Rain & Smiles

— R A I N & S M I L E S —

|| Choi Sulli & Park Chanyeol || PG13+ ||
|| Romance, Slice of Life
|| FICLET (SHORT! 800+) ||

// She never knew the meaning of love— //

Already posted on my blog, here.

— R A I N & S M I L E S —

Rain&Smiles-cover

— R A I N & S M I L E S —

Nona, perpustakaan akan tutup, sebaiknya anda cepat keluar.”

Jinri menghela napas dalam, menatap sosok pria paruh baya yang tengah berdiri dihadapannya—pria yang selalu mengingatkannya akan jam tutup perpustakaan. Jemari rapuh pria itu bergetar, saling memilin dengan cemas. Apakah ia akan menerima labrakan dari Nona muda ini seperti seminggu yang lalu? Ketika ia dengan enggan meminta gadis muda itu untuk bangkit, meletakkan kembali buku yang tengah dibacanya sebelum pergi.

Tetapi beruntung baginya, gadis itu mengangguk kecil.

“Baiklah, aku pergi.” ucap Jinri sembari mengembalikan novel roman yang tengah dibacanya kedalam rak, membungkuk sembilan puluh derajat ke hadapan sang pria sebelum melangkah ringan, menyusuri deretan rak dengan jemari lentiknya yang menari-nari menyentuh punggung buku.

Pria paruh baya itu hanya menggeleng, menatap keheranan sang pengunjung tetap perpustakaan yang kian menjauh. Bertahun-tahun sudah, gadis itu selalu datang, sekedar membaca berpuluh-puluh novel roman dan fantasi tanpa pernah meminjam satu pun. Pria itu menghela napas berat, berputar ditempat dan berjalan menuju kantornya, memutar-mutar anak kunci dalam pilinan jemarinya, pikirannya melayang membayangkan semangkuk ramyun dan secangkir kopi yang telah menunggu, tetapi bayangan gadis itu tetap lekat dalam benaknya. Aneh.

Jinri menghela napas panjang, semilir angin sedari tadi kian ganas menampar kulitnya. Dikatupkannya bibir rapat-rapat, membuat rahang bawahnya berkedut menahan dingin.

Ah, dasar. Bibir plumnya mengerucut, mencibir. Untung saja ia menahan diri, beruntung benar Ahjussi penjaga perpustakaan tadi, andaikan ia tidak dapat mengontrol dirinya, mungkin ia akan kembali melabrak pria tua itu, menciptakan lebam biru diseputar matanya—saking seringnya ia mengingatkan Jinri untuk bergegas pergi. Berhati-hati, ia melangkah menghindari ceruk-ceruk dangkal pada sepanjang trotoar, berusaha untuk tidak menginjak genangan air yang berlumpur.

Aroma tajam kopi terasa menusuk penciumannya. Pandangan gadis itu beralih, menatap sebuah coffeeshop mungil disudut jalan—dengan kedua bangunan kelabu pucat yang mengimpitnya. Kios kopi itu nampak penuh, dengan pasangan-pasangan muda yang berjubel didalamnya, menikmati secangkir kopi ditemani alunan musik jazz? Eww, better not.

Jinri mendengus, mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan. Wajahnya menunduk, menatap bayangannya yang terpantul diatas genangan air. Jinri, Choi Jinri—gadis berusia 18 tahun yang tidak pernah mengerti arti kata cinta. Gadis itu berujar dalam hati, memilin senyuman simpul pada tiap-tiap sudut bibirnya. Lagipula ia tidak perlu mempelajari arti cinta. Telah tersedia berpuluh-puluh novel roman yang dapat dibacanya di perpustakaan, tidak perlu untuk menjalin hubungan dengan seorang pemuda, ia sudah tahu apa arti kata cinta.

Tes.

Jinri mendongak, tepat ketika rintik hujan menerpa wajahnya. Pada awalnya hanya beberapa tetes saja yang jatuh berbenturan dengan kulitnya, menimbulkan sensasi dingin yang menenangkan. Jinri menyukai aroma hujan, suara hujan, dan bagaimana tetes kristal itu jatuh meluncur diseputar wajahnya, membilas bersih hati yang sebenarnya rapuh itu.

Sekejap, payung-payung mengembang, menghalangi tirani hujan dari wajah-wajah sendu yang tampak bosan. Seperti lautan payung, dan Jinri tetap bergeming, membiarkan hujan menerpa wajahnya.

