, gadis itu tak salah baca, memang benar hanya ada tulisan ‘Park’ saja didalam sana. Tapi? Itu ‘kan hanya marga, kenapa tidak ada namanya?.

“Apa margamu Park?” entah keberanian dari mana, gadis itu bertanya pada Chan Yeol. Chan Yeol tak menjawab, ia terdiam memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada gadis itu.

“Ya, itu margaku,”

“Lalu namamu?” lanjut gadis tersebut merasa penasaran dengan pemuda yang baru saja memotretnya secara diam-diam itu.

Chan Yeol diam lagi, ia kembali memikirkan jawaban apa yang pantas untuk ia lontarkan. “Hm. Maafkan aku, Nona. Tetapi, orang-orang disekitar Paris memanggilku dengan sebutan ini, terutama staf pengurus manajemen fotografi di Paris. Semua memanggilku ‘Park’ maafkan aku, Nona. Aku tidak bisa memberi tahu namaku,” perkataan Chan Yeol agak panjang dari biasanya. Dan ia merasa sedikit kagok karena setelah lama berada di Paris, akhirnya ia berbicara dalam bahasa Korea lagi–dengan kata-kata yang cukup panjang.

“Ah. Gwaenchana. Kalau begitu, perkenalkan– nama ku Jin Ri,” ucap si gadis bersurai hitam menjulurkan tangannya. Chan Yeol menerima juluran tangan tersebut dengan sepenuh hati.

“Park,” Chan Yeol memperkenalkan nama–lebih tepatnya nama panggil–nya kepada Jin Ri. Jin Ri tersenyum lembut. “Aku sudah tahu,” kata Jin Ri memukul bahu Chan Yeol.

“Hahaha,”

***

Choi Jin Ri. Gadis berusia 18 tahun yang baru lulus sekolah menengah beberapa bulan yang lalu. Ia mengajukan permintaan kepada orangtuanya agar diperbolehkan libur ke Paris, hanya untuk sekedar refreshing. Namun, tak disangka-sangka, ia malah bertemu sosok pemuda yang–

Entah bagaimana cara menjelaskannya. Yang pasti … Jin Ri senang padanya.

***

Park Chan Yeol. Pria berusia 20 tahun yang bekerja di Paris sejak usianya 18 tahun. Ia bekerja sebagai fotografer handal yang diakui diseluruh Perancis. Pria itu tak akan pernah memotret suatu hal yang tidak disukainya, dengan kata lain– ia hanya akan memotret suatu hal yang ia sukai, seperti …

Jin Ri.

***

Jin Ri terbangun dari tidur panjangnya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan sinar matahari yang masuk ke indera penglihatannya. Setelah kedua bola matanya sudah terbiasa dengan cahaya, barulah ia menyadari bahwa saat ini ia sedang berada dikamar.

Jam menunjukan pukul 07.12 pagi. Gadis itu beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Sesampainya disana, ia dapat mencium aroma masakan yang menguar dari arah dapur. Tunggu? Aroma masakan? Dari arah dapur? Siapa yang memasak? Pertanyaan itumelintas diotak Jin Ri secara beruntun. Gadis itu pun memutuskan untuk melihat keluar, dan ia mendapati seorang wanita paruh baya yang sedang memasak didapur rumahnya yang luas.

Hey, bukankah aku–

Batin Jin Ri segera terpotong setelah melihat kearah luar jendela dan tak mendapati pemandangan kota Paris–seperti yang ia alami beberapa jam yang lalu–dengan ini, Jin Ri menyatakan bahwa ia ke Paris dan bertemu seorang namja bernama Park itu hanya lah mimpi. Ya, mimpi. Nyatanya, ia masih berada dirumah dengan seorang wanita paruh baya yang sedang memasak sarapan untuknya–cih, seperti biasanya, dan itu membosankan.

“Sayang, kau sudah bangun?” tanya wanita tersebut dengan senyuman manisnya. Jin Ri tersenyum melihat senyum manis Ibunya. “Iya, Bu,” balasnya.

“Mandilah. Karena hari ini adalah hari Minggu, kau bebas melakukan apapun, Jin Ri-ya!” kata sang Ibu. Jin Ri tersenyum menanggapinya, kemudian berlari kecil kearah kamar mandi.

***

Dan, disinilah Jin Ri. Di toko kamera yang biasa ia kunjungi setiap harinya. Ia selalu kesana setiap hari Minggu, hanya sekedar ingin melihat-lihat, apakah ada model kamera yang baru atau tidak.

Mata Jin Ri menelusuri setiap sudut di toko tersebut. Hampir semuanya masih sama seperti minggu lalu, namun ia menemukan sesuatu yang berbeda. Kamera berwarna merah muda yang sangat menawan dimatanya. Kakinya secara refleks melangkah kearah mejadimana kamera tersebut dipajang atau dipamerkan.

Tangannya hendak meraih kamera tersebut setelah mendengar suara seseorang menginterupsi. “Apa Nona tertarik dengan kamera yang satu itu?” tanya seorang pemuda tepat dibelakang Jin Ri. Awalnya, Jin Ri sedikit tersentak, namun ia segara menyesuaikan diri. Ia pun menoleh dan mendapati wajah tampan seorang pemuda jangkung yang mengenakan kacamata sedang tersenyum kearahnya.

