[Special Post for Luna’s Birthday] Winter Down

FF Winter Down

Judul: Winter Down II Author: Hara II Main Cast: Fx’s Luna & EXO’s Sehun II Minor Cast: Kai, Sulli II Genre: Romance, Musical, Schoollife II Rating: PG-13
Summary: Ketika suatu cinta di naungan musim dingin yang tak bisa tergapai, hingga merusak ikatan persahabatan. Rasa cemburu selalu ada di dekat mereka. Saling meintimidasi. Namun semua dapat diubah seiring bermekarnya bunga yang mengganti salju menjadi bunga cantik.

Author’s Note: Pure of mymind. Cast belongs to Allah.

.

.

Suara merdunya bercampur dengan alunan melodi gitar akustik. Begitu harmonis dan enak ditangkap di indera pendengarannya.

Sembari memamerkan suara yang tak bisa dimiliki oleh siapapun, gadis berambut pirang itu mencuri pandangan pada pria yang tengah memetik gitar di depannya.

Pria itu memejamkan mata menikmati keseimbangan yang diciptakannya. Kedua kakinya disilangkan sebagai tumpuan gitar. Ia membuka kelopak matanya ketika berhasil mencapai nada terakhir dengan lembut.

Luna menarik kedua sudut bibirnya menghasilkan buah pipi yang manis.

“Whu!” seru Sehun sembari bertepuk tangan.

Luna menundukan kepalanya mencoba menyembunyikan kembangan senyumnya yang terlalu lebar.

“Suaramu bertambah merdu,” puji Sehun.

Aniya!” sanggah Luna.

Sehun meletakan gitarnya, “Cih. Jangan merendah.”

Luna memanyunkan bibirnya.

“Masih ada beberapa nada akorku yang salah,” ungkap Sehun sambil menghela nafas.

“Mmm.. menurutku itu cukup baik,” gumam Luna memperhatikan pantulan dirinya pada cermin lebar yang mengisi hampir seluruh dinding ruangan itu.

“Kau selalu pintar mencari kata sanjungan,” ejek Sehun.

Luna kembali mencibir pelan, “Untuk apa kau bermain gitar? Menurutku kau lebih keren saat menari.”

Sorot mata Sehun kini tak bisa terbaca. Untuk apa? Dia bahkan tidak memikirkan alasannya. Ia hanya berpikir, bahwa tubuhnya akan selalu ringan jika mendengar Luna bernyanyi. Apakah ia harus memberitahukan alasan itu pada Luna?

Belum sempat Sehun menjawabnya, pintu ruang latihan berderik menampilkan sosok jangkung yang tengah mendekati mereka.

“Kai?” kata Luna mengernyitkan dahi.

“Sudah kuduga kau berada disini,” ujar Kai lega.

Kesenangan Sehun lenyap begitu hadir sosok tak diundang di antara mereka. Namun ia biarkan Kai ikut bergabung. Toh, dia tak memiliki hak untuk mengusir Kai.

“Kau meninggalkan ini,” ujar Kai seraya mengulurkan sebuah buku bersampulkan Kunci G.

Omo! Buku diaryku!” pekik Luna menyambar diary miliknya. “Dimana kau menemukannya?”

“Sepertinya kau meninggalkannya setelah kita selesai makan siang tadi.”

Luna hanya mengangguk tanda mengerti.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kai menyeret kursi agar dirinya bersebelahan dengan Luna.

“Sehun memintaku untuk menemaninya belajar bermain gitar.”

“Gitar?” kaget Kai mengalihkan pandangan ke arah Sehun yang hanya mengangkat bahunya.

Ya! Sehun~ Kau bermain gitar?” tanya Kai -lebih tepatnya mengejek- “Waeyo? Ya~~ kita menari saja~”

Mwoya?” sungut Sehun. “Aku bermain gitar atau menari. Tak ada salahnya bukan.”

Luna terkekeh geli mendengar perdebatan sepasang sohib yang sudah dekat itu.

“Luna, besok malam kau tidak ada acara bukan?” tanya Kai entah mengapa justru menarik perhatian Sehun.

Aniy.”

“Temani aku di kedai kopi terdekat ne?”

Luna berpikir sejenak, lalu mengangguk.

“Baiklah. Kau tidak boleh lupa,” ujar Kai beranjak berdiri.

“Ah iya!”seru Kai mencondongkan tubuhnya tepat di depan kepala Luna.

