Our Fate (Chapter 3)

request-cover-our-fate-jungli

TITLE : Our Fate | Chapter 3 || AUTHOR : Jungli || MAIN CAST : Amber Liu Josephine . Kris(EXO) Choi Sulli , Lay (EXO) || OTHER CAST:  Search by yourself 🙂 || GENRE: Romance , Sad|| RATING: T || DISCLAIMER: This is my first FF , I made it by my self . Hope you like it 🙂

 

Amber POV

Mataku membulat ketika merasakan seseorang memelukku dari belakang, dan melilitkan jaketnya di pinggulku.

“Hey! Apa yang kau lakukan?”

“Kau diam saja, dan ikut denganku”bisiknya tepat di depan telingaku.

“Songsaenim, Amber sakit. Aku mau meminta ijin untuk membawanya ke ruang kesehatan.”

“Ah, iya. Istirahat saja di ruang kesehatan Amber, mukamu memang kelihatan pucat.”

“Ne, songsaenim.”

Author POV

“Jadi, euhm- kau sebenarnya perempuan?”tanya kris.

“Ne? Apakah kau buta? Aku laki-laki, seperti yang tadi kau bilang tentangku.”

“Kau sedang haid, apa kau tahu itu? Aku juga tidak menyangka kau perempuan, gayamu sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau perempuan.”

“Hah?! Aku?! Pantas saja perutku sakit sekali! Ternyata bukan karena kelaparan! GOD!”amber memeriksa bagian belakang celananya, dan benar saja ada bercak merah disana.

Melihat tingkah Amber,Kris tersenyum dan mengacak pelan rambut amber.

“Hey! Bisakah kau ambilkan baju olahraga di lokerku? Aku akan sangat berterimakasih jika kau mau menolongku.”tanya amber sambil melangkahkan kakinya masuk keruang kesehatan. Kris mengangguk pelan dan berjalan meninggalkan amber.

“Ini”-kris menyerahkan baju olahraga amber, amber tersenyum dan berjalan ke kamar mandi.

“Terimakasih sudah membantuku”

“Eum”

“Hey kris!”panggil amber dari dalam kamar mandi. Kris yang sudah tertidur di salah satu tempat tidur, membuka matanya pelan.

“Apa lagi? Apa yang kau butuhkan?” tanya Kris pelan.

“Aku hanya memastikan kau masih disini saja, kau tau? Aku terkadang takut jika aku berada di suatu ruangan sendirian. Orangtuaku pergi untuk menjenguk adikku di jepang, aku sangat kesepian.”kata amber yang sudah mengganti seragam dengan bju olahraganya.

“Kau tidur?”tanya amber, berjalan mendekati Kris yang ternyata sudah tertidur. Amber tersenyum, mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur yang sekarang sedang kris  tempati.

“Apakah kau tahu? Seharian ini ingin rasanya aku memukulmu karena telah membuat hidupku sengsara. Aku benci sikap dingin dan menyebalkanmu itu, aku lebih suka kau bersikap lembut seperti tadi.”- amber melipat kedua tangannya menatap wajah kris.

“Apakah kau tidak bisa merubah sikapmu?”- Amber terus saja bergumam tidak jelas dan tertidur di samping Kris dalam posisi duduk. Kris membuka matanya pelan, memandang Amber dan tersenyum.

“Ternyata kau gadis yang cerewet juga”- Kris membelai pelan rambut amber,

Amber POV

Aku terbangun saat mendengar suara bel berbunyi. Apakah sudah waktunya pulang? Tunggu dulu! Kenapa sekarang aku tidur di tempat yang Kris tadi tiduri? Dimana Kris? Dia meninggalkanku sendirian?

“Amber? Kau masih disini? Kembalilah ke kelasmu, sudah waktunya pulang.”kata park songsaenim mengingatkanku.

“Ah, ne songsaenim. Aku permisi dulu”

Aku berlari ke kelasku, langkahku terhenti ketika melihat Kris yang berdiri di depan kelas,sendirian.

“Hey, kau belum pulang?”tanyaku padanya. Dia menatapku, mengangguk.

“Kenapa masih disini? Kau menunggu seseorang ?”

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, lagipula disini aku tidak kenal dengan siapapun. ”jawabnya sambil berjalan mendekatiku, mensejajarkan tingginya dengan tubuhku dan menempalkan dahinya di dahiku. Aku hanya dapat diam, gugup.

