Stalker

Stalker-cover

— STALKER —

Rindra’s fiction
Cast :
 Oh Sehun and Choi Jinri
Other Cast : Song Qian
Genre : Romance, Slice of Life, Friendship (a little bit)
Oneshot | 13300w+ | PG13

— STALKER —

Café itu tampak penuh, kursi-kursi berkaki kurus nya tampak penuh di jejali oleh para pelanggan yang tengah sibuk menyesap latte dengan telepon genggam dalam jemari atau sekedar bertukar sapa dengan lawan bicara. Aroma pekat kopi menyeruak dari balik konter, dengan sentuhan gurih croissant yang baru saja keluar dari panggangan. Sosok seorang gadis tampak berdiri diam di balik konter, membolak-balik buku menu dengan tidak sabar.

Manik mata berbentuk badam itu beralih menatap pintu putar café, menanti sosok yang telah lima belas menit lamanya ia nanti. Tidak biasanya lelaki itu datang terlambat, biasanya ia kini sudah datang dan duduk di kursi favoritnya−meja bundar di sudut−dan meneguk bubble tea nya seperti biasa.

Gadis itu mengusap wajahnya, berusaha untuk tampak segar sekalipun benaknya meronta-ronta menginginkan istirahat. Ia menumpukan sisi wajahnya pada permukaan meja konter, menghembuskan nafas dalam kekecewaan.

Sedetik kemudian, sebuah buku menu tersorong ke arahnya, nyaris membentur hidungnya apabila ia tidak segera bangun, “Kerja yang benar. Atau aku akan memotong gajimu.” Omel seorang wanita paruh baya, sang pemilik café. Gadis itu mengangguk cepat, terduduk tegak dan kembali menatap penjuru café.

Kelopak matanya terasa menggantung, nyaris terkatup apabila sosok seorang wanita tidak bergegas menuju konter. Seorang wanita di pertengahan usianya yang mengenakan mantel merah tebal, dengan rambut sewarna marigold yang menjuntai di balik punggung.

Gadis itu berdeham, “Ada yang ingin anda pesan Nyonya?” tanyanya serak, wanita itu hanya tersenyum simpul, “Éclair dan strawberry frappe mungkin?” gadis itu mengangguk, mengetik pada keyboard komputer di hadapannya sebelum menghitung, “Empat puluh ribu won, Nyonya.” Sang wanita mengangguk, menyerahkan beberapa lembar uang sebelum bersandar pada meja konter dan menunggu.

Gadis itu merapikan uang, memasukkannya ke dalam kasir dan berbalik untuk menyiapkan pesanan. Tangannya dengan cekatan menyambar cangkir, menuangkan cairan merah muda kental dari dalam mesin ke dalam cangkir dan menuangkan segumpal krim frappe di atasnya. Setelah itu ia meraih japit, dan mengambil sepotong kue panjang berisi krim−éclair−dari etalase kue di meja konter dan meletakkannya di atas piring.

Ia menyerahkan pesanan pada sang wanita yang langsung meraihnya, membawanya berhati-hati dalam sepatu bot tingginya yang sedikit ‘berlebihan’ untuk usianya. Gadis itu mendengus, menggeser kaca etalase hingga menutup.

Ia baru seja hendak beristirahat kembali di aats meja konter apabila seseorang tidak mengganggu saat-saat istirahatnya. Gadis itu nyaris terjengkang, ketika seseorang menepuk lembut bahunya, membuatnya berputar dan mendapati sahabatnya balas menatapnya prihatin.

“Yatuhan, coba lihat mata panda itu.” Sahabatnya bergumam, menyentuh bawah matanya dengan raut wajah cemas. “Kau perlu beristirahat Jinri-a, seharusnya kau tidak usah berangkat bekerja hari ini.” Jinri menghela nafas, tersenyum kecil dan menggeleng, “Aku tidak lelah Qian-a, aku hanya membutuhkan istirahat sejenak.”

Qian memutar bola mata, gadis berambut cokelat madu itu menarik dua buah kursi plastik dari balik konter, dan mempersilakan Jinri untuk duduk, “Ada apa? Kau menunggunya lagi? Lelaki itu ya?” Jinri terkekeh, menghempaskan tubuhnya di atas kursi dan menjawab, “Tentu saja, kau tidak melihat seperti apa ia tersenyum? Manis sekali!” Qian menganggukkan kepalanya, ia membenahi posisi duduknya.

“Oh tidak. Jinri ku ternyata sedang mencintai pemuda yang bahkan tidak di kenalnya.” Sungut Qian, menimbulkan gelak tawa dari Jinri, “Aku hanya menyukai senyumnya! Tidak lebih, ia hanya pemuda biasa yang memuja bubble tea.” Elaknya. Qian mengangkat bahu, “Terserah kau.”

Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jinri memalingkan wajah, menatap sendu pintu putar café selagi seorang pelanggan melangkah melewatinya, menciptakan hembusan angin dingin ketika pintunya terkuak lebar selama beberapa detik.

