Yearbook

Author : @cristikanarin || Cast(s) : Choi Sulli | Park Chanyeol || Other Cast : Amber Liu | Kim Jongin | Xi Luhan || Genre : Romance, Hurt, School-life || Rated : PG-13 || Length : ONESHOOT (SHORT! 1000+)
A/N : Inspired By F(x) Goodbye Summer (ft. D.O of EXO-K)

Already posted on my blog, here

© Seruni . 2013

~*~
Image

~*~

// I remember when we were yelled at for talking in the halls
I don’t know why until now, my heart still feel the painful— //

—∞—

Sosok jangkung seorang gadis tampak berjalan menyusuri koridor berkilap sekolah yang sunyi, melangkahkan kakinya yang berlapis converse putih melewati ubin keramik. Pandangannya berputar, menelisik setiap jengkal dinding sekolah yang telah di labur putih—ah, rasanya tidak mungkin baginya, apabila esok telah menjadi hari kelulusannya, dimana gelar siswi dengan nilai ujian tertinggi tersandang pada bahunya, menorehkan kenangan manis ketika ia berhasil meraih mimpi.

Senyuman hangat kini berlekuk pada sudut bibirnya, semburat peach ranum turut menghias setiap jengkal wajahnya. Impiannya telah terwujud, impiannya dengan Chanyeol untuk menjadi siswa dan siswi berprestasi di sekolah. Kerja kerasnya selama ini telah membuahkan hasil yang tak terduga, membuat kedua belah insan itu serasa terbang hingga ke awang-awang.

Gadis itu menghentikan langkah, tertangkap olehnya seleret jingga keemasan cahaya mentari yang bergumul menyinari koridor melalui celah tipis jendela. Langkahnya kembali berlanjut, ketika ia mendekati jendela untuk membukanya lebar—merasakan deru aroma musim panas terakhir pada tahun ini. Ya, musim panas terakhirnya pada masa sekolah menengah … ia akan benar-benar merindukan sore ini.

Sulli!? Choi Sulli!

Sulli mengalihkan pandangannya, mendapati siluet tegap seorang gadis berpotongan cepak yang tengah berlari mendekatinya, dengan sepucuk kertas berwarna cokelat muda dalam jepitan jemarinya.

Amber? Ada apa?”

Rasa khawatir dan bimbang tampak bergumul dan terpeta dengan jelas pada wajah gadis itu, ketika ia berlari mendekat, menyodorkan sepucuk undangan ke bawah hidung sahabatnya. Sebenarnya ia tidak tega,—tidak tega melihat keterkejutan pada wajah Sulli, ketika gadis itu menyimak penjelasan yang di utarakan Amber, ketika bulir air mata mengambang dan mengaburkan pandangannya.

“Jadi … Chanyeol akan bertunangan, dengan—Jiyeon?

Tenanglah, kau tahu betapa Chanyeol ingin menolak pertunangan itu?

—∞—

Perih, itulah yang terasa menggerogoti hati Sulli, ketika gadis itu berlari menapaki undakan batu sekolah, dengan sepucuk undangan yang teremas erat dalam jemarinya. Mendapati pemuda yang selama ini telah merajut cinta dengannya kini bertunangan—tanpa memberitahunya.

Rumput hijau segar kini berganti menggesek sol sepatu gadis itu, ketika ia berlari dalam tangis, menuju lapangan basket dimana sekelompok pemuda tampak berlatih. Sulli terisak, paku-paku panas serasa menusuk ulu hatinya, memaksanya untuk melupakan seluruh impian yang telah di rajutnya bersama Chanyeol. Apakah dengan begitu hubungan mereka sepatutnya berakhir? Memecah jalur impian dan cinta yang telah di bangun bersama?

Park Chanyeol—

Seorang pemuda jangkung yang berbalut blazer abu-abu muda sekolah itu berbalik, menghentikan aktifitasnya memantulkan bola basket oranye gelap ke lantai kayu di bawahnya. Senyuman manis tampak terpilin pada bibirnya, ketika ia berlari mendekati Sulli, menepuk main-main bahu gadis itu—hal yang selalu mereka lakukan bersama, dulu …

“Ada apa Ssul? Kau ingin ikut denganku dan yang lain?”

Sulli tersenyum perih, akankah Chanyeol terus menutupi masalah itu darinya? Hingga kapan saatnya, pemuda itu mengakui pertunangannya? Gadis itu menunduk ragu, menyusupkan undangan ke dalam saku rok lipitnya.

“Ada yang ingin kubicarakan—sekarang.

“Baiklah, Kris!” pemuda itu berbalik, melempar bola dalam genggamannya ke arah sosok jangkung Kris, sebelum merangkul bahu Sulli, mengecup singkat puncak kepalanya. Aroma manis strawberry-peach semerbak menerpa indra penciumnya, aroma rambut Sulli.

“Apa yang ingin kau bicarakan Ssul? Ada masalah?”

