Shadow (Chapter 2/ END)

shadow-herayn-storyline

Shadow (Chapter 2) [END]

 

Title:  Shadow

 

Author:  herayn (@dyomfg)

 

Cast:  Sehoon  Oh (Sehun of EXO-K), Soojung Jung (Krystal of f(x)), Jinri Choi (Sulli of f(x)), JunMyeon Kim (Suho of EXO-K), Sunyeong Park (Luna of f(x))

 

Gendre:  Sad Romance, Angst.

 

Rating: T

 

Leight:  Vignette, Series.

 

[!] Typo. Gak sesuai EYD.

 

 

 

Shadow (Chapter 2)

 

_Author’s POV_

 

Oh Sehun berjalan menuju suatu tempat. Langit sangat kelam, menunjukan bahwa sudah sangat larut malam.

 

Ia berjalan tenang diatas trotoar pinggir jalan. Hampir tak ada satupun manusia yang terlihat sepanjang mata memandang. Mungkin orang-orang sedang tertidur lelap malah ini, tapi tidak dengan Sehun.

 

Sehun sampai ditempat tujuannya, sebuah pinggiran taman kota yang terletak di daerah Gangnam. Pemandangan indah dan asri membuatnya merasa tenang.

Sehun duduk di pinggir trotoar jalan, terlihat jelas sebuah bercak darah yang cukup banyak dan sudah mengering di samping trotoar tersebut. Membuatnya teringat akan peristiwa lama yang tak pernah ia lupakan,

 

 

 

_Flashback_

 

 

 

Hari ini kalender menunjukan tanggal 30 Agustus. Musim panas akan segera berakhir, Moment pergantian antara musim panas dan musim gugur ini adalah peralihan kedua musim yang indah. 2 hari terakhir berakhirnya musim panas, bunga-bunga akan melepas aromanya yang kemudian akan berguguran.

 

Terlihat sepasang insan turun dari mobil sejenis sedan berwarna hitam. Sang pria menuntun seorang wanita turun dari mobil tersebut. Dengan mata tertutup, sang wanita yang memakai dress pendek putih nan anggun ini terlihat bingung, bahkan ia tidak tau keberadaannya sekarang.

 

 

 

_Soojung’s  POV_

 

 

 

Sudah hampir 1 bulan aku dan Sehun menjalin hubungan bersama. Semenjak pertemuan kita di toko bungan tanggal 1 Agustus lalu, Kita bagaikan sebuah amplop dan prangko yang menempel lengket dan tak bisa dipisahkan.

 

Hari ini ia menyuruhku berdandan rapih dengan dress manis putih yang diberinya kemarin. Sesampainya ku dimobil, dengan sigap ia memasangkan penutup mata kemataku. Aku tak mengerti apa rencananya.

 

Perlahan ia menuntunku keluar dari mobil dan berjalan kesuatu tempat. Aku bisa merasakan aroma bunga mawar yang sangat jelas tercium dan sedikit textur dari tanah yang dilapisi rumput pendek ditempatku berpijak ini.

 

“Sudah siap?”

 

Suara berat Sehun yang sangat indah didengar itu membuat rasa penasaranku akan tempat ini semakin besar.

 

“Hitunglah dari satu sampai tiga lalu buka penutup mata itu perlahan” Perintah Sehun.

 

Aku masih bisa mendengar suara cekikikan kecil dari Sehun yang sangat menggemaskan.

 

“Baiklah…”

 

Satu…. Dua…. Dan tiga! Kubuka penutup mataku perlahan. Alangkah terkejutnya aku saat sadar ternyata ia membawa ku kesebuah pinggiran taman kota.

 

Di sisi taman tersebut dipenuhi banyak bunga mawar merah bermekaran, Letaknya yang berada dipinggir jalan raya yang sepi membuat suasana begitu tenang dan damai, aku merasa ingin berlama-lama disini.

 

“Surprise! Hahahaha” Kejut Sehun sambil tertawa dengan raut wajah manisnya.

