The Liar

The-Liar-cover

TheLiar

Cast : Choi Sulli & guess it, Park Chanyeol!
¶ Based on Lee Juck’s song – Lie Lie Lie
Angst, Drama, Romance
PG13+ | Oneshot | 1600w+

You said you would come back

Aku menghela napas dalam, mereguk udara sebisa batang tenggorokanku mengisap. Diluar sedang badai salju, timbunan salju putih ber-partikel renggang itu memenuhi ambang jendela, menumpuk menjadi gunungan di setiap sisi trotoar jalanan, dan juga menyulap halaman rumah menjadi taman putih berkilauan dengan untaian air beku di setiap cabang rapuh pepohonan. Semuanya berubah, semenjak Desember menyapa.

Ujung jemariku melekat pada permukaan dingin kaca, kudekatkan tubuhku mendekati ambang jendela yang tertutup rapat. Ku arahkan pandanganku menyusuri pekarangan yang berkilau putih, menelisik setiap jengkal tetumbuhan yang berubah menjadi dingin dan kaku.

Setengah angan ku berharap, menatap pagar rumah yang berdiri kokoh dalam hujan salju. Kuhembus kan napas panjang, berusaha menenangkan degup jantungku yang berdetak tidak karuan; mengharapkan sosok mu yang berdiri di depan gerbang, melambai kepadaku dengan mantel tebal yang membalut tubuh jangkung mu dan payung oranye cerah yang menaungi rambut eboni gelap itu dari butiran salju.

Tak terasa air mataku meleleh menuruni pipi, menciptakan anak sungai yang melintang di pipi kiri. Derik samar dedaunan yang saling bergesekan merangsek ke dalam gendang telinga, seakan memaksaku untuk menghentikan angan yang mungkin … tidak akan terjadi? Jemariku bergerak membentuk pola abstrak pada permukaan kaca yang berembun, merenungi janji-janji yang terucap dari bibirmu dua tahun silam.

Kapan kau pulang? Mengapa kau tidak datang? Bukankah kau sudah berjanji untuk kembali?

Aku melepaskan pandangan dari jendela, membalikkan tubuh dan bersandar pada permukaan jendela. Dan seperti biasa, aku mulai menggigiti kuku, sesekali melirik jam dinding bulat yang tergantung lekat di atas televisi. Waktu telah menunjukkan pukul dua siang, membuatku segera melangkahkan kaki menuju dapur, mempersiapkan makan siang yang kelewat terlambat; kendati benakku masih terbelit dengan sosok mu. Mengapa?

Kau berjanji untuk kembali. Kapan kau datang?

You said it would only take a moment

Senandung kecil mengalun dari bibirku selagi jemariku mengaduk-aduk freezer, dan menarik keluar satu pak daging sapi yang membeku. Deru angin terus menerus menyapa ambang jendela, menimbulkan bunyi derik yang terkesan dingin dan menyeramkan. Mulai kusiapkan makan siang, menguliti daging dari plastik tipisnya dan memotongnya menjadi kubus-kubus kecil.

Ah ya. Bulgogi kesukaanmu. Daging sapi segar yang dipanggang dengan kecap, minyak wijen, bawang putih, bawang bombay, dan lada hitam. Makanan yang selalu kau minta ketika sosok mu masih tinggal bersamaku. Ketika kau masih kerap kali datang dan makan siang bersamaku; selalu bulgogi. Selalu.

Pandanganku mengabur, merasakan sensasi panas yang mulai merambati sudut mata. Mengapa terasa sakit? Seakan rantai besi melilit dan menghancurkan sisa harapanku. Mengapa kau tidak kunjung datang? Kau berjanji kau hanya pergi sesaat, kau berjanji kau akan kembali. Tetapi kapan? Mengapa aku harus menunggu begitu lama?

Aku merindukan masa silam itu. Merindukan disaat mana kau datang dan makan siang denganku, disaat mana kau bergelung bersamaku di atas tempat tidur, dan disaat mana kau memeluk dan menyayangiku setiap detik, setiap jam, setiap hari, setiap bulan, setiap tahu, dan setiap saat penting dalam hidupmu.

