Fall In Fall

fall-in-fall-scli

A Fanfiction by

S C A R L E T T  L I

Released in :

♣Alternative Universe, Angst, Fluff, and Life Genre

♣ Ficlet. Length 1400+ w with 13 rate.

♣Krystal Jung from f(x) and Choi Minho from SHINee as the Main Cast

Summary :

“Kau boleh memiliki masalah, tetapi setidaknya jika kau memberitahukan hal itu kepada orang lain, kau akan merasa lebih nyaman karena kau tidak menyimpan hal itu sendirian.”

~Choi Minho~

 ∞fallinfall∞

“Aku tidak mau tahu lagi. Kau keluar saja dari sini!”

“Yang seharusnya mengatakan seperti itu adalah aku!”

“Terserahlah! Yang penting—”

Pintu rumah itu ditutup dengan suara sekali hentakan yang cukup mengganggu dan membuat suara ribut oleh pertikaian suami-istri itu hening sejenak, namun selanjutnya mereka melanjutkan kembali pertengkaran mereka seakan semuanya belum cukup untuk didengar orang lain.

Termasuk anaknya.

Oh, anak pertama dari keluarga itu, Jung Sooyeon sudah pergi saat mereka mulai terlihat akan bertengkar. Tetapi anak bungsunya itu tetap berada disana. Dan melihat semuanya. Melihat Ayahnya meluapkan rasa amarahnya dan tamparan untuk Ibunya yang cukup menyakitkan, juga bagaimana balasan dari Ibunya yang tak kalah menyakitkan untuk dilihat.

Dan sekarang, ia tidak kuat dan segera keluar dari sana. Awalnya ia ingin bertahan karena menganggap semuanya akan berjalan baik-baik saja, tidak seperti yang kakaknya katakan. Tetapi semakin lama, semuanya menjadi semakin kacau dan ia tidak ingin melihatnya lebih lama lagi.

Sambil menghela napas pelan, Jung Soojung merapatkan jaket lusuh yang ia ambil asal—karena panik ingin segera keluar dari sana tanpa memikirkan apapun—lalu menggigit bibirnya yang seakan belum cukup berdarah. Bibir bawahnya sudah berdarah bagian kiri. Dan kini gadis itu menggigit bibir kanannya sambil menunduk, ia tidak dengar apa-apa. Sedari tadi ia hanya membaca buku. Ia mencoba menghipnotis dirinya sendiri, tetapi gagal. Dan akhirnya air mata itu pun jatuh untuk yang ke sekian kalinya hari ini. Di hari bahagianya.

Di hari ulangtahunnya sendiri.

Sedari pagi kakaknya sudah mengucapkan, sekaligus mengingatkannya bahwa ia bertambah umur hari ini. Oh bahkan ia lupa untuk sekadar mengingat hari ulang tahunnya pagi itu karena ia harus berangkat pagi dan saat pulang ia sudah disuguhi oleh pertengkaran orangtuanya.

Tetapi selanjutnya, kejadian itu yang tiba-tiba saja terjadi. Mungkin Sooyeon sudah beberapa kali mendengarnya, tetapi tidak untuk Soojung. Ia tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar sampai seperti ini. Ia memang pernah melihat kedua orang itu berseteru,  tetapi ia jarang melihat orang tuanya sampai memakai kekerasan seperti tadi.

Hah.. padahal ini hari ulang tahunnya. Tetapi mengapa semuanya terlihat begitu rumit?

Buk!

Soojung mengerjap kaget lalu buru-buru menghapus air matanya saat merasakan ia bertubrukan dengan benda asing. Benda itu terasa datar, nyaman… dan hangat.

Soojung menunduk lebih dalam sejenak. “Maafkan aku.”

“Soojung?” suara berat. Ia menabrak seorang Pria rupanya. Oh ia sudah mengiranya. Tetapi tunggu. Apa? Pria itu mengenalnya?

Soojung mendongak agar bisa melihat siapa pria yang baru saja ia tabrak yang ternyata mengenalnya, tetapi selanjutnya, ia malah kaget sendiri dengan membulatkan matanya saking kagetnya. “Oh, Minho sunbae?”

Choi Minho itu melepaskan salah satu headset yang terkait pada cupingnya. Pria itu tersenyum. “Sudah kuduga itu kau. Apa yang kau lakukan di musim gugur seperti ini sendirian? Tidak bersama teman kencanmu?”

Soojung menunduk lalu menggerutu pelan. “Teman kencan apanya.” gerutunya lalu mendongak dan menggeleng. “Aku hanya ingin mencari udara segar.”

“Alasan itu biasanya digunakan bagi orang-orang yang sedang memiliki masalah. Ingin berbagi denganku?” tawar Minho. Soojung menatap Minho ragu. Ia memang mengenal Minho sebagai kakak kelasnya di sekolah dan tetangganya. Tetapi jujur, ia tidak memiliki hubungan dekat dengan Minho. Mungkin untuk sesekali menyapa seperti tadi. Tetapi jika membicarakan masalah yang sedang terjadi di keluarganya… ah, tidak tidak. Jangan.