“Sepertinya kau tidak demam.”katanya sambil tersenyum canggung.

“Hey! Aku bukan demam, oke? Lagian kau juga taukan penyebab aku sakit. Kenapa kau tiba-tiba mengatakan aku demam?”tanyaku bingung. Aneh, sikapnya sekarang aneh.

“Aku hanya ingin memastikan. Sudahlah, forget it. Okay? Aku pulang dulu. Kau juga pulang dan beristirahatlah”katanya sambil mengacak pelan rambutku.

Kris POV

Kenapa aku bersikap seperti itu padanya? Apa yang salah denganku? Jujur, setelah kembali dari ruang kesehatan aku selalu memikirkannya. Maka dari itu tadi aku menunggunya hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Apakah aku terlalu berlebihan? Ataukah aku menyukainya?

Aku mengacak pelan rambutku, pusing dengan pikiranku yang bercampur aduk. Semoga saja ini hanya semata-mata perhatian pada seorang teman saja.

Author POV

Amber berjalan pelan sambil menendang batu kecil yang ia temukan dijalan. LELAH, itu

yang tergambar dari raut muka gadis tomboy ini.

“Kapan kalian pulang?”tanyanya pada dirinya sendiri. Saat mencapai gerbang rumahnya, ia melihat seorang wanita paruh baya yang menunggunya. Melihat kedatangan amber, wanita tersebut tersenyum.

“Apakah bibi sudah menunggu lama? Maaf, bis yang aku naiki tadi terlambat datang.”

“Aniyo agassi, bibi baru saja selesai memasak. Ini kunci rumahnya”ujar wanita paruh baya tersebut seraya menyerahkan kunci rumah amber.

“Arasseo, kamsahabnida bibi Lee”

“Ne agassi”

Bibi lee meninggalkan amber yang masih berdiri di depan rumahnya.

‘Coba saja bibi bekerja seharian penuh, aku pasti tidak akan kesepian seperti ini’ batinnya seraya membuka pintu rumahnya.

“I’m home”- amber menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang tamu, membuka sepatu, kaos kaki, dan membiarkannya tergeletak begitu saja. Amber berjalan dengan malas ke ruang makan dan melihat apa yang dimasak bibi lee untuknya. Senyum merekah di wajahnya begitu melihat masakan kesukaannya tertata rapi di meja makan.

“Thanks God” kata amber mengucapkan kata syukur sambil melompat-lompat kegirangan.

Amber mengambil sendok dan mencoba mencicipinya,

“Enak ! Bibi Lee kau malaikatku!”

Saat sedang makanannya, handphone amber berdering menandakan ada panggilan masuk. Dengan kesal amber mengambil handphone di saku celananya.

“Hey Amber!”

“Eo? Sulli-ya, kau menganggu waktu makanku”- jawab amber sambil berpura-pura kesal.

“Hahaha, begitu ya? Baiklah akan kumatikan teleponnyaaaa”

“Ya! Aku hanya bercanda! Jangan dimatikan! Kau tau, aku sangat merindukanmu sulli-yaa.”

“Aku tau onnie, maka dari itu aku meneleponmu, aku juga merindukanmu. Kkkk        ~ jangan bilang dari kemarin malam kau tidak makan karena tidak ada yang memasak untukmu”

“Ck! Seperti kau tidak tau aku saja. Bagaimana keadaan appa dan omma?” tanya amber.

“Tentu saja mereka baik-baik saja, mereka akan segera kembali, mungkin lusa. Kau tidak akan kesepian lagi onnie dan kau bisa makan sepuasnya, kkk~”

“Whatever, haha. Yang penting kau baik-baik disana, jangan nakal eo”

“Arasseo, aku masuk kelas dulu onnie, annyeong”

Amber tersenyum, rasa kesepiannya bisa terobati hanya dengan mendengar suara sulli-adiknya. Amber melanjutkan makannya dan pergi ke kamar untuk mandi dan mengerjakan tugas.

Kris POV

Aku berjalan menulusuri koridor menuju ke kelasku. Meskipun aku anak baru, setidaknya aku dapat mengingat dimana letak kelas, kantin, dan toilet tentunya. Langkahku terhenti begitu aku merasakan seseorang menepuk bahuku pelan dan menyapaku dengan senyuman.

