When That Was Over

when-that-was-over-jung-soojung-oh-sehun-scarlettli-krystal

||Title : When That Was Over ||Author : Scarlett Li ||

||Length : Ficlet ||Rated : PG-13 ||Genre : Romance, War, AU||

|| Main Cast : Jung Soojung f(x), Oh Sehun EXO-K|| Support Cast : Find yourself||

Warning : May be Typos

Also already posted in my blog and http://ohsehunfanfict.wordpress.com/

“Apa kau pernah memikirkan kiamat?”

∞thatwasover∞

“Korea Utara menyatakan perang kepada Korea Selatan. Kabar ini dinyatakan langsung oleh presiden Korea Utara, Kim Jongun. Dan para militer Korea Utara pun sudah mempersiapkan semuanya. Korea Utara menyampaikan pernyataan perang mereka kepada Selatan lewat telegram. Perang kali ini diduga di picu oleh—”

Soojung menatap layar tv dan membulatan matanya, sampai-sampai matanya terlihat ingin keluar saat itu juga. Remote tv yang ia pegang kini telah jatuh ke bawa kakinya sampai-sampai baterainya keluar. Tetapi ia tidak peduli hal itu. Karena informasi ini lebih penting dari sebuah remote rusak.

“Dan mereka menyatakan akan berperang dengan Korea Selatan dimulai tanggal tujuh agustus. Yang berarti seminggu lagi.” kata penyiar itu.

Soojung terduduk. Matanya menatap kosong layar tv yang kini menayangkan iklan-iklan. Tidak, ia tidak peduli.

Kenapa… kenapa kebencian dan permusuhan itu harus ada?

∞thatwasover∞

Suara password terbuka di ikuti suara pintu yang terbuka membuat Soojung mendongak lalu berdiri dan berlari menuju asal suara. Dan disana, ia bertemu dengan pria yang menatapnya kaget lalu tersenyum tipis.

“Aku pulang.” katanya lirih.

Soojung menatapnya. Matanya berkaca-kaca. “Berita… berita itu…”

“Aku sudah mendengarnya.” pria itu tersenyum tipis. “Semuanya benar. Dan aku harus ikut kesana.”

“Tapi…” pandangan Soojung beralih pada perutnya yang membesar, memang terlihat belum signifikan. Dan Soojung kembali menatap pria itu. “kau akan meninggalkan aku? Kami?”

Pria itu menghela napas berat, membuka topinya dan tersenyum tipis. “Tidak ada pilihan.”

Soojung menutup mulutnya dan airmatanya jatuh begitu saja. Ia terduduk dan menangis.

“Kenapa semuanya harus seperti ini.” katanya.

Pria itu mendekat lalu memeluk Soojung. “Semuanya akan baik-baik saja. Pemerintah juga sedang mengajukan perdamaian kan? Kau tenang saja. Aku akan berada di sisimu. Selamanya.”

Soojung menangis sambil mengcengkram kuat baju pria itu.

Ia tidak bisa. Semuanya terasa begitu cepat.

∞thatwasover∞

Soojung menatap layar tv sambil menggigit bibirnya. Biar saja bibirnya akan berdarah dan dia akan memarahi Soojung karena kebiasaan Soojung yang buruk itu.

Malah lebih baik ia di marahi daripada ditinggalkan.

“Sekilas berita.” kata penyiar itu. “Korea Selatan telah mengajukan perdamaian kepada Korea Utara, namun Korea Utara masih bersikeras dengan keputusan mereka. Dan hal itu menunjuk kepada lima hari lagi. Walaupun masih mengajukan perdamaian, Korea Selatan pun sudah menyiapkan segalanya. Semua laki-laki pun sudah mulai disiapkan dan dilatih bagi yang belum menjalani wajib militer. Dan para kaum wanita, lanjut usia dan anak-anak sudah diminta untuk mengungsikan diri ke tempat yang sudah disediakan.“

Soojung menutup mulutnya lalu airmatanya kembali mengalir.

“Aku pulang.”

Soojung menghapus airmatanya dan menatap pria itu tersenyum. “Kau sudah pulang? Tumben sekali.”

pria itu tersenyum. “Aku diberi waktu tiga hari untuk bersama keluargaku.”

Sebelum pergi.

Soojung menghela napas kecil, dan mengerjapkan matanya sebelum airmatanya benar-benar jatuh. “Ah, berarti besok aku tidak harus bangun pagi ya? Baiklah. Aku mau tidur sampai jam dua belas, mandi jam dua—”

“Hei. Mana bisa begitu.” pria itu berjalan mendekati Soojung lalu mengecup keningnya lembut. “Besok kita jalan-jalan ya?”

Soojung tersenyum senang. “Benarkah? Kemana?”

Pria itu mengerucutkan bibir, tampak berpikir. Lalu menatap Soojung dan tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya. “Bimil (rahasia).

Sojung mengerucutkan bibirnya lalu menatap pria itu. “Ya, Oh Sehun!”

