[Vignette] Hidden Feelings

FF Ranabilah

|| Main Cast: Jung Soojung – Park Jiyeon as Kim Jiyeon || Support Cast : Choi Sulli – Kim Myungsoo || Duration : Vignette || Genre : Friendship, drama, romance, fluff? || Rating : T|| Scriptwriter : ranabilah || Disclaimer : Para cast milik tuhan, cerita ini milik saya. ||

Inspired by autumn and tea.

A/N

thanks to Vita for the awesome poster! :)

Summary

Jung Soojung tidak pernah berspekulasi hingga sedemikian rupa, sampai pada akhirnya waktu itu telah tiba; mengartikan segalanya.

®

 

Jung Soojung pasti sudah gila jika ia tidak berhasil menyakinkan dirinya sendiri tentang perasaan itu; perasaan yang terhampar luas menampang dalam hatinya kala ia melihat kedua manik indah itu menatapnya. Kim Myungsoo– atau tepatnya, kakak Kim Jiyeon; sahabatnya sendiri.

Ia kelewat ragu untuk mengatakan bahwa perasaan yang tersirat jelas dalam nadinya itu ialah perasaan akan jatuh cinta, manakala otaknya tidak menerima kenyataan pasti tersebut. Hatinya berguncang kala melihatnya, Jantungnya pun berdentum keras tak karuan; saling berlomba-lomba untuk memompa darah lebih cepat, serta desiran darah yang mengalir deras semakin menggila tatkala kedua sudut bibir itu tersungging padanya.

Jung Soojung juga tidak tahu menahu harus berbuat apa, lantaran kini pandangan yang dilemparkannya ke depan ialah pandangan kosong, atau mungkin tepatnya, innocent glare; tatapan yang dikatakan Sulli ialah menakutkan, penuh misteri, serta tak terbaca.

Alih-alih berusaha untuk mengembalikan kesadaran penuhnya yang hilang, ia justru kembali mengingat detik-detik di mana Kim Myungsoo tengah melihatnya beberapa waktu yang lalu– walau sekilas, yang hasilnya malah mampu mengguncang keseluruhan tubuh gadis tersebut.

Namun, ia masih tidak mau untuk mengatakan walau hanya kepada dirinya sendiri, bahwa itu adalah bukan perasaan sebatas ‘kagum’– seperti apa yang telah dipikirkannya selama ini.

Kim Jiyeon, yang baru saja kembali dari kamar kecil di rumahnya, kini duduk tepat di samping Jung Soojung– diikuti oleh Choi Sulli. Oh tolong, jangan tanyakan padaku mengapa mereka bisa kembali bersamaan; jikalau Jiyeon sendiri baru saja menghabiskan beberapa waktunya di kamar kecil.

“Soojung!” Karena Choi Sulli pada hakikatnya menyadari bahwa tatapan yang dipasang Soojung ialah tatapan yang ngeri, ia berusaha untuk menyadarkan Soojung kembali; walau ia juga tidak takut dengan tatapan tersebut, sekali lagi, ia hanya merasa bahwa tatapan itu ialah tatapan yang cukup menakutkan.

“Ada apa?” Beruntung bagi Soojung, bahwa ia dengan cepat dapat tersadar kembali, sehingga ia dapat membalas ucapan Sulli. Jiyeon dan Sulli tentu dapat merasakan gelagat aneh pada tingkah Soojung barusan– walau dalam kesehariannya pun, ia suka begitu.

“Kau aneh.” Itu adalah perkataan yang dilontarkan Sulli– tentu saja. Sedangkan Jiyeon masih sibuk memperhatikan Soojung dengan saksama, barangkali dengan segera ia akan menemukan jawabannya. Namun, Soojung hanya menatap mereka dengan pandangan kosong; lagi.

“Sudahlah, itu tatapan yang mengerikan– sebenarnya,” ceplos Jiyeon. Soojung mencelos seketika, lalu tanpa sadar kembali melirik ke arah Kim Myungsoo, yang tengah bermain dalam diam dengan Laptopnya di pojokan ruang keluarga rumah Jiyeon.