“Pagi Kris!”

“Kenapa kau selalu mengangguku?”tanyaku berpura-pura ketus padanya. Dia hanya diam, kesal denganku pastinya.

“Aku tidak mengganggumu okay? Lihat? Aku akan berpura-pura tidak kenal denganmu. Fine?”

“Eo”,aku hanya tersenyum dengan tingkahnya.

Amber POV

“Jadi, jika ingin mencari bilangan kuantum, kalian harus menggunakan rumus yang ini.”

Aku mencoba mencerna perkataan jung songsaenim. Berharap setidaknya satu ataupun dua kata dapat diingat di otakku. Aku mendengus kesal, mengacak pelan rambutku.

“Hey, Kris!” panggilku ke kris, kris yang sedang mencatat hanya melihat sekilas ke arahku dan kembali mencatat.

“Bukankah kau yang bilang kau akan berpura-pura untuk tidak mengenalku? Kenapa kau memanggilku?”

“Itu karena waktu berpura-puranya sudah habis, apakah kau mengerti apa yang diajarkan jung songsaenim?”

Kris tertawa pelan, menutup buku catatannya dan menatap amber.

“Mengerti atau tidak itu bukan urusanmu.”

“Hey! Aku hanya bertanya, lagian sepertinya percuma saja aku bertanya padamu, tampangmu sama sekali tidak meyakinkan”

“Apa? Bisa kau ulangi perkataanmu? Sepertinya pendengaranku bermasalah.”ucapnya sambil mendekatkan telinganya ke wajahku.

Aku mendengus kesal, melihat sekelilingku dan mataku tepat tertuju pada Suho, laki-laki terpintar di kelasku.

“Songsaenim, bolehkah aku berpindah tempat duduk sebentar? Aku ingin berdiskusi tentang pelajaran bersama Suho.”ucapku sambil mengangkat tanganku. Suho tersenyum, aku memang sudah terbiasa menanyakan pelajaran yang tidak kumengerti dengan Suho jadi kami sudah bisa dibilang teman dekat.

“Boleh, asalkan jangan membahas hal lain. Victoria, bertukarlah tempat sementara dengan amber”ujar Jung songsaenim, Victoria hanya tersenyum dan mengangguk.

Aku membereskan beberapa bukuku, kegiatanku terhenti ketika seseorang memegang tanganku dengan erat. Dia menatapku datar, aku mengernyitkan dahiku-bingung.

“Songsaenim, Amber akan tetap duduk disini. Aku yang akan mengajarkannya”ucapnya masih menatapku datar. Songsaenim terlihat bingung, menatapku.

“Ne?! Aniyo songsaenim. Aku duduk dengan Suho saja.”

Aku mencoba menarik pelan tanganku, melepas genggaman Kris yang bisa membuat pergelangan tanganku sakit. Matanya kini menatapku horor.

Author POV

“Duduk Amber Liu!”kris menggeram pelan, menarik keras tangan amber hingga terduduk. Amber meringis kesakitan menatap teman sebangkunya dengan tatapan kesal.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menarikku seperti itu?”

“Diam, dan tunjukkan padaku mana yang tidak kau mengerti.”

Jung songsaenim melanjutkan pelajarannya, berharap Kris dan Amber dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri. Murid-murid di kelas tidak berani buka suara, takut dengan tatapan Kris yang menunjukkan untuk tidak mencampuri urusannya.

“Jadi, mana yang tidak kau mengerti?” Kris mengulangi pertanyaannya. Amber mendengus menatap Kris kesal dan menatap papan tulis, berpura-pura tidak mendengar.

Kris POV

Kenapa dia begitu menyebalkan? Aku hanya tidak ingin dia belajar dengan Suho. Jelas-jelas ada aku disini yang bisa membantunya. Apakah aku terlalu keterlaluan?

“Amber-a, aku bisa menjelaskan padamu pelajaran yang tidak kau mengerti. Jadi tunjukkan padaku bagian mana yang tidak kau mengerti. Eo?”

Amber menatapku,”Memangnya kau bisa menjelaskannya padaku? Padahal setiap pelajaran kau selalu tidur. Apa kau yakin kau bisa? Jika tidak yakin aku akan pindah ke tempat Suho dan kau sama sekali tidak akan pernah bisa melarangku seperti tadi.”