Ia tidak akan membicarakan aib keluarganya kepada orang asing.

“Oh, Minho sunbae dari mana saja?”

Minho tersenyum tipis. Seakan tahu jika Soojung akan mengalihkan arah pembicaraan mereka. “Aku baru pulang dari sekolah.”

Soojung memiringkan kepalanya. “Bukankah seharusnya sudah pulang dari tiga jam yang lalu?”

Minho tersenyum lalu tangan kanannya terangkat untuk mengacak lembut rambut Soojung. “Aku baru saja latihan bersama teman.”

“Oh aku tahu. Pasti untuk lomba yang diselenggarakan minggu depan kan?”

Choi Minho adalah salah satu pemain basket andalan dari sekolah mereka. Yah mengesampingkan tentang postur tubuhnya yang atletis itu, kemampuan basketnya memang lumayan. Tetapi tidak cukup untuk dikalahkan dengan mudah. Walaupun Soojung dengar pria itu lebih berbakat dalam bidang lompat tinggi.

Minho mengangguk. “Ya, tanggal dua puluh sembilan nanti. Kau mau menontonnya kan?”

Soojung mengangguk antusias. “Aku akan menontonnya.”

Minho tersenyum lebar. “Baguslah. Setidaknya aku akan mendapatkan satu sorakan besar darimu.”

“Teriak apanya? Ah tidak tidak. Aku tidak akan berteriak nanti. Biarkan tim cheerleader—si Yoosung itu—yang melakukannya.”

“Oh ayolah. Semakin banyak suara membuatku semakin bersemangat.”

“Terserah sunbae.”

“Baiklah kalau terserah padaku. Jika aku tidak mendengar suaramu aku akan mendatangimu nanti.”

Soojung menunduk lalu menggerutu malas. “Terserah dia.”

“Kau mau es krim? Aku melihat kemarin ada es krim yang terlihat menarik. Mau mencobanya? Oh, akan kutraktir.”

Soojung mendongak lalu menatap Minho ragu. “Bolehkah?”

“Tentu saja.” Minho tersenyum lebar sebelum melanjutkan, “Hari ini hari ulang tahunmu kan? Anggap saja es krim itu sebagai sebuah hadiah dariku.”

Soojung membulatkan mata kaget. Minho mengetahuinya? Tentang ulang tahunnya? Bahkan kedua orang tuanya mungkin tidak mengingatnya. Entah mereka peduli dengannya atau tidak. “Sunbae mengetahuinya?”

“Untuk tetangga sepertimu, mana mungkin kulupakan?” gurau Minho lalu mengecangkan tasnya dan tersenyum. “Ayo pergi.”

Soojung perlahan mengangguk pelan dan mengikuti langkah Minho. Tetapi baru saja beberapa langkah, Minho berhenti dan membuat Soojung mengikutinya dan mengerutkan kening di belakangnya. Minho menoleh ke belakang—menatap Soojung.

“Kenapa kau di sana?”

“Apa?”

Minho mengulurkan tangan kanannya lalu menarik Soojung ke samping pria itu. “Di sini lebih baik. Setidaknya, aku merasa memiliki teman untuk diajak mengobrol.”

Soojung mengangguk kaku, entah berbuat apa lagi, ia tidak tahu. Otaknya terasa kaku. Ia bahkan tidak bisa berpikir jauh untuk saat ini. Oh bagaimana dengan orang tuanya? Ia tidak peduli. Ia hanya ingin melupakan sejenak tentang mereka sebelum kembali dan bertatap muka dengan mereka kembali.

“Duduk di sana.”

Soojung mengangguk sambil menjilati es krim yang baru saja ia dapatkan dari kedai terdekat beberapa menit yang lalu bersama sunbaenya yang merangkap menjadi tetangganya juga, Choi Minho. Entah apa yang ia rasakan saat ini, tetapi ia tidak bisa memikirkan apapun dalam jangka panjang. Semuanya terasa terhenti di titik sinapsisnya untuk mentransferkannya menuju otak utama.

Semuanya terasa membeku di otaknya. Otaknya tidak bisa berpikir cepat.

“Di sini tenang, aku menyukainya.”

Soojung mengangguk menyetujui sementara lidahnya sibuk beradu dengan makanan penutup yang beku itu. Yah, mungkin otaknya akan membeku sempurna dengan ditambah ia memakan es krim.

Soojung menatap sekeliling lalu tersenyum sendiri. Di sini memang nyaman untuk menenangkan diri. Di sini semuanya terasa tenang, bahkan untuk suara rengekan anak kecil pun terdengar seperti alunan musik pengiring disini. Semuanya begitu nyaman. Ia menyukai—

Soojung mengerjap kaget lalu menoleh cepat kepada Minho, si pelaku yang tiba-tiba saja mengaitkan salah satu headsetnya di cupingnya. Dan Minho menoleh padanya sambil tersenyum manis dan mengangkat tangan kanannya yang memegang iPod abu-abu miliknya. “Apa yang ingin kau dengar?”

