[Special Post for Luna’s Birthday] Nothing

cats 30

NOTHING

Author: Yesunggyu – Amalia Laili

Genre: Romance, comedy, sad

Length : one shoot

Cast: Luna, Lay (EXO)

Annyeong! Yesunggyu, imnida! Daku ikut lomba untuk mengasah kemampuan menyusun kalimat dengan baik dan benar serta layak untuk dibaca. Untuk dapat hadiah, tidak terlalu berharap, karena gak mungkin kali ye? Hehehe. Oh iya, ini cerita entah kenapa tiba-tiba masuk ke kepalaku. Hem, apakah ini pertanda Daehyun sudah menerima cintaku? *plak#gaknyambung. Yang paling penting diantara semuanya, adalah komentar kalian. beneran! Soalnya untuk belajar sih. Daku kan sudah kelas 12. Hehe… daripada banyak basa-basi. Silahkan dibaca! ^^

………………………

Cerita yang mungkin sebenarnya tidak layak untuk ada.

Karena, memang tugas dari cerita ini adalah untuk tidak ada dalam cerita lain.

Tetapi entah kenapa cerita ini memaksa untuk muncul dari ketiadaan.

Mungkin karena segala sesuatu yang ada berasal dari ketiadaan.

………………………

Luna sangat membenci pandangan lelaki padanya. Terutama lelaki yang saat ini sedang memandangnya. Mungkin dia seperti tidak menyadari pandangan lelaki itu padanya, tapi sebenarnya ia mengetahuinya dan merasa risih. Dari tempat duduknya ia mulai berdiri dan berjalan pergi.

Bukannya lari dari pandangan lelaki itu, Luna malah mendapati lelaki itu mengikutinya dari belakang. Luna berharap jarak rumahnya bisa memendek hanya untuk hari ini. Luna memegang payung ditangannya dengan erat, berjaga-jaga mungkin saja lelaki itu melakukan hal yang tidak baik dan mengancam jiwanya. Tenang Luna, sebentar lagi kau akan sampai dirumah. Terlihat darimu banyak perempuan didepan sana bersama para lelaki dipelukan mereka. Itu adalah rumahmu.

Begitu tiba didepan rumahnya, Luna segera berlari masuk. Menghambur kekerumunan begitu saja tanpa perduli pada orang-orang yang ada –yang memang tidak perduli padanya. Ia langsung masuk kekamar dilantai dua dan mengunci pintunya. Lalu membuka tirai dan memastikan lelaki itu tidak ada lagi.

Mengapa ia ada disana? Luna dapat melihat dengan jelas lelaki itu tetap bisa mendapati dirinya bahkan dijendelanya yang sangat gelap. Pandangan lelaki itu membuatnya takut. Meskipun ada banyak perempuan sedang menggodanya saat ini, tapi lelaki itu tampak seperti hanya ada mereka berdua ditempat itu.

Lebih cepat dari sebelumnya, lelaki itu pergi. Luna menghela napas lega.

………………………

Rumah Luna adalah tempat dimana banyak perempuan penggoda berada. Ibunya adalah pemimpin mereka. Hal ini membuat Luna tampak rendah dihadapan semua orang yang ada disekitarnya. Mereka mengira bahwa Luna sama saja dengan ibunya. Tapi, bukankah anak dan ibu tidak harus sama? Menjelaskan pun tidak akan mengubah keadaan. Selama 6 tahun ia menjelaskan semua kepada orang-orang sudah membuatnya lelah.

Menjadi manusia yang tidak terlihat adalah tugas utama Luna didalam kehidupan orang lain. Mengira hanya itu saja tugasnya. Tidak, dia juga bertugas untuk pergi dari kehidupan orangtuanya selamanya, meski tugas ini belum bisa ia capai. Orangtuanya terus saja berkelahi. Ayahnya adalah penjudi dan ibunya adalah wanita penggoda. Bukankah mereka cocok satu sama lain? Tapi mengapa mereka terus bertengkar?