Gadis itu menggigit bibir, merasakan rasa sakit akan torehan dalam hatinya, ingin rasanya ia menampik lengan Chanyeol yang telah merangkul bahunya, meneriaki pemuda itu karena telah menutupi pertunangannya. Tetapi ia tidak tega. Ucapan Amber masih terngiang memenuhi bidang kosong dalam otaknya—tenanglah, kau tahu betapa Chanyeol ingin menolak pertunangan itu?

Ssul?”

Sulli menarik nafas dalam, ia dapat merasakan langkahnya yang kian melambat, sebelum terhenti, diikuti Chanyeol yang masih merangkulnya erat.

Chanyeol-ya, kapan kau bertunangan?”

Bagaikan musim dingin, gadis itu telah menghapus hingga lenyap senyuman hangat Chanyeol, membuat pemuda itu di rundung rasa bersalah. Hatinya terasa di remas berulang kali, ketika mendapati bulir kristal meluncur menuruni pipi Sulli, menganak sungai dengan mudahnya.

“Hari setelah hari kelulusan.”

Ucapan itu seketika terlontar dari bibir Chanyeol, ketika matanya terasa tersengat panas. Ia tidak tega melihat gadis itu menangis, isakannya semakin menoreh luka dalam hatinya, membuatnya terkuak lebar dan tidak bisa menutup kembali dngan mudah. Ia telah menoreh luka yang serupa pada hati Sulli, membuat cacat wujud gadis itu. Mungkin pertimbangannya memang bodoh—lengan pemuda itu terangkat, memeluk erat tubuh rapuh gadis itu, membiarkannya menangis menumpahkan segala isi hatinya—ia tidak ingin membuat gadis itu tersakiti, karena itulah ia menyembunyikan pertunangannya.

Tolong, maafkan aku.” Chanyeol berbisik, mengeratkan pelukannya. Gadis itu telah di butakan oleh rasa sakit, rasa sakit yang di torehkan Chanyeol.

“Tidak, aku tahu kau tidak bersalah. Maafkan aku, Channie-ya.” Sulli berujar, isakan berhasil lolos dari sela bibirnya, ketika kenangan masa lampau kembali menghantuinya, gadis itu bergidik—merasakan sengatan dingin yang menyentuh kulitnya. Ah, musim panas terakhirnya, akankah dihadirinya dengan rasa sakit yang tidak kunjung reda? Mengiyakan undangan yang di tujukan padanya, mengenakan gaun semi-formal mengunjungi pertunangan Chanyeol dan Jiyeon, berusaha menata kembali impiannya yang telah berserakan?

“Sebaiknya hubungan kita berakhir, aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh dari ini.” sayatan kembali tertoreh ketika pendengarannya menangkap ucapan Chanyeol. Sakit, apakah pemuda itu tidak merasakannya? Rasa sakit yang amat sangat ketika ia terpaksa merelakan seseorang yang sangat di cintainya hanya demi pertunangan?

“BAIKLAH, PERGILAH BERSAMA JIYEON. KAU TIDAK MENGERTI RASA SAKIT INI, PARK CHANYEOL!? Kau tidak mengerti …”

Sulli-ya, maafkan aku, aku hanya tidak ingin membuatmu merasakan rasa sakit lebih jauh dari ini—”

“KAU TIDAK INGAT AKAN SELURUH JANJI KITA? IMPIAN KITA!? AKU TAHU KAU TIDAK PEDULI—”

“AKU PEDULI, CHOI SULLI, KAU TIDAK TAHU SEBERAPA AKU MENOLAK PERTUNANGANKU DENGAN JIYEON!? BAIKLAH, AKU PERGI. Carilah pemuda lain yang dapat menjagamu dengan baik.”

Pemuda itu berbalik, melepaskan pelukannya dengan kasar. Tidak, ia hanya tidak ingin menyakiti gadis itu lebih jauh, melihat air mata yang meluncur deras dari mata indahnya sudah cukup membuat lukanya semakin menganga. Ia berlari, sementara rintik hujan mulai menerpa, meninggalkan sosok Sulli yang terjatuh, dengan telapak tangan yang menutupi wajahnya, bersembunyi dari dunia.

Pemuda itu dapat merasakan bulir air mata yang meluncur cepat menuruni sudut matanya, ia menyadari, bahwa cintanya belum berbalik untuk membenci gadis itu.

—∞—

Hujan? Cih. di hari terakhir musim panas seperti ini?”

Amber tertawa renyah, mendengar gerutuan yang meluncur spontan dari sela bibir Jongin. Uap panas teh dalam cangkir telah memanjakan mereka, yang tengah duduk mengitari meja bundar Cooper Katle, sebelumnya membicarakan tentang hari kelulusan dengan menggebu.

“Aku tidak tahu mengapa hujan, ini benar-benar tidak wajar … ah, Ambie—kau tahu dimana Sulli? Tidak biasanya kau sendiri.”

Gadis itu tersedak ketika ia menyesap tehnya, menimbulkan semburan gelak tawa Jongin yang seketika terarah kepadanya. Amber menyembur, meletakkan cangkir pada tatakannya sebelum mengeringkan seputar bibirnya dengan tisu.

