[Oneshoot] A Fake

afake

Title: A Fake

Author: Mizuky

Cast: Choi Jinri [Sulli F(x)], Choi Minho [Minho SHINee], Jung Soojung [Krystal F(x)]

Supporting Cast: OCs

Genre: Life, Conflict, Sad, Hurt/Comfort, Romance, Adult, Drama

Rating: PG-15

Length: Oneshoot [+3000]

Note: Paragraf yang bercetak miring adalah flashback.

.

Mizuky  ©  All Right Reserved.

.

“Krystal, kapan kau pulang?” tanya suara seberang.

Krystal Jung, seorang eksekutif muda unggulan salah satu perusahaan ternama Jepang, mendesah napas panjang. Harus sampai kapan ibunya menanyakan pertanyaan—yang menurutnya—bodoh seperti itu terus menerus?

Dia lelah jika harus terus menjawab tidak tahu.

“Aku tidak tahu, Ibu. Pekerjaanku di sini bertumpuk. Mungkin, dalam waktu dekat aku tidak bisa pulang ke Seoul. Jadi, kuharap ibu maklumi itu. Tapi, aku janji akan pulang secepat yang aku bisa,” jawab Krystal dengan jawaban yang sama sekali tak diinginkan oleh ibunya.

“Ibu tahu kau sangat sibuk di sana, tapi kau juga harus liburan, sayang. Ibu terima kabar dari temanmu kalau kau tak pernah istirahat. Kau harus liburan, sayang,” bujuk ibunya.

Ck, pasti Ryuki yang mengatakannya..

“Iya, Bu. Aku mengerti. Janji, dalam waktu dekat aku akan pulang ke Seoul,” ucap Krystal pada akhirnya.

“Baiklah. Ibu tunggu kedatanganmu.”

Sambungan telepon pun terputus. Krystal kini memusatkan kembali fokusnya kepada sebuah layar monitor di hadapannya. Ia sebenarnya jenuh untuk terus seperti ini. Berangkat pagi, melihat tumpukan kertas-kertas di depannya, duduk di depan layar selama lebih dari 10 jam, menguras tenaga dan pikirannya, terlebih jika ada meeting. Ia benar-benar sungkan.

Ada hasrat di dalam dirinya yang begitu kuat untuk mendorongnya pergi ke kampung halaman. Namun, apa daya. Kenangan di masa lalu membuatnya trauma untuk kembali ke Seoul.

Seoul, ya? Sudah berapa lama aku tidak kembali ke sana? Tiga tahun, empat tahun, atau lima tahun? Bagaimana kabar teman-temanku di sana? Apa mereka baik-baik saja?

“Krystal, kenapa kau tak pulang saja?” suara teman perempuannya, membawa Krystal kembali kepada realita kehidupan.

Rupanya Ryuki—dialah orang yang mengadu kepada ibunya perihal kesehatannya—yang menyapanya. Krystal lantas melemparkan pandang tak suka padanya.

“Kenapa kau tadi mengadu kepada ibuku? Kau tahu, gara-gara mulut besarmu, aku diceramahi panjang lebar oleh ibuku,” ucap Krystal langsung, tanpa tedeng aling.

Ryuki kaget dimarahi seperti itu langsung oleh Krystal. Ia kemudian duduk di depan meja Krystal, lalu meletakkan gelas kopinya di atas meja. Kini ia memberanikan diri untuk saling adu tatap dengan gadis itu. Selama ini, ia selalu merasa mata Krystal itu mengerikan. Makanya ia tak pernah berani untuk menatap Krystal terlalu lama. Bahkan, rekor saling menatap antar keduanya hanya bertahan selama tiga puluh detik saja.

“Karena, aku mencemaskanmu. Sudah beberapa hari ini kulihat kau jarang tidur. Bahkan, mata pandamu semakin membesar. Kau tidak takut kalau kau suatu saat nanti benar-benar menjadi seekor panda?”