Aku kembali memotong, tetapi segera menyesalinya karena jemariku turut teriris. Isakan meluncur dari sela bibirku, semakin mengaburkan pandanganku selagi kuisap telunjuk yang sempat bersimbah darah, berusaha keras untuk menghentikan pendarahannya.

“Bodoh.”

Kapan kau kembali? Mengapa begitu lama? Bukankah kau berjanji hanya pergi sesaat? Hanya membutuhkan sedikit waktu saja sebelum kembali?

You said to wait here

Kau bilang aku harus menunggu disini. Di ruang makan ini. Di seberang kursi yang berseberangan dengan kursimu. Dengan dua piring bulgogi yang terhidang hangat di hadapan masing-masing kursi. Dan disinilah aku, duduk manis di atas kursi dengan sepiring bulgogi hangat dan sepiring lagi di depan kursimu; diikuti segelas teh melati di sisi piring, dan aku yang terbalut sweater rajut putih pemberianmu. Semuanya seharusnya sempurna. Tetapi kenyataan berkata tidak.

Tidak ada sosok mu yang penuh tawa di kursi seberang, tidak ada tawa lebar aneh yang berkumandang dalam ruangan, dan tidak ada suara ceria mu ketika mengucapkan namaku, “Jinri.”

Mungkinkah aku terlalu berlebihan? Atau kau lah yang berlebihan? Mengingkari janji yang kau ucapkan dua tahun silam sebelum menciumku tepat di bibir. Air mataku kembali menganak sungai, jatuh mengaliri dagu, dan menetes ke atas serbet.

Aku sudah menunggu disini, menunggu selama dua tahun tanpamu. Tetapi mengapa kau tidak kunjung datang? Apakah kau baik-baik saja?

Lie, lie, lie

Berulang kali aku berusaha meneguhkan hati, mengulang-ulang ucapan bahwa aku mempercayai seluruh janjimu, mempercayai bahwa kau akan datang suatu saat nanti, kendati hati ini terlalu lelah untuk kembali mencintaimu, kendati ragaku terlalu lelah untuk berdiam diri menunggu. Aku mempercayaimu dengan segenap hatiku. Tolong, cepatlah kembali.

Karena aku tidak ingin menyanggupi sebutan pembohong untukmu, walaupun hatiku telah lelah untuk menjaga perasaan yang telah lama ini bersemayam dalam lubuk hati, dan dimana separuh diriku menanggapi bahwa kau seorang pembohong. Kau bohong, bohong, bohong.

I’m blankly standing here as the sun set

Hujan salju telah reda, menyisakan lapisan tebal salju yang ber-tekstur lembut di sepanjang sisi jalan dan menumpuk seperti barikade di halaman depan. Aku perlu keluar untuk membersihkan pekarangan, menggaru tumpukan salju yang menutupi tanaman dengan seperangkat sekop kecil merah yang kau tinggalkan di kamar lamamu.

Semuanya terasa begitu dingin, begitu tenang dan sunyi tanpamu.

Ku usap lelehan keringat yang sempat membentuk titik-titik pada dahi, dan kembali melanjutkan aktifitasku. Aku masih mengingat kenangan masa silam, dimana kau dan aku menggaru tumpukan salju bersama, membersihkan halaman dengan canda tawa yang serasa tidak pernah mati dan berakhir mengalun dari bibir kita. Sore hari yang indah, ketika kita melewatinya bersama, menjatuhkan diri di atas tumpukan salju dan menikmati sinar mentari sore.

Tetapi itu dulu.

Kini aku berdiri diam, meletakkan sekop kecil merah itu kembali ke dalam kotaknya. Haruskah aku merebahkan diri di atas tumpukan salju lagi? Memandangi matahari yang perlahan menghilang dari langit barat? Tetapi aku tidak melakukannya. Kuusap kembali keringat yang sempat membasahi dahi, lalu berdiri diam di tengah pekarangan; memandang kosong gerbang besi yang bergetar samar dihempas angin dingin.

I crouch down through the deep night

Mentari telah digantikan sepenuhnya dengan bulan keperakan; menggantung indah menghiasi langit malam yang dipenuhi awan. Kugenggam erat kaleng kopi yang terasa hangat, meremas permukaan licinnya sehingga sedikit penyok disisi belakang.

