Between Two Jungs : When I Saw Her for the First Time

 

Author     : Zalukhuhj

Cast        : Kris [EXO], Jessica [SNSD], Krystal [F(x)]

Genre     : Romance, Angst, Sad, Familly

Lenght    : ficlet-chapter

  | DISCLAIMER |

FF ini murni milik saya. Cast hanya berperan sebagai gambaran, bukan kejadian sebenarnya. Kesamaan ide bukan unsur kesengajaan. Tidak suka? Maaf! ^^

SUMMARY |

Terkadang jodoh itu bisa jadi karena campur tangan manusia. Keduanya adalah takdirku, tetapi….

| WARNING |

No POV! FLASHBACK-FUTURE STORY! NEED YOUR ATTENTION SO MUCH

| PREVIOUS |

Prolog

BETWEEN TWO JUNGS

Pulau Nami, 2008

 Suara riak air terdengar lembut meski cuaca dingin benar-benar mencapai titik rendah yang mampu ditolerir suhu normal manusia saat itu. Lampu-lampu bundar mulai menyala saat ‘ibu langit’ mulai berangsur turun berganti dengan bulan berbentuk sabit yang masih berbaring di gerbang barat. Meski beberapa orang sudah mulai merapatkan mantel tebal mereka, aku malah terus berjalan sambil mengarahkan kamera ku mengabadikan ranting-ranting diujung pohon sebagai objek kameraku. Memang tak ada yang seindah senja di Nami.

BRUK!

“AW!”

Baru saja aku akan mengabadikan cahaya keunguan diujung hamparan danau tenang, tiba-tiba sesuatu atau mungkin seseorang menyentak bahuku cukup keras nyaris membuat kamera pertama sekaligus pemandangan prestisiusku akan menyelam bersama ikan-ikan di danau tersebut. Usai memastikan semua baik-baik saja, dengan cepat aku berdiri tegak hendak menyampaikan serapah kesalku ke arah si penyenggol tersebut.

“SIAL!” dan aku hanya mengumpat saat sosok gadis tengah berlari tergesa dengan rok abu-abu lima cm diatas lutut dan sebuah blazer khas pelajarnya sudah sampai menuju belokan gang. “Bagus sekali! Kabur tanpa minta maaf. Keramahan Korea” cibirku mencoba mengecek kameraku “Menyebalkan! Kenapa larinya cepat sekali? Dia itu manusia atau Pad Kai [tokoh siluman yang berlari cepat di drama kolosal Mandarin]?” kesalku akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.

KREK!

Langkahku terhenti saat suara gemeretak dari benda keras terdengar dari bawah sepatuku. Dahiku mengernyit, namun tetap saja tangan isengku ini meraih benda yang sebenarnya bisa saja ku acuhkan itu. Secarik kertas dan sebuah benda kecil sepanjang 8×3 cm dengan tulisan … inilah susahnya bermain-main di negeri orang yang hanya bermodalkan pengetahuan rute bus dan jadwal kereta bawah tanah serta pertukaran kurs. Jika kau hanya memiliki pengetahuan ini, siap-siap saja menjadi orang dungu bak keledai di dalam mall *oke itu perumpaan yang berlebihan. Aku hanya bisa menggerutu dan menggumam tidak jelas, berusaha merangkai penggalan kata-kata dari huruf hangul yang selain ‘Wu’ maka tidak yang ku ketahui [dan yang menjadi masalah Wu tidak ada disana =.=].

“Jogiyo” seruku pada sepasang… em entahlah mereka terlihat tidak pantas disebut pasangan kekasih. Ahjussi dan seorang haksaeng mungkin? Entahlah! satu yang pasti aku mendapatkan jawaban bahwa kertas itu merupakan poster perlombaan panjat tebing yang akan diadakan besok di sebuah tebing terkenal di daerah Gunsan. Dan seolah semua cahaya lampu itu menyala di atas kepalaku, saat itu juga sebuah ide muncul “OKAY YI FAN! YOU GOT THE BIG TARGET!!”

BETWEEN THE TWO JUNGS

Gunsan, after three days

“WOW!!!” itulah deskripsi yang tepat saat sebuah tribun  buatan di tengah hamparan lapangan berumput disesaki oleh ratusan orang. Dan… tak pernah tebayangkan kalau ternyata olahraga yang cukup ekstrem ini memiliki peminat yang cukup banyak di Korea. Yah… maaf saja! dengan image cantik, lucu dan manis mereka aku pikir Korea merupakan bangsa dengan warga negara yang cukup sayang dengan kulit putih mulus mereka. Aku rasa siapapun dengan image itu pasti akan menjaga baik-baik tubuh yang menjadi aset mereka, kan? Dan sekarang aku tahu kenapa Lim Laousheu–guru budi pekertiku di sekolah dasar–melarang kami untuk menilai orang dari luarnya. Karena ternyata di halaman nyaris menyamai lapangan baseball ini semua orang datang dengan banner, balon panjang dan terompet untuk mendukung jagoan mereka.