“Berdandanlah seperti perempuan manis,” bisik Kai sembari mengerlingkan mata.

Luna mendecakkan lidahnya menatap punggung Kai yang sudah terburu menjauhinya.

Sementara Sehun melukiskan kepedasan dalam sorot matanya.

—o0o—

Dari rooftop sekolah, Luna dapat melihat seluruh aktifitas yang dijalankan oleh sekolahnya. Dan yang paling ia sukai adalah langit yang selalu terbentang luas dengan awan-awan yang cerah. Tidak secerah hati Luna saat ini.

Sudah sekian kali ia menghela nafas berat menimbulkan kepulan asap keluar dari mulutnya akibat suhu udara yang dingin.

Dua hari yang lalu ia sukses mematahkan hati seseorang. Tepatnya malam itu dimana ia tengah berkencan bersama Kai.

Sebenarnya tidak hanya itu yang membuatnya merasa gelisah.

Sehun. Ya pria itu. Sudah dua hari pula ia tak bertatap muka dengannya. Entah mengapa menimbulkan keganjilan di hati Luna.

Luna melonggarkan syal rajutnya yang berwarna putih. Kemudian menyisir helaian rambutnya menggunakan jemari tangan seraya menuruni tangga hendak kembali ke dalam kelas.

Namun langkahnya terhenti ketika ada satu gerombolan yang menariknya.

Dia mendekati kerumunan itu secara mengendap-endap. Lalu menyelipkan tubuh mungilnya yang berhasil lolos. Dan kini ia mendapati pria yang dirindukannya tengah tersenyum sangat menawan.

Bukan untuknya. Melainkan untuk gadis di sebelahnya yang memakai bando merah muda, mempermanis gadis itu. Karena itulah, teman-temannya bersorak riuh.

Tentu gadis itu bukan gadis biasa. Dia adalah siswi populer di kalangan murid laki-laki. Konon katanya, hanya pria tertentu saja yang berhasil mendapatkan hati gadis itu. Sebut saja Choi Sulli.

Dan rupanya Sehun dengan gagahnya menyerahkan setangkai bunga mawar. Gadis itu diam sejenak sampai akhirnya ia menerimanya. Lalu mereka berpelukan, membuat iri yang melihat.

Sekujur tubuh Luna seperti tersambar petir yang dahsyat. Mulutnya sedikit terbuka. Sorot matanya mencoba menangkap apa yang terjadi. Sementara pikirannya mencoba mencerna apa yang ia tangkap.

Perlahan ia mundur, memaksa tubuhnya berbalik untuk segera menjauh dari kawanan yang baginya seperti kandang harimau.

—o0o—

Masih dengan kepala tertunduk ia melangkahkan kaki menuju tempat dimana ia bisa menumpahkan luapan emosinya tanpa seseorang yang menemaninya.

Tanpa disadarinya, ada orang lain yang tengah menyeka keringat menggunakan handuk.

Luna tetap mengatupkan kepalanya membiarkan sebagian rambutnya menutupi tepi wajahnya.

Setelah sampai di sudut ruangan ia merosotkan tubuhnya. Merasakan dinginnya lantai kayu ek yang menulari tubuhnya.

“Luna?”

Terdengar suara berat di dekatnya.

“Luna,” ulang Kai karena Luna hanya menunduk. Ia pun ikut menempatkan pantatnya di lantai, menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada dinding berlapiskan cermin.

“Kau menangis karenanya bukan?” tanya Kai mengatupkan kelopak matanya.

Tak ada jawaban dari Luna.

“Itukah alasanmu menolakku,” lanjut Kai. “Aku bisa menerimanya. Tapi ─” Kai terdiam sejenak memberi kesempatan untuk meneguk salivanya. “─ Melihat kau menangis, aku tak bisa menerimanya.”

“Aku…” terdengar suara serak dalam tundukannya.

“… apakah aku berhak memarahinya? Dia memiliki gadis lain atau tidak, itu bukan urusanku.”

Kedua bola matanya ia buka. Menelusuri ruang kosong di depannya, “Lalu mengapa kau menangis?”

Luna menarik salah satu sudut bibirnya. Ia menyedot ingus yang menyesaki hidungnya.

“Karena aku bodoh,” sahutnya seraya mengangkat kepala. “Tidak seharusnya aku menganggap dia lebih dari sekedar kata sahabat…”

Kai terdiam memberi peluang untuk Luna melanjutkan berbicara.