Pukul telah menunjukkan pukul sembilan malam, dimana seharusnya aku bergelung dibalik selimut dan tertidur pulas, setidaknya mengistirahatkan sejenak benakku yang terasa penat dan mata yang bengkak dan sembab.

Kuteguk kopi hangat yang hanya menyisakan separuh, merasakan cairan hangatnya yang pahit menuruni kerongkonganku, berdesir dan seperti mengambang di bagian perut. Kuremas kaleng kemasannya, berbalik dan melempar kaleng itu ke dalam keranjang sampah yang berdiri tegak di sudut ruangan.

Kulangkah kan kaki menuju tempat tidur, meninggalkan balkon kamar yang tampak bercahaya cantik dibawah siraman redup cahaya bulan. Ranjang ini, beralaskan seprai linen putih dimana sosok mu kerap kali bergelung nyaman bersamaku setiap malam, saling berpelukan dan menghabiskan malam bersama. Tetapi kini?

Dengusan getir terhembus dari hidung, selagi ku belokkan arah jalanku menuju sofa krim pucat yang bersandar dekat dengan dinding. Lebih baik aku tidur di atas sofa, aku tidak ingin tidur di atas tempat tidur dan kembali mengingat sosok mu, karena serpihan hatiku tidak bisa di persatukan lagi, tidak tahukah kau?

Kujatuhkan tubuh ke atas sofa, berusaha melipat kaki sehingga tubuh jangkung ku cukup bergelung nyaman diatas sofa yang sebenarnya berukuran kecil. Dimana kau? Aku merindukan suara dan pelukanmu, amat sangat merindukan segala hal dalam dirimu.

I waited for you endlessly

Serasa menunggumu sepanjang waktu, tanpa batas waktu, seakan kau tidak akan pernah datang dan mengakui janji yang telah kau ucapkan.

I truly believed your words

Aku benar-benar mempercayai seluruh janjimu, mempercayai perasaan cintamu padaku, walaupun raga dan jiwamu tidak ada disini. Aku tahu aku bodoh, menunggu sosok mu yang di yakini teman-temanmu bahwa kau tidak akan pernah kembali lagi. Tetapi aku mempercayaimu dengan segenap hatiku.

You said I had no faults

Kau mengatakan bahwa aku tidak memiliki salah sedikitpun, kau mengatakan bahwa kaulah yang bersalah apabila kau tidak menepati janjimu. Apakah kau menyadarinya? Janjimu bagai harapan kosong, seakan aku mengejar sebuah impian yang tidak akan pernah dapat ku gapai. Mengapa kau tidak kembali? Sekali lagi, mengapa kau tidak kembali?

I am left alone once again

Aku sendirian sekali lagi. Menyambut pagi hari tanpa sapa dan senyummu yang telah menjadi candu bagi hidupku. Tidak ada lagi ciuman selamat pagi, tidak ada lagi espresso buatanmu, tidak ada lagi surat kabar yang terserak di atas meja makan. Aku tertinggal, sendirian.

Kuapan meluncur lolos dari bibirku, membuatku refleks merentangkan lengan dan berjalan menuju gerbang, mendekati kotak surat, dimana biasanya kutemukan seikat lili atau sekotak cokelat putih kirimanmu apabila kau pergi bekerja terlebih dahulu.

Jemariku meraih kait kotak surat, membukanya dengan penuh harap dan kembali memandangi seluk beluk kotak yang kosong dan mulai berkarat untuk ke … seribu kalinya?

Oh ya, aku baru ingat kalau aku sendirian.

All memories are cast away

Dengung mesin kopi mencapai telinga, diiringi bunyi denting samar pemanggang roti tepat ketika selembar roti berwarna cokelat keemasan menyembul keluar dari lubang persegi panjangnya. Dengan sigap kuraih roti, meletakkannya di atas piring dan mulai mengolesinya dengan mentega dan selai kacang; sembari mengamati pergerakan gesit presenter sebuah acara pagi di televisi.

Mengapa dalam setiap gerakanku, aku selalu mengingatmu? Seakan seluruh gerakanku selalu terpatok denganmu, mengibaratkan sosok mu sebagai separuh jiwaku. Tetapi semua kenangan yang telah kita bangun bersama kian hari kian memudar, menyisakan kepedihan dan kekosongan yang seakan mengganjal atmosfir pagi.