Musim dingin dengan awan cerah, pohon rindang dan tebing yang sedikit botak, riuh ramai dengan senyum lebar. PERFECT!! Sepertinya kameraku akan kekenyangan dengan objek menawan dan gratis seperti sekarang! Dengan senyum tak kalah lebar, aku mulai menyiapkan kameraku–yang lensanya nyaris tipis karena suasana hatiku terlalu baik hingga membersihkan mereka sepanjang malam. Sesekali aku mencoba fokus kameraku sambil mengarahkan lensa ke arah arena panjat tebing. Aku pun mengambil bidikan pertama di arena tersebut. Sebuah tebing kosong dengan beberapa bundaran yang akan dijadikan sanggahan bagi peserta nanti. Pantulan cahaya matahari dan gerakan kecil pohon-pohon disisi kiri kanan tebing terlihat seperti sebuah panggung opera kelas atas Hollywood. Mengesankan ^^

“ITU DIA!!”

“DIA DISANA!!”

Aku sedikit terkejut saat dua pria bertubuh gempal di belakangku berteriak histeris sambil mengacungkan dua balon panjang berwarna kuning biru milknya– nyaris mengenai hidungku yang menoleh ke arah mereka. Semua orang yang berada di tribun yang sama dengan ku–entah tribun apa–langsung menoleh. Mereka riuh sambil bersorak-sorak memukulkan balon–yang tak ku ketahui namanya–sambil menghentak-hentakkan kaki membuat sebuah yel-yel. Aku sedikit bingung dan penasaran. Tentu saja aku tahu kalau mereka sedang melihat jagoan mereka. Yang membuatku penasaran adalah seperti apa ‘si jagoan’ itu hingga nyaris satu tribun yang besar ini memberikan sorak-sorai untuk mendukungnya.

Tanpa buang waktu aku pun mengalihkan pandangan ke depan. Seorang gadis dengan top oranye dan hotpants bermotif army tengah melakukan pemanasan dengan kedua tangannya. Rambut lurusnya yang terikat satu ikut bergerak saat tubuhnya meliuk ke samping.”Aduh~ kenapa streching selama itu sih! memangnya kau mau sumo atau panjat tebing?” itu gerutuanku. Aku menggerutu karena gadis berkulit putih itu masih saja melakukan pemanasan dalam keadaan membelakangiku. Sedangkan tanganku yang sudah siap dengan blitz kamera terasa mulai menjerit minta di turunkan. “Sok sekali sih ‘jagoan’ ini” kesalku akhirnya menurunkan kameraku.

“DIA MEMULAINYA! DIA YANG PERTAMA!!”

Sontak aku menaikkan kembali kameraku saat teriakan mereka membuatku tersadar. Gadis dengan top oranye itu tengah menepuk-nepukkan tangannya yang sudah dilumuri kapur agar tidak licin. Aku sedikit memicing dengan kepala bak jerapah mencoba mengintip sosok si jagoan yang ternyata adalah seorang gadis. Tidak terlihat jelas, aku hanya bisa melihat sisi samping wajahnya. Namun satu yang pasti “Memangnya bocah seperti itu sudah boleh ikut? Hei! apa Korea membebaskan gadis di bawah umur mengikuti ini? Astaga!”

“Terkejut? Haha Na do. Awalnya aku mengira dia seorang bocah. Tapi percayalah! Kau akan terkejut begitu mengetahui berapa usianya yang sebenarnya. Meski sebenarnya dia memang masih muda” sahut seorang wanita sebaya denganku. Aku sedikit berdeham mengutuki kebodohanku yang mengumpati negara tuan rumah di depan tuan rumah sendiri. Namun sepertinya itu tak berarti karena si gadis sudah ikut berteriak mendukung ‘bocah tapi bukan bocah itu’.

Akhirnya dengan bahu terangkat aku menatap kembali ke depan. Mengangkat kameraku sambil memutar lensa fokus untuk mendapatkan hasil terbaik dengan resolusi yang pas. Aku baru akan memencet tombol ‘take’ namun sesuatu menghentikan ku. Aku termangu dengan keadaan kamera masih didepan mata kiriku. Kameraku memperjelas apa yang tengah menjadi fokusku.

Wajah serius berkeringat itu. Cemongan  kapur yang mengotori dahi dan pipi berisi namun tirus itu. Helaian-helaian rambut kecil yang menutupi sebagian wajah itu, serta bibir yang entah tengah menggumamkan apa itu. Semuanya… entah kenapa justru terabadikan oleh ingatanku. Semua terasa tenang dan hening saat tanpa sengaja matanya melihat fokus kameraku.