Beberapa hari terakhir ini, seorang lelaki yang ia kenal dari sekolahnya bahwa lelaki itu adalah seorang berandal yang pindah dari Cina. Jangan sampai lelaki itu berfikir bahwa ia juga perempuan penggoda. Luna bisa gila!

…………………

Tanpa diduga, lelaki itu muncul didepan Luna. Ia duduk didepan Luna yang sedang duduk dibangku kelasnya. Tangan Luna bergetar cukup kuat. Apa yang diinginkan lelaki ini?

“hai…” sapa lelaki itu.

“…”

“kau bisu?” tanyanya sambil memiringkan kepala kekanan dan mengamati Luna dengan baik. Luna tidak suka caranya memandang Luna. Tidak ada orang yang memandangnya lebih dari 3 detik dengan pandangan seperti itu. Tersenyum.

“kenapa tidak berbicara?”

“apa yang kau inginkan?” tanya Luna mulai memberanikan diri.

“aku minta maaf yang kemarin” ujarnya sambil tersenyum dan memamerkan giginya. Bagaimana mungkin seorang berandal memiliki senyuman semanis itu?

“apa yang kau lakukan?” Luna masih tidak mengerti arah pembicaraannya.

“sebelumnya, perkenalkan, namaku Zhang Yixing. Tapi karena sepertinya orang-orang disini susah memanggilku, maka namaku Lay. Kau bisa memanggilku begitu…” dia memperkenalkan dirinya pada Luna yang tidak perduli apapun tentang seseorang yang bernama Lay itu. Lagipula Luna tidak akan pernah memanggilnya, kan? “aku hanya ingin memastikan kau aman sampai rumah.”

“dan kau pikir dengan begitu aku aman?” Luna kesal dengan alasan Lay yang sudah mengikutinya selama ini.

“buktinya kau aman” jawabnya. BINGO! Ia benar. Luna tidak bisa membantah. Tapi jantungnya tidak aman kemarin!

“Jantungku tidak aman kemarin. Kau tahu, aku pikir aku diikuti oleh seorang pembunuh!” Luna mulai kesal. Lay hanya terkekeh.

“maafkan aku, seharusnya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Haha… namamu?” tanyanya lagi.

“apakah itu penting?”

“tentu saja, jika mau berteman, maka kita harus tahu nama masing-masing kan?”

“kau yakin kalau aku mau berteman denganmu?” kata-kata Luna sukses membuat Lay berhenti tersenyum dan mulai berfikir.

“mengapa kau mengatakan hal itu?” tanyanya.

“karena…”

“aku pikir kau akan mengatakan ‘kenapa kau mau berteman denganku?’, dengan begitu aku sudah menyiapkan jawaban. Aku akan menjawab ‘karena aku sangat penasaran padamu. Aku ingin mengenalmu dengan baik. Aku tidak suka pandangan orang-orang padamu. Aku rasa, kau dan aku berada pada situasi yang sama. Banyak orang tidak menyukaiku.’ Bagaimana? Kau menerimanya? Jika pertanyaanmu yang tadi, ehm, aku tidak tahu. Tapi aku yakin kau mau berteman denganku.” Lay bercerita panjang lebar. Luna tidak tahu jika seorang berandal itu cerewet. Tapi Luna memikirkan ucapan Lay. Ya, mereka berdua sama. Semua orang tidak menyukai mereka. Dan tugas mereka sama, yaitu menjadi manusia tidak terlihat dikehidupan orang lain.

“huft, terserah kau saja.” Luna akhirnya menyerah. Berteman dengannya sepertinya tidak menimbulkan masalah besar.

“yeah!” Lay berteriak sambil mengangkat kedua tangannya. Persis seperti pemain bola yang baru saja mencetak gol. Luna menolehkan kepalanya menatap jendela. Sebentar lagi hujan. Pantas saja orang mulai menggila.

