Fate

fate-scarlettli-sulli-jongin-kai

||Title : Fate ||Author : Scarlett Li ||

||Length : Ficlet ||Rated : G ||Genre : Romance, Friendship, AU||

|| Main Cast : Choi Jinri, Kim Jongin|| Support Cast : Someone in their lives||

Warning : May be Typos

With a special guest, Krystal Jung.

This ff already post in my blog.

“Kau percaya takdir?”

fate

“Kau percaya takdir?”

Pria itu menoleh padanya. Ia mengerutkan kening, mengapa gadis itu bertanya hal itu secara tiba-tiba? Dan satu lagi, mengapa bawahannya itu berani sekali bertanya seperti itu? Ia mengedikkan bahu lalu tersenyum meremehkan. Tidak memerdulikan beberapa hal yang ia pikirkan sekilas itu. “Kau terlalu percaya hal seperti itu.” ucapnya acuh.

Gadis itu, Choi Jinri tersenyum sambil matanya menerawang. Seakan tidak memikirkan hal seperti yang dipikirkan bosnya itu. Ia menghela nafas saat kembali menatap pria itu, bosnya, dan tersenyum tipis. “Aku tidak percaya takdir.”

Kim Jongin menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Jinri sejenak, lalu menghela napas. “Kau membuang-buang waktu untuk membahas hal tidak penting.” kata pria itu lalu mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Hanya bantu aku selesaikan kerjaan ini sebelum larut malam. Aku ingin segera mungkin bertemu dengan kasurku.”

Jinri hanya tersenyum getir. Ia tidak berkata apapun, bahkan tidak beranjak bangun.  Ia hanya berkata, “Karena takdir tidak selamanya menjadi milik kita.” katanya. Berlawanan dengan perkataan bosnya itu.

Ia mengatakan hal itu seakan Jongin telah merespon pembicaraannya.

Jongin mendengus meremehkan. “Dan dengan kau membahas tentang kata “takdir” tersebut, sama saja kau telah memberi jalan untuk takdir mengaliri hidupmu.”

“Percuma,” Ia tersenyum kecil. “Walaupun aku tidak membahasnya pun, takdir itu akan ada. Dari semenjak kita lahir, sampai kita mati nanti. Seperti daging dalam tubuh.”

Jongin terdiam, lalu tersenyum kecil. “Kau benar.” ia mengangguk dan membenarkan perkataan gadis itu.

Sementara Jinri tersenyum. Ia telah mendapatkan respon dari pria itu. Lalu ia melanjutkan, “Kata orang, takdir itu bisa diubah. Tetapi menurutku, itu tidak bisa.”

“Tetapi menurutku, itu bisa.” Jongin menginterupsi perkataan gadis itu sambil tersenyum dan berjalan mendekatinya. “Tetapi sepertinya karena kau belum mencoba untuk mengubah takdirmu, maka dari itu kau merasa takdir itu tidak bisa diubah. Kau belum berusaha.”

Ia menatap Jongin, lalu mengangguk kecil dan tersenyum. “Sepertinya kau benar. Aku bahkan belum melakukan apapun. Yang kulakukan hanyalah mengeluh. Menjerit dalam hati, menyesali hal yang sudah terjadi.”

“Dan itulah yang orang-orang biasa lakukan.” Pria itu tersenyum sinis. Matanya menerawang keluar kaca gedung berlantai enam belas itu. “Dan mereka, seperti yang kau katakan, mereka bisa berdiam diri. Hanya bisa mengeluh, dan menjerit tentang hal yang sudah terjadi dalam lingkaran takdir.”

“Tetapi walaupun jika aku akan melakukan sesuatu untuk mengubah takdir,” ia membasahi bibirnya. “akan sulit.” ia tersenyum kecil lalu melanjutkan. “Dan kau tahu, biasanya orang-orang melakukannya, tanpa mereka sadari.”

Kening pria itu berkerut bingung, lalu duduk disampingnya dan menatapnya dengan alis terangkat, meminta penjelasan.

Sementara ia tersenyum. Pria itu mulai tertarik dengan pembicaraan ini. “Kejahatan.” katanya. “Dengan kejahatan. Meskipun tidak sadar, kadang orang berusaha untuk mengingkari takdir itu—”

“Bukan mengingkari,” potong Jongin tidak terima. “mereka hanya berusaha untuk mengubah.”

“Nah, kau tahu.” Ia tersenyum getir.

“Lalu, sebenarnya, apa yang kau ingin sampaikan padaku kali ini?” tanya pria itu setelahnya. Ia menatap pria itu kaget. Sementara pria itu tersenyum, “Aku tahu watakmu dengan baik, Jinri-ya.”

Jinri tersenyum kecil lalu menatap keluar ruangan. Jalanan yang jauhnya beberapa kilo dapat terlihat disini, walaupun hanya cahaya-cahanya yang mengerlap-kerlip. Indah.

“Kadang, aku merasa takdir itu tidak adil.” katanya jujur. Perkataan yang terlalu jujur dalam kehidupan. Dan kali ini, ia ingin sekali, sekali saja, ia jujur tentang betapa ketidakadilnya hidup. Khususnya, untuk hidupnya.

Jongin tergelak. “Mana ada dalam hidup ini kata adil itu benar-benar berjalan? Kau pernah melihat seperti itu?”

“Pernah.” Jinri tersenyum. “Dan itu berada dalam jangkauanku.”

Pria itu tersenyum sambil menyenderkan tubuhnya pada sofa. “Pasti menyenangkan hidup seperti itu.”