Gadis itu menggosok lengannya, berusaha menahan dingin di karenakan pakaian pelayannya yang kelewat minim. Sebuah kemeja lengan pendek berwarna putih yang di masukkan ke dalam rok ketat selutut berwarna krim, dengan dasi kupu-kupu hitam sebagai aksen yang tersemat di kancing teratas dan celemek setengah lingkaran yang melapisi rok.

Qian berdeham, ia bangkit dari duduknya sebelum berujar, “Kau ingin minuman hangat?” tawarnya di sambut anggukan lemah Jinri. Qian tersenyum kecil, megusap bahu Jinri dan berbalik menuju mesin kopi, membuat kopi full cream kebanggaannya.

Benak Jinri berputar, menatap kosong pintu café dengan secercah harapan yang hilang-timbul dalam hatinya. Dua bulan sudah ia memata-matai pemuda yang kerap berkunjung ke café ini. Seorang pemuda berambut pirang gelap yang selalu memesan bubble tea dan muffin. Tidak lebih, dan tidak pernah berubah.

Ada kalanya, pemuda itu membawa seluruh teman-temannya; serombongan pemuda jangkung berwajah tampan yang memenuhi separuh café dan melontarkan lelucon sehingga café itu di penuhi gemuruh tawa. Jinri merasa beruntung, dengan kamera ponselnya, ia kerap mengabadikan wajah pemuda itu dalam memori ponselnya dan terkadang merekam kegiatan pemuda itu selama setengah jam ketika ia datang berkunjung.

Stalker. Choi Jinri is a stalker. She’s stalking anytime if she saw her first crush, a stranger who she doesn’t even know his name.

Pintu café berputar, membuat Jinri mendongak ingin tahu ketika sosok jangkung seorang pemuda memblokir terpaan angin dingin dari luar. Oh yatuhan, yatuhan. Jinri meneguk ludah, gadis itu membenahi posisi duduknya, menyambut pemuda yang telah ia tunggu setengah jam lamanya.

“Oh, hai, kau.” Sapa sang pemuda, berjalan mendekat dan meletakkan telapak tangannya di atas meja konter, menatap Jinri dengan kedua buah matanya yang berwarna gelap dan tampak kelam. Jinri menelan ludah, melompat dari kursinya sehingga ia dan sang pemuda nyaris sejajar.

“Oh, hai.” Cicit Jinri, bibirnya mengulum senyuman kecil, berusaha meredakan suasana yang mendadak terasa canggung. Ia menggigit bibir, menggerakkan jemarinya pada seputar keliman celemeknya. Kerongkongannya terasa kering, tersendat ketika ia berusaha menyuarakan pertanyaan ‘Apa yang ingin kau pesan’ seperti biasa.

Otaknya terasa berbalik seratus delapan puluh derajat, macet dan tidak berfungsi di karenakan jarak wajahnya dengan wajah sang pemuda yang terasa sangat dekat. Organ tubuhnya terasa meleleh, jantungnya terasa berdetak tidak normal, dan darahnya berdesir kuat dalam tubuhnya. Jinri membuka bibir, terhenti sepersekian detik dan mengatupkannya kembali.

Pemuda itu tersenyum kecil, menggerakkan sudut bibirnya dalam diam, “Ada apa denganmu huh? Kau tidak ingin memotretku lagi? Apalagi dari jarak sedekat ini?” jantung Jinri mencelos, menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan ‘apa kau bilang?’ pemuda itu berdeham, kembali mengulang pertanyaannya, “Kau tidak ingin memotretku lagi? Apalagi dari jarak sedekat ini?”

Jinri membelalak, jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Tunggu, apa yang baru saja di katakan nya? Bahwa pemuda itu tahu, ia−Choi Jinri−selalu menguntit dan memotretnya setiap kali pemuda itu mengunjungi café ini. Oh dasar Tuan Sadar Kamera.

Jinri memutar bola matanya, gadis itu meraih buku catatan kecil di sisi kasir, membuka sampulnya dan bersiap dengan sebatang pensil di tangan, “Kau ingin memesan apa?” tanyanya, berusaha menyamarkan suara tercekat yang menggelitik pangkal tenggorokannya. Pemuda itu menghela nafas, “Kau sudah tahu aku memesan apa setiap kali aku datang kemari, untuk apa bertanya lagi?”

Jinri mengangguk kecil, mencoretkan pesanan pada buku catatan lalu mendongak, “Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan menyiapkannya.” Pemuda itu terdiam tidak merespon, tetapi ketika Jinri hendak berbalik, gadis itu merasakan jemari-jemari panjang yang segera menyambar pergelangan tangannya. Ia berputar, menatap pemuda itu dengan tatapan ‘ada apa?’

Pemuda itu tertawa kecil, menarik Jinri mendekat dan menempelkan bibirnya pada ujung hidung gadis itu, mengecup hidungnya lama. Jinri membelalakkan matanya, menatap wajah pemuda di hadapannya yang hanya berjarak beberapa senti saja. Darah-darahnya terasa mengalir cepat ke kepala, bertalu-talu pada gendang telinganya. Sekujur tubuhnya terasa menegang, merasakan ribuan kupu-kupu yang seakan beterbangan dalam rongga perutnya.