 

Kulihat ia berdiri dengan jarak 2 meter dihadapanku. Setelan jas rapih berwarna hitam terbalut serasi dibadannya,

 

Aku sedikit mengerutkan alisku, Tak biasanya ia memakai pakaian resmi saat bersama ku. Bodohnya aku, seketika akupun tersadar kalau diriku juga memakai pakaian resmi.

 

“Ya, Soojung-ah, Apa kau senang dengan tempat ini?” Tanya Sehun sedikit berteriak.

 

Pertanyaan yang bodoh, Tentu saja.

 

“Apa kau bercanda? Aku akan memasukan tempat ini kedalam daftar tempat faforitku” Balasku memberikannya senyuman

 

Sehun tersenyum manis dan menatap mataku dalam. Ia memang sering tersenyum dengan manisnya dihadapanku, tetapi senyuman yang ia buat kali ini sangat manis, begitu manisnya sampai pikiranku melupakan tempat yang sangat indah ini sejenak dan larut dalam senyumannya.

 

Ia berjalan mendekatiku. Perasaan apa ini? Rona merah terpancar jelas dipipiku dan berjalar sampai ketelinga. Tangannya seperti mengambil sesuatu dari saku celananya.

 

Sesampainya dihadapanku, perlahan kaki kanannya membuat posisi berlutut. Sebuah kotak cicin kecil berwarna hitam yang terbuka berada di sebelah tangannya sekarang, menujukan sebuah cincin manis yang terletak rapih didalamnya. Pipiku semakin memerah.

 

“Soojung-ah, aku memang bukan pria yang pandai berkata-kata, aku juga bukan seorang yang begitu romantis, aku bukan pria yang sempurna.  Semenjak kau berada disampingku, aku merasa hidupku lengkap. Aku merasa sempurna dengan kekuranganku..”

 

Seperti ada butiran biji jagung yang berubah menjadi semangkuk pop corn meluap di jantungku, berdebar-debar dengan cepatnya.

 

“…mau kah kau menjadi pasangan hidupku untuk selamanya?” Lanjut Sehun.

 

Kini jantungku benar-benar terasa meledak. Apakah ia baru saja mengajakku untuk menikah? Seketika perasaanku campur-aduk.

 

Jauh di dalam lubuk hatiku aku sangat senang, ingin rasanya aku teriak kegirangan pada saat itu juga. Tapi disisilain, Aku meragukannya. Kita berdua baru bersama tak lebih dari satu bulan, bahkan akupun belum sempat mengenalkannya kepada keluargaku.  Memang, satu bulan bukanlah jangka waktu yang singkat. Tapi aku tetap ragu akan hal itu.

 

“A…Aku…..” Ucapku terbata

 

Aku sungguh tak tau apa yang harus aku lakukan. Sehun jelas melihat keraguan dimataku, ia bangun dari posisinya dan menyamakan badannya di depanku.

 

“Soojung-ah, wae?” Balasnya sedikit bingung

 

“…. Apa kau tidak ingin menerima ku?”

 

Dengan cepat ku gelengkan kepalaku. “Tidak! Tentu saja tidak!”

 

Sehun terlihat makin bingung

 

“Aku sangat mencintaimu, dan ku tau kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Tapi… Aku hanya ragu, kita bahkan baru bersama tak lebih dari satu bulan…” Lanjutku.

 

Sehun menatapku dalam.

 

“Kau ragu akan cintaku?” Tanya Sehun,

 

Kali ini tatapannya sangat serius ia tujukan kepadaku.

 

“B..Bukan, Aku hanya..”

 

Tiba-tiba Sehun berlari ke tengah jalan raya di samping pinggiran taman kota tempat kita berpijak. Jalan raya tersebut terlihat sepi. Mataku membulat, melihat tinggkah bodoh Sehun.

 

“Sehunnie! Apa yang kau lakukan?! Cepat kembali! Apa kau sudah bosan hidup, hah??!” Teriakku kaget.

 

Sehun terbahak melihat expresiku. Ia tertawa dengan manisnya, seperti biasa.

 

“HAHAHAHHAHA, Soojung-ah! Apa segitunya kau mencintaiku sampai-sampai kau menunjukan expresi polos yang sangat lucu seperti barusan?! HAHAHAHAHAHA” Ledek Sehun dengan nada suara sedikit berteriak.

