Love Blossoms

 love-blossoms-by-scarlettli

||Title : Love Blossoms ||Author : Scarlett Li ||

||Length : One Shot||Rated : PG-13 ||Genre : Romance, AU||

|| Main Cast : Choi Jinri (Sulli), Oh Sehun, Kim Joonmyun (Suho)||

|| Support Cast : Jung Soojung (Krystal)||

Warning : May be Typos

“Kau yang tadi pagi menyodoriku kotak dengan bau menyengat itu kan?”

Scarlettli’s storyline©2013

∞loveblossoms∞

Hari ini terasa sama. Ia melewati jalan ini lagi.

Tidak. Bukan seperti itu.

Ia memang sudah setiap hari melewati jalanan ini. Begitu pula dengan semuanya. Ia bahkan hampir mengenali seorang bibi disana yang suka menawarkannya makanan jualannya. Ia pernah membelinya, sekali. Setelah itu tidak lagi. Bukan karena tidak enak, tetapi biasanya ia sudah ditraktir Soojung. Yah, gadis itu memang benar-benar kaya sampai-sampai bisa menghamburkan uangnya untuk mentraktir temannya setiap hari.

Yah, walaupun harus ada imbalannya juga.

Dan malasnya, imbalan itu bergantung pada pria yang sedang tenar seantero sekolahnya itu. Entah apa yang para gadis sukai—termasuk Soojung, sahabatnya sendiri—dari pria itu. Pria itu memang tinggi, wajahnya… yah, lumayan. Lalu pria itu juga putih. Pria itu juga pintar dalam olahraga.

Pria itu tampak ideal, tetapi mengapa ia tidak menyukainya?

Choi Jinri—gadis yang kali ini menjadi target—menggeleng pelan lalu mendengus dengan pikirannya sendiri. Tentu saja ia masih normal. Buktinya saja, ia masih menyukai seorang sunbae di sekolahnya. Pria itu memang tidak terkenal, seperti target Soojung—baiklah, saat ini mari memanggil pria itu dengan namanya sendiri, Oh Sehun nama pria itu—dan malah termasuk seorang kutu buku. Tetapi mungkin jika kau ingin bertanya sesuatu, pria itu bisa menjawab.

Kim Joonmyun, nama pria yang ia sukai.

Jinri menghela napas lalu mengerucutkan bibirnya, mencoba menahan senyum karena seketika ia mengingat kejadian tadi pagi. Ia bertemu dengan Joonmyun secara tidak sengaja. Dan entah kenapa, walaupun hanya berpapasan—dan tidak ada insiden tersenggol lalu saling tatap dan sebagainya—ia tetap saja tampak malu.

Setiap manusia menyukai seseorang dengan cara yang berbeda bukan?

“Nona! Silakan mampir.”

Jinri menoleh pada bibi yang kini menatapnya penuh harap—mengharapkan ia masuk ke dalamnya dan membeli barang satu macam makanannya. Jinri tersenyum lalu mengangguk dan berjalan menuju warung tenda bibi itu.

“Satu tteokbokkinya, bibi. ” katanya dengan senyum lebarnya. Sementara bibi itu tersenyum lebar.

“Tunggu sebentar.”

“Kau terus membakar lemakmu, tetapi kau tidak menambahkan lemakmu. Jadi apa yang akan tubuhmu bakar nanti?” terdengar seorang pria mengomel dan terdengar ‘cletak’ dan pria itu melanjutkan. “Ini. Habiskan. Minimal kau sudah mengisi tubuh kecilmu itu dengan sedikit lemak. Kau tidak lihat kau sudah seperti tulang berjalan?”

Mendengar pria itu mengomel lebar, Jinri jadi tersenyum sendiri sambil mengingat ibunya yang akan mengomel hal sama padanya jika ia malas makan dengan alasan berdiet. Pasti ia akan dimarahi karena belum waktunya ia untuk berdiet. Tetapi sebenarnya, bukan itulah alasan sebenarnya. Ia ingin melihat adiknya makan besar, jadi tidak harus berbagi dengannya. Hah.. mengingat hal itu membuatnya sedih melihat adiknya terlihat begitu kurus.