KLIK!

BRUK!

“OMO!!”

“ANDWEEEE!!!”

Semuanya terpekik histeris terkejut dan cemas dengan mata membelalak tepat saat kameraku berbunyi mengabadikan wajah itu. Mata cokelat. Bibir tipis. Dan sosok cantik itu.

BETWEEN TWO JUNG’S

Now…

“Sudah tidur?”

Aku hanya mengangguk saat ibu bertanya padaku yang baru saja menutup pintu putih di belakang. Ibu menghela nafas getir kemudian tersenyum. Kelelahan terlihat jelas di wajah yang sudah mulai melihatkan tanda-tanda penuaan itu. Aku mencoba tersenyum lalu duduk di sofa hijau yang ada diseberangnya.

“Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian” buka ibu memecah hening selama beberapa menit. Aku menunduk tidak berani menatapnya. Kalimat tadi secara tidak langsung menghujam ke arahku. “Tidak keberatankah kau menceritakanku apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku tak menjawab. Kepalaku kutolehkan ke arah para pekerja rumah yang sibuk merapikan piring-priring kotor dan melipat kain-kain putih bekas upacara pemakaman beberapa menit lalu. Mataku memanas saat sebuah foto terbingkai lingkaran mawar putih tersenyum ke arahku. Mata bulatnya tidak terpicing meski bibirnya melebar karena senyum yang terkembang.

“Soo Jung~” gumamku pelan. Ibu menoleh karena masih bisa mendengar ucapanku.

“Ne… putri bungsuku Soo Jung” sahutnya kemudian menatap tajam ke arahku. “Sesungguhnya aku sangat marah padamu Kris. Benar-benar marah. Aku tidak tahu apa masalah yang kau lakukan pada kedua putri berhargaku. Yang pasti satu hal kau berhasil merenggut nyawa satu di antaranya”

GLEK!

Dengan kaku aku menoleh pada mata tajam yang kembali basah itu. Aku ternganga dengan tangan yang hendak melingkar memeluk bahu yang selama ini selalu ku jadikan sandaran setelah ibuku sendiri. Namun baru beberapa senti saja sebuah tepisan nyaris membuatku terjatuh.

“Jika kau tidak ingin ku benci. Maka jangan sentuh aku. Ceritakan segalanya. Dan menjauh dari Soo Yeon-ku. Saat itu juga!”

DUAR!

Kali ini meriam meledak tepat di cuping telingaku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Mata itu semakin tajam menatapku. Aku bahkan tidak bisa melihat sama sekali kasih sayang dan belaian dari tangan yang bergetar itu. Bahkan tidak untuk sisa-sisa kehangatan itu. Sekali lagi aku menunduk. Air mataku sudah jatuh saat jemariku saling bertautan.

BRUK

Kami sama-sama menunduk saat sebuah kotak beludru meluncur jatuh dari saku tuxedo putihku. Sesak. Oksigen semakin raib dari paru-paruku. Hidungku terasa tak lagi mampu menghirup udara bahkan karbondioksida sekalipun. Ku cengkram erat-erat kotak itu lalu kemudian berdiri.

“HYAAAAA!!!”

Prang

Trak

Tring~

“Aku mau kau yang menikahiku”

“Tapi hatimu juga mencintainya”

“Tapi bukankah aku hanya ingin menikahimu?”

“Tapi kau tidak memberikan cinta padaku Kev. Kau hanya memberikan status”

“Tapi…”

“Pergilah. Mantapkan hatimu lalu kembali disini dengan keputusan ‘Aku akan menikahimu karena aku mencintaimu”

BEETWEN TWO JUNGS

bersambung…

Anyeonghaseyo yeorobeun
Finally! Aku udah bisa ngeluangin waktu buat FF lagi. Terima kasih untuk readers yang udah mau komen dan nungguin FF ini. Sungguh aku bangga punya readers yang suka RCL seperti kalian. Biar sedikit tapi gak nge-bash ^^
Untuk admin yang pengertian. Makasih udah gak mecat saya padahal sayalah Author yang paling jarang posting. Makasih Admin. Sekarang saya udah bisa melakukan postingan sesuai aturan ^^

Ah banyak yang bingung soal alur cerita ini. Dan itu memang harapan saya hehehe. FF ini memang punya alur maju-mundur. Dan salah satu ciri khas(?) saya adalah. I’m never use POV!. Jadi saya ingin mengajak readers untuk cermat. Bukan hanya sekedar menikmati tapi juga mengingat. So, hati-hati ne? Selain keterangan waktu, saya tidak akan memberikan keterangan lain. Mohon di maklumi

Last but not last, i’ll wait for your review Plus+ :*

3 thoughts on “Between Two Jungs : When I Saw Her for the First Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s