 

Jarak kami yang cukup jauh membuat suara yang dikeluarkan harus sedikit lantang dari biasanya,

 

Expresi polos? Aku bahkan tidak sadar apa expresi yang kubuat tadi, aku hanya begitu panik, tak mau kehilangan dirinya.

 

“Ya! Tentu saja aku mencintaimu! Berhentilah bersikap menjengkelkan!” Balas ku.

 

Bukannya berhenti tertawa meledekku, tapi ia malah semakin tertawa terbahak. Melihatnya tertawa, membuat perutku geli, Apakah ia sadar, wajahnya bagaikan malaikat disaat ia tertawa.

 

“Kalau kau benar mencintaiku, kenapa kau menolak lamaranku?!” Ucap Sehun sambil tersenyum manis, bersiap untuk meledekku lagi.

 

“Aish, kau ini. Siapa yang menolak mu?! Aku tak menolakmu sedikitpun! Aku hanya sedikit ragu, kau tau?!!”

 

Dan benar saja, ia kembali menertawakan jawabanku.

 

“Ya Soojung-ah! Tetap saja itu adalah sebuah penolakan!” Balas Sehun.

 

Aku tersenyum menahan tawa sambil menggelengkan kepalaku, sangat jarang Sehun bertingkah seperti ini. Sehun menarik nafasnya dalam-dalam.

 

“YAAA!!! SEORANG JUNG SOOJUNG YANG AMAT KUCINTAI  BARU SAJA MENOLAK CINTAKU!!” Teriak Sehun diikut suara gemaannya.

 

Tawa ku meledak.

 

“YAA!! AKU TIDAK MENOLAKMU!! BENHENTILAH BERSIKAP KONYOL DAN KEMBALI KEPINGGIR JALAN!!” Balasku ikut berteriak.

 

“TIDAK MAU!! LAGI PULA LIHAT! JALANAN INI SANGAT SEPI! BAHKAN TAK ADA SATUPUN KENDARAAN MELINTAS!!”

 

Memang jalanan tersebut sangat sepi, tetapi rasa khawatirku terus saja bermunculan.

 

“JUNG SOOJUNG, SARANGHAE!!!” Teriaknya tiba-tiba

 

Rona merah kembali menghias pipiku. ‘saranghae’, Ingin rasanya ku mendengar kalimat tersebut sepanjang hari.

 

“NADO SARANGHAE!! SEKARANG KEMBALILAH KESAMPINGKU!” Balasku.

 

Kami berdua larut dalam tawa. Tiba-tiba Sehun membuka pembicaraan dengan nada yang lebih serius dari barusan.

 

“Ya, Soojungie.” Panggilnya sambil menyunggingkan senyuman andalannya.

 

“Ne?”

 

“Andaikan hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Sehun.

 

Aku benar-benar tak mengerti dengan selera humornya, Akupun tersenyum kecil.

 

“Maksudmu?”

 

“Andaikan detik selanjutnya aku mati, apa kau merelakanku?”

 

Pertanyaannya semakin membuatku binggung. Ya, Sehunnie, berhentilah bersikap konyol.

 

“Ya, kau akan hidup 100 tahun lagi, Sehunnie. Kau akan terus menemaniku disisiku hingga aku mati, seperti dalam janjimu, kan?”

 

Sehun tersenyum, sepertinya ia teringat kembali akan janji manis yang aku dan dirinya buat 2 minggu lalu. Sumpah kecil yang kita tulis bergantian dalam selembar kertas putih yang kami kubur dalam sebuah time capsule di halaman belakang rumahnya.

 

“Kau tau? Mungkin aku terlalu dini untuk melamarmu, tak apa jika kau menolak.”

 

Sehun kembali tersenyum. Tetapi aku melihat rasa kecewa didalam senyumnya. Sungguh, aku tak bermaksud menolaknya.

 

“Tapi asal kau tau, Rasa cintaku kepadamu tak pernah berkurang sedikitpun. Mari bersama sampai ajal memisahkan kita berdua!” Ujarnya manis terdengar di telingaku.