Pandangannya menerawang, sementara Jongin masih tergelak disisinya. Chanyeol, Sulli. Kaliankah yang telah menciptakan hujan pada akhir musim panas—bagaimana rasanya, sakit? Senyuman pahit mengembang pada bibir Amber, ketika ia berbalik, menyarangkan pukulan main-main ke bahu Jongin, membuat pemuda itu memekik, membalas perlakuannya.

Ia harap mereka baik-baik saja, ia harap cinta tidak akan pernah memisahkan mereka.

~*~

// Your stares on the last day of the school graduation, makes the sky fall over me
Our feelings that were precious because we were together … is gone //

—∞—

Ramai. Kata pertama yang melintas pada benak Sulli ketika tatapannya melayang menembus kerumunan siswa dan siswi yang berbalutkan blazer sekolah, mencari tempat duduk yang masih tersisa, sebelum acara kelulusan dimulai.

Beban berat terasa menggelayuti pundaknya, ketika pandangannya menangkap podium yang kosong—membayangkan ia dan Chanyeol menaiki undakan di sisinya, sebelum menerima penghargaan sekolah.

Air matanya kembali menggenang, ketika kenangan sehari yang lalu kembali merasuki hatinya. Berakhir sudah, hubungan yang telah di rajutnya dengan hati-hati, impian yang telah di bangun dengan segenap kekuatannya. Pemuda itu tidak tampak seperti Park Chanyeol yang di kenalnya.

Dan, besok adalah hari pertunangan Chanyeol dengan Jiyeon.

Sulli menunduk, mengusap kasar matanya. Cukup sudah, ia telah membuang percuma air matanya hanya untuk menangisi pemuda itu. Tepukan singkat pada bahunya membuatnya mendongak, dan mendapati wajah bersemangat seorang pemuda tengah membungkuk untuk menyamai tinggi tubuhnya,—Luhan.

“Ada apa denganmu? Ada yang salah Ssul?”

Gadis itu menggeleng, tertawa kecil sebelum jemari luhan menyeret pergelangan tangannya, menembus kerumunan padat dan mendudukkan gadis itu tepat di sisi Amber dan Jongin yang tengah berbincang serius. Ia dapat merasakan usapan pelan pada punggungnya, membuatnya merasa nyaman.

“Kau tampak berantakan, takut untuk maju ke podium?” Luhan bertanya mengusap perlahan punggung rapuh Sulli. Ia telah mendengar tentang apa yang terjadi pada gadis itu sehari yang lalu, tentang pertunangan Chanyeol dan ketika sepasang insan itu saling adu teriak di halaman sekolah. Berita itu telah menyebar—dengan kecepatan luar biasa.

Sulli menggeleng kecil, mengajukan pertanyaan lain kepada pemuda di sisinya, mengabaikan pertanyaan yang sebelumnya terarah untuknya. Hanya satu yang di ketahui gadis itu ketika ia berdiri untuk menuju podium, menerima penghargaan sekolah yang di tujukan untuknya,—dan Chanyeol.

Gadis itu melangkah cepat, menyusuri lantai kayu aula sekolah di bawahnya. Berpuluh-puluh blitz kamera serasa menyinari tengkuknya ketika ia berjalan menaiki undakan, menuju tempat dimana Chanyeol tengah menunggu, beserta kepala sekolah yang tampak rapi dalam blazer ungu muda, tengah berdiri tegap dengan siswi junior yang membawa nampan berisikan gelar dalam lengannya. Sulli tersenyum kecil, berusaha keras untuk menahan air mata yang terasa menggenangi matanya, mengaburkan pengelihatannya.

Satu yang ia tahu,—Sulli membungkuk, menerima kain beludru merah berisikan gelar yang kini tersandang mengelilingi bahunya, senyuman manisnya mengembang, bersamaan di saat pandangannya dengan Chanyeol bertemu, bertukar sapaan dan impian yang masih tersimpan rapat dan siap untuk di kembangkan dalam hati—apapun itu—tepukan terdengar riuh ketika berpuluh-puluh cahaya blitz kamera menghujani wajahnya—cintanya tidak akan pernah pudar—jemari Chanyeol terasa mencapai jemarinya, bertaut dengan kuat dan saling menggenggam—impiannya tidak akan pernah terputus, sekeras apapun ujian mengguncangnya, mereka akan tetap bersama.

—∞—

// Thank you, last summer … //

.

.

.

END

16 thoughts on “Yearbook

  1. kata2nya enak dibaca, aku suka
    etdah, sebel sama si chanyeooll.. sebenarnya sih aku lbh suka jiyeon tapi gk gitu jg kalliii.. kan kasiaan si sulli

  2. mau ta’ gigit tuh Chanyeol.. bisa2 nya membuat eonni ku sedih #kraukkrauk
    T.T aku juga mau bikin ff dari lagu ini… tapi gak papa deh. lebih baik author yang bikin. dari pada aku hahaha >.<
    kyaaa… chanyeol sulli… couple baruu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s