Tetapi tunggu sebentar. Sepertinya ia kenal suara pria itu tadi.

“Aish, hyung ini. Baiklah, aku akan makan. Kau ini cerewet sekali sih. Kau bahkan lebih cerewet di banding ibuku.”

Hah. Ia kenal suara dingin ini. Ini adalah suara target Jung Soojung itu! Ini suara berat yang tadi hampir membentaknya karena kesal dengan hadiahnya—dari Soojung yang dititipkan padanya—dan menyuruhnya mengembalikannya, atau membuangnya. Karena kasihan pada Soojung, ia memaksa Sehun untuk menerimanya dan malah ia yang dibentak.

Menyedihkan sekali, ia tahu.

“Karena ibumu sedang pergi dan ada aku disini, jadi aku yang mengasuhmu.” kata pria itu. Jinri terdiam, lalu perlahan mencoba melirik ke sebelah kananya lalu menutup matanya sambil menggigit bibirnya. Apa? Jadi ia sedang berdampingan dengan Kim Joonmyun?

Kim Joonmyun? Orang yang ia suka? Jinri sedang mencoba untuk tidak histeris atau memekik.

“Ini pesananmu.”

Jinri tersentak lalu mendongak menatap bibi yang mengulurkan tangannya dan seporsi tteokbokki ada di tangannya.

“Ah, ya.”

Kenapa jadi kikuk seperti ini?

Kenapa Joonmyun bisa berada disini? Bukankah rumahnya akan lebih jauh jika melewati jalan ini? Dan kenapa ia bisa bersama Oh Sehun?

“Namamu Choi Jinri kan?”

Jinri yang mencoba menutupi wajahnya dengan mencoba memakan tteokbokki sedalam mungkin juga ketahuan? Tetapi siapa yang memanggilnya? Apakah Joonmyun? Tetapi darimana pria itu tahu? Berkenalan saja tidak pernah. Oh Sehun? Ia tidak mengharapkan dipanggil oleh pria itu. Sepertinya ia mulai mabuk dengan mereka berdua yang berada disampingnya. Memangnya ada apa pula jika mereka memanggilnya? Ia bahkan tidak pernah terlibat hal yang macam-macam dengan mereka.

“Ah, aku salah ya.”

Jinri mendongak lalu menatap bibi itu yang sedang menatapnya dengan tersenyum kecil sambil mengulurkan sebuah benda persegi panjang. “Kemarin aku menemukan sebuah pin nama bernama Choi Jinri. Dan seingatku, kemarin yang mampir ke tendaku dengan seragam sekolah adalah kau.”

Jinri mengangguk semangat. “Itu memang pinku. Ah, tertinggal disini ya?” katanya sambil mengambil pin nama yang diulurkan oleh bibi itu lalu tersenyum senang. “Terima kasih telah menjaganya. Untung saja tidak hilang.”

Jinri tersenyum senang lalu matanya tidak sengaja menangkap tatapan di sebelah kanannya. Oh Sehun menatapnya tajam—baiklah, mungkin kebiasaan lelaki itu menatap orang lain dengan mata menyipit, tetapi ia tidak suka. Dan Joonmyun juga.. menatapnya.

Tuhan, mengapa tiba-tiba ia merasa pipinya memanas?

“Kau yang tadi pagi menyodoriku kotak dengan bau menyengat itu kan?” kata pria itu dingin, terdengan begitu menusuk. Jinri bahkan merasakan beberapa bulu kuduknya berdiri.