Jin Ri merasa sedikit familiar dengan wajah tersebut, akan tetapi– ia membiarkannya. “Ah, ne. Sepertinya aku tertarik, bolehkah aku mengambil yang ini?” tanya Jin Ri setelah yakin bahwa pemuda dihadapannya ini adalah salah satu pekerja di toko tersebut. Karena, Jin Ri juga sering melihatnya berada di toko itu saat ia kesana.

Pemuda itu tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Jin Ri untuk mengambilkan kamera yang lebih baru. Tak lama kemudian, pemuda itu kembali dengan sebuah kotak berwarna merah muda.

“Ini. Nona bisa membayarnya dikasir,” ujar pemuda itu ramah. Jin Ri hanya mengangguk.

***

Setelah selesai membayar, Jin Ri memutuskan untuk pergi berjalan-jalan. Karena menurutnya, hari Minggu memang cocok untuk dijadikan hari berjalan-jalan.

Gadis itu berjalan mengikuti trotoar yang berada dipinggir jalan sembari bersenandung kecil. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sesosok pemuda yang sedang duduk di halte bus sendirian. Matanya melebar saat menyadari bahwa pemuda itu adalah pemuda yang ia temui di toko kamera tadi siang.

Ia memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh pemuda itu, pemuda itu tengah mendekatkan wajahnya pada kamera dan hendak membidik suatu objek yang ia incar. Tiba-tiba lensa kamera pemuda itu berhenti tepat kearah Jin Ri. Gadis itu diam menatap lensa kamera, sampai-sampai pemuda itu tak dapat menahan diri untuk tidak menekan shutter kamera agar dapat mengabadikan wajah Jin Ri yang sedang menatap lensa kamera tersebut.

Pemuda itu tersenyum lembut, kemudian sedikit menjauhkan kamera pada wajahnya, ia membungkukan badannya kearah Jin Ri. Jin Ri tak membalasnya, melainkan berjalan menghampiri pemuda itu dan duduk disebelahnya.

“Hai,” sapa Jin Ri dengan nada ceria. Pemuda itu membetulkan letak kacamata yang bertengger dihidungnya, kemudian berdehem.

“Em, hai juga,” balasnya. Jin Ri tersenyum melihat kelakuan si pemuda jangkung disampingnya.

“Kau sedang apa?” Jin Ri memulai pembicaraan. Pemuda itu hanya tersenyum dan mengangkat kameranya. “Aku sedang memotret,” balasnya singkat.

“Kau suka memotret?”

“Hm. Sangat suka,” lagi-lagi pemuda itu hanya menjawab sekenanya. Jin Ri mengerucutkan bibirnya, kemudian menjulurkan tangannya. Entah apa yang membuatnya terdorong untuk mengenal pemuda disampingnya itu.

“Choi Jin Ri. Kau?”

Pemuda itu nampak tertegun dengan setiap hal yang dilakukan Jin Ri. Oh, ayolah itu semua teralalu terburu-buru baginya. Tapi–

“Chan Yeol,” pemuda bernama Chan Yeol itu balas menjabat tangan Jin Ri.

“Hm… Chan Yeol saja?”

Ani. Tapi, Park Chan Yeol,” Chan Yeol mengulanginya lagi. Jin Ri tersenyum lembut.

Hening. Tiba-tiba hening menyelimuti keadaan disekitar, sampai sebuah suara mulai terdengar.

“Kau bekerja di toko kamera yang tadi siang ‘kan? Rasanya aku pernah melihatmu disana,” itu Jin Ri yang lagi-lagi memulai percakapan.

Chan Yeol hanya mengangguk-angguk.

“Tapi–rasanya bukan hanya disana aku melihatmu, tetapi … ditempat lain. Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi wajahmu terasa begitu familiar,”

Chan Yeol hanya tersenyum simpul mendengarkan perkataan Jin Ri.

***

Hm. Jin Ri. Kita bertemu di mimpi. Mungkin Tuhan mendengarkan do’a-ku bahwa aku ingin bisa berada didekatmu. Maka Tuhan mengirimkan mimpi itu padamu, agar kau menyadari bahwa ada seseorang yang sangat mencintaimu dari dulu, Jin Ri. Semoga kau tahu. Park dalam mimpi itu adalah diriku. Park Chan Yeol yang sudah mencintaimu sejak lama, sejak kau sangat senang mengunjungi toko tempat aku bekerja. Maka, mulai dari sekarang … Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.

***

END

A/N : Krik … Krik … Krik …
Oke, aku tahu … Ini FF benar-benar aneh dan tidak jelas. Oke, karena ini FF-nya drabble, jadi wajar ya kalau ending-nya gantung gitu. Bagi yang masih bingung, boleh tanya kok. Lewat twitter aja yah.. @shazapark. Aku akan dengan senang hati menerima segala pertanyaa yang ada. Kritik dan saran juga bakal aku terima lapang dada kok. Oke, sekian dari saya, wassalam.

14 thoughts on “A Remembrance

  1. Ternyata mimpi. Awalnya aku bingung dengan alurnya, tapi setelah baca sampai akhir, baru ngerti..
    Aku ChanLi shipper loh.. Aku suka ceritanya..
    Keep writing ChanLi’s story ne! Fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s