 

Sial bagi Soojung, Sulli dengan cepat dapat menangkap ke mana arah ekor matanya tertuju. Dan ini, bukanlah suatu pertanda yang baik.

®

Jika saja Soojung dengan otaknya yang setengah kembali normal kala itu masih sanggup untuk menyembunyikan rona merah yang menampar halus pipinya, mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi. Di mana Kim Jiyeon dan Choi Sulli, telah membawanya ke kamar Jiyeon di lantai atas dan tanpa basa-basi langsung menginterogasinya.

“Kapan kau mulai merasakannya?” Jika masalah yang mereka hadapi itu ialah masalah tentang ‘jatuh cinta’, tentu saja mereka merasa tidak sabar sama sekali untuk menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh yang diinterogasi.

Begitupula sekarang, Jiyeon sudah merasa tidak sabaran untuk menunggu jawaban apa yang akan dilontarkan oleh Soojung, “Tidak, aku hanya– “

“Oh ayolah, Soojung! Kau kira kami tidak dapat melihatnya dengan jelas?” Jiyeon semakin tidak sabaran dengan jawaban Soojung barusan yang menurutnya hanya akan mempersulit mereka; Ia dan Sulli, untuk bertindak lanjut lebih pasti tentang perasaan Soojung terhadap kakaknya.

“Berikan aku cela untuk berbicara kumo– “ Perkataan Soojung kali ini diinterupsi kembali, namun oleh Choi Sulli, “Seharusnya aku mengetahui itu, bahwa tatapanmu yang kelewat tersirat itu adalah benar.” Tentu saja perkataan Sulli itu sontak membuat semua yang ada di sana terlampau kaget, hanya karena ia telah mampu menebak persoalan ini sebelumnya.

“Kau sudah tahu tentang hal ini, Ssul?” tanya Jiyeon menebak seraya melirik ke arah Sulli. Lalu beralih kembali menatap Soojung yang kini tengah memerhatikan mereka; layaknya tidak ada masalah besar yang sedang mereka hadapi, “berkatalah yang jujur, Soojung,” perintah Jiyeon dengan nada tegas.

 

Soojung menarik lalu mengeluarkan nafas dalam ketenangan yang diciptakannya, tapi apa mau dikata, hal ini memang pasti akan segera diketahui oleh kedua Sahabatnya. Dan sekarang bukanlah waktu yang tepat, sungguh.

“Tidak, hanya secara kebetulan berspekulasi tentang apa yang dirasakannya sebelumnya,” jawab Sulli kemudian. Jiyeon kembali melirik Sulli dengan alis yang saling bertautan satu sama lain, “bagaimana?” tanya Jiyeon lagi. Soojung mendengus kasar– tidak suka jika ia menjadi tersangka utama. Namun, Jiyeon mengabaikannya. Sedangkan Sulli seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk dijelaskan.

“Dua kali sebelum pertemuan ini terjadi; di rumah ini pula, aku hanya secara tidak sengaja melihatnya begitu menatap lekat kakakmu itu, binar di matanya terlalu kentara, tapi dengan langsung aku menepis hipotesa yang kubuat sendiri.”

 

Menepis. Soojung mengerang pelan dalam hati, ada apa?

®

Tubuh Soojung juga langsung bereaksi ketika Sulli menyebut kalimat ‘menepis’ yang ia lontarkan barusan. Ia tahu ada yang salah..tapi ia tak mengerti dengan pasti.

 

Suasana semakin tidak terkendali, Jiyeon juga sepertinya harus bersyukur sangat lantaran kamarnya yang telah diubah menjadi kedap suara– membuat kegaduhan ini tidak akan terdengar hingga lantai bawah.

 

Layaknya tersangka yang tak mau jujur; beginilah Soojung saat ini. Ia masih menyangkal beberapa pernyataan yang diduga oleh kedua sahabatnya, yang bahkan sebenarnya itu ialah sesuatu yang hampir mencapai kata ‘akurat’ untuk dipertimbangkan oleh dirinya sendiri. Tak mau berhenti tanpa membuahkan hasil, Jiyeon merubah struktur pernyataan menjadi pertanyaan– untuk kedua kalinya.