 

Ingin rasanya ku peluk dirinya erat-erat dan tak akan ku lepas.

 

“Aku terima tantanganmu, Sehunnie. Ayo kita pulang, akanku buatkan bulgogi kesukaanmu” Balasku tersenyum sambil  menjulurkan kedua tangan, berharap ia segera kembali kesampingku.

 

Tiba-tiba, semuanya berubah menjadi slow-motion. Senyumannya merekah memberi balasan bahwa ia megerti dengan apa yang ku maksud, kaki kanannya perlahan melangkah, diikuti dengan kaki kirinya yang dengan lambatnya mengangkat. Disaat kaki kirinya baru saja berpijak, sebuah mobil sedan berwarna putih terang melaju tak terkendali dari arah samping.

 

CRASH

 

Suara hantaman keras terdengar jelas dikupingku. Dengan perlahan, mobil tersebut menabrak badan Sehun dan langsung menyeretnya yang kemudian menghantam trotoar dengan kerasnya.

 

Aku melihat jelas kejadian itu dengan kedua mataku. Kau pernah dengar seseorang berkata jika kau sangat terkejut sampai-sampai kau membeku? Teori tersebut memang benar. Seluruh tubuhku terasa kaku, mulutku diam seribu bahasa. Kucoba sekuat tenaga untuk menggerakan kedua kakiku, namun nihil, semuanya sia-sia.

 

Detik selanjutnya, semua terasa normal kembali. Lutuku lemas, tak bisa menopang tubuhku lagi. Seketika ku terjatuh diikuti suara klakson mobil yang terus menyala akibat tertiban sesuatu atau bahkan seseorang yang sudah tak bernyawa. Tak terasa air mata keluar deras dari sisi mataku, sekuat tenaga, ku beranjak dari posisiku dan lari ketempat Sehun diam tergeletak. Darah.. hanya darah yang ku lihat disepanjang mata memandang,

 

“SEHUNNIE..”

 

Ku anggkat kepalanya dengan hati-hati ke pangkuanku, darah segar terus mengalir dari belakang kepalanya. Kulihat sekeliling tak ada satupun mobil atau orang yang melintas, sedan putih yang menabrak Sehun tersebut terlihat hancur disisi depannya. Wajah indah Sehun terlihat memucat, semakin banyak darah yang keluar.

 

“KUMOHON, SIAPA SAJA…. TOLONG AKU…. KUMOHON…” Teriakku.

 

Namun nihil. Aku sangat takut kehilangan dirinya, tak sadar diriku larut dalam isak tangis. Rasa menyesal mulai bermunculan.

 

Menit selanjutnya terlihat beberapa mobil pemadam kebakaran, polisi, dan ambulance berdatangan. Tetapi sudah terlambat. Semua terlihat gelap, Aku bahkan tak berani untuk melepasnya dari pelukanku.

 

 

 

“Sehun, Oh Sehun imnida…”

 

“Maukah kau menjadi pasangan hidupku untuk selamanya?..”

 

“Mari bersama sampai ajal memisahkan kita berdua..”

 

“Jung Soojung, saranghae..”

 

.

 

.

 

.

 

                                    

 

                                                       _Flackback End_

 

 

 

_Sehun’s POV_

 

 

 

“Ya, Bocah menyedihkan, apa kau tuli?”

 

Terdengar suara lelaki yang cukup berat. Suara yang mulai familiar terdengar ditelingaku belakangan ini, suara menyebalkan tersebut membuyarkan lamunanku.

 

Aku baru sadar, sedari tadi ia terus memanggil namaku. Ku menengok kebelakang, tepatnya ke asal suara tersebut.

 

“Aku di sebelah sini” Ucap seseorang yang kucari-cari.

 

Ia terlihat 1 meter melayang diatasku. Perlahan ia turun dengan sayap hitam nan indah miliknya, kini ia berada tepat dihadapanku. Pria bersetelan jas hitam-hitam yang selalu terlihat rapih setiap kali kubertemu dengannya. Rambutnya hitam mengkilap dengan wajah yang menurutku tidak terlalu tampan dibanding diriku.