“Ehm.”

Wajah Jinri memucat, mendorong bahu bidang pemuda itu dan berputar, mendapati Qian dengan dua cangkir kopi dalam genggamannya. Alis gadis itu terangkat tinggi, nyaris menghilang di bawah poninya yang menutupi dahi. Jinri berdeham, menepis setitik debu dari roknya dan berujar, “Mohon tunggu sebentar.” Kepada pemuda itu.

Ia berjalan cepat ke arah mesin minuman di sudut konter, meninggalkan keheningan canggung ketika Qian meletakkan cangkirnya di permukaan meja konter lalu menatap pemuda itu dengan pandangan menilai. Gadis itu tersenyum tipis, mengisyaratkan pemuda itu untuk mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinganya.

“Jaga ia baik-baik. Namanya Jinri, Choi Jinri.” Qian terkekeh, menghempaskan tubuhnya ke atas kursi tepat ketika pemuda itu membuka mulutnya, “Katakan padanya, akhir minggu besok aku akan mengajaknya ke Lotte World. Katakan padanya juga, namaku Oh Sehun.” Sehun tersenyum lebar, melenggang menuju meja nya yang biasa ketika Jinri bergegas mendekat, dengan baki berisi pesanan dalam lengannya.

“Apa yang di katakan nya?” desaknya menatap Qian yang sibuk menyesap kopi. Qian menelengkan wajah, tersenyum lebar sebelum menjawab, “Namanya Oh Sehun, ia mengajakmu kencan akhir minggu ini.”

FIN

A/N : Terima kasih sudah membaca. Mohon tinggalkan komentar/kritik yang membangun untuk saya!

xoxo, Rindra

32 thoughts on “Stalker

    • kailli? aku usahakan ya \m/ okeoke, makasih buat sarannya. hunlli jalan di lotte? aku udah pernah buat request skenario seperti itu kok:D

  1. HALO RINDAAAAA~~ AKU DATANG UNTUK NGERUSUH NIIH ;;33 RAME DIKIT NGGAK APA-APA YA? HEBOOHHH.___. #LUPAKAN #EFEKUAS

    YA AMPUN MEREKA MANIS BANGEET. ITU KENAPA SEHUN NYOSOR-NYOSOR AJAA ;;A;; KUKIRA YANG SUKA BUBBLE TEA MAKSUDMU ITU LUHAN TAU TAPINYA PAS LIAT POSTERNYA OH IYA SEHUN *KEBELET MAU BACA* #capslockjebol

    IN THE END DARI KESURUHANKU, AKU NGGAK MINTA MULUK-MULUK KOOK, AKU NGAK MINTA SEKUEL JUGA, KARENA ITU PASTI SAKITT UNTUKKKU *APA INI* YAAH KEEPWRITING RINDRAAA~ AKU MENUNGGU KARYAMU SELANJUTNYAAA

    P.S : Maaf ngerusuhnya nggak nyanteVVVV._______.VVVV

    • HALO KAKA ;-; UAS? AAAAAAA KENAPA AKU BELUM UAS JUGA MAK-___,-

      Kalo itu lupain aja /hiks/ maunya buat adegan romantis gitu tapi kenapa malah serasa gak pas banget huaT^T

      AAAA KAKA PENGERTIAN D: akunya gak bisa buat sequel masalahnya, jadi pending mulu padahal udah pada nagih. U,U MAKASIH KAKA, MUAH UNTUKMU ({})

      • HAI HAI HAAIII ;;A;; ENTAR JUGA KEBAGIAAAN HUAHUAHUA. EH BTW JANGAN PANGGIL AKU KAK DONG. KERASA TUA TAOO *cough*

        Hihihi. Apalagi aku yang paling gakbisa buat fluff. pernah buat malah jadinya fluff gagal .-.

        IYADONGS **.** kalo masalah itu mah nasiib ;;pp hehe tapi aku menunggu juga lhoo sekuelnyaa.-.

        kecup basah darikuu ;;33

      • PENGENNYA ENGGA ADA UAS;-; IYA BELLA;;33

        ahmasa-__- aku penggemar fiction kamu lhoh, ketje semua. pengen banget bisa buat yang kaya gitu, berasa hidup kata katanyaaaaa \m/

        eh.___. aku usahain ada sequel /smirks/

        cipok lomoh buat balesnyah ({}) *ups

      • KOK ERTE SIIICHH U.U TAPI AKU MAH UDAH DONGS’-‘

        Woah benarkah? huehuehue *bentar lagi kepalanya besar* emang berasa hidup kayak gimana sih? aku bingung setiap orang ngomong begitu.-.

        ditungguuuuu yaks’-‘

        muaahchssz._.

  2. Aku gak bisa berhenti senyum2 sendiri sama hapeku…
    Makasih, Authornim…
    Ini so sweet banget…
    I love it to the Pluto and back!
    Yeay yeay! Keep writing! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s