Soojung sendiri semakin gemetar tatkala Jiyeon dan Sulli mulai membahas kembali tentang tatapan yang ia lontarkan pada Myungsoo tadi. Aliran desiran darah di nadinya semakin menggila, terlebih ketika ia lagi-lagi mengingat tatapan yang sempat dilemparkan oleh Myungsoo padanya. Ah Tuhan, dunia sungguh sempit. Jika memang benar ia sedang jatuh cinta, kenapa harus Myungsoo yang menjadi patokan bertumpu hatinya?

“Terserahmulah Soojung, aku tidak mengerti dengan keadaan ini, apa yang membuatmu menjadi seperti ini?” tanya Jiyeon dengan nada defensif. Soojung menghela nafas entah untuk keberapa kalinya, kali ini ia kesal bukan karena rasa penasaran yang ditunjukkan oleh kedua sahabatnya, tapi karena ia tak tahu harus berkata apa.

Sulli menunduk akibat merasa telah membuat Soojung tertekan, dan itu bukanlah suatu kesalahan besar; karena dengan sendirinya Soojung sudah memaafkannya.

 

“Aku hanya merasa telah salah mengartikan, sama dengan apa yang dikatan Sulli sebelumnya.” Begitulah kira-kira beberapa kalimat yang diucapkan oleh Soojung. Ia berkedip dalam cepat, bukti bahwa ia sedang bingung.

“Dan kau tidak berusaha untuk mencari tahu?” tanya Sulli membuka mulut, Soojung mengeluh dalam helaan nafas.

“Bisa dibilang begitu, karena memang sebelumnya– pertama kali aku mengenalnya sejak 4 tahun yang lalu, aku langsung mengagumi kakakmu,” ujar Soojung melirik Jiyeon. Jiyeon mulai berpikir mengambil kesimpulan, lalu menggeleng pelan.

“Seharusnya, kau bisa mengartikan perasaan apa yang telah mengerubungi hatimu tersebut, Soojung. Memangnya, kau tidak pernah jatuh cinta atau sekadar merasakan suka, sebelumnya?” Sulli memberi tanggapan, dan Jiyeon terkekeh pelan otomatis.

“Tentu saja pernah! Tapi ya… perasaan ini sedikit berbeda, sehingga aku hanya masih berpikir bahwa ini ialah perasaan kagum,” balas Soojung.

“Sudah berapa kali kau menepis perasaan itu sejak mulai merasakan sesuatu yang sedikit berbeda tersebut?” tanya Jiyeon dengan nada terkesan penasaran.

“Tentu saja hingga sekarang, bodoh.” Jiyeon mengoceh tak suka dengan sebutan ‘bodoh’ yang diberikan Soojung, namun ia berusaha untuk bersabar.

“Maksudku, kupikir ‘menepis’ sudah menjadi kebiasaan bagimu untuk menyangkal perasaan yang sesungguhnya, lantaran setelah kau merasa ada janggalan yang aneh, kau selalu beranggapan bahwa itu hanyalah perasaan kagum. Ya, kurasa kau dapat mengerti penjelasanku yang aneh ini,” terang Jiyeon dengan seulas senyuman, Sulli memamerkan deretan gigi putihnya dengan pasti.

Dan dalam sekejap, Soojung seperti terkena tamparan keras oleh dirinya sendiri. Menepis dan kebiasaan? dua hal yang saling berkaitan, yang mampu membuat Soojung segera menyadari kesalahannya selama ini. Bodoh, pikirnya.

“Persetan dengan kebiasaan, kurasa itu memang benar.”

®

 

Jiyeon masih belum berhenti untuk mencari tahu hanya sebatas itu, ia tetap berniat untuk melanjutkan interogasi tersebut. Hingga menurutnya, semua sudah tampak menjadi lebih baik. Dan kau berpikir bahwa pernyataan Soojung barusan bukanlah sesuatu yang baik ya, Jiyeon?

“Tapi… aku masih sedikit bingung sekaligus penasaran,” ungkap Jiyeon.

“Ya?”