 

Bisa dibilang ialah sosok yang pertama kali kulihat semenjak kematian datang kepadaku. Tatapanya yang arogan membuatku ingin sekali memukul wajahnya setiap kali ia menatap miris hidupku, tapi cepat-cepat kukurugkan niat ku karena-

 

“Ya, memikirkan hal jelek tentangku lagi?” Ucap pria tersebut seenaknya.

 

Ya, dia bisa membaca pikiranku. Saat pertaman kali kami bertemu, ia mengenalkan dirinya padaku dengan nama Kim JunMyeon. Tapi aku lebih suka memanggilnya ‘Suho’ (Guardian). Tidak seperti guardian yang biasa ku pirikkan, Guardian yang seharusnya berbuat baik kepada manusia dan menolongnya ini malah bersikap seenaknya kepadaku, memanggilku ‘bocah menyedihkan’ setiap saat. Tapi aku memang harus berterima kasih kepadanya, ia telah menolongku.

 

“Mau apa kau kemari?” Tanyaku begitu bangun dari posisi duduk.

 

“Mau apa? Tentu saja mau menjemputmu pulang setelah berkeliaran dibumi seenaknya”

 

Aku menyeritkan alisku, Pulang? Bahkan aku tak ingin meninggalkan dunia ini.

 

“Apakah jangka waktuku sudah habis?” Tanyaku ragu.

 

“Bingo.”

 

Ku tertundunduk lemas. Kau bodoh Oh Sehun, kenapa kau belum bisa melupakan Soojung-ah dan hidup tenang dialam selanjutnya? Aku sungguh tak bisa memanfaatkan waktu yang Suho berikan kepadaku.

 

“Wae? Apa kau belum bisa melepas kekasihmu yang amat kau cintai itu?” Ledek guardian sialan itu seenaknya.

 

Aku hanya bisa terdiam.

 

“Ya, bocah menyedihkan. Kau sudah melewati batas waktu yang kuberikan.  29 hari, kau ingat?”

 

Kau sungguh bodoh, Oh Sehun, Bodoh.

 

“Aku tau, betapa bodohnya diriku, tak bisa memanfaatkan waktu yang kau berikan. Tapi bisa kah kau memberiku satu kali kesempatan? Untuk kali ini saja.” Ucapku memohon.

 

Suho terlihat tersentak atas perkataanku

 

“Apa? Satu kali sempatan?” Ucapnya terdengar sedikit terkekeh.

 

Ia menatap bola mataku tajam. Aku tak tau apakah ini hanya perasaanku saja tau apa, tetapi aku bisa merasakan ia membaca semua memori ku tentang Soojung. Lalu ia kembali menatap wajah ku,

 

“Kau tau, aku bukan orang yang mudah terbuai dalam penderitaan seseorang.” Ucapnya membuatku kembali menunduk.

 

“..Tetapi, baiklah jika kau memaksa.” Lanjutnya.

 

Apa aku tidak salah dengar? Sosok angkun nan menjengkelkan sepertinya member kesempatan kedua untukku? Kini ku bisa bernafas lega untuk sementara.

 

“Besok adalah hari satu bulan peringatan kematianmu, kali ini lakukan tugasmu dengan baik. Kutemui kau lagi sekitar jam 9 pagi.”

 

Akupun tersenyum lega, Suho terlihat mengerti apa isi senyuman ku.

 

“Sama-sama.” Ucapnya sambil tersenyum kecil.

 

Akupun segera meninggalkan taman kota, berlari menuju satu tempat, Apartemen Soojung.

 

 

 

***

 

 

 

_Author’s POV_

 

Waktu setempat menunjukan pukul 5 pagi. Langit jelas terlihat masih gelap, Oh Sehun terlihat berlari menuju suatu tempat. Ia sudah mengukur tentang semua rencananya nanti, Masih jam Setengah 6 pagi, Soojung pasti masih tertidur lelap diranjangnya, Batin Sehun.