Kebahagiaan.

Bebas.

Sepertinya Soojung terlalu lama berpikir yang tidak-tidak sehingga Minho langsung mengambil alih dan tiba-tiba lagu baru yang baru saja dirilis oleh K.Will tiba-tiba mengalun. Suara hangat K.Will seketika memenuhi rongga dadanya oleh suaranya yang mampu memabukkannya. Dan seketika Soojung terbawa suasana.

“Kau boleh memiliki masalah, tetapi setidaknya jika kau memberitahukan hal itu kepada orang lain, kau akan merasa lebih nyaman karena kau tidak menyimpan hal itu sendirian.” kata Minho. “Dan pelarianku adalah ini.” —pria itu menunjukkan iPodnya dan mengayunkannya di udara sejenak— “Tetapi seberapa jauh dan seberapa lama kau melarikan diri, itu tak akan menyelesaikan masalahmu. Yang terjadi malah kau akan kewalahan sendiri dengan masalah itu.”

“Jadi intinya, masalah itu datang bukan untuk dihindari. Tetapi dihadapi. Kau hidup untuk memiliki masalah dan menyelesaikannya kan? Tidak mungkin manusia hidup di dunia ini tidak memiliki masalah.” Minho menghela napas panjang lalu tersenyum sambil menatap senja yang mulai berpulang ke peraduannya. “Dan selalu ada pelangi yang indah setelah hujan. Benar kan?”

Soojung terdiam dan kedua tangannya mengepal keras di atas pahanya. Ia menunduk, lalu menghela napas mencoba menahan air matanya. Memang benar apa yang dikatakan Minho.

Akhirnya Soojung menghembuskan napas lalu mendongak menatap Minho. “Sunbae…”

Choi Minho,

Minho menoleh dan mengerutkan kening. Sementara Soojung tersenyum.

“Terima kasih.”

Terima kasih banyak.

Aku… belajar banyak tentang kehidupan hari ini darimu.

Di tengah masalahku.

Di tengah ulang tahunku.

Minho tersenyum dan tangannya terulur untuk mengacak-acak pelan rambut Soojung. “Sama-sama.”

Ia akan berusaha untuk lebih kuat menghadapi hidup. Menghadapi semua yang terjadi, dan semua yang terjadi pada dirinya.

“Soojung.”

“Ah ya?”

Tiba-tiba tangan Minho terulur kembali. Soojung menatap tangan Minho yang terulur itu lalu kembali pada Minho. Bingung dengan maksud Minho.

“Tanganmu.” kata Minho. “Sebentar lagi akan malam. Kita harus secepatnya pulang.”

“Oh ya.” Soojung menaruh tangannya di atas tangan Minho yang terulur itu dan dengan sigap Minho menggenggamnya erat dan berdiri. Soojung mengikutinya dan mulai mengimbangi jalannya dengan Minho.

Ia memang hidup karena Tuhan tahu ia bisa melewati masalah yang akan Tuhan berikan padanya.

Karena masalah itu ada bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi.

Fall in love song fall in love song
Radiant you
And be my heart fall in love song fall in love song
I want to walk with you just feel the way I love you

 ∞fallinfall∞

Halo~ sebelumnya, SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK JUNG SOOJUNG, KRYSTAL JUNG DARI F(X)! SEMOGA SEMAKIN YANG BAIK-BAIK. AMIN. Pajak ulangtahunnya ditunggu ya, eonni. Hehe.

Pertama, pas denger dari temen Krystal ulang tahun aku cuma, oh iya ya. terus tiba-tiba otakku ini memberi sinyal untuk mendapatkan inspirasi dan lahirlah ff ini dalam jangka waktu yang cukup singkat, yaitu 5 jam’-‘ Jadi maaf kalo ada banyak typo yang bertebaran, juga ada indikasi-indikasi lainnya, sekali lagi aku minta maaf karena ku juga belum sempet ngedit. /dilempar/

Sekali lagi, aku katakan selamat ulang tahun untuk eonniku yang cantik itu >< Wish you all the best and forever always love your family!

Sekian. Karena aku adalah pemula dalam hal penulisan jadi aku mohon kritikannya, tapi bukan bash ya. Dan komentarnya juga. Aku berterima kasih banyak kalo kamu meninggalkan jejak setelah membaca. terima kasih banyak! ~

Scarlettli

Source of :

– Cover : weheartit

– Lyrics : lostalllyrics.blogspot.com

14 thoughts on “Fall In Fall

  1. Pingback: Fall In Fall | Indonesia Fanfiction Kpop

  2. Bagus thor!🙂 Aku pengen request nih boleh? Pengen ff kryber dong. Aku kryber shipper nih hehehe. Mau kryber yg yadong juga gpp *plaaaakkk* Pokoknya main cast nya krystal amber dan saling jatuh cinta gitu wkwk. Thx thor🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s