“Hingga kapan?” Jiyeon bertanya mendadak di tengah kelegaan yang timbul, Soojung mengernyit bingung.

“Apa?”

“Hingga kapan kau masih dapat mempertahankan perasaan ‘kagum’mu tersebut, lalu berubah cenderung merasa …… seperti sekarang?” tanya Jiyeon lagi dengan membenarkan posisi setengah poni yang sebelumnya menutupi dahinya.

“Bagaimana jika……sejak setahun yang lalu?”

®

Sulli kaget bukan main, Jiyeon merasa ia harus mendapatkan bantuan tambahan oksigen dengan segera dari tenaga medis. Semuanya merasa telah ditipu, benar. Seorang Jung Soojung telah menipu mereka dengan menyembunyikan, ‘siapa-yang-sebenarnya-disukai-gadis-tersebut’. Jiyeon dan Sulli masih ingat ketika gadis itu masih sempat berkata bahwa ia menyukai Taemin, teman cowok sekelasnya beberapa bulan yang lalu. Dan kini, gadis itu justru mengatakan bahwa perasaan yang sesungguhnya ini telah ia rasakan sejak setahun yang lalu. Bagaimana mungkin?

Jiyeon sempat berteriak cukup keras setelah itu, dan kakaknya langsung menegurnya dari bawah. (tidakkah kalian mengingat bahwa kamar Jiyeon telah kedap suara?!) Sulli masih dapat mengontrol emosinya, tapi seperti apa yang telah kukatakan, Jiyeon merasa terlalu kaget jika dilihat dari reaksinya, dan ia sempat menggeretu kesal pula.

“Kau tidak pernah berpikir bahwa kau mulai ‘suka’ terhadap kakakku, eoh?” tanya Jiyeon otomatis– masih dengan emosi yang berkelebat.

Tentu saja ini pertanyaan yang tidak diharapkan Soojung, sebab ia sendiri pula tidak pernah tahu bagaimana cara yang tepat untuk mendikte perasaan tersebut.

 

“Kau bisa berpikir sedemikian rupa, uh? Di saat kau mulai merasa takut karena telah menyukai kakak sahabatmu sendiri?” Jiyeon tergelak dengan sendirinya, merasa tidak percaya sekaligus membuatnya menjadi cukup tenang dengan maksud dari jawaban yang dikatakan oleh Soojung.

“Memangnya kenapa, jika salah satu sahabat terbaikku rupanya menyukai kakakku sendiri?” Jiyeon bermaksud untuk menggoda Soojung, dan Soojung hanya menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan samar. Sulli sempat tertawa heboh lantaran merasa geli dengan jawaban tersebut, dan Soojung membalas dengan memelototinya.

“Semua yang kita lakukan pasti memiliki resiko, bukan? dan aku belum sanggup untuk menghadapinya, sekarang,” keluh Soojung sembari mengerucutkan bibir, lantas mengambil secangkir teh yang berubah dingin lantaran lama dibiarkan. Jiyeon dan Sulli bertatapan satu sama lain, menyiratkan sebuah makna.

“Tapi, untuk sekarang, kau mengakuinya, ‘kan?” tanya Jiyeon yang dengan spontan ditanggapi langsung oleh anggukan dari Soojung. Jiyeon dan Sulli terkikik geli menahan tawa, hingga tawa mereka pun tak dapat dikekang lebih lama.

®

“Soojung!” Pintu kamar Jiyeon terbuka dengan tiba-tiba, dan semua yang berada di dalamnya tampak sedikit kaget dan semuanya pun melihat ke sumber suara. Manakala yang berada di ambang pintu tersebut ialah sosok Kim Myungsoo– kakak Kim Jiyeon, Jung Soojung sudah tak mampu untuk menahan senyum. Terlebih, di saat Myungsoo berjalan mendekat ke arah mereka; tepatnya, ia.

“Jiyeon bilang, kau juga menyukai f(x). Benar?” Soojung boleh terlihat seperti manusia normal, namun otak serta kendali akan seluruh saraf dalam tubuhnya telah berubah menjadi tak beraturan. Ia ingin sekali untuk segera membalas pertanyaan Myungsoo tersebut, namun ucapannya tercekat di pangkal tenggorokan.