“… itu salahku. Lagipula aku baik-baik saja. Hanya saja──”

“── aku belum terbiasa,” nada bicaranya terdengar lebih tajam “─ melihatnya tertawa bersama gadis lain.”

Tepat disaat itu Kai beranjak berdiri dengan kasar. Ia berusaha meredakan emosinya.

Dihampirinya recorder yang terpasang di sekat dinding. Ia masukan salah satu kaset, lalu menekan tombolnya.

Terpantulah musik beat dalam ruangan itu. Seirama dengan lagu, Kai mulai meliukan badan lenturnya. Gerakannya mengalir begitu saja. Menganggap dunia ini adalah miliknya seorang.

Sementara Luna hanya terdiam tak bergeming. Ia menikmati tarian Kai. Dan ia tau bahwa Kai berusaha untuk membangkitkan semangatnya kembali.

Sekilas senyuman berhasil terukir di bibir Luna ketika alunan musik itu selesai.

Meski nafas Kai terengah, dia menarik sudut bibirnya memamerkan senyum gentle yang ia miliki.

“Berhasil,” ujarnya seraya berlutut di hadapan Luna.

Luna melipat dahinya saat Kai mengulurkan tangan. Pandangannya meminta penjelasan pada Kai.

“Di dunia ini tidak ada yang gratis.”

Luna menampilkan sederetan gigi rapinya ketika mendengarnya. Melihat Luna tertawa, membuat Sudut bibir Kai ikut tertarik.

“Wah!”

Mereka serempak menoleh mendengar gumaman seseorang.

Sosok gadis berponi kini mendekati mereka dengan wajah yang berseri.

“Tarianmu sangat hebat, Kai!” puji Sulli.

Luna terpaku melihat kedatangan itu. Sulli tidak sendirian, terlihat pria lain yang tengah berdiri di ambang pintu.

“Kami berdua ingin berlatih menari juga disini,” ujar Sulli tanpa menghilangkan senyum manisnya.

“Sehun-a! Kemarilah!”

Begitu Sehun mendekat, Luna beranjak berdiri membenahkan dirinya yang terlihat kacau.

Melihat sungutan wajah Kai membuat Sulli sedikit memudarkan senyumnya, “Apakah aku menganggu kalian?”

Hening sejenak.

Aniy,” kata itu terlontar begitu saja dari mulut Luna.

Kai menatap lekat Luna yang merantuki dirinya.

Jinjja?” tanya Sulli tak yakin.

Luna mengangguk pasrah.

“Mmm… bagaimana jika kita battle?”

Spontan ketiga menungsa itu menatap tak percaya pada Sulli yang hanya melukiskan senyum polosnya.

“Sudah lama sekali aku ingin battle dance dengan kalian berdua.”

Kai hanya mengangkat bahunya. Sementara Sehun menanggapinya dengan senyuman.

“Okay!” Sulli memasukan kaset favoritnya.

“Luna, kau ingin bergabung?”

Luna yang sedari tadi menautkan ibu jarinya, menganga mendengar ajakan Sulli.

“Ah! Tidak, tarianku parah.”

Sulli bergeming pelan. Lalu mulai fokus begitu musik sudah menggema.

Sehun memulai aksinya dengan gerakan tangannya yang ia lincahkan. Kemudian Kai membalasnya menggunakan andalan tubuhnya. Sementara Sulli memamerkan sensasi seksi yang ia miliki.

Berulang seperti itu seolah masing-masing dari mereka tak mau kalah. Luna menjadi merasa dirinya paling buruk di antara mereka. Dia mengunci mulutnya rapat-rapat, mengingat upaya kerasnya untuk masuk ke sekolah musik ini.

Kemudian ia meraih partitur musik di dekat meja. Dia mengamati satu per satu lembaran dan sesekali mengalihkan pandangan pada ketiga orang di depannya.

“Akh!”

Tanpa disadarinya kertas partitur yang merupakan tugas itu tersobek secara tidak sengaja.

Sehun dan Kai kompak berhenti. Namun Kai lebih dulu mendekati Luna.

“Ada apa?”

“Partiturnya…” ujar Luna memperlihatkan hasil karyanya.

Kai memandang sekilas Luna, “Seharusnya kau lebih hati-hati.”

Sekujur tubuh Sehun memanas melihat Kai yang menolong Luna tanpa basa-basi. Sepertinya firasatnya memang benar. Mengenai Kai yang mengajak kencan Luna, sahabatnya.

Chagi,”

Tidak hanya Sulli yang menoleh. Luna dan Kai pun ikut menoleh ke Sehun.