Krystal hanya tertawa sarkatis mendengar lelucon yang dilontarkan oleh teman sejawatnya itu.

“Aku baik-baik saja, dan kau tidak perlu mencemaskanku, Ryuki. Terima kasih kau sudah perhatian kepadaku. Aku hanya ingin menyibukkan diri saja,” gumam Krystal.

“Aku tidak tahu seberapa kelamnya masa lalumu itu, tapi kau harus berani untuk membunuh trauma itu. Sampai kapan kau mau melarikan diri dari semua ini, Krystal? Apa kau tidak lelah? Meskipun masa lalumu itu menyakitkan, kau harus berani untuk menghadapinya. Aku mengatakan ini karena aku juga pernah merasakan pahitnya masa lalu. Aku ingin yang terbaik untukmu, Krystal,” ujar Ryuki. Matanya pun menatap Krystal penuh kasih.

Krystal tersenyum. Ia tahu masa lalu yang disebut-sebutkan oleh Ryuki.

Ya, mereka memiliki masalah yang sama.

Disakiti oleh cinta. Dihianati oleh sahabat.

“Terima kasih. Aku sangat menghargai perhatianmu kepadaku, Ryuki. Terima kasih..”

.

===

.

Tokyo, 25 Januari 2013

Malam Harinya.

Seorang wanita terlihat memandangi langit malam Kota Tokyo dari atas kamar apartemennya. Dengan ditemani segelas wine, ia menikmati night view Kota Tokyo yang begitu indah. Sesekali ia meminum winenya, hingga benar-benar habis. Sekilas, ia tampak biasa saja, namun sungguhlah di dalam hatinya, ia merasakan gundah gulana.

Apa aku harus ke sana? Ke Seoul? Bagaimana kalau aku bertemu dengan mereka? Aku belum siap. Apa yang harus aku lakukan?

Perkataan Ryuki terus bergema di pikirannya. Terus ia pikirkan, sampai-sampai dirinya merasa seperti orang kolot.

Seoul? Kenapa kau harus memberi banyak luka untukku?

Sungguh, ia benar-benar merindukan Seoul, kampung halaman tercintanya. Tak ada yang dapat mengalahkan keelokkan kota itu di matanya. Dan, tak ada pula yang dapat menyingkirkan rasa rindunya terhadap orang itu.

Krystal lalu menghela napas dalam-dalam. Ia tahu bahwa ia tak akan pernah bisa membenci  mereka. Kenyataan kalau ia melarikan diri, itu benar. Ia memang melarikan diri. Tak sanggup hatinya untuk terus melihat raut wajah senang mereka. Hatinya benar-benar remuk.

.

===

.

Seoul, 15 April 2010

“Minho Oppa, aku mencintaimu..”

Deg. Jantung seorang wanita yang tengah berdiri di balik tembok itu, berdetak cepat seketika.  Ia meremas kedua tangannya kuat-kuat, mencegah adrenalin tubuhnya untuk berbuat hal di luar kendalinya.

“Sulli, tapi..”

“Aku mencintaimu, Oppa. Kau harus bertanggung jawab!”

“Aku tahu.. lalu, bagaimana dengan Krystal? Dia adalah pacarku, dan kau adalah sahabat Krystal, Sulli. Tidakkah kau pikir bagaimana perasaannya nanti saat mengetahui ini? Aku merasa bersalah kepadanya, Sulli.”

“Apa Oppa tidak merasa bersalah kepadaku?! Kau sudah merebut segalanya dariku. Kau bahkan sudah menghamiliku!”

Deg. Kini, jantung wanita itu berhenti seketika. Matanya membesar merah.

Ha-hamil? Sulli? Dihamili oleh Minho Oppa? Ini..

Tak terasa sebulir air mata turun dari pipi mulusnya. Oksigen bagai tersedot ke paru-paru wanita itu seketika. Tak tersisa sedikitpun untuknya bernapas. Ia merasa sesak.

