Apostatize

— A P O S T A T I Z E —

|| Cast(s) : Oh Sehun & Choi Sulli || PG13+ ||
|| Genre : Romance, Fluff
|| FICLET (SHORT! 800+) ||

// Late, birthday, and kiss— //

A/N : Already posted on my blog too, here.

— A P O S T A T I Z E —

Apostatize-cover

— A P O S T A T I Z E —

March, 28th 2013—11.40 p.m New York

Hening. Lengannya mengayun lemah, berusaha melegakan otot lengan yang terasa kaku—bibirnya bergumam cemas, mengamati jarum jam yang berdetik lamban tiap detiknya. 2 jam sudah, gadis itu menunggu kehadiran kekasihnya, seorang pemuda jangkung nan tegap berkulit putih yang berjanji akan mengunjunginya malam ini, di penthouse besar yang hanya ditempati sang gadis seorang diri.

Ting tong.

Doll eyesnya membulat, seketika wajahnya tampak segar dan bersemangat. Ia mengayunkan kakinya turun dari tempat tidur, menyusupkan kaki telanjangnya ke dalam sandal kamar yang hangat—sebelum menghambur dan berlari cepat menuju pintu. Jemari lentiknya memutar anak kunci, menarik gagang pintu hingga terbuka.

Alih-alih sosok jangkung penuh senyuman yang dinantinya, gadis itu malah berhadapan dengan sosok gempal seorang pria paruh baya berbalut seragam kuning kenari, menyodorkan kotak pipih beraroma lezat kebawah hidungnya.

“Ini benar penthouse nomor 187? Pesanan anda, pizza cheese and tuna. $15.”

Kecewa. Dagunya mengedik ragu, memutar tubuhnya menuju ruang tengah, dimana dompet vinyl marunnya terdapat. Dihitungnya lembaran uang kertas dalam dompetnya, sebelum berbalik dan menyerahkannya kearah sang pengantar, yang secepat kilat menyambar uang dalam genggamannya sebelum berbalik dan pergi.

Ia cemas. Lengannya menopang kotak pipih berisikan pizza, terseok menuju dapur dan meletakkannya di atas meja makan. Jemarinya bergerak meraih telepon genggam biru langit miliknya yang tersisip dalam kantung hotpants yang dikenakannya. Lantas, gadis itu menekan fast dial, dengan name contact Sehunnie yang tertera pada layar. Didekatkannya benda biru itu kedekat telinga, menahan napas menunggu ‘Yoboseyo?‘ familiar diseberang telepon. Tapi? Nihil, telepon itu tetap bergeming, pemuda itu tidak mengangkat telepon.

Dahi sang gadis berkerut menahan rasa kesal, meletakkan telepon genggamnya begitu saja diatas meja makan sebelum berlari, melintasi ruang tengah menuju tempat tidurnya. Oh Sehun mengingkari janji, untuk pertama kalinya.

Ingin rasanya bulir air mata menganak sungai pada pipinya, menumpahkan segala perasaan yang tengah bersemayam dalam hatinya. Tidak tahukah pemuda itu, bahwa gadis itu telah lama menunggu? Nyaris gila saking cemasnya ketika pemuda itu tidak kunjung tiba? Tidak tahukan ia?

Ting tong.

Lagi. Bel berdering menandakan kehadiran sesorang di depan pintu. Tetapi gadis itu bergeming, mengabaikan dering bel yang kembali terdengar. Sekalipun Sehunlah yang tengah membunyikan bel, ia akan mengabaikannya—siapa yang memintanya untuk datang terlambat? Sehingga nyaris membuat gadis itu gila saking cemasnya?

Baby?

Erangan kesal meluncur dari sela bibirnya, selagi ia meraih bantal bundar yang terserak di atas tempat tidur, membenamkan wajahnya pada permukaan halusnya yang menggelitik. Tepat seperti dugaannya, itu Sehun. Dan bodohnya ia, lupa untuk kembali mengunci pintu, sehingga pemuda itu dapat dengan mudahnya menyelinap masuk, dan merebahkan tubuhnya tepat disisi sang gadis,—seperti sekarang.

Baby, are you upset?