“namamu?”

“Park Sun… ehm, Luna”

“annyeonghaseyo, Luna-ssi. Senang berkenalan denganmu!”

…………………

Luna hanya diam saja seharian ini. Kakinya sangat sakit. Semalam, ayahnya memukul kakinya berkali-kali karena tidak mau membelikan ayahnya minuman keras. Ia takut ayahnya semakin sakit. Meskipun ia berharap ayahnya segera pergi dari kehidupannya. Ia ingat dengan baik, baru 2 hari kakinya juga dipukul ibunya karena mengusir lelaki yang bersama ibunya. Luka itu belum sembuh.

“Ada apa?” Lay tiba-tiba datang menghampirinya yang duduk ditaman sekolah. Ia kesal pada Lay. Ia sering sekali datang tiba-tiba dan pergi secara tiba-tiba juga. Persis seperti jelangkung!

“bukan apa-apa” bohong Luna. Ia tidak mungkin menceritakannya dengan Lay, kan? Luna menaikkan kaos kakinya hingga lutut. Menyembunyikan lukanya. Ukh, menaikkan kaos kaki itu membuat lukanya perih. Ia mengerutkan kening, menahan sakit.

“kau sakit? Wajahmu pucat”

“pucat?”

“kau sakit apa?”

“tidak”

“coba kulihat!” Lay memaksakan diri untuk membuka kaos kaki Luna. Dan Lay melihat luka itu. Tangannya mengepal dengan kuat.

“siapa yang melakukan ini padamu?”

“bukan siapa-siapa…”

“ayahmu? Ibumu?”

“itu… darimana kau…” Luna tidak menyangka jika Lay mengetahui itu, dan Luna tidak tahu bahwa Lay hanya memancingnya saja.

“dimana mereka sekarang?” Lay tampak sangat marah. Luna menahan tangannya.

“apa yang akan kau lakukan?”

“kau adalah anaknya. Bagaimana mungkin mereka melakukan ini padamu?”

“bukan, mereka melakukan ini karena aku yang salah. Aku sudah terbiasa…”

“kau sudah terbiasa?”

“bukan…” Luna terus membujuk Lay. Berteman dengan orang yang temperamennya naik turun itu sulit. Lay menarik napas dan menghelanya dengan berat.

“lain kali, jika ada orang yang menyakitimu lebih dari ini, kau harus katakan kepadaku.”

“mengapa?”

“karena aku temanmu. Aku akan menyakiti mereka juga!” Lay menjawab dengan yakin.

“tidak perlu…” ujar Luna sambil tersenyum. Yah, meskipun begitu, ia senang. Pertama kalinya dalam hidupnya ada orang yang mau mengorbankan diri untuknya.

“ternyata kau bisa tersenyum! Cantik! Teruslah tersenyum!”

“tidak!”

Luna hanya bisa berharap Lay mau berteman dengannya lebih lama, atau mungkin untuk selamanya. Karena hanya itu alasan Luna untuk hidup.

……………………

“LAY! HENTIKAN! APA YANG KAU LAKUKAN?! YA!” Luna berusaha menghentikan pemukulan yang dilakukan Lay pada seorang lelaki yang baru saja melempar batu pada Luna dan mengejeknya. Sebenarnya yang melakukan itu tidak hanya satu. Namun, Lay yakin bahwa orang yang ia pukul adalah seorang provokator. Setelah beberapa lama, akhirnya Lay berhenti juga. Sepertinya ia lelah.

“jangan berani melakukan itu lagi pada Luna atau kau akan segera bertemu dengan dewa kematian!” gertak Lay. Lelaki itu segera berdiri dan berusaha berlari. Luna meminta maaf sambil menunduk dan membersihkan kotoran yang mengotori baju lelaki itu, tapi lelaki itu menepis tangannya.