“Eo, aku yakin. Bagian mana yang tidak kau mengerti?”

Amber menunjuk ke arah buku pelajarannya, Bab 3? Hey! Dia ingin mengerjaiku sekarang? Pelajaran yang songsaenim berikan baru sampai bab 2 dan sekarang dia menyuruhku untuk mengajarkannya bab3? Aku menghela napasku, kesal dengan kelakuannya.

“Jadi, kau tidak bisa bukan? Baiklah aku akan pindah ke tempat Suho sekarang”ucapnya berniat untuk pergi. Aku memegang tangannya, “Aniyo, aku akan mengajarkanmu yang ini, duduk dan simak baik-baik”

Amber POV

Aku mendengus kesal, kenapa dia bisa sepintar ini? Padahal aku hanya berniat ingin mengujinya saja.

“Kau mengerti?”,tanyanya padaku.

“Apakah kau gila? Bagaimana aku bisa mengerti! Ini pelajaran yang belum sama sekali jung songsaenim ajarkan!”

“Kau yang meminta untuk mengajarkan bab 3 bukan? Jadi, bukan salahku jika kau masih belum mengerti.”katanya sambil berbaring, memandangku.

“Lagian juga kenapa kau tadi melarangku ke tempat suho, aku lebih mengerti jika diajarkan olehnya. Terkadang kau bersikap menyebalkan, tapi terkadang kau juga bersikap baik. Aku tidak mengerti dengan sikapmu. Kau orang yang tidak bisa ditebak.”

“Aku hanya bersikap baik padamu.”

“Ne?! Kau hanya bersikap baik denganku? Kenapa? apakah aku orang yang spesial?”,tanyaku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. Ia hanya diam, mengarahkan wajahnya ke arah lain, tidak menghiraukan pertanyaanku. Sekilas dapat kulihat dia tersenyum.

Author POV

KRINGGGG !

Bel tanda istirahat berbunyi, dengan cepat amber merapikan buku-bukunya dan berjalan menuju ke taman belakang, tempat favoritnya. Kris menatap bingung Amber, bangun dari bangkunya dan berjalan mengikuti amber.

Kris POV

Aku melihatnya duduk di bawah pohon dan mulai berbaring menutup matanya. Apakah dia mempunyai masalah? Angin membelai pelan rambut pendeknya. Aku tersenyum, berjalan mendekatinya dan mulai berbaring di pangkuannya. Dia menatapku kaget dan juga heran.

“Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!”ucapnya mendorong kepalaku ketanah.

“Aku hanya ingin beristirahat. Lagian kau juga menemukan tempat yang cocok untuk tidur. Disini nyaman dan sejuk cocok untuk tidur. Aku tidak akan mengganggumu, dan kuharap kau tidak menggangguku juga.”

“Tapi setidaknya menyingkirlah, aku merasa tidak nyaman jika kau tidur di pangkuanku.”

“Jadi kau menyuruhku untuk meletakkan kepalaku di atas rumput yang kotor? Aku tidak mau! Rambutku bisa rusak”

“What ever!” ucapnya sambil menghela napas kesal. Aku menutup mataku sambil tersenyum menang.

Author POV

Amber menghela napasnya kesal, bagaimana mungkin ia bisa bersantai jika Kris tidur di pangkuannya. Amber menatap Kris yang sudah tertidur lelap di pangkuannya, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi mata Kris. Amber tersenyum, mengingat semua hal baik dan menyebalkan yang ia lalui bersama Kris.

KRINGG! KRINGG! KRINGG!

Amber terperanjat begitu mendengar bunyi bel, “Kris, bangunlah.”

“Euhm?”, Kris mengusap matanya pelan dan tersenyum pada Amber. Amber membalas senyuman Kris. Kris bangun dan membelai pelan rambut Amber.

“Ayo ke kelas”ucap Kris lembut.

“Sikapmu memang tidak mudah ditebak Kris”

“Aku tau”

Kris POV

Aku memandang teman sekelasku yang sedang tertidur dibangkunya. Apa dia kelelahan?

“Aku menyukaimu Amber-a”bisikku di telinganya.

TBC

TITLE : Our Fate | Chapter 3 || AUTHOR : Jungli || MAIN CAST : Amber Liu Josephine . Kris(EXO) Choi Sulli , Lay (EXO) || OTHER CAST:  Search by yourself J || GENRE: Romance , Sad|| RATING: T || DISCLAIMER: This is my first FF , I made it by my self . Hope you like it J

 

Amber POV

 

Mataku membulat ketika merasakan seseorang memelukku dari belakang, dan melilitkan jaketnya di pinggulku.