Ia memejamkan mata, tetap menengadah dengan senyuman manis yang terpulas pada bibirnya. Suara rintik hujan ketika menerpa puluhan payung yang mengembang terasa seperti melodi lagu yang bulat nan bersih dalam telinganya, aroma hujan yang lembab terasa segar dalam rongga pernafasannya. Sempurna, benar-benar sempurna.

Bisikan demi bisikan terdengar olehnya, berlalu begitu saja ketika puluhan orang melintas, menatapnya dengan keheranan. Gila, satu kata yang terbentuk dalam pikiran setiap orang yang berlalu melewatinya, menatap Jinri sendu. Gadis itu pasti gila, kasihan, mungkin beban hidupnya benar-benar berat, seorang wanita berpikir. Gadis aneh.

Noona, apa yang Noona lakukan?”

Jinri menunduk, rambut gelap yang sebelumnya mengembang cantik kini telah lunglai, menampel lekat pada kulitnya. Seorang bocah lelaki setinggi pinggul Jinri, dengan gelas kertas berisi hot chocolate dalam telapak tangan mungilnya—mendongak menatapnya, dengan pandangan ragu yang terlukis pada wajah polosnya.

Jinri mengulum senyuman “Ah, tidak. Noona hanya mendengarkan hujan. Indah sekali.”

Jisoo! Jangan berbicara dengan orang yang tidak waras, ayo pergi!” seorang wanita paruh baya mendekat, meraih jemari kecil sang bocah lelaki, sebelum berbalik dan menghilang ditengah kerumunan rapat. Jinri tertegun, tidak waras? Begitukah orang-orang menganggapnya?

Senyuman manisnya seketika pupus, menyisakan bibir yang mengatup rapat, membentuk garis tipis yang tampak pucat. Ia hanya mendengarkan dan menikmati sentuhan hujan, apa salahnya?

Hei, Nona. Kau tidak kedinginan?”

Jinri beputar, dan sekejap, jantungnya berdetak melambat seiring waktu. Dunia terasa berputar tidak pada porosnya, semilir angin bahkan tidak dirasakan olehnya, ketukan rintik hujan pun tiba-tiba menjadi sebuah nada sumbang dalam telinganya. Semuanya menjadi tidak berarti dan kacau, hanya karena—kehadiran seorang pemuda jangkung dihadapannya.

Pemuda itu tersenyum, menarik kedua sudut bibir penuhnya menjadi sebuah senyuman indah penuh makna. Iris gelap matanya tampak berbinar sempurna, batang hidung lurusnya, dan rambut cokelat madu yang terlindung dibalik hoodie biru tua yang membalut tubuhnya. Jinri menghela napas, berusaha mengatur pertahanannya yang seketika runtuh. Satu yang kini ia ketahui, pemuda yang berada tepat dihadapannya telah menyaingi keindahan hujan.

Senyuman manis kini ia layangkan untuk membalas senyuman sang pemuda. Sebuah senyuman indah penuh makna, yang memulai percakapan singkat diantara kedua belah insan.

Sekejap, rintik hujan tidak lagi menerpa ubun-ubun Jinri. Gadis itu mendongak, pandangannya terbalas oleh sebuah payung biru muda yang kini turut menaunginya dan sang pemuda, melindungi keduanya dari terpaan hujan.

“Mengapa kau berdiri diam disini? Kau tidak kedinginan Nona—?

Jinri, Choi Jinri.

Keduanya kembali memilin senyum, saling menatap satu sama lain. Pemuda itu meraih jemari Jinri, menjabatnya dalam sebuah jabatan hangat.

Chanyeol, Park Chanyeol.

Dan dibawah naungan sebuah payung biru, berlatarkan sebuah orkestra hujan yang memesona, dan diiringi senyuman hangat yang senantiasa terulas, Jinri mengetahui arti cinta, arti cinta yang sebenarnya.


— R A I N & S M I L E S —

A/N : Thank you for read! Love, love ♥

Love, Rindra ♥

14 thoughts on “Rain & Smiles

  1. a ha ha ha kereen!! sweet banget, haduh aku juga suka dengerin suara hujan ayo chanyeol nikahi aku /ditabok

    two thumbs up for you!

  2. I have no doubt it’d be a great FF as you’re the author…
    Yes, I just read 4 of your stories, yet all of them told me that you’re capable of being a great author!
    And I hope you’ll make a lot of f(exo) – Sulli’s shippers FF!
    This one is superb!
    Lotta love for ChanLli!

    Xoxo,

    Your reader

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s