La Luna

— L A  L U N A —

|| Cast(s) : Park Luna & Do Kyungsoo || PG13+ ||
|| Genre : Romance, Drama
|| FICLET (SHORT! 900+) ||

// Like a moon, he is changing— //

A/N : Already posted on my blog too, here.

— L A  L U N A —

Image

— L A  L U N A —

Dingin. Sosok itu beringsut pelan, kembali mencoretkan guratan tipis pensil diatas permukaan halus kertas, menggambar sketsa langit malam yang indah. Hidungnya mengerut, berusaha menahan rasa dingin yang merembes melewati kaus tipis Houston Rocket yang dikenakannya, menguliti kulitnya yang telah membiru akibat kedinginan—tetapi ia tidak tergoyahkan—wajah mungilnya menengadah, menatap sepotong bulan yang terlukis indah menyinari langit malam. Bulatan bercahaya itu hanya membentuk lengkungan tipis, belum membentuk bulatan sempurna, bulan purnama. Untuk menggambar bulan yang sempurna demi melengkapi gambarnya, gadis itu terpaksa menunggu malam demi malam, menanti potongan bulan yang kian membulat—menunggu, dan menunggu mengamati fase bulan. Bibirnya mengulum senyuman tipis, gelenyar panas terasa merambati hatinya, refleks, jemari mungilnya bergerak menuju dadanya, merasakan detakan tidak teratur jantungnya.

Dan dibawah siraman redup bulan, Luna menangis. Air mata telah menggenangi matanya, membentuk anak sungai yang melintang vertikal melewati pipinya. Fase bulan, yang selalu berganti membingungkan, mengingatkannya akan pemuda yang selama ini selalu berdiri tegak disisinya, menjadi bagian hidupnya. Kyungsoo, Do Kyungsoo. Bibirnya bergumam pelan, berusaha merasakan gerak bibirnya ketika ia mengucapkan nama pemuda itu.

Kyungsoo, pemuda berkulit putih yang selama ini selalu bersamanya, seperti sepasang insan yang tidak akan terpisah. Semasa kecil, pemuda itu selalu melindunginya. Memukuli anak sebayanya yang kerap mengganggu Luna, mengejek gadis itu dengan sebutan ‘kerdil’ yang amat dibencinya. Pemuda itupun turut menghiburnya, menyuapkannya kue velvet cokelat kepunyaannya ke dalam mulut Luna, membiarkan gadis itu menyantap kue bagiannya hingga tandas.

Tapi, kini? Pemuda itu berubah. Seperti fase bulan, sifatnya kini sukar untuk ditebak. Tidak ada lagi pukulan yang melayang ketika sebaris teman mengganggunya. Tidak ada lagi kue yang tersedia dan siap dibagi bersama. Tidak ada lagi Kyungsoo yang dulu, Kyungsoo mungil yang lembut dan periang—digantikan oleh sosok tegap seorang pemuda yang dingin, dan sentimen.

Luna menyeka kasar air matanya yang kian menderas. Udara dingin terasa menyayat kulit, selagi ia berusaha keras untuk menghapus bersih jejak airmatanya. Segera, gadis itu merapihkan alat gambarnya, memasukkannya ke dalam kotak sebelum hendak meninggalkan balkon apartemennya. Aroma manis telah menggapai indra penciumnya, ketika sebuah suara dalam terdengar, mencegahnya untuk pergi.

Luna-ya, jangan pergi.

Tubuhnya membeku, dentingan lembut terdengar olehnya. Ia berbalik, dan mendapati sosok familiar seorang pemuda tengah berjalan mendekat, dengan nampan bundar dalam genggamannya—dua buah cangkir porselen bertengger manis diatasnya, disertai teko putih gemuk dan sepiring blueberry cupcakes.

Luna menghela napas panjang. “Apa yang kau lakukan disini?” tukasnya dingin, menatap lekat-lekat Kyungsoo yang kini meletakkan nampan diatas lantai, sebelum menghempaskan tubuhnya diatas lantai linoleum dingin. Bibir pemuda itu membentuk segaris senyuman pahit, wajahnya meneleng.

“Aku hanya ingin mengunjungi teman lamaku. Tidak boleh?” Luna mendengus, ingin rasanya ia berlari dari sisi Kyungsoo, mengabaikan kedatangan tiba-tiba pemuda itu. “Teman lama? Semudah itukah kau menyebutnya, Do Kyungsoo?” nada suara gadis itu berubah, lebih dingin dan tajam. Kyungsoo menghela napas pelan, pemuda itu mengerling sketsa Luna yang baru setengah jadi.

“Apa yang sedang kau gambar?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tidak pandai dalam hal itu.” Kyungsoo bungkam—Luna terlalu mengenal baik dirinya, sebagaimana ia mengenal baik Luna. “Bukankah kita teman? Apakah kau melupakan pertemanan kita?” Luna mengabaikannya, ucapan pemuda itu tidak membuatnya gentar. “Kau berubah, kau telah mengabaikanku selama satu tahun terakhir, kita kehilangan kontak. Itukah yang kau sebut teman?”

