Gaze

— G A Z E —

|| Cast(s) : Oh Sehun & Choi Sulli || PG 13+ ||
|| Genre : Romance
|| FICLET (SHORT! 600+) ||

// Your gaze, intoxiate me— //

— G A Z E —

Image

— G A Z E —

Indah. Bibirku membisikkan kata itu berulang kali ketika kedua bola mataku menangkap siluet jangkung Namsan Tower dikejauhan. Mungkin Namsan Tower bisa menjadi target foto yang kedua, setidaknya aku perlu mencari suatu hal yang menarik pada taman kota yang kini tengah ku telusuri.

Aku mengayuh sepedaku mengelilingi taman, dengan kamera hitam legam yang terkalung mengelilingi leherku. Berburu foto, begitulah aku menyebut rutinitas keseharianku—mengelilingi pelosok kota hanya untuk mengabadikan selembar foto berharga yang kuhargai jutaan won.

Tidak banyak yang kuperlukan selama berburu foto, hanya hoodie tebal berwarna plum kesayanganku, kamera, satu bungkus kue velvet strawberry, dan segelas cappuccino hangatlah yang rutin menemani petualanganku menjelang subuh hingga malam. Dan kendaraan? Sepeda gunung berwarna putih dengan seleret hijau sebagai penghias saja yang setia membawaku mengelilingi kota.

Iris mataku bergerak liar selagi sepedaku meluncur membelah taman yang kunjung sepi, aku mengatupkan bibir serapat mungkin, berusaha mengabaikan hembusan angin dingin yang mulai bertiup. Sang mentari telah tenggelam di ufuk barat, hanya menyisakan seleret jingga keemasan cahaya bak surgawi yang mempesona, menyinari petak-petak taman dengan sisa cahaya yang ada.

Bibirku mengerucut, menghembuskan nafas perlahan. Hari ini hanya dua foto saja yang kudapat, kurang dari hasil berburuku pada hari-hari yang lalu. Kuputuskan untuk beristirahat, mengistirahatkan otot kakiku yang terasa kaku, duduk di atas salah satu bangku putih disudut taman sembari menikmati udara sore. Benar-benar bebas.

Bibirku mengulum senyuman, tepat ketika ekor mataku menangkap sosok seorang pemuda yang tengah berjalan mendekat. Pandanganku berpaling, sehingga setiap inci raut wajahnya dapat kulihat dengan jelas. Matanya bulat dan jernih, dengan iris mata abu-abu pucat yang segar, batang hidungnya yang lurus dan bibir penuh berwarna ranumnya berhasil membuatku segera meraih kameraku, menyorotkan lensa ke arah siluet jangkungnya yang kian mendekat.

Satu kata yang terlintas dalam benakku, sempurna. Setiap pahatan yang terukir pada wajahnya benar-benar sempurna, terlebih postur tubuhnya yang jangkung dan tegap. Gadis mana yang tidak mengaguminya?

Kuatur lensa, kufokuskan dengan sigap. Jarak dan citra gambar tampak sempurna, dan tanpa berpikir dua kali, dua kilau blitz telah menyambar, mengabadikan wajah sempurna itu dalam memori kameraku. Oh gosh, such a perfect creature.

Kuamati foto yang telah bersiborok dalam kameraku, pemuda itu benar-benar sempurna. Hasilnya tepat seperti yang kuinginkan, dengan semburat peach cantik yang tergurat menghiasi langit sore. Senyumanku kembali mengembang.

“Ahem, permisi agassi. Apakah kau memotretku?”

Seketika, mataku membulat. Perlahan, pandanganku terangkat, kini aku tengah berhadapan dengan wajah pemuda yang baru saja kupotret, ia balas menatapku ragu, poni pink pucatnya tersibak, membuatku dapat melihat dengan jelas setiap inci wajahnya yang bersinar bersih. Oh, damn.

“A-aku …”

Kehabisan kata-kata. Alis pemuda itu terangkat, menuntutku untuk melanjutkan ucapanku yang terpenggal. Aroma manis cokelat kini memenuhi rongga hidungku, aroma tubuh pemuda tak dikenal yang kupotret 2 menit yang lalu.

“Kau—?”

“A-aku memotret langit di balikmu, la-langitnya indah sekali.” kucoba memilin senyum kecil, tetapi nihil. Pemuda itu mengerutkan alisnya, makin mendekatkan wajahnya padaku.

“Jadi, kau memotret langit?”

“Langit … ya, langit—

Kucoba untuk mengalihkan pandanganku, menatap langit senja yang terblokir sempurna oleh tubuhnya. Sekilas, pandanganku bertemu dengannya. Aroma tubuh pemuda itu makin memabukkanku, membuaiku dalam pesonanya. Pandangannya tenang, dan lembut. Kucoba untuk memberanikan diri, membalas ragu tatapannya. Jantungku berdegup cepat, selagi wajahnya makin mendekat, membuat pucuk hidungku bersentuhan dengannya.

Darahku terasa berdesir tidak wajar, terpompa naik hingga memenuhi wajahku. Degup jantungku terasa tidak wajar, berdegup aneh ketika hembusan nafasnya beradu dengan nafasku, menciptakan uap yang bergulung dan bertemperasan dengan hawa dingin sore.

Sepertinya Choi Jinri sedang jatuh cinta.

Mendadak, pemuda itu menarik wajahnya dariku, dengan senyuman kemenangan yang terkulum pada bibirnya. Rasa panas terasa menyergap wajahku, menimbulkan sensasi aneh yang menggelitik pada dasar perutku. Ya tuhan.

“Itulah hukumannya apabila kau tidak mengakui perbuatanmu. Aku Oh Sehun, kau?

J-jinri, Choi Jinri.

END

— G A Z E —

A/N : Sorry for some wrong grammar, thank you for read ♥

11 thoughts on “Gaze

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s