“jangan menyentuhku dengan tanganmu yang…” baru saja ia mau menyela Luna, namun begitu ia melihat Lay yang bersiap untuk melayangkan sepatunya, ia memutuskan untuk pergi.

“kalian adalah pasangan tergila!!!” teriaknya sambil berlari.

“yaaa!! Terima kasih!!!” balas Lay “awas, jika aku bertemu denganmu lagi!”

“sudah!” Luna memukul bahu Lay.

“aw! Tanganku sakit!” rintih Lay.

“salahmu sendiri. Kau tidak boleh seperti itu. bukankah kau bilang ingin mengubah image kita berdua. Kau malah membuatnya semakin buruk…”

“ah, aku rasa tanganku retak karena kau pukul…” Lay tidak menghiraukan ucapan Luna malah memegang bahunya. Luna dengan panik menatap Lay dengan tatapan –benarkah?.

“hahaha… bercanda!”

“bodoh!” sekali lagi Luna memukul Lay dengan lebih keras.

“aish… tanganmu ini batu ya? Sakit”

Dan Luna kembali membuat harapan. Untuk bisa lebih lama melihat senyuman Lay dan mendengar tawanya.

…………………

Luna duduk ditaman, lukanya tidak begitu sakit sekarang. Tapi dia melihat Lay berjalan kearahnya dan itu aneh. Biasanya ia tidak pernah melihat Lay datang kearahnya. Karena, Lay datang selalu dalam keadaan tiba-tiba. Lay berdiri tepat didepannya, ia hanya diam dan Luna tidak mengerti apa yang terjadi. Lay memeluknya.

“Apa yang kau…”

“bagaimana ini?” Lay bertanya dengan lesu dan Luna hanya membiarkan Lay memeluknya.

“ada apa?”

“ibuku meninggal…” ujarnya.

“aku turut berduka…”

“apa aku harus menangis? Apa aku seharusnya bersedih? Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Lay padanya.

“tentu saja kau harus sedih”

“aku belum pernah melihat ibuku…”

“mengapa?”

“karena dia tidak menginginkanku. Apa aku harus sedih dia sudah pergi?” tanya Lay lagi, kali ini Luna sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Jadi dia hanya menepuk punggung Lay yang masih memeluknya.

“aku juga tidak mengerti. Jika ibuku meninggal. Apa aku juga harus menangis?” tanya Luna. Bukankah dia juga harus memikirkan hal itu. Manusia pasti mati. Bagaimana jika yang menimpa hal itu adalah ibunya? Apakah itu adalah hal yang diinginkannya?

“…” Lay melepaskan pelukannya dan menatap Luna yang menerawang, menatap rerumputan yang ada diujung kakinya. “hidup kita memang sulit, ya”

“ya” jawab Luna dengan lesu.

“tapi, jika kita bersama. Hidup tidak akan menjadi sulit, kan?” tanya Lay pada Luna sambil tersenyum. Luna menengadahkan kepalanya dan menatap Lay yang tersenyum padanya.

“ya” Luna juga tersenyum. Sekali lagi, entah untuk yang keberapakalinya ia berharap, ucapan Lay benar. Hidup mereka akan baik-baik saja.

“aku sudah memikirkannya!” Lay tiba-tiba tersenyum senang.

“memikirkan apa? Kau pernah berfikir?” tanya Luna heran.

“tentu saja aku pernah berfikir!” Lay protes pada pernyataan Luna. Luna hanya terkekeh. “aku memikirkan tentang kita berdua!”

“maksudmu?”

“maksudku, hidup ini sangat sulit kan? Namun jika kita bersama, hidup tidak akan sulit lagi. Karena itu aku berfikir bahwa sebaiknya kita memulai hidup baru!” jelas Lay dengan yakinnya.

“bagaimana?”

“itu…” Lay menundukkan badannya dan membisikkan sesuatu ditelinga Luna. Luna tampak terkejut namun dia hanya diam. Ide Lay itu sangat gila. Namun Luna mengangguk ketika Lay menatapnya dengan tatapan bagaimana?-apa-kau-setuju?. Luna percaya pada Lay.