Sesak dengan semua kenyataan ini.

“Sulli.. tapi, aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku menghianati Krystal..”

“Aku juga bingung. Aku tidak mau menyakiti Krystal.. tapi, bagaimana denganku? Kita sudah terlanjur berbuat terlalu jauh, Oppa.”

Tidak mau menyakitiku katanya? Apa dia membual? Kau menjalin hubungan dengan Oppaku saja sudah menyakitiku, Sulli! Kau busuk!

“Kenapa semuanya menjadi berantakan seperti ini?! Argh, sial!”

Oppa menyesal? Lalu, kenapa Oppa saat itu mabuk dan membawaku ke dalam hotel, huh? Kau egois, Oppa!” teriak Sulli tak kalah frustasi.

Minho lalu menahan tangan gadis itu agar tak pergi. Ia rengkuh tubuhnya ke dalam sebuah pelukan hangat. Kemudian, keduanya saling mendekatkan wajah satu sama lain. Hingga, ciuman itu terjadi..

Sebuah ciuman yang tak seharusnya dilakukan.

“Cukup! Kalian brengsek!” tiba-tiba seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu dengan amarah yang meluap-luap.

Sulli dan Minho pun saling menjauhkan diri satu sama lain begitu melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka.

“Krystal!”

Ya, wanita itu adalah Krystal. Wanita yang sedang diperbincangkan dan merupakan akar pemasalahan bagi mereka berdua.

“Kry-Krystal!” gumam Sulli.

“Kalian.. keparat! Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan ini? Kalian busuk!” caci Krystal dengan kedua matanya yang memerah akibat menahan gemuruh amarahnya.

“Kry-Krystal.. te-tenang. Ka-kami.. maafkan aku, Krystal,” ujar Minho. Laki-laki itu mencoba mendekati Krystal.

“Jangan dekati aku! Aku tidak mau didekati oleh orang menjijikkan seperti kalian berdua! Kalian belum menjawab pertanyaaku, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan ini, huh?!” tanyanya lagi dengan emosi yang masih ditahannya.

“Tenangkan dirimu dulu, Krystal. Kami minta maaf.. ka-kami..” ucap Minho terpotong-potong. Ia sulit untuk menjelaskan semua ini kepada Krystal. Berharap gadis itu untuk mau memaafkan perselingkuhannya? Tsk, yang benar saja.

“Cinta katamu? Kalian berselingkuh di hadapanku.. berciuman, bahkan kalian sudah tidur satu sama lain..” gumam Krystal dengan kepala tertunduk. “Dan, kalian.. kalian hanya meminta maaf  padaku?” ucapnya kembali. Kini, sorot matanya yang tajam terarah kepada Minho dan Sulli. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia menahan tangannya itu untuk tidak memukul wajah mereka. Walau, itu sangat ingin dilakukannya.

“Krystal, perasaan cinta itu manusiawi. Aku mencintai Minho Oppa. Aku tidak bisa menolak perasaan cinta itu, Krystal. Maafkan aku.. yang salah disini adalah aku, bukan Minho Oppa,” ujar Sulli.

Minho melirik sekilas ke arah Sulli.

Apa yang dikatakan oleh Sulli? Tidakkah ia pikir, perkataannya itu hanya akan membuat keruh suasana ini?!, pikir Minho.

Sulli terus menatap ke bawah. Tak urung, badannya sedikit bergetar. Pandangan Krystal benar-benar membuatnya takut. Terlebih jika mengetahui fakta bahwa dirinya berada di posisi bersalah, ia benar-benar takut pada Krystal.

“Krystal..”

“Tutup mulutmu, Minho! Tutup semua omong kosong kalian! Kalian brengsek! Benar-benar brengsek!” teriak Krystal. Wanita itu memilih untuk meninggalkan mereka berdua. Ia tak bisa untuk terus berlama-lama di ruangan itu.