Seribu jarum panas terasa menusuk hati Kyungsoo. Perkataan Luna terasa singkat, tetapi sukses menohok hati kecilnya. Teman? Mungkin ia memang berlebihan, dilihat dari hubungan yang telah meregang satu tahun terkahir, masih pantaskah ia menyebut gadis itu sebagai temannya?

“Aku membuatkanmu espresso, minumlah. Tidakkah kau kedinginan?” Luna tetap bergeming, gadis itu mengalihkan pandangannya, berusaha menahan limpahan kesedihan yang kembali menyergap hatinya. Ting. Dentingan lembut kembali mencapai telinganya, ketika permukaan suatu benda yang panas terasa menyengat pipinya. Ia tersentak, mendapati Kyungsoo yang tengah menyorongkan secangkir espresso kepadanya.

“Minum.”

“Tidak.”

“Minum, kubilang.”

“Aku tidak mau, Do Kyungsoo.”

“Minumlah, kau pasti kedinginan.”

“Mengapa kau memaksaku? Kau berubah, Do Kyungsoo!”

Hening. Suasana janggal kembali melingkupi kedua belah insan, menciptakan hawa dingin diantara mereka. Rasa pilu telah bersemayam dalam hati Kyungsoo, ketika pemuda itu kembali meletakkan cangkir Luna diatas nampan,—gadis itu sedari tadi tidak memandangnya.

“Mengapa kau berubah? Dimana Do Kyungsoo yang dulu?” suara Luna bergetar, gadis itu mengatupkan giginya kuat-kuat, menahan rasa dingin yang telah merambat hingga ke tulang. Kyungsoo membisu, mengabaikan pertanyaan yang terasa mengganjal dalam hatinya. Ia tidak berminat untuk menjawab, terlebih menjawab pertanyaan semacam itu.

“Aku tidak tahu.” Kyungsoo berujar, menghela napas lelah. Pandangannya beralih menatap gadis mungil berambut gelap disisinya. Helaan napas samar terdengar kontras pada malam yang senyap, “Tidak tahu? Lalu mengapa kau tidak berusaha untuk mengubahnya?” suara gadis itu terdengar teredam, Kyungsoo menatapnya nanar, jemarinya menyentuh cangkir espresso diatas nampan. Dingin, cangkir itu bahkan telah mendingin setelah dihempas udara dingin malam.

“Karena aku tidak bisa, dan aku tidak ingin.” hembusan angin meniup rambutnya, seakan hendak membekukan pemuda itu dalam perasaan bersalah yang bersiborok dalam benaknya. “Lalu mengapa kau mempertahankan status pertemanan diantara kita? Kau tidak bertukar sapa denganku, mengabaikanku selama satu tahun terakhir, dengan label pertemanan yang masih tersandang? Kau gila Do Kyungsoo?” nyaring, nada suara Luna telah naik beberapa oktaf, seiring dengan perasaan mengganjal yang selama ini mengganjal hatinya.

Lalu? Kau ingin apa?” Kyungsoo bertanya, menghirup dalam aroma lembab malam, jantungnya terasa berdegup kencang, menunggu jawaban yang diutarakan Luna. Sepersekian detik, suara tenang Luna kembali memecah keheningan, “Aku ingin mengakhiri hubunganku denganmu sebagai teman.”

Dan gadis itu beranjak, berjalan melewatinya, dengan kotak lukis dalam dekapannya. Bodoh. Kyungsoo tersenyum pahit, menatap siluet ramping Luna ketika gadis itu berjalan memasuki kamarnya. Jemarinya mengepal, menghantam kuat lantai berubin dibawahnya. Sebodoh itukah ia? Melepaskan gadis yang sebenarnya dicintainya?

END

— L A  L U N A —

A/N : Sorry for some wrong grammar! Thank you for read! Love, love ♥

~Love, Seruni ♥

7 thoughts on “La Luna

  1. Halo Rindra!
    Aku Silmi 99L, juga author disini loh(?) /okelupakan/
    Ini fanfiknya bagus, keren…!
    Cerita yang diangkat biasa tapi gimana cara kamu menyampaikannya itu loh… ‘perfect’
    Jujur aja sih jarang sekali nemuin fanfik Luna bersliweran dan setelah baca ini rasanya seneng banget. Okei, Rindra keep writing y?! (Sering-seringlah buat fanfik si uri vitamin ini)
    Sekian dulu, sebelumnya senang kenalan denganmu =D

    • halo silmi!
      aku 99l juga, panggil aja rindra, halohalo author seperjalanan eue
      woh, makasih banyak silmi! glad to hear that, thank you again /bear hugs/
      seneng kenalan denganmu juga!❤
      p/s: duh, sorry for late reply ;-;

  2. kayanya kyung sengaja ngehindar selama itu dari luna buat menafsirkan apa yang ia rasain ke luna adalah cinta yg sebenernya? *sotoy*

    • wah, bener-_- ngerti maksud kyungsoo ya? congrats, you’re the first reader that know about this-_- *whut
      thanks for read <33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s