Love is you

tumblr_m6om11BtLb1rxr79no1_500

Love is you

Writing by Julistyjunghaae

Staring by Oh Sehun (EXO and Sulli (FX)

Genre: Angst, Friendship | Length: Ficlet | Rate: General

Disclaimer: This story is pure from my imagination. All cast belong themselves. No Bash,
No Plagiarize or plot also No Silent Readers please, Thanks.

-oOo-

Kau dan Aku, tiga tahun menjalani sebuah pertemanan. Semua memori tentang kita berdua masih tergambar jelas dibenakku. Seperti sebuah film yang terulang kembali. Saat kita berada dalam satu pertemanan yang indah.

Saat itu, kau dan aku bertemu. Masih jelas diingatanku, sosokmu yang memukauku. Saat itu lidahku kelu dan mulutku terkatup rapat juga rahangku tiba-tiba mengeras ketika kau menatapku dengan senyuman yang sangat tampan—jujur saat itu aku begitu malu.

Kala itu kau datang menghampiriku. Memperlihatkan eyes smile yang begitu menawan dimataku. Mengulurkan tanganmu dan menyebutkan nama indahmu. Oh Sehun, nama yang indah atau sangatlah indah ditelingaku.

Saat kau memperkenalkan dirimu dan aku menerima jabat tanganmu lalu berucap namaku, lalu saat itu pula kau memegang tanganku tanpa sebuah rasa canggung sedikitpun. Kau tersenyum dan selalu mengajakku berbicara tentang semuanya akan dirimu.

Tidak pernah ada rasa bosan yang datang sedikitpun, yang ada hanyalah bahagia dalam setiap sisimu. Entahlah, saat bayanganmu selalu menari-nari dengan indah dalam benakku juga saat suara merdumu selalu terdengar disetiap kesunyian tidurku.

Aku ingat. Hari dimana kau membuatku merasa bahwa kita lebih dari sekedar teman. Saat kau datang dengan kepala juga badan yang bersimpuh keringat namun kau masih tersenyum manis padaku dan mengatakan bahwa kau tidak apa-apa. Kau tersenyum dan memandang lembut diriku.

Dan itu selalu membuatku merasa bahwa ada rasa selain sebuah persahabatan

Juga saat aku menunggumu, tentang janji akan bertemu ditempat biasa kita bertemu namun saat aku sudah menunggumu lama, aku menatap layar ponselku yang berisikan pesan singkatmu yang mengatakan sedang menunggu sosok spesial dimatamu.

Disaat itu, aku tau semuanya bukanlah sesuai dengan semua pemikiranku.

Kau—sosok yang sangat tampan juga sempurna, semua wanita tergila-gila padamu termasuk aku. Tapi kau tau, semua hanyalah mimpi bagiku jika aku berharap kau bisa menjadi milikku karena pada kenyataanya aku bukanlah apa-apa bagimu.

Hanya sebatas sahabat, tidak lebih dari itu.

Tapi bolehkah dan bisakah aku berharap, kau dapat menjadi milikku walau aku tau kau sangat sulit untuk kuraih dengan jari-jemariku.  Tapi aku ingin, aku ingin kau menjadi milikku. Kau datang dihidupku, menyinari relung gelap hatiku dan kau juga satu-satunya orang yang ingin kurengkuh tapi kau tak akan pernah tau hal itu.

Tau bahwa perasaanku lebih dari sekedar sahabat padamu.

Dan tiba-tiba berputar kembali memori tentang hari terburukku. Saat kau datang padaku, bertanya tentang sesuatu yang sangat aku rasakan ditelingaku. “Menurutmu cinta itu apa?” Kau bertanya seraya memandang langit malam yang dingin. Aku diam. Cinta, Cinta itu adalah kamu, Sehun-ah. Aku berucap dalam hati.

“Cinta itu segalanya.” Aku berucap dengan pelan, kau mulai memandangku dan tersenyum dengan lembut. Kau mendekat padaku lalu menatap langit yang dingin kembali. Kau kembali menatapku, tatapanmu itu begitu lembut dan menghanyutkan, membuatku ikut tersenyum seraya memandangmu.

Tuhan bolehkan aku meminta agar kau menghentikan waktu sekarang dan seterusnya.

Bolehkah aku menjadi sesosok yang egois untuk kali ini?

“Bagaimana jika aku menjodohkanmu dengan temanku?” Aku berhenti tersenyum dan mulai menatapmu kecewa. Aku tidak ingin, yang ku inginkan adalah bersamamu bukan yang lain. Aku membuang muka, menatap langit yang bertabur bintang bercahaya.

Angin sepoi datang, menepuk pelan bahuku dan memeluk tubuh mungilku. Angin berbisik bahwa kau tengah menatapku dalam. Aku menatapmu dan angin itu benar, kau menatapku dengan pandangan tak biasa.

Entahlah, pandangan yang tak dapat kuartikan.

“Bagaimana jika aku meninggalkanmu?” Aku terenyah pada ucapanmu. Jangan pernah pergi jauh sedikitpun dariku. Aku menatapmu, mencari sesuatu pada sorot matamu. Tak ada apapun, yang ada hanya tatapan seriusmu padaku.

“Kau mau meninggalkanku?” Aku bertanya seraya menatapmu dengan intens.

“Bukan, hanya saja,”

“—Hmmm…bagaimana kalau,” Kau berucap, apa lanjutan ucapanmu itu. Tatapanmu yang menatapku dengan bingung juga ragu membuatku ingin sekali tertawa dan mencubit pipimu dengan sangat keras karena gemas, melupakan semua topik yang kita bicarakan.