Ia tak sanggup.

Ia meninggalkan ruangan itu dengan sejumlah perih di dalam hatinya. Jadi, inikah kisah cintanya?

Dan, itu semua.. berakhir dengan tragis?

.

===

.

Tokyo, 25 Januari 2013

Wanita itu kembali menghela napasnya. Ia pejamkan matanya sejenak. Merasakan hembusan angin dari pendingin ruangan yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Seharusnya aku sudah melupakan mereka. Tak apa, Krystal. Seoul itu luas. Kau hanya akan berada di sana selama dua hari saja. Tak apa. Kau tidak akan bertemu dengan mereka.

Baik. Dia sudah memutuskan esok hari ia akan mengambil penerbangan ke Seoul. Mungkin, sedikit menyegarkan pikiran dan membuat kepala bosnya pecah, merupakan hal yang menarik.

Untuk itulah ia mulai menyiapkan berbagai keperluannya. Terutama mental dan hatinya.

===

.

.

===

Seoul, keesokan harinya.

13:53

Ting tong.

Suara bel pintu rumah menggema di seluruh dinding rumah itu. Sang pemilik rumah yang tengah memasak itupun merasa sedikit terganggu.

Ia putuskan untuk mematikan kompornya, dan melanjutkannya nanti.

Ting tong.

Bel pintu itu sudah ditekan dua kali. Menandakan sang tamu tidak sabar karena tak kunjung mendapatkan tanggapan.

Ting tong.

“Sebentar!” ucap sang pemilik rumah kemudian.

Setelah disahut begitu, suara bel tak terdengar lagi.

Cklek..

Pintu pun terbuka.

“Krystal!”

Disapa seperti itu membuat Krystal melengkungkan ujung bibirnya. “Ibu!” mereka berpelukan sebentar, kemudian keduanya memasuki rumah.

“Ibu tak menyangka kau pulang juga. Rasanya seperti mimpi kau berada di rumah. Bagaimana pekerjaanmu? Tak apa kalau kau meninggalkannya?” tanya ibunya.

“Ibu, kemarin ibu sendiri yang menyuruhku pulang untuk beristirahat sebentar. Lalu, saat aku berada di sini, ibu justru menanyakan tentang pekerjaanku. Ibu ini bagaimana..” ucap Krystal sambil tersenyum.

“Tidak, hanya saja kau selalu mementingkan pekerjaanmu. Ibu senang kau bisa pulang. Mau makan apa? Kebetulan ibu sedang memasak.”

“Haha, sekali-kali membuat kepala bosku pecah ‘kan ada baiknya juga. Jangan hanya dirinya saja yang selalu membuat kepala bawahannya pusing setiap hari. Oh ya, Ibu.. Krystal berencana hanya akan menginap satu hari di Seoul. Kebetulan, aku harus melihat brand perusahaan di Amerika. Jadi, mungkin besok aku akan ke Amerika,” ujar Krystal.

“A-apa? Hanya satu hari? Kau ini, dasar anak nakal! Tiga tahun kau tinggalkan ayah dan ibumu, dan kau hanya menginap selama satu hari? Apa kau tidak rindu kepada ayah dan ibumu ini? Tambah dua hari, bagaimana? Apa tubuhmu tidak lelah?”

Krystal menggeleng pelan. “Sebenarnya bisa, hanya saja aku yang membuatnya tidak bisa. Ibu tahu ‘kan alasannya? Meski aku selalu beranggapan bahwa Seoul itu luas dan tidak mungkin aku bertemu mereka, tapi aku masih tidak sanggup, Bu. Tolong mengertilah,” ucap Krystal.

Nyonya Jung hanya dapat mengangguk pasrah. “Baiklah. Ibu mengerti. Tapi, mungkin nanti ayah dan ibu akan mengunjungimu di Jepang saat pekerjaan ayah sudah selesai.”