Apa? Kotak mahal yang Soojung bela-belakan membelinya dari E-Cole’s—sebuah toko yang menjual barang-barang hadiah dan perlengkapan wanita yang begitu terkenal, Jinri saja baru dua kali memasuki toko tersebut itu pun karena mengantar Soojung untuk memilih hadiah—yang terkenal begitu mahal dan disemprot dengan parfum mahal yang didatangkan langsung dari paris, dan pria itu malah mencelanya dan mengatakan bahwa kotak itu memiliki bau menyengat? Sebenarnya, Jinri juga berpikir sama sih. Sepertinya Soojung terlalu bersemangat menyemprotkan parfum itu sampai membuatnya begitu menyengat.

Tetapi tidak bisakah pria itu menghargai pemberian mahal—dan pengorbanannya juga—dari Soojung?

“Iya. Memang ada apa?” tanyanya galak. Karena pengalaman sebelum-sebelumnya, saat ia terlihat takut pria itu malah membuatnya semakin takut. Kini ia harus terlihat lebih berani. Itu pemikiran yang hebat kan?

Yah, memang agak sedikit bodoh.

Pria itu berdecak lalu memutar matanya kesal dan kembali memakan tteokbokkinya. Sementara Jinri menggerutu lalu hendak menghabiskan tteokbokki miliknya. Ia ingin segera pergi darisini.

Tetapi.. ada Joonmyun. Ia ingin melihat Joonmyun. Jadi bagaimana?

“Temanmu?” ia bisa mendengar Joonmyun berbisik pada Sehun. Seketika Jinri menundukkan kepalanya dan mencoba menghabiskan tteokbokki lebih cepat.

“Bukan.” katanya ketus.

Terserahlah. Lagipula ia juga tidak meminta dianggap sebagai teman oleh pria dingin itu.

“Hei, kau.”

Jinri menoleh kesal para pria itu lalu terdiam. Yang memanggilnya tadi bukan Sehun. Malah pria itu sedang menghabiskan tteokbokki miliknya. Tetapi Kim Joonmyun. Kim Joonmyun yang memanggilnya.

Astaga, tanggal berapa sekarang ini?

“Kau bersekolah di SeoulArts?”

Seperti robot yang hanya tinggal mengangguk, Jinri mengangguk kaku. Matanya hampir tidak mengedip, sementara Joonmyun tersenyum.

“Kau sekelas dengan anak ini?” katanya sambil melirik Sehun yang masih menunduk, terlihat menghabiskan makanannya.

Jinri mengangguk. Wajahnya memerah. “Y-ya, bisa dibilang begitu.”

Joonmyun mengangguk lalu tersenyum padanya. “Aku kakak kelasmu. Kelas 12-B. Jika dia berbuat sesuatu yang merugikanmu, lapor saja padaku. Akan kupukul anak ini.”

Sehun duduk tegap lalu meminum air putihnya dan menatap Joonmyun tidak suka. “Hei, hyung! Aku bukan anakmu!”

“Tetapi kau saudaraku. Sudahlah, diam saja.” Joonmyun melirik tajam Sehun lalu tersenyum menatap Jinri. “Sehun adalah saudaraku. Bagaimana sikapnya jika di kelas? Apakah dia nakal?”

Bukan. Tetapi selalu membuat gaduh, walaupun secara teknis bukanlah ia yang melakukannya, tetapi teman-teman sekelasnya yang norak dengan kehadiran pria itu. Tetapi sebelum Jinri membuka mulut untuk menjawab, sebuah dering ponsel tiba-tiba berbunyi. Joonmyun tampak tersentak lalu merogoh celananya.

“Sebentar ya.” kata pria itu tersenyum sejenak lalu berdiri dan berjalan beberapa langkah, menjauh dari mereka berdua.

Jinri mengerucutkan bibir lalu mulai menghabiskan tteokbokkinya. Sementara Sehun meminum air putih dengan agak terburu-buru. Jinri mengangkat bahu tidak peduli dengan sikap Sehun.

“Kau.”

Jinri menoleh lalu mengerutkan kening saat Sehun kini tengah menatapnya dengan wajah memerah dan bibirnya begitu memerah. Sangat terlihat begitu kontras dengan kulit tubuhnya yang putih susu.

“Kau jangan menyukainya.” katanya sambil melirik Joonmyun yang sedang menjawab panggilan.