“Hey! Apa yang kau lakukan?”

“Kau diam saja, dan ikut denganku”bisiknya tepat di depan telingaku.

 

“Songsaenim, Amber sakit. Aku mau meminta ijin untuk membawanya ke ruang kesehatan.”

“Ah, iya. Istirahat saja di ruang kesehatan Amber, mukamu memang kelihatan pucat.”

“Ne, songsaenim.”

 

Author POV

 

“Jadi, euhm- kau sebenarnya perempuan?”tanya kris.

 

“Ne? Apakah kau buta? Aku laki-laki, seperti yang tadi kau bilang tentangku.”

 

“Kau sedang haid, apa kau tahu itu? Aku juga tidak menyangka kau perempuan, gayamu sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau perempuan.”

 

“Hah?! Aku?! Pantas saja perutku sakit sekali! Ternyata bukan karena kelaparan! GOD!”amber memeriksa bagian belakang celananya, dan benar saja ada bercak merah disana.

Melihat tingkah Amber,Kris tersenyum dan mengacak pelan rambut amber.

 

“Hey! Bisakah kau ambilkan baju olahraga di lokerku? Aku akan sangat berterimakasih jika kau mau menolongku.”tanya amber sambil melangkahkan kakinya masuk keruang kesehatan. Kris mengangguk pelan dan berjalan meninggalkan amber.

 

 

“Ini”-kris menyerahkan baju olahraga amber, amber tersenyum dan berjalan ke kamar mandi.

 

“Terimakasih sudah membantuku”

 

“Eum”

 

“Hey kris!”panggil amber dari dalam kamar mandi. Kris yang sudah tertidur di salah satu tempat tidur, membuka matanya pelan.

 

“Apa lagi? Apa yang kau butuhkan?” tanya Kris pelan.

 

“Aku hanya memastikan kau masih disini saja, kau tau? Aku terkadang takut jika aku berada di suatu ruangan sendirian. Orangtuaku pergi untuk menjenguk adikku di jepang, aku sangat kesepian.”kata amber yang sudah mengganti seragam dengan bju olahraganya.

 

“Kau tidur?”tanya amber, berjalan mendekati Kris yang ternyata sudah tertidur. Amber tersenyum, mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur yang sekarang sedang kris  tempati.

 

“Apakah kau tahu? Seharian ini ingin rasanya aku memukulmu karena telah membuat hidupku sengsara. Aku benci sikap dingin dan menyebalkanmu itu, aku lebih suka kau bersikap lembut seperti tadi.”- amber melipat kedua tangannya menatap wajah kris.

 

“Apakah kau tidak bisa merubah sikapmu?”- Amber terus saja bergumam tidak jelas dan tertidur di samping Kris dalam posisi duduk. Kris membuka matanya pelan, memandang Amber dan tersenyum.

 

“Ternyata kau gadis yang cerewet juga”- Kris membelai pelan rambut amber,

 

Amber POV

 

Aku terbangun saat mendengar suara bel berbunyi. Apakah sudah waktunya pulang? Tunggu dulu! Kenapa sekarang aku tidur di tempat yang Kris tadi tiduri? Dimana Kris? Dia meninggalkanku sendirian?

 

“Amber? Kau masih disini? Kembalilah ke kelasmu, sudah waktunya pulang.”kata park songsaenim mengingatkanku.

 

“Ah, ne songsaenim. Aku permisi dulu”

Aku berlari ke kelasku, langkahku terhenti ketika melihat Kris yang berdiri di depan kelas,sendirian.

 

“Hey, kau belum pulang?”tanyaku padanya. Dia menatapku, mengangguk.

 

“Kenapa masih disini? Kau menunggu seseorang ?”

 

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, lagipula disini aku tidak kenal dengan siapapun. ”jawabnya sambil berjalan mendekatiku, mensejajarkan tingginya dengan tubuhku dan menempalkan dahinya di dahiku. Aku hanya dapat diam, gugup.

 

“Sepertinya kau tidak demam.”katanya sambil tersenyum canggung.