Krystal mengangguk. “Oh ya, Bu, mungkin aku akan jalan-jalan nanti malam saja. Aku istirahat dulu, ya.”

Nyonya Jung mengangguk kecil. “Baiklah. Tapi, kau harus makan dulu!”

“Baik, Bu.”

===

Shibuya.

19:20

Malam itu benar-benar dingin. Suhu udara Seoul bahkan mencapai -15o saat itu. Namun, udara dingin sepertinya bukan masalah untuk orang-orang yang masih sibuk mengitari daerah Shibuya.

Tujuan mereka sama; mencari aksesoris cantik. Memang, daerah Shibuya terkenal akan segela keelokkan pernak-perniknya. Disamping itu, harga yang pas di kantong, rupanya menambah magnet bagi para wisatawan untuk datang ke sana. Entah untuk berbelanja, atau hanya menghabiskan waktu.

Begitupun dengan Krystal.

Setelah berpamitan pada ayah dan ibunya, Krystal terlihat sendirian berjalan-jalan di atas trotoar itu. Ia membawa sebuah kamera di tangannya. Sudah menjadi kebiasannya untuk membawa kamera kesayangannya tiap kali ia berjalan-jalan di suatu tempat.

Klik..

Blitz kameranya terlihat menyilaukan kala ia sudah  menemukan objek yang menurutnya menarik untuk diabadikan.

Ia memang menyukai fotografi. Tapi, ia sama sekali tak berniat untuk mengambil bidang itu untuk mata kuliahnya.

Klik..

Blitz kembali menyala. Ia tersenyum ketika ada seorang anak kecil yang langsung memasang wajah ceria begitu kamera Krystal mengarah kepadanya.

“Oke, kau cantik.”

Klik..

Ia kemudian melambaikan tangannya kepada si anak perempuan ketika pergi menyusul ibunya sambil tersenyum ke arahnya.

“Anak yang manis,” gumamnya. Ia lalu melanjutkan langkahnya kembali.

Seoul telah banyak berubah.

Tiba-tiba ia tertarik kepada sebuah lapak kecil ibu-ibu yang sedang sibuk menawarkan barang dagangannya dengan gigih. Ia mengumbar segala macam kebaikan dari produknya, padahal belum tentu semua itu benar.

Ia pun mengarahkan kameranya ke sana, lalu..

Klik..

Moment itu pun sudah terabadikan. Krystal tersenyum. Ia melewati lapak itu begitu saja.

Huh, dasar. Hanya memotret saja. Lain kali akan kupasang tarif jika ada yang memotret diriku,” gumam ibu-ibu penjual itu dengan kesal.

Sesaat kemudian ia mulai sibuk untuk melakukan promosi besar-besaran mengenai produknya yang justru terdengar membual.

Langkah Krystal berhenti beberapa detik. Matanya kembali tertarik kepada sebuah objek.

Ia melihat seorang wanita muda yang tengah kesusahan membersihkan mulut anaknya yang penuh dengan cokelat. Krystal tersenyum kecil. Ia lalu membidik objek itu. Dan..

Klik..

Ia lalu melihat hasil kerjanya. Namun, suatu hal yang tak diingankannya pun terjadi..

Matanya membulat sempurna begitu melihat sosok yang ia potret.

Oh, tidak. Aku bertemu dengannya!

Ia kemudian mendongakkan kepalanya. Pandangan keduanya pun bertemu. Wanita itu mengeratkan pegangan tangannya kepada anak laki-lakinya, sedang matanya masih menatap Krystal intens.

Krystal betul-betul merasa sesak. Tak pernah ia merasa sesesak ini, bahkan saat asma dulu menyerangnya.

Aku harus pergi.

Krystal membalikkan punggungnya. Menjauhi perempuan itu adalah yang terbaik.

Terbaik untuk mental dan hatinya.

“Krystal, tunggu!”