Soojung mulai memukul bahu dan dada Sehun sementara ia tertawa sambil mengaduh kesakitan sesekali.

Mungkin, ini lebih baik.

∞thatwasover∞

D-4

Soojung membuka matanya dan tersentak kaget saat matanya langsung bertemu dengan Sehun yang kini menatapnya. Ia tersenyum.

“Selamat pagi.” kata Sehun. Soojung tersenyum.

“Pagi.” katanya lalu bangun. “Kau mau makan apa hari ini? Bubur? Sup? Nasi goreng kimchi?”

Sehun mengerucutkan bibir lalu tersenyum. “Aku ingin kau hari ini.”

Soojung mendengus. “Baiklah, kau saja yang buat makanan hari ini.” katanya lalu bangun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.

Dan di dalam kamar mandi, Soojung tersenyum.

∞thatwasover∞

“Sehun-a? Astaga, kau benar-benar ingin memasak?” Soojung menatap Sehun yang kini sudah memakai celemeknya.

Sehun menatap Soojung lalu tersenyum. “Kau tunggu saja di sofa. Aku akan membuatkan nasi goreng kimchi yang enak sekali untukmu.”

Soojung menatap Sehun lalu terkekeh. “Baiklah, chef.”

Soojung duduk di sofa dan menatap tv yang kini menayangkan berita. Perang itu lagi. Soojung mengerjap pelan saat tiba-tiba acara tv berubah menjadi film kartun.

“Sepertinya menonton kartun lebih menyenangkan di pagi hari daripada menonton berita. Membuat stres tiba-tiba di pagi hari.” Sehun menatap Soojung lalu tersenyum. “Nasi goreng kimchi dan susu akan segera tiba.”

Soojung tersenyum sampai melihat Sehun sudah kembali berkutat dengan nasi goreng kimchinya.

Entah kapan lagi ia akan melihat Sehun seperti ini.

∞thatwasover∞

“Benar kan kataku. Jalan-jalan di taman lebih menyenangkan daripada ke wahana-wahana ekstrem itu.”

Soojung memukul bahu Sehun. “Kau saja yang takut.” cibirnya

“Takut bagaimana? Aku sudah pernah merasakan wahana-wahana paling ekstrem disana tiga kali!”

Soojung terkekeh. “Tetapi sepertinya benar. Lebih menyenangkan berjalan-jalan di taman dibanding ke tempat rekreasi.” Soojung tersenyum sambil merapatkan pegangannya pada tangan Sehun.

Padahal mereka memang tidak bisa kesana. Karena tempat itu sudah ditutup. Tidak ada orang yang melayani mereka untuk bermain wahana disana. Tidak ada teriakan histeris, tidak ada tawa bahagia, tidak ada tangisan rasa ketakutan, tidak ada senyuman bahagia.

Semua itu seakan sudah tertelan oleh bumi.

Di tempat mereka pun, hanya beberapa orang yasng masih berjalan-jalan, masih ingin menikmati hidup. Sebelum mereka bertarung dengan nyawanya sendiri.

“Kau kedinginan?” tanya Sehun. Soojung menggeleng namun kembali merapatkan dirinya kepada tangan Sehun.

“Apa kau pernah memikirkan kiamat?” tanya Soojung tiba-tiba.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Soojung menggeleng. “Entahlah. Tiba-tiba saja aku memikirkan hal itu dan membicarakannya padamu.”

“Hmm… pernah. Aku pernah memikirkannya.” kata Sehun lalu menatap langit. “Aku pernah berpikir kalau dunia ini akan hancur, aku akan mati, dan kemana aku akhirnya.”

“Kau memikirkan hancurnya dunia pasti sambil membayangkan film 2012.” kata Soojung sementara Sehun terkekeh.

“Ya, tapi aku berpikiran dunia akan hancur lebih besar dibanding itu.” kata Sehun. “Aku memikirkan sampai meteor datang dan menghancurkan bumi, lalu seluruh langit di angkasa sana bertabrakan. Dan hancur.” Sehun meringis saat tiba-tiba ia benar-benar memikirkan hal itu. “Lalu kau tidak berada lagi disisiku, dan semuanya hilang begitu saja.”

“Lalu akhirnya?”

Sehun terdiam sejenak lalu menggeleng. “Entahlah.”

Soojung menatap langit lalu tersenyum. “Aku belum pernah membayangkan itu semua. Yang kupikirkan hanyalah bahagia di bumi, dan menjadi orang yang terbaik di bumi.” Soojung menghela napas.

“Kau sudah berbuat baik.” Sehun mengelus rambut Soojung.

“Sehun-a.”

“Hm?”

“Apakah kita akan seperti ini lagi? Berjalan-jalan tanpa memikirkan hal-hal berat.”

Sehun terhenti lalu menatap Soojung. Ia tersenyum. “Ya, bersama anak kita nanti.”

Dan Soojung menganggap, itu sebuah janji.

∞thatwasover∞

D-3

Soojung memukul-mukul tv lalu menghela napas. “Mungkin memang karena sudah lama.” katanya lalu mengambil remote pemanas ruangan. “Hm? Tidak menyala? Ada apa dengan semuanya?”