 

 

 

***

 

 

 

_Soojung’s POV_

 

NIIIIT… NIIIIT… NIIIIT

 

Suara alarm digital terdengar bulat ditelingaku, ku coba membuka kedua mataku yang terasa berat ini. Tanganku dengan leluasa mematikan alarm sembari ku beranjak keposisi berdiri. Ku luhat jam menunjukan pukul 6:30 pagi, belakangan ini sangat jarang bagiku bangun sepagi ini.

 

Kuputuskan untuk mencuci muka ku terlebih dahulu. Dalam perjalanan menuju kamar mandi, mata ku tertuju pada kalender gantung yang berada di kamarku. Sebuah tanggal bernominal ’30 September’ menuju pada hari ini, di dalam kotak tanggal tersebut terdapat tulisan ‘1 bulan peringatan kematian Oh Sehun’. Memori lama, memori menyakitkan yang selalu ingin ku buang jauh-jauh dari hidupku, memori indah tentang seorang Sehunnie yang membuatku terus meratapi takdir dan menyalahkan diriku yang menyedihkan ini.

 

Sebaiknya aku memang harus mengikhlaskannya, berusaha melupakannya hanya membuatku semakin teringan akan dirnya. Hari ini aku harus membuat keputusan besar, kuputuskan untuk mengunjungi makamnya sekaligus menemuinya untuk yang terakhir kalinya.

 

 

 

_Author’s POV_

 

 

 

Waktu sudah mendekati pukul 6:30 pagi. Tak seperti pagi biasanya, pagi ini matahari terlihat bersinar sangat cerah. Soojung berjalan di trotoar pinggiraan jalan daerah Apgujeong. Terlihat toko bunga kecil dipinggir jalan sana, Soojung teringat suatu hal, ia akan mampir membeli bunga untuk mengunjungi makam Sehun terlebih dahulu.

 

***

 

 

 

Sehun terus berlari tanpa henti, bahkan ia sendiripun tak tau kemana langkahnya menuju. Ia terlihat sangat panik sejak beberapa menit yang lalu, Soojung terlihat tak sedang di apartemennya, padahal menemui Soojung adalah satu-satunya cara baginya untuk meninggalkan dunia ini dengan tenang.

 

Ia tak mengira kalau Soojung akan meninggalkan apartemennya sepagi ini, lagi pula selama 1 bulan Sehun menjadi ‘bayangan’ Soojung tak pernah sekalipun ia melihat Soojung pergi meninggalkan apartemennya selain pergi kuliah, Sehun tau jelas kalau hari ini jadwal kuliah Soojung sedang libur. Kepanikan Sehun bertambah parah saat menyadari matahari mulai tampak jelas di langit.

 

Sehun hampir putus asa, Kemudian terpikir suatu tempat dibenaknya.

 

“Tempat favoritnya.” Pikir Sehun mantap.

 

***

 

Soojung memilih setiap bunga dengan seksama, serbuk sari bunga yang bertebrangan selalu saja membuat ia bersih setiap saat.

 

“Tuhan memberkatimu” Ucap seorang wanita menghampiri Soojung.

 

Wanita tersebut tersenyum ramah kepada diriya. Dilihat dari wajahnya, sepertinya ia sebaya dengan Soojung.

 

“Kau sunguh familiar dimataku, apa kau sering datang kesini?” Tanyanya

 

Soojung tersenyum mengerti, wanita dihadapannya itu adalah pemilik toko bunga tersebut.

 

“Dahulu” Balas Soojung.

 

“Oh iya.. aku ingat sekarang, dulu kau yang sering datang membeli bunga mawar merah bersama namja chingu mu itu, kan?” Tebaknya

 

Soojung terlihat tersenyum lesuh.

 

“Eung… Waeyo? Apa tebakanku salah?”

 

“Aniyo.. Iya, kau benar. Hari ini adalah hari peringatan satu bulan kematian namja chinguku yang kau maksud, Aku kemari bermaksud membeli setangkai mawar merah untuknya”

 

Wanita tersebut menatap Soojung pilu.

 

“Maafkan aku.. Aku tak tau kalau ia sudah meninggal, Aku turun berduka” Ucapnya terlihat tak enak hati kepada Soojung.