……………………

Malam itu sangat gelap dan sepi. Tidak dapat dimengerti mengapa rumah itu sepi malam ini. Apa yang terjadi? Ia pun tidak tahu dan tidak mau tahu. Ia hanya mencari barang-barangnya dan memasukkannya kedalam tas besar dengan segera. Ia yakin orangtuanya tidak akan masuk dan melihat apa yang dilakukannya. Luna akan pergi dari rumah itu selamanya.

Disisi lain, Lay terdiam dikamarnya. Ia tidak menyadari bahwa keputusannya untuk membawa pergi Luna adalah hal yang gila. Tidak! Ia baru saja menyadarinya malam itu. Ia ingin saja menghubungi Luna dan mengatakan ‘maaf Luna, sepertinya tadi siang itu aku sedang dalam keadaan tidak waras. Kita tidak boleh pergi!’. Tapi, melihat raut wajah Luna yang senang dan penuh harap padanya membuat Lay tidak berani. Bagaimana pun, Lay harus menepati janjinya.

……………………

Tengah malam, Luna duduk diatap rumahnya. Ia akan menunggu Lay disana. Ia juga tidak mengerti mengapa ia ingin duduk diatap rumahnya. Luna sudah membawa semua yang ia perlukan, ia hanya tinggal menunggu Lay menghubunginya.

Drrt… drtt

Handphonenya bergetar, ia segera mengambilnya. Senyum mengembang dibibirnya, Lay menelpon.

“yoboseyo?”

“apa anda, Luna?” seorang perempuan bertanya dari seberang.

“iya, ada apa? Apa yang terjadi pada Lay?” Luna tidak bisa menahan rasa cemasnya.

“ternyata namanya Lay. Hem, maaf apa hubungan anda dengan Lay? Hanya nomor anda saja yang ada dikontak handphonenya…”

“aku temannya…” Luna semakin tidak mengerti.

“bisakah anda menghubungi keluarganya? Lay baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit Suho…”

“apa dia…” Luna tidak sanggup untuk mengatakan apapun lagi setelah perempuan yang menelponnya menjawab bahwa Lay tidak dapat diselamatkan lagi. Pendarahan dikepalanya terlalu banyak. Tangan dan kakinya patah dan organ dalamnya rusak. Dalam perjalanan untuk menjemput Luna, Lay tidak melihat ada sebuah truk melaju dengan cepat segera menabraknya.

“yoboseyo? Apa anda masih disana, Luna-ssi?”

Luna sudah tidak dapat mendengar apapun, dan melakukan apapun. Raut wajahnya tampak terkejut. Tanpa ia sadari, ia berdiri sambil memegang tas besarnya. Berjalan diatas atap rumahnya. Entah apa yang ia pikirkan, ia menjatuhkan dirinya sendiri ketanah. Tubuhnya yang menelungkup menabrak tanah dengan keras. Dengan segera darah mengalir dari hampir seluruh tubuhnya. Dan tidak ada seorang pun yang tahu.

Tidak ada yang mengetahui siapa yang mengalami kecelakan dan siapa yang jatuh dari atap rumah. Tidak ada yang mengenal dan perduli.

……………………

Malam ini kita berdua pergi bersama

Kita akan memulai kehidupan yang baru

Dikehidupan yang baru itu, kita tidak akan merasa sakit dan sulit lagi, iya kan?

……………………

Ah, jinja! Akhirnya selesai. Membuat FF ini butuh perjuangan karena harus mengecek jumlah kata T.T hehehe… kebiasaan daku suka mematikan karakter, duh. Meskipun gaje, tapi mohon untuk dikomentari. *bow

Saengil cukka hamnida, Luna eonni. Semoga semakin ceria bersama f(x)!

13 thoughts on “[Special Post for Luna’s Birthday] Nothing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s