Sehun keluar dari kamar dengan wajah yang masih kusut dan rambutnya yang berantakan. “Ada apa? Kenapa mengerutkan keningmu seperti itu?”

Soojung menatap Sehun lalu mengerucutkan bibir. “Semua listrik tidak menyala.”

Sehun mematung, terdiam, lalu tersenyum tipis. “Mungkin listriknya sedang mati.”

Soojung menatap Sehun lalu mengangguk. “Ya, sepertinya begitu.”

Mereka berkata seperti itu karena mereka tahu.

∞thatwasover∞

D-2

“Ini hari terakhir kau bisa bersamaku.” Soojung menghela napas sementara Sehun terkekeh lalu mengacak rambut Soojung.

“Kau mengatakannya seperti aku tidak akan kembali.” kata Sehun. “Aku akan kembali.” katanya. “Jadi, maukah kau menungguku sampai semuanya selesai?”

Soojung menunduk. Menahan airmatanya yang jatuh.

“Hei, kenapa kau seperti ini? Jangan menangis. Nanti anakku juga jadi ikut menangis.”

Soojung menangis sambil tertawa kecil. Ia mendongak sambil menghapus airmatanya. Ia menatap Sehun lalu meninju bahu Sehun. “Tidak lucu.”

“Tetapi kau tertawa.” kata Sehun yang membuat wajah Soojung memerah. Dan melihat hal itu, Sehun tertawa.

“Jadi, kau mau menungguku kan?”

Soojung tampak berpikir, lalu tersenyum menatap Sehun. “Ya.”

Sebuah kata pun bisa membuat hati orang lain menjadi lebih baik.

∞thatwasover∞

D-1

“Makanlah dengan baik. Kau minimal harus memikirkan bayiku.”

Soojung menatap Sehun dengan mata menyipit. “Bayimu?” tanya Soojung sarkastik. “Kau pikir anak ini berada di rahim siapa?”

Sehun terkekeh. “Maafkan aku. Bayi kita.”

“Jika kau belum kembali saat anak ini lahir, bagaimana?” tanya Soojung tiba-tiba.

Sehun tampak berpikir. “Benar juga.” katanya. “Bagaimana kalau Baekhyun?”

Soojung terdiam lalu mengangguk. “Sepertinya itu bagus.” katanya. “Tetapi kalau perempuan bagaimana?”

“Baekhee. Ya, Baekhee. Baekhyun, atau Baekhee.” gumam Sehun tersenyum puas.

“Tapi aku berharap semuanya selesai sebelum anak ini lahir,” kata Soojung sambil mengelus perutnya lalu menatap Sehun. “dan setelah kau kembali.”

Sehun tersenyum lalu mengelus rambut Soojung dan mencium rambutnya. Aroma shampoo yang baru saja dipakai Soojung tadi pagi menguar dan masuk kedalam indera pernapasannya. Sementara anak-anak rambut Soojung yang terangkat membuat pipi Sehun terasa tergelitik.

“Kau akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja.” Soojung mengangguk.

“Tidak ada airmata setelah aku pergi. Kau berjanji?”

Soojung menatap Sehun ragu. “Aku tidak yakin.”

“Kau harus melakukannya.”

Soojung menatapnya, lalu menghela napas. “Aku akan melakukannya, tetapi aku tidak janji.”

Sehun tersenyum. “Lebih baik.” katanya. “Setidaknya aku akan tenang sebelum pergi.”

Bis berhenti di depan mereka dan membukakan pintu. Bukan seperti bis biasa yang berwarna kuning atau putih. Kali ini berwarna gelap. Bis khusus untuk para militer.

“Aku akan kembali.”

Soojung mengangguk tersenyum. “Aku percaya itu.” katanya lalu memeluk Sehun. “Cepatlah kembali.”

Sehun mengangguk sambil mengeratkan pelukan. “Tunggu aku.” katanya lalu mengendurkan pelukan lalu menatap Soojung dan tersenyum. Perhatian teralih pada perut Soojung yang membesar. Ia tersenyum lalu mencium perut yang belum terlalu membesar itu lalu berbisik. “Appa akan kembali.”

Dan terakhir, Sehun mencium kening Soojung hangat.

Dan itulah perpisahan mereka.

∞thatwasover∞

D-day.

THE END

∞thatwasover∞

Ditunggu komentarnya^^

12 thoughts on “When That Was Over

  1. yeeey sestal! xD
    kaget baca akhirnya -_- sehunnya gugur kah? atau ngga?
    keren, ada beberapa typo sih, tapi tetep keren ♥

    • hihi benarkah? aku jawab semua comment kamu di sini ya. wuaa. makasih banyak lhoo. aku terharu di masukin ke list author fav kamu :’0 makasih banyak :3 yaah, untuk ff ini sepertinya tidak bisa dilanjutkan. soalnya memang endingnya cuma sampe situ aja. btw makasih udah baca ff buatanku^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s