 

“Tak apa” Balas Soojung sambil tersenyum

 

“Oh iya, namaku Park Sunyeong. Kau bisa memanggilku Sunyeong. Aku pemilik toko ini, sebagai rasa penyesalanku, kau boleh memilih seikat bunga jenis apa saja yang ada ditoko ini” Tawarnya sembari tersenyum manis

 

“Jung Soojung imnida. Tak usah, aku hanya akan membeli seikat bunga mawar merah-“

 

“Mawar merah?baiklah, satu ikat mawar merah segar gratis untukmu Soojungie”

 

Soojung kembali tersenyum melihat tingkah pemilik toko tersebut. Toko bunga favoritnya tersebut sangat manis, seperti pemiliknya.

 

“Jadi kau akan mengunjungi pemakamannya?” Tanya Sunyeong sembari member Soojung seikat bunga mawar merah.

 

“Tak tau juga… sejak ia meninggal, aku sangat trauma tentang hal-hal yang menyangkut dirinya. Aku tak yakin apa aku berani mengunjungi makamnya hari ini.” Jelas Soojung.

 

Sunyeong terlihat berfikir sejenak,

 

“Apa kalian berdua punya tempat favorit? Mungkin tempat tersebut sama artinya dengan tempat pemakamannya”

 

Ucapan Sunyeong membuat Soojung  teringat akan suatu tempat. Tempat dimana dulu Sehun melamarnya, Tempat dimana dulu sempat menjadi tempat favoritnya.

 

“Sunyeong-ah, Kau memberiku ide!” Teriak Soojung girang.

 

Sunyeong terlihat kebingungan.

 

“Sunyeong-ah, aku harus pergi kesuatu tempat sekarang, terimakasih atas bunganya!”

 

“I..Iya… sama-sama” Balas Sunyeong yang semakin keheranan.

 

Baru sampai di ujung pintu, Soojung menghampiri Sunyeong lagi.

 

“Sunyeong-ah, maukah kau menjadi sahabatku?” Tanya Soojung tersenyum lepas.

 

Sudah sangat lama sejak Soojung terlihat tersenyum seperti ini. Hari ini Soojung tampak berubah drastis, ia terlihat sudah mulai mengikhlaskan kepergian Sehun dalam hidupnya.

 

“Ba..Baiklah….” Setuju Sunyeong.

 

Soojung pun segera meninggalkan Sunyeon yang tersenyum manis melihat tingkah laku Soojung. Soojung berlari menuju suatu tempat, Ya, taman kota Gangnam.

 

 

 

***

 

 

 

Langkah Soojung terhenti ketika ia sampai di sebuah pinggiran taman kota, tempat indah dan juga bersejarah baginya.

 

Soojung mengingat dengan baik setiap sudut pemandangan taman itu, merasakan kembali harum bunga mawar di selilingnya. Pemandangan indah tapi juga menyiksa baginya. Pasalnya, Soojung kehilangan pengisi setengah hatinya yang kini mungkin sudah beristirahat tenang disurga, bersama tuhan.

 

Soojung berjalan ke arah trotoar yang membatasi jalanan aspal dan rumput taman. Bercak darah yang kini mongering terlihat jelas. Soojung membulatkan matanya saat nyadari sebuah surat dan setangkai mawar merah tergeletak di samping noda darah tersebut.

 

Tidak, tidak mungkin ada yang tau persis tentang letak kematian Sehun, tidak mungkin, batin Soojung. Jika ada yang tau pun pasti tak sampai datang ketempat kejadian kematian Sehun, Setidaknya mereka akan menyematkan bunga tepat dimakan Sehun. Mengingat Sehun tak punya kedua orang tua dan hidup sebatangkara, tak ada orang yang begitu perduli tentang dirinya sedital rasa perduli Soojung terhadapnya.

 

Soojung menyadari tangannya bergetar saat hendak mengambil selembar surat tersebut. Ia mulai menangis saat membacanya, Surat perjanjian cintanya dengan Oh Sehun yang ditulisnya bersama. Lembar tersebut jelas-jelas terlihat nyata Soojung pegang , mengetahui kalau sudah lama kertas tersebut di tutup rapat pada sebuah time-capsule yang dirinya dan Sehun kubur bersama di Halaman belakang rumah Sehun.