 

“Hey! Aku bukan demam, oke? Lagian kau juga taukan penyebab aku sakit. Kenapa kau tiba-tiba mengatakan aku demam?”tanyaku bingung. Aneh, sikapnya sekarang aneh.

 

“Aku hanya ingin memastikan. Sudahlah, forget it. Okay? Aku pulang dulu. Kau juga pulang dan beristirahatlah”katanya sambil mengacak pelan rambutku.

 

Kris POV

 

Kenapa aku bersikap seperti itu padanya? Apa yang salah denganku? Jujur, setelah kembali dari ruang kesehatan aku selalu memikirkannya. Maka dari itu tadi aku menunggunya hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Apakah aku terlalu berlebihan? Ataukah aku menyukainya?

 

Aku mengacak pelan rambutku, pusing dengan pikiranku yang bercampur aduk. Semoga saja ini hanya semata-mata perhatian pada seorang teman saja.

 

Author POV

 

Amber berjalan pelan sambil menendang batu kecil yang ia temukan dijalan. LELAH, itu

yang tergambar dari raut muka gadis tomboy ini.

 

“Kapan kalian pulang?”tanyanya pada dirinya sendiri. Saat mencapai gerbang rumahnya, ia melihat seorang wanita paruh baya yang menunggunya. Melihat kedatangan amber, wanita tersebut tersenyum.

 

“Apakah bibi sudah menunggu lama? Maaf, bis yang aku naiki tadi terlambat datang.”

 

“Aniyo agassi, bibi baru saja selesai memasak. Ini kunci rumahnya”ujar wanita paruh baya tersebut seraya menyerahkan kunci rumah amber.

 

“Arasseo, kamsahabnida bibi Lee”

 

“Ne agassi”

Bibi lee meninggalkan amber yang masih berdiri di depan rumahnya.

‘Coba saja bibi bekerja seharian penuh, aku pasti tidak akan kesepian seperti ini’ batinnya seraya membuka pintu rumahnya.

 

“I’m home”- amber menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang tamu, membuka sepatu, kaos kaki, dan membiarkannya tergeletak begitu saja. Amber berjalan dengan malas ke ruang makan dan melihat apa yang dimasak bibi lee untuknya. Senyum merekah di wajahnya begitu melihat masakan kesukaannya tertata rapi di meja makan.

 

“Thanks God” kata amber mengucapkan kata syukur sambil melompat-lompat kegirangan.

Amber mengambil sendok dan mencoba mencicipinya,

“Enak ! Bibi Lee kau malaikatku!”

 

Saat sedang makanannya, handphone amber berdering menandakan ada panggilan masuk. Dengan kesal amber mengambil handphone di saku celananya.

“Hey Amber!”

 

“Eo? Sulli-ya, kau menganggu waktu makanku”- jawab amber sambil berpura-pura kesal.

 

“Hahaha, begitu ya? Baiklah akan kumatikan teleponnyaaaa”

 

“Ya! Aku hanya bercanda! Jangan dimatikan! Kau tau, aku sangat merindukanmu sulli-yaa.”

 

“Aku tau onnie, maka dari itu aku meneleponmu, aku juga merindukanmu. Kkkk        ~ jangan bilang dari kemarin malam kau tidak makan karena tidak ada yang memasak untukmu”

 

“Ck! Seperti kau tidak tau aku saja. Bagaimana keadaan appa dan omma?” tanya amber.

 

“Tentu saja mereka baik-baik saja, mereka akan segera kembali, mungkin lusa. Kau tidak akan kesepian lagi onnie dan kau bisa makan sepuasnya, kkk~”

 

“Whatever, haha. Yang penting kau baik-baik disana, jangan nakal eo”

 

“Arasseo, aku masuk kelas dulu onnie, annyeong”

 

Amber tersenyum, rasa kesepiannya bisa terobati hanya dengan mendengar suara sulli-adiknya. Amber melanjutkan makannya dan pergi ke kamar untuk mandi dan mengerjakan tugas.

 

Kris POV

 

Aku berjalan menulusuri koridor menuju ke kelasku. Meskipun aku anak baru, setidaknya aku dapat mengingat dimana letak kelas, kantin, dan toilet tentunya. Langkahku terhenti begitu aku merasakan seseorang menepuk bahuku pelan dan menyapaku dengan senyuman.

“Pagi Kris!”