“, Aku jatuh cinta.” Aku diam, mulutku terkatup rapat, mataku terpaku pada wajah tampanmu dan seluruh badanku mulai melemas. Aku menatapmu dan kau juga. Hal yang tak pernah ingin kudengar sekarang terjadi. Aku menahan nafas sejenak lalu mencoba tersenyum, setulus mungkin.

“Dengan siapa?” Ada nada harapan yang tersirat pada setiap ucapanku, bolehkan aku berharap bahwa gadis itu aku?

“Gadis perpustakaan itu.” Hatiku tertohok. Dan bukanlah aku. Oh Sehun, lihatlah disini ada aku yang mencintaimu namun kau tak pernah melirikku sebagai sosok lain selain sahabat. Aku tersenyum hambar dan memalingkan wajah dengan mata yang memanas.

“Benarkah? Hmmm…Gadis itu, gadis yang—menarik.” kau tau betapa sakitnya aku berucap seperti itu? Sedangkan kau tak melihat perubahan ekpresi mendalam pada wajahku dan mengiyakan semua ucapanku.

Aku cemburu.

Gadis itu sangat beruntung, dapat membuatmu terpesona hanya dalam hitungan detik dan membuatmu jatuh cinta. Rasanya panas namun aku tak boleh menangis. Kau berceloteh ria sedangkan aku bersusah payah untuk tidak menangis pada setiap ucapanmu yang selalu membuat mataku panas.

Kau tau, kau menoreh luka pada hatiku.

Sekarang aku sedang memandang tubuhku, berbalut dress putih dan rambut yang tergerai panjang. Senyuman terukir namun hanya senyuman samar sebagai tanda kebahagianku walau hanya senyuman tanda kebohongan atas kebahagiaanmu. Menggigit bawah bibirku dan mengepal kuat tanganku seakan melampiaskan semuanya.

Hari ini dan kedepan semuanya akan tampak berbeda, saat aku mendengar candamu sedari tertawa, saat aku tersenyum melihat tawamu juga saat aku berdoa, meminta Tuhan agar selalu bisa bersamamu dalam keadaan apapun.

Kau tau, aku tak mau memandang wajahmu, terlalu takut akan sakit yang kau berikan, melihat wajah tampanmu yang seperti seorang malaikat, mengukirkan segaris lengkungan indah disudut bibirmu yang selalu membuatku merasakan sakit.

Aku menutup mata sejenak lalu menarik nafas dengan perlahan. Saat kubuka mataku, kau sudah berada dihadapanku dengan Tuxedo yang sangat cocok untuk kau pakai lalu gadis itu datang. Memegang tangamu dengan erat seolah takkan pernah dapat dipisahkan tepat dihadapanku.

“Kau harus memainkanya dengan baik, Sulli-ah.” kau berucap tanpa ada rasa bersalah. Kau menatapku dengan pandangan bahagia. Aku hanya dapat tersenyum, senyuman topengku, senyuman kosong, dan memiliki makna yang berbeda namun terlihat bahagia sebagai sebuah formalitas lalu berjalan menuju sebuah piano.

Satu persatu, tuts-tuts piano kusentuh dan kurasakan saat aku menyentuh tuts-tuts piano itu, tanganku bergetar. Suara permainanku tampak begitu sumbang ditelingaku yang sakit ini. Hanya tersenyum dan tertawa dalam hati, melihat seberapa menyedihkanya diriku saat ini.

Aku menutup mataku sejenak.

Tuhan, jika kau izinkan, bawa dia kembali padaku.

Mataku panas tapi harus kutahan, namun pertahananku runtuh. Satu persatu air menetes dari wajahku, seandainya Kau tau, Kau seperti candu yang membuatku selalu ketagihan. Kau juga seperti Caffeine yang dapat membuatku mati secara perlahan.

Kau segalanya bagiku hingga kini walau kau bukan milikku lagi. Kupenjamkan mataku sejenak lagi, sekarang telingaku sangat sakit, juga air mata ini tak henti-hentinya berjatuhan. Aku tak membuka mataku, membiarkan semuanya jatuh hingga habis.

Terlalu menyakitkan mendengar suaramu mengikrar janji suci dengan gadis lain dan aku sebagai orang yang mengalunkan lagu dari tuts-tuts piano disaat semua orang melihatmu mengecup bibir gadis yang sekarang sudah sah menjadi istrimu dengan riuh.

Hanya menangis. Kau adalah orang pertama yang mampu membuatku serapuh ini. Kudengar orang bertepuk tangan atas permainanku namun aku masih diam, mengalunkan sebuah lagu kebahagian yang sangat berbeda dengan apa yang kurasakan. Biarlah, sekali ini aku menangis dalam setiap sentuhan jemariku pada tuts-tuts piano ini sebagai tangisan terakhirku untukmu yang sudah bahagia bersamanya.

END

Note: Fanfic lama. Pertama dibuat dengan Park Chanyeol dan gadis tanpa nama, lalu kubuat menjadi versi Sulli dan Sehun, kekeke…lagi gak ada mood untuk membuat sebuah Fanfic, jadilah begini. Maaf kalau jelek, banyak Typo atau apalah itu, but I still need review guys^^

6 thoughts on “Love is you

  1. nyesekk;; aku lagi galau tambah galau nih /siapayangpeduli

    bahasanya udah bagus lah, aku jadi bisa ngerasain gimana perasaan si tokohnya itu T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s