 

Tubuh Soojung semakin bergetar saat ia merasakan kembali kehadiran Pria yang selalu mengikuti dirinya, disana, tepat di belakangnya. Soojung memeluk dirinya dengan rasa takut, takut akan kehadiran pria tersebut yang mugkin saja adalah pria jahat yang ingin menggangunya.

 

“Soojung-ah…”

 

Terdengar samar-samar suara seseorang yang sangat ia rindukan. Dengan cepatnya, Soojung berbalik arah mencari asal suara tersebut. Suara yang itu terdengar sangat dekat, namun Soojung tak melihat seorangpun disekitarnya. Seluruh tubuh Soojung merinding seketika.

 

“Soojung-ah, kau tidak bisa melihatku. Namun aku disini, di hadapanmu..”

 

‘Soojung-ah’. Tak seorangpun yang pernah memanggil dirinya dengan sebutan Soojung-ah, kecuali satu orang, orang yang sudah lama meninggal. Parahnya lagi, Soojung baru tersadar, hari ini adalah hari peringatan kematian ‘orang’ tersebut.

 

“K-Kau? Tak mungkin. Ini hanya khayalanku.” Yakin Soojung menahan airmata pahitnya.

 

Tubuh Soojung kembali Meringding ketika terasa sebuah tangan dingin menyentuh pipinya. Soojung ikut memegang salah satu pipinya, berharap ia merasakan sebuah tangan yang sangat terasa menempel di pipinya. Namun nihil. Sentuhan itu hanya bisa ia rasakan, bukan ia pegang.

 

“Berhentilah menangis. Kini aku bisa tenang meninggalkanmu.”

 

Suara tersebut kini terdengar sangat jelas ditelinga Soojung. Suara seorang pria. Seorang pria yang sangat ia rindukan.

 

“…Oh Sehun?… Sehunnie?!” Panggil Soojung terisak dalam tangisnya.

 

“Terima kasih atas semuanya, Selamat tinggal, Soojung-ah”

 

Soojung kembali merasakan kecupan bibir dingin di dahinya. Sentuhan tersebut perlahan menghilang, melangah mundur menjauhi dirinya, atau bahkan menghilang.

 

Soojung terjatuh dalam posisi berdirinya. Dia hanya bisa menangis dan menangis. Semakin larut dalam tangisannya.

 

“Selamat tinggal…. Sehunnie.”

 

.

 

.

 

.

 

 

 

THE END

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

PROLOGUE

 

 

 

Oh Sehun – Jung Soojung

 

Aku bersumpah atas nama diriku, untuk mencintai Soojung-ah selamanya. Bahkan disaat kumeninggal.

 

Mencintai Soojung-ah seperti mencintai diriku sendiri.

 

Meligdungi Soojung-ah seperti kulit kerang yang meingdungi isinya akan derasnya arus laut.

 

Menjanga Soojung-ah lebih dari menyimpan sekanrung emas kekotak deposit yang sangat tertutup.

 

Aku bersumpah atas nama bintang-bintang dilangit malam awal bulan Agustus,

 

Menemani Soojung-ah hingga 100 tahun lamanya, berada disisinya walau ajal memisahkan kita.

 

Aku bersumpah atas nama bunga mawar merah.

 

 

 

Jung Soojung – Oh Sehun

 

Aku bersumpah atas nama diriku, untuk jatuh cinta kepada Sehunnie untuk selamanaya.

 

Mencintainya sebanyak buih dilautan.

 

Mengasihinya layaknya kekuatan cinta Cinderella

 

Menyayanginya lebih dari apapun.

 

Aku bersumpah atas nama keju manis dilapisan kue red velvet,

 

Untuk mencarinya sampai keujung samudra pasifik, ketika dirinya menghilang dari sisiku.

 

Aku bersumpah atas nama bunga mawar merah.

 

 

 

                                              O.S & J.S

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “Shadow (Chapter 2/ END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s