 

“Kenapa kau selalu mengangguku?”tanyaku berpura-pura ketus padanya. Dia hanya diam, kesal denganku pastinya.

 

“Aku tidak mengganggumu okay? Lihat? Aku akan berpura-pura tidak kenal denganmu. Fine?”

 

“Eo”,aku hanya tersenyum dengan tingkahnya.

 

Amber POV

 

“Jadi, jika ingin mencari bilangan kuantum, kalian harus menggunakan rumus yang ini.”

 

Aku mencoba mencerna perkataan jung songsaenim. Berharap setidaknya satu ataupun dua kata dapat diingat di otakku. Aku mendengus kesal, mengacak pelan rambutku.

 

“Hey, Kris!” panggilku ke kris, kris yang sedang mencatat hanya melihat sekilas ke arahku dan kembali mencatat.

 

“Bukankah kau yang bilang kau akan berpura-pura untuk tidak mengenalku? Kenapa kau memanggilku?”

 

“Itu karena waktu berpura-puranya sudah habis, apakah kau mengerti apa yang diajarkan jung songsaenim?”

 

Kris tertawa pelan, menutup buku catatannya dan menatap amber.

 

“Mengerti atau tidak itu bukan urusanmu.”

 

“Hey! Aku hanya bertanya, lagian sepertinya percuma saja aku bertanya padamu, tampangmu sama sekali tidak meyakinkan”

 

“Apa? Bisa kau ulangi perkataanmu? Sepertinya pendengaranku bermasalah.”ucapnya sambil mendekatkan telinganya ke wajahku.

 

Aku mendengus kesal, melihat sekelilingku dan mataku tepat tertuju pada Suho, laki-laki terpintar di kelasku.

“Songsaenim, bolehkah aku berpindah tempat duduk sebentar? Aku ingin berdiskusi tentang pelajaran bersama Suho.”ucapku sambil mengangkat tanganku. Suho tersenyum, aku memang sudah terbiasa menanyakan pelajaran yang tidak kumengerti dengan Suho jadi kami sudah bisa dibilang teman dekat.

 

“Boleh, asalkan jangan membahas hal lain. Victoria, bertukarlah tempat sementara dengan amber”ujar Jung songsaenim, Victoria hanya tersenyum dan mengangguk.

 

Aku membereskan beberapa bukuku, kegiatanku terhenti ketika seseorang memegang tanganku dengan erat. Dia menatapku datar, aku mengernyitkan dahiku-bingung.

 

“Songsaenim, Amber akan tetap duduk disini. Aku yang akan mengajarkannya”ucapnya masih menatapku datar. Songsaenim terlihat bingung, menatapku.

 

“Ne?! Aniyo songsaenim. Aku duduk dengan Suho saja.”

 

Aku mencoba menarik pelan tanganku, melepas genggaman Kris yang bisa membuat pergelangan tanganku sakit. Matanya kini menatapku horor.

 

Author POV

 

“Duduk Amber Liu!”kris menggeram pelan, menarik keras tangan amber hingga terduduk. Amber meringis kesakitan menatap teman sebangkunya dengan tatapan kesal.

 

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menarikku seperti itu?”

 

“Diam, dan tunjukkan padaku mana yang tidak kau mengerti.”

 

Jung songsaenim melanjutkan pelajarannya, berharap Kris dan Amber dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri. Murid-murid di kelas tidak berani buka suara, takut dengan tatapan Kris yang menunjukkan untuk tidak mencampuri urusannya.

 

“Jadi, mana yang tidak kau mengerti?” Kris mengulangi pertanyaannya. Amber mendengus menatap Kris kesal dan menatap papan tulis, berpura-pura tidak mendengar.

 

Kris POV

 

Kenapa dia begitu menyebalkan? Aku hanya tidak ingin dia belajar dengan Suho. Jelas-jelas ada aku disini yang bisa membantunya. Apakah aku terlalu keterlaluan?

 

“Amber-a, aku bisa menjelaskan padamu pelajaran yang tidak kau mengerti. Jadi tunjukkan padaku bagian mana yang tidak kau mengerti. Eo?”

 

Amber menatapku,”Memangnya kau bisa menjelaskannya padaku? Padahal setiap pelajaran kau selalu tidur. Apa kau yakin kau bisa? Jika tidak yakin aku akan pindah ke tempat Suho dan kau sama sekali tidak akan pernah bisa melarangku seperti tadi.”