Kugigit roti isi ku, berusaha keras menghapus segala hal tentangmu dari dalam benakku; sembari menancapkan pandanganku pada berita pagi yang tengah membahas masalah politik, setidaknya sedikit menghapus wajah dan ingatan akan sosok mu dari dalam benakku.

I guess I’m not worthy

Mungkinkah aku tidak layak apabila di sanding kan denganmu? Atau apakah kau terlalu sempurna untuk gadis sepertiku? Aku tidak tahu. Tetapi aku tidak menyalahkanmu tentang hal ini, karena aku masih mempercayaimu; walaupun jiwaku telah jengah menghadapi sosok mu yang tidak kunjung datang untuk menepati janji.

Lie

Katakan saja aku bodoh, katakan saja aku seorang gadis tanpa harapan. Tetapi aku mempercayaimu, menggantungkan seluruh kehidupanku denganmu, membagi jiwaku dengan jiwamu, menjalin sosok mu kedalam hatiku. Aku memang bodoh, terkadang kupikir … tidak ada gadis waras yang rela membuang waktunya hanya demi menunggu sesuatu yang tidak pasti. Tetapi aku mempercayaimu, mengucapkan syukur kendati kau tidak datang hari ini, memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesehatanmu. Aku memang tidak pandai dalam pemilihan kata, tetapi aku mencintaimu. Amat sangat menyayangimu, Park Chanyeol.

FIN

A/N : Haiiii~ ini fiction terakhir sebelum aku semi-hiatus dari dunia blog selama seminggu. Semoga readers menikmati pemilihan katanya ya, berhubung aku suck banget sama fiction angst-drama T_T
Thank you for read <333

xoxo, Rindra

11 thoughts on “The Liar

  1. Hai, rin. aku datang~~ ‘-‘ aku mau komen nih;;33

    bukannya stalker dilanjutin malah liar dikeluarin-_- (nungguin sekuel stalker tapi gagal) tapi tak apa. aku suka cara menulismu. detil, dan itu.. ekhem… jauh dari diksiku. oh oke, entah kenapa aku merasa semakin menciut-_-

    dan yah, sebelum aku bilang “sekian”, yah, sekian.___________.

    • hai bella ;-;

      heuheu. sebelumnya maaf banget aku baru bales sekarang, sudah liat komen kamu di notif tapi tak saya balas juga.-.
      eh. makasih banget lo:” aku malah ngiri sama gaya penulisanmu mak, berasa hidup banget gak kaya punyaku yang dialog nya singkat-singkat hampir ngga ada-____-

      bubaiii’-‘)/

  2. kyaaaaa… seperti biasa, aku ga tau harus ngomong apa..
    tapi yg jelas ff ini bagus thorrrrrr, bener2 deh, diksimu itu loh, bljar dari mana sih., mau juga di ajarin dong.. hehe🙂
    tpi aku kasian ssul juga, emng chanyeol t kemana sih.?????

    • makasih banyak yaaa:3
      duh. kok di ajarin.-. coba deh kamu sering-sering baca buku semua genre, jangan yang romance aja. soalnya aku dapet banyak pelajaran penulisan dari buku tema fantasy-horror, terlebih aku juga penggemar buku ber-genre itu:3
      duh. itu dia bagian yang ga jelas.-. sebagai reader silahkan kamu berangan-angan sendiri, hehe:p

  3. awal saat mulai baca aku kira scene saat chanyeol ninggalin sulli bakal ditampilkan dan akan sangat menyakitkan ternyata ini adalah penantian panjang dari seorang sullll…. bagus thor hehe

  4. Jinri yang sangat mencintai Park Chanyeol… Jinri yang setianya luar biasa… Wow…
    Aku suka cara menulismu, pilihan katamu, dan alur jalannya ceritamu…
    Semuanya ditulis secara indah dan baik…
    I’m in love! kekeke~ ^^
    Asli, bagus banget! Pertahankan ya! Dan teruslah produktif! Make tons of ChanLli & HunLli, or even MinSul, HanLli, KaiLli, & TaeLli maybe?! ^^
    Have a good day!
    Xoxo,

    Your reader ❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s