Suara Sehun, dalam dan tenang. Gadis itu tetap bergeming, sedikit beringsut menjauh ketika lengan Sehun beranjak untuk memeluk pinggulnya, membenamkan wajahnya ke rambut cokelat gelap sang gadis, membaui aroma tubuhnya.

“Hei, Jinri-ya. Kau marah?”

Hening. Sepersekian detik kemudian kepala Jinri mengangguk, tetap bertahan dengan posisinya yang tidak-balas-menatap-Sehun. Sehun mengulum senyum, merapatkan lingkupan lengannya sebelum mengecup singkat bahu putih sang gadis yang terbuka. Maklum saja, ia hanya mengenakan sweater rajut gombrang berwarna krim favoritnya dengan padu padan hotpants denim pendek.

“Maaf, aku terlambat. Aku harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu. Kau mau memaafkanku, baby?”

Perlahan, ia mengubah posisinya, memalingkan wajahnya sehingga hidungnya dan hidung Sehun saling bersentuhan. Pemuda itu tertawa kecil, kembali mengecup singkat bibir ranum Jinri yang makin memerah.

“Hilangkan kebiasaanmu menggigiti bibir bawahmu, atau aku akan menciummu lagi.” Sehun berujar, menepuk lembut pipi sang gadis yang kian memerah, malu. “Hilangkan kebiasaanmu membasahi bibirmu, kau tahu aku tidak menyukai itu.” runtutan kalimat turut terbentuk dari bibir Jinri, sebelum mengulum senyuman kecil.

“Kau benar-benar jahat Oh Sehun. Kau tidak tahu sekarang pukul berapa? 11.55 malam! Dan kau tidak menjawab teleponku, darimana saja kau? Oh Sehun, kau nyaris membuatku gila saking cemasnya!” keluhan bertemperasan keluar dari bibir mungilnya. Tawa renyah Sehun langsung mengakhiri keluhan Jinri, memenuhi kamarnya dengan kehangatan yang selalu disukainya.

“Ada yang lucu sir?”

“Tidak, tidak. Hanya saja … ini.”

Sekejap, iris matanya menangkap kilauan ketika Sehun merogoh saku jeansnya, mengeluarkan sebuah untaian kalung berbandul lingkaran pipih berwarna putih susu. Dengan sigap, jemari pemuda itu menyibak rambut gelap Jinri, melingkarkan lengannya untuk mengaitkan kalung mengelilingi leher jenjang Jinri.

“Inilah alasan mengapa aku terlambat, aku perlu mengambilnya terlebih dahulu. Happy birthday baby, sweet seventeen eh?

Doll eyes gadis itu membulat terkejut, ah,—pemuda itu bahkan mengingat hari ulang tahunnya. Pandangannya beralih menangkap jam dinding bundar di atas meja belajar—pukul 12 tepat, menandakan pergantian hari.

Air mata terasa mengambang mengaburkan pandangannya, ketika jemari ramping Sehun mengusap puncak kepalanya—pemuda itu tersenyum manis, memeluknya erat. Lagu happy birthday mengalun jelas dari bibir Sehun, ketika ia kembali mengecup bibir sang gadis. Jinri hanya dapat tersenyum, menggumamkan ucapan terimakasih ketika tubuh Sehun menindihnya, mengulum lembut bibirnya, mencicipi rasa manis strawberry pada permukaan bibir Jinri.

“Aku ingin lebih, ini baru saja hidangan pembuka baby.”

END

— A P O S T A T I Z E —

A/N : Sorry for some wrong grammar! Thank you for read! Love, love ♥

~Love, Seruni ♥

11 thoughts on “Apostatize

  1. Aakkkkk knp hrs end disaat romantis sprti itu thor ToT ohhhh hunlli authorny kejam skali xp, ak jg mnginginkn lebih *plakkk*

  2. Hahahaha plis dilanjutin jgn bikin aku gbs tidur bayangin sehun nindih badan sulli trus trus trus apa yg tjd??? Wkwkwk …merinding bcnya thor saking bagus gaya bahasanya. Klo menurut aku klo author lanjutin wlw gak ahli bikin nc dgn gaya bahasa sebagus ini ttp bakal bagus. Ayo lanjutin! Wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s