“Apa?”

“Aku tahu kau menyukainya. Dan aku menyarankan lebih baik tidak berurusan dengan pria itu.” kata Sehun lalu mengambil jatah minuman Joonmyun dan meminumnya dengan tidak sabaran sehingga ada beberapa teteas yang mengalir menuju dagunya dan ke lehernya. Sejenak… pria itu memang terlihat tampan. Pria itu juga terlihat sexy dengan gaya seperti itu…

Apa? Ada apa dengan pikirannya?

Mencoba memanipulasi keadaan, Jinri buru-buru mengerutkan kening lalu menatap pria itu bingung. “Memangnya kenapa?”

Sehun menaruh botol air mineral yang sudah kosong keatas meja lalu menatap Jinri tajam. “Karena aku yakin kau tak akan bahagia dengannya.”

Memangnya ada apa sih? Kenapa pria itu dengan cepat bisa berhipotesis seperti itu? Memang ada apa dengan Joonmyun? Pria itu tampak seperti orang normal—kecuali dengan kepintarannya—dan pria normal. Dan sepanjang yang Jinri dapatkan informasi dari Soojung—sahabatnya itu meman bisa diandalkan dalam urusan mencari informasi—Joonmyun tidak memiliki masa lalu yang buruk dengan wanita.

Jadi apa masalahnya?

“Ah, Jinri-ssi, sampai mana pembicaraan kita tadi?”

Sepertinya Jinri melamun agak lama sehingga tidak menyadari kehadiran Joonmyun yang kini menatapnya. Jinri mengerjap lalu buru-buru menjelaskan alas an yang agak aneh—yang membuat Sehun mendengus menahan tawa karena tingkah konyolnya itu—dan Joonmyun terkekeh, dan hal itu malah semakin membuatnya salah tingkah.

Tetapi, Jinri tetap penasaran. Apa sebenarnya rahasia terbesar Joonmyun? Kenapa Sehun sampai menyarankannya untuk menjauh sebelum bertindak lanjut?

∞loveblossoms∞

Hai~ Sesudah bersekuel-sekuel yang airplane, dengan gajenya saya mengeluarkan ff ini. Maaf kalo ada typo yang tidak termaafkan, atau apapun indikasi yang tidak disukai. Itu semua diluar kendali V.______.V Tetapi saya akan berterima kasih kalo kamu RCL~ ^^

Mari budayakan RCL! ~ ^^

20 thoughts on “Love Blossoms

  1. ini gantung sekaleee eonni. kau menyiksa pikiranku dengan ff gantung ini TT sequel mesti dan harus plus wajib (?)oke semuanya ini lucu :3

  2. Daebaak!!
    Sukaa alur ceritanya + maincastnya😀
    kenapa ssul eonnie gaboleh suka sama suho oppa ? O.o
    atau jangan2 sehun oppa suka sama ssul eonnie??? Hihi xD #soktau-_-
    sequel dong thorr.. Gantung ‘-‘

  3. apa sih kak ff-nya kok gantung semuaaaa /bakarlaptop/

    hihihi tapi aku sukaaak. cara penyampaiannya seperti biasa bagus lah ya huhuhu apalagi pas sehun minum itu ya ampun bunuh aku bunuh aku itu betul-betul err… tidaaakk

    aduh, kenapa jadi oot begini -_- ditunggu karya yang lainnya—dan juga butuh lanjutannya!🙂

    • Apaa? mending laptopnya buat aku aja *tarik laptopnya* hehe. Huihuhi. Aku juga ngebayangin betapa seksehnya pria itu. omaigat O.O #lupakan

      Hihi. Entahlah untuk kelanjutan ff ini, tetapi terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkomentar^^

  4. Pingback: Tell the Truth | F(X) FANFICTION INDONESIA

  5. Keren! Penasaran sama rahasia Suho. Jadi pengen cepet-cepet baca sequel! Dan pengennya akhirannya itu HunLli😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s