Jinri menatap pria itu lalu terkekeh. “Memangnya kau tidak merasa?”

Pria itu menatap Jinri lalu tersenyum lebar. Baru menyadari sesuatu. “Aku baru sadar sedari tadi kau mengatakan kata banmal padaku.” katanya membuat Jinri menutup mulutnya, seakan baru menyadari sesuatu. Dan pria itu tertawa.

Jinri menunduk berkali-kali. “Maafkan aku. Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa. Kita tidak sedang bekerja. Kau boleh memanggilku semaumu.”

Jinri tersenyum. Dan kembali hanyut dalam khayalannya.

“Tadi kau mengatakan sesuatu. Ah, aku merasakan sesuatu? Apa itu?” pria itu terdiam sejenak, lalu membulatkan mata menatap Jinri. “Kau pikir hidupku adil?”

Jinri menoleh. Lalu mengangguk.

“Dan berarti maksudmu tadi adalah aku?”

“Apa? Bagian mana?”

Pria itu terdiam, lalu menjawab, “Adil. Haish, baru saja kita membicarakannya.”

“Ah, maafkan aku.”

“Sudahlah. Lanjutkan saja.” kata pria itu. Terlalu bosan dengan kata maaf. “Bagian kau menyebutku orang yang yang teradil yang pernah kautemui. Alasannya?”

“Tidak bisa dibilang kau adalah satu orang teradil yang pernah kutemui.” Jinri menghela nafas. “Hanya kau adalah salah satunya.” lanjutnya lalu tersenyum tipis. “Yah, kau kaya. Keluargamu terhormat. Kau tampan. Itu… dan.. dan.. ah, kau memiliki perusahaan besar. Lalu.. menjadi pusat perhatian.”

Gotcha!” Pria itu menjentikkan jari. Membuat Jinri berjengit kaget disampingnya. “Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Catat itu.”

Jinri mengangguk. Dalam hati, ia mencatat hal itu dengan baik. Ia mengerutkan bibirnya, lalu tersenyum lebar. “Lalu kau memiliki sekretaris yang pandai dan cekatan dalam membantumu.”

“Hei, mengapa hal itu dibawa-bawa? Haish. Itu sih maumu saja.” kata pria itu menggerutu, sementara Jinri terkekeh.

“Baiklah. Blacklist yang satu itu.” kata Jinri lalu mengangkat jari kembali. Mulai menghitung kembali. “Lalu kau mempunyai rumah bagaikan istana,” sebelum pria itu memotong perkataannya, Jinri menambahkan, “bagiku,” lalu ia melanjutkan,

“Lalu.. lalu.. kau memiliki… kulitmu! Kulitmu kecokelatan!”

Pria itu mendengus. “Apa istimewanya? Itu justru membuatku merasa berbeda dari yang lain.”

“Justru itu yang membuatmu menarik. Kau tampak begitu memesona dengan kau memakai…” Jinri menghela nafas. “Ah, sudahlah. Pokoknya itu kelebihanmu.”

“Tadi kau mengatakan apa?” pria itu menaikkan salah satu alisnya dan menatap Jinri dalam, menggodanya. Dan pipi Jinri memerah mendapat perlakuan seperti itu.

“Sudahlah.”

Pria itu terkekeh lalu menahannya dengan senyuman lebarnya. “Ah, baiklah.”

Jinri terdiam, berpikir. “Lalu… kau memiliki.. hmm…”

“Pendamping yang cantik.”

Jinri menatap Jongin kaget. “Apa?”

Pria itu tersenyum. Senyum lebar yang belum pernah Jinri lihat sebelumnya. Senyum yang begitu lepas. “Jung Soojung.” katanya. “Dia adalah pacarku.”

“Nah, itu salah satunya.”

Nah, benar kan? Takdir itu tidak selalu baik. Untuk kalangan tertentu, kadang takdir terlihat sangat menyakitkan untuk dilihat, diketahui, dan dijalani.

“Hah. Walaupun kau berkata bahwa kau tidak memiliki keadilan yang cukup, sekarang aku mulai mengerti.” pria itu tersenyum. “Aku bersyukur aku memiliki kehidupan seperti ini. Walaupun kadang aku malas sekali menjalaninya.” Terdiam sejenak, lalu Jongin menoleh. “Apakah sudah selesai kita membicarakan tentang keadilanku?”

Jinri menatap Jongin lalu mengangguk. Gadis itu berdiri, lalu merenggangkan tubuhnya. “Ah, lelah sekali.” katanya. “Aku ingin cepat pulang.”

Jongin menatap Jinri, lalu tertawa. “Baiklah. Kupikir sisanya bisa dikerjakan besok.”

Jinri tersenyum kecil, lalu berdiri dan mengambil mantel dan tasnya. Ia menatap Jongin sejenak lalu menunduk. “Aku pergi dulu.”

“Kau tidak ingin kuantar?” tanya Jongin.

Jinri menggeleng. “Terimakasih untuk tawarannya. Masih ada satu bis lagi jika aku bisa mengejarnya.” katanya. “Selamat malam.”

“Ya, selamat malam.”

Setelah Jinri keluar dari ruangan itu, dia berlari sekencangnya.

I should actually hate you
The more I embrace you, it hurts
Although when morning comes,
I will look for you again

I should actually push it back
This love that can’t be used anymore
Because time will blur us again somehow

Let me forget you just for one day – these are words I can’t keep
If I don’t see you, I’ll hurt again, I’ll cry
But I still promise myself
I’m between heaven and hell because of  you

fate

12 thoughts on “Fate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s