Tubuh Krystal membatu seketika. Ia tak bisa bergerak. Aneh, tapi memang jantungnya berdegup begitu kencang.

Bayangan masa lalunya yang kelam, kembali menyeruak ke permukaan. Gelap.. dan, dingin..

Ia tak suka perasaan ini.

“Krystal..” suara wanita itu kembali terdengar.

Kau harus pergi, Krystal. Kau harus pergi!

Suara hati dan pikirannya sinkron untuk menyuruhnya pergi. Ia memang harus pergi. Tapi, kenapa kaki ini tak mau di ajak bekerja sama?

Sial!

“Krystal!” dan, kini.. wanita itu sepertinya sudah berada di belakangnya. Krystal menarik napas dalam-dalam, kemudian ia bersiap untuk menatap wanita itu.

“Krystal, bisa kita bicara sebentar?”

.

===

.

Cafetaria.

“Apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Krystal. Ia meneguk segelas teh yang kini berada di genggamannya.

Pandangannya masih sama.. apa aku harus mengatakannya?

“Aku minta maaf..”

Lagi-lagi kata maaf itu. Krystal sudah muak dengan semua itu. Berkali-kali manusia mengatakan maaf, berkali-kali pula mereka masih melakukan kesalahan yang sama.

Jadi, apa gunanya kata maaf itu?

Krystal bangkit dari kursinya. Cukup, ia tak ingin mendengar apapun lagi.

“Krystal, tunggu! Kau belum tahu yang sebenarnya!”

“Tahu apa lagi? Tahu bahwa kau sudah menikah dengannya dan memiliki seorang anak? Aku sudah cukup bisa menerima perselingkuhanmu dengannya. Jadi, biarkan aku hidup tenang. Aku sudah memaafkanmu. Kau tidak perlu mengucapkan kata maaf itu terus menerus yang nyatanya sama sekali tak berguna,” ujar Krystal sarkatis.

“Sebenarnya.. kami tidak menikah.. aku dan Minho Oppa.. ” gumam Sulli. Ia tak menatap Krystal. Justru, kini kedua jemarinya meremas kuat ujung bajunya gelisah.

“Tidak menikah? Apa maksudmu, Sulli?” tanya Krystal. Wanita itu kemudian duduk kembali di kursinya untuk mendengarkan perkataan Sulli selanjutnya.

Ada suatu hal yang tidak diketahuinya.

“Sebenarnya, aku hanya memanfaatkan Minho Oppa saja,” gumam Sulli dengan suara parau. Matanya mulai berkaca-kaca.

Masih sanggupkah ia untuk melontarkan kalimat berikutnya?

“Maksudmu?”

“Sebenarnya, Jiyoo bukan anak Minho, Krystal. Dia.. dia anak Hae Won,” gumam Sulli. Ia benci untuk mengatakannya. Ia benar-benar benci untuk mengingat kejadian itu.

“A-apa? Hae Won? Pacarmu dulu sewaktu SMA itu? Tapi, bagaimana bisa?” tanya Krystal bingung.

Sulli mengangguk lemah. Kini, ada sebulir air mata yang menetes dari kedua matanya.

“Dia.. sewaktu SMA dulu, dia memang tak pernah rela aku putuskan. Dia tetap bersikukuh untuk mempertahankan hubungan kami. Tapi, aku tidak menggubrisnya. Hingga kau tahu sendiri, dia tiba-tiba saja pindah dari sekolah kita..”

“Tapi, aku masih penasaran dengan alasan kenapa kau memutuskan hubungan kalian saat itu. Tidak mungkin kalau Hae Won berselingkuh, bukan? Kau.. apa kau.. saat itu.. kau dan Minho sedang menjalani hubungan?” tanya Krystal hati-hati.

Sulli semakin menunduk. “Tidak. Saat itu.. aku masih memendam perasaanku terhadap Minho Oppa. Kami belum berhubungan saat itu. Sebenarnya, hubungan kami baru berjalan saat kita berada di satu universitas yang sama,” ucap Sulli.