“Aku lapar. Tidak bisakah kau membuatkanku makanan?” pinta Sehun.

Ne?”

“Bagaimana jika sekarang kita ke rumahmu.”

Ne?” Sulli makin membulatkan matanya.

Kajja! Perutku sudah meraung-raung,” tanpa menunggu jawaban dari Sulli, Sehun menarik lengan gadis itu.

Terasa sesak di dada. Ia berusaha tak menghiraukan kedua punggung yang semakin menjauh. Tapi pandangannya seperti telah teracun untuk terus menempel. Bahkan ia tak sadar masih ada Kai yang memandanginya berharap ia berpaling muka pada Kai.

Sayatan hatinya semakin menyeruak dan Luna sadar, ia mesti cepat-cepat menutupi luka di hari dimana ia dilahirkan tanggal ini.

Ia tak kan kecewa dengan kenyataan bahwa sahabatnya telah melupakan hari spesialnya. Tak kan kecewa.

—o0o—

Sejejeran pohon yang tadinya menyisakan batang kusam, kini mulai memunculkan daunnya. Tidak hanya hijau, melainkan berwarna-warni. Membuat dunia terlihat kembali hidup.

Kebanyakan orang menyukai musim ini. Dimana mereka dapat menghirup wewangian bunga, yang baru memperlihatkan kelopaknya.

Kini Luna tidak harus memakai pakaian berlapis-lapis, ia cukup memakai dress dengan renda bermotif bunga ditambah topi rajutan yang menghiasi mahkota kepalanya. Tidak lupa satu gitar yang ia selempangkan di punggung mungilnya.

Langkahnya terhenti saat melihat satu layar besar yang tertempel di salah satu perusahaan elit. Layar itu menampilkan beberapa iklan yang sedang tenar. Salah satunya iklan sunkist.

Senyumnya terukir melihat model dalam layar itu. Pria itu kini sudah dewasa, menari dengan percaya dirinya di hadapan kamera. Sedikit menimbulkan rasa iri dalam batin Luna.

Namun hatinya bungah melihat Kai sudah berhasil menaikan namanya.

Kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya menuju taman yang asyik mempertontonkan aneka warna bunga indah.

Beberapa seniman jalanan sudah sibuk dengan aksinya masing-masing. Ada yang memainkan akrobat, berlagak layaknya badut atau sekedar bernyanyi saja.

Lagi-lagi Luna menyunggingkan senyumnya. Ia mengambil tempat yang masih kosong di tepi taman. Membuka resleting tas gitarnya. Memulai mendudukan diri sembari memangku gitarnya.

Ponselnya berdering ketika ia hendak memetik senar gitar. Ia geser layar ponselnya. Dan mulai membaca pesan singkat yang masuk.

From : Choi Sulli

To      : Luna

Kini giliran bunga hatiku yang layu.

Luna-ya, tetaplah mengeluarkan harumnya bunga di hatimu dan jagalah dia menggunakan hati kecilmu.

Luna memicingkan matanya. Ia tidak mengerti maksud dari pesan singkat Sulli. Terakhir ia bertemu dengan gadis itu, saat hari kelulusannya sebulan yang lalu. Ia hanya mengangkat bahu kembali berfokus pada gitarnya.

Selarik nada berbunyi, namun bunyi satu koin membatalkan permainan gitarnya.

“Kali ini apa lagi?!” geram Luna menyaut koin emas dengan kasar.

Ia amati secara detail koin itu.

“Bolehkah aku yang memainkan gitarmu?”

Seolah ada yang menariknya,ia mengangkat kepalanya mendengar suara yang dirindukannya.

Ia masih sama dengan potongan poni yang menutupi dahinya. Bedanya rambutnya kini lurus tertata rapi dengan warna pirang yang mengkilap. Bibirnya membentuk senyum singkat.

“Senang bertemu denganmu kembali,” ucapnya, “Luna-ya.”

Tepat disaat itu mahkota bunga melayang terbawa angin yang berhembus. Memperindah pertemuan singkat itu.

Semua es yang sempat tersimpan di lubuk hati Luna, meleleh. Tergantikan oleh setangkai bunga dengan semerbak wanginya.

Bogousipeunda, Sehun-a.”

Mungkin mereka akan mengawali musim semi dengan sejuta kemanisan di hati.

{[[END]]}

3 thoughts on “[Special Post for Luna’s Birthday] Winter Down

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s