 

“Eo, aku yakin. Bagian mana yang tidak kau mengerti?”

 

Amber menunjuk ke arah buku pelajarannya, Bab 3? Hey! Dia ingin mengerjaiku sekarang? Pelajaran yang songsaenim berikan baru sampai bab 2 dan sekarang dia menyuruhku untuk mengajarkannya bab3? Aku menghela napasku, kesal dengan kelakuannya.

 

“Jadi, kau tidak bisa bukan? Baiklah aku akan pindah ke tempat Suho sekarang”ucapnya berniat untuk pergi. Aku memegang tangannya, “Aniyo, aku akan mengajarkanmu yang ini, duduk dan simak baik-baik”

 

Amber POV

 

Aku mendengus kesal, kenapa dia bisa sepintar ini? Padahal aku hanya berniat ingin mengujinya saja.

 

“Kau mengerti?”,tanyanya padaku.

 

“Apakah kau gila? Bagaimana aku bisa mengerti! Ini pelajaran yang belum sama sekali jung songsaenim ajarkan!”

 

“Kau yang meminta untuk mengajarkan bab 3 bukan? Jadi, bukan salahku jika kau masih belum mengerti.”katanya sambil berbaring, memandangku.

 

“Lagian juga kenapa kau tadi melarangku ke tempat suho, aku lebih mengerti jika diajarkan olehnya. Terkadang kau bersikap menyebalkan, tapi terkadang kau juga bersikap baik. Aku tidak mengerti dengan sikapmu. Kau orang yang tidak bisa ditebak.”

 

“Aku hanya bersikap baik padamu.”

 

“Ne?! Kau hanya bersikap baik denganku? Kenapa? apakah aku orang yang spesial?”,tanyaku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. Ia hanya diam, mengarahkan wajahnya ke arah lain, tidak menghiraukan pertanyaanku. Sekilas dapat kulihat dia tersenyum.

 

Author POV

 

KRINGGGG !

 

Bel tanda istirahat berbunyi, dengan cepat amber merapikan buku-bukunya dan berjalan menuju ke taman belakang, tempat favoritnya. Kris menatap bingung Amber, bangun dari bangkunya dan berjalan mengikuti amber.

 

Kris POV

 

Aku melihatnya duduk di bawah pohon dan mulai berbaring menutup matanya. Apakah dia mempunyai masalah? Angin membelai pelan rambut pendeknya. Aku tersenyum, berjalan mendekatinya dan mulai berbaring di pangkuannya. Dia menatapku kaget dan juga heran.

 

“Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!”ucapnya mendorong kepalaku ketanah.

 

“Aku hanya ingin beristirahat. Lagian kau juga menemukan tempat yang cocok untuk tidur. Disini nyaman dan sejuk cocok untuk tidur. Aku tidak akan mengganggumu, dan kuharap kau tidak menggangguku juga.”

 

“Tapi setidaknya menyingkirlah, aku merasa tidak nyaman jika kau tidur di pangkuanku.”

“Jadi kau menyuruhku untuk meletakkan kepalaku di atas rumput yang kotor? Aku tidak mau! Rambutku bisa rusak”

 

“What ever!” ucapnya sambil menghela napas kesal. Aku menutup mataku sambil tersenyum menang.

 

Author POV

 

Amber menghela napasnya kesal, bagaimana mungkin ia bisa bersantai jika Kris tidur di pangkuannya. Amber menatap Kris yang sudah tertidur lelap di pangkuannya, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi mata Kris. Amber tersenyum, mengingat semua hal baik dan menyebalkan yang ia lalui bersama Kris.

 

KRINGG! KRINGG! KRINGG!

 

Amber terperanjat begitu mendengar bunyi bel, “Kris, bangunlah.”

 

“Euhm?”, Kris mengusap matanya pelan dan tersenyum pada Amber. Amber membalas senyuman Kris. Kris bangun dan membelai pelan rambut Amber.

 

“Ayo ke kelas”ucap Kris lembut.

 

“Sikapmu memang tidak mudah ditebak Kris”

 

“Aku tau”

 

Kris POV

 

Aku memandang teman sekelasku yang sedang tertidur dibangkunya. Apa dia kelelahan?  

“Aku menyukaimu Amber-a”bisikku di telinganya.

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

3 thoughts on “Our Fate (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s