Krystal menghela napas panjang. “Lalu, bagaimana bisa kalian menjalani hubungan? Maksudku, antara kau dan Minho..”

“Kau ingat saat kita hiking ke Pegunungan Bukhasan? Saat itu aku dan Oppa menghilang selama beberapa hari, bukan? Dan, saat itulah kami saling jatuh cinta,” ucap Sulli.

Sudah sejauh itukah hubungan mereka? Mengapa aku sama sekali tak sadar?

“Awalnya, Oppa tidak setuju dengan hubungan ini. Dia sangat mencintaimu, Krystal. Dia tidak ingin menghianatimu. Tapi, karena keegoisanku ini.. aku memaksanya untuk terus melanjutkan hubungan terlarang kami.

“Hingga pada suatu hari, aku bertemu kembali dengan Hae Won. Dia sudah bukan lagi Hae Won yang kita kenal. Dia sudah banyak berubah. Malam itu.. saat itu.. aku kehilangan segalanya, Krystal.. dia.. dia bajingan yang sudah merebut barang berhargaku! Aku memang wanita jalang! Kau juga berpikiran seperti itu, ‘kan?” tangis Sulli kian mengencang.

Krystal sudah tak tahu harus berbuat apa lagi. Semua ini rumit. Sesungguhnya, dia merasa sedikit lebih beruntung dari Sulli. Ya, dia sedikit beruntung.

“Setelah dia melakukannya padaku, dia pergi begitu saja. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku benar-benar depresi saat itu, Krystal! Lalu, saat kudengar kau sedang bertengkar dengan Oppa, entah iblis apa yang merasukiku, aku berusaha untuk membuat kalian pisah dan memiliki Oppa seutuhnya. Malam saat kau bertengkar dengan Oppa, aku membuntuti Oppa hingga sampai di sebuah bar—”

“Kau sadar bukan kalau kau menceritakan itu semua, kau justru menambah kebencianku padamu, Sulli.”

Sulli diam saja. Ia sama sekali tak menggubris ucapan Krystal. “—lalu saat itu, aku memanfaatkan Oppa yang sedang dalam keadaan mabuk berat. Tapi, kami sama sekali tidak melakukannya. Oppa tidur di ranjang, sedangkan aku di sofa. Barulah, saat pagi menjelang, aku tidur di samping Oppa. Dan, saat Oppa bangun, ia mengira kalau kami sudah melakukan itu. Sejak hari itu, aku terus dirundung cemas. Terlebih aku positif hamil. Lalu, aku mengatakan hal itu kepada Oppa, dan Oppa setuju untuk bertanggung jawab kepadaku. Tapi, hatiku menolak itu semua. Meski Oppa bilang bahwa Oppa mencintaiku, tapi aku tahu cintanya hanya untukmu, Krystal. Oleh karena itu, aku putuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Oppa melalui sebuah surat. Selanjutnya, aku melanjutkan kuliahku di Inggris, hingga aku melahirkan Jiyoo di sana. Dan, Oppa sama sekali tidak tahu mengenai hal ini. Kami benar-benar putus komunikasi sejak saat itu..” ucap Sulli. Cukup sudah. Ia sudah menceritakan semuanya.

Sulli lalu menutup matanya.

Kau melakukan kerja yang bagus, Sulli. Memang harus begini. Kau memang harus menceritakan yang sebenarnya kepada Krystal. Kau sudah salah sejak awal, Sulli.

Lagi-lagi, perempuan itu harus menitikkan air matanya. Entah sudah keberapa air matanya itu mengalir.

Ia benci untuk terlihat lemah di hadapan orang lain. Bahkan, ia tak pernah menangis di depan Minho.

Tapi, untuk kali ini saja.. ia ingin menangis. Di depan Krystal, sahabatnya—entah Krystal masih menganggap mereka sahabat atau sudah tidak lagi.

Saat ekor matanya menangkap sosok tubuh Krystal yang mendekat, ia kira ia akan mendapatkan sebuah tamparan atau cacian.

Ia pantas untuk mendapatkan itu..

Namun.. bukan itu yang didapatkannya..

Apa yang terjadi?

Justru, sesuatu yang hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Hangat.. dan penuh cinta..

Mungkinkah?

Sulli lalu membuka matanya. Ia kaget mendapati tubuhnya di dalam pelukan hangat Krystal. “Aku turut prihatin mendengar semua ini, Sulli. Aku masih menyayangimu seperti dulu, Sulli. Aku masih menganggapmu sahabat. Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau meminta maaf padaku, Sulli,” Sulli tersenyum. Ia membalas pelukan hangat Krystal.

“Terima kasih. Aku kira kau tidak sudi lagi untuk menemuiku, Krystal. Ternyata aku salah. Maafkan aku..”

Krystal kemudian melepaskan pelukannya ketika dirasanya tubuh Sulli sudah tak lagi bergetar. “Aku sudah merelakanmu untuk menikah dengan Minho.”

“Tidak, tidak, Krystal. Oppa bukan untukku, tapi dia untukmu,” ujar Sulli.

“Lalu, bagaimana denganmu? Kalau kau tidak memiliki suami, lantas bagaimana dengan Jiyoo? Tak mungkin bukan ia tak memiliki ayah. Kau mau merawatnya sendiri?”

Sulli mengangguk. “Tentu saja. Menjadi single parent, bukan hal yang sulit, ‘kan? Lagipula, Oppa pasti sudah jijik padaku. Dia sudah mengetahui semua ini, Krystal. Oh iya.. ada sesuatu yang sebenarnya ingin Oppa berikan padamu, tapi aku merebutnya. Kau pantas mendapatkan benda ini, Krystal.

“Sesaat sebelum kau memergoki perselingkuhan kami, Oppa  ingin memberikan ini padamu,” ucap Sulli. Ia kemudian menyerahkan kalung yang berhiaskan permata indah kepada Krystal.

Krystal menerima pemberiannya. “Sulli.. kau harus kuat. Aku tahu kau bisa melewatinya,” ucap Krystal. Ia peluk sekali lagi tubuh Sulli.

“Besok akan ada acara reuni alumni universitas kita. Kau harus datang ke sana, karena kupastikan Oppa juga akan datang ke sana. Semoga kau bisa bersatu dengan Oppa,” ucap Sulli. Kini, wajahnya kembali berbinar.

Krystal tersenyum lemah. “Maaf, Sulli. Besok aku harus pergi ke Amerika. Dan, lagi.. aku tidak bisa bersatu dengan Minho. Aku.. aku sudah memiliki jodohku, Sulli,” ucap Krystal lemah. “Aku permisi.”

Krystal kemudian berjalan ke luar kafe. Ia menghembuskan napas panjang.

Apa yang sudah kukatakan? Jodoh? Aku sudah memiliki jodoh? Yang benar saja!

Ia kembali menyusuri jalan Shibuya yang masih disesaki oleh ribuan pejalan kaki. Krystal lalu mendongakkan kepalanya.

Ia melihat awan hitam di atas sana. Lagi, perasaan dingin dan kelam kembali menggerayanginya.

Ia menutup matanya sejenak.

Minho memang bukan jodohku.

Krystal kembali melanjutkan langkahnya. Ia tidak akan menyesali keputusannya. Tidak akan. Semua ini adalah kesalahan. Sejak awal.. semua ini adalah palsu.

Semua yang terjadi adalah takdir. Takdir itulah kenyataan hidup kita. Kenyataan bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi.

Justru, orang yang menghindari kenyataanlah, yang akan mendapatkan penyesalan untuk seumur hidupnya.

.

.

| E N D |

2 thoughts on “[Oneshoot] A Fake

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s