“Kan aku sudah bilang, kenapa?” ucap Jiyeon menanggapi, dan Soojung dapat segera merasa lega.

Myungsoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “bagaimana jika…saat f(x) konser, kita menonton bersama? Jiyeon hanya menyukai mereka secara biasa, tidak seperti kau yang menjadi salah satu fans mereka,” kata Myungsoo dengan menyunggingkan seyuman miringnya.

Oh tidak! Soojung bisa mati muda jika dalam kurun waktu dekat terus menerus mendapat kejutan seperti ini!

 

“Err…aku…ya, memang fans mereka, kau juga fans mereka, oppa?” tanya Soojung memberanikan diri, dan Sulli hanya melihat itu dengan emosi tawa yang tertahan dalam dirinya.

“Tentu! Dan aku sedang membutuhkan satu teman untuk menonton konser itu bersama, karena aku telah memesan dua tiket. Bagaimana? Kau mau?” Asupan oksigen Soojung hampir saja habis, dan mungkin kalimat ‘bahwa-ia-bisa-mati-muda’ akan segera muncul.

“Kenapa tidak bersama dengan Jiyeon?” tanya Soojung tergagap. Myungsoo menyeringai, yang dapat diketahui oleh Jiyeon yang langsung menutup mulut untuk tidak segera tertawa– lagi.

“Dia hanya akan selalu mengeluh, tidak seru pokoknya. Jadi, kau mau, ‘kan?” Soojung tanpa berpikir banyak langsung mengangguk. Lalu tersenyum, yang tanpa disadarinya, bahwa Myungsoo juga ikutan mengulas senyum kecil tatkala melihat satu senyuman merekah di wajah Soojung.

“Tapi..bukankah ini begitu mendadak?” tanya Soojung lagi spontan. Myungsoo sempat mengulas senyuman, yang sanggup untuk membuat tubuh Soojung berhenti bekerja.

“Iya, ya? Hft, sebenarnya aku sudah berniat untuk memintamu sejak beberapa hari yang lalu, tapi aku takut kau akan menolak penawaranku ini,” balas Myungsoo seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal lagi. Soojung terkekeh geli, dan Myungsoo semakin terlihat salah tingkah.

“Baiklah! Bagaimana jika kita bersepekatan tentang ini dengan meminum teh hangat bersama di bawah? Kupikir wajahmu terlihat pucat,” usul Myungsoo. Soojung menahan amarah dalam hati, kenapa? Kenapa di saat seperti ini rona merah sialan yang dianggap pucat oleh Myungsoo itu selalu muncul?

“Tidak masalah, selagi kau tidak keberatan,” balas Soojung akhirnya. Dengan segera, Myungsoo menarik pergelangan tangan Soojung. Kemudian beranjak keluar dari kamar Jiyeon, berdua.

“Hei! Kalian melupakan kami, huh?” teriak Jiyeon diiringi oleh anggukan dari Sulli ketika Myungsoo dan Soojung sudah berada di batas pintu. Myungsoo dan Soojung secara bersamaan menoleh ke belakang, Soojung menarik sudut-sudut bibirnya dengan ekspresi yang tak terduga– merasa bahwa ini terlalu cepat terjadi. Dan untuk Myungsoo, ia menyeringai nakal; lagi.

 

Pada akhirnya, seharusnya Soojung sadar, bahwa sesuatu yang ia sembunyikan– apapun itu, pasti ada saatnya di mana ia akan mengambang di permukaan dasar. Cepat atau lambat; semua rahasia tersembunyi yang setiap orang amankan pun akan terkuak. Hanya tinggal menghitung waktu; dan inilah waktu bagi Soojung.

.

.

®

.

A/N : Lega akhirnya, ketika fic ini pun selesai (?) haha, rasanya kaya udah ada yg ga ngeganjel di hati gitu ._. ini juga tiba-tiba idenya nongol sendiri sehabis pulang dari rumah teman 2-3 hari kemarin. Juga terinspirasi dari teh sih..entah apa hubungannya, lol-_- Saya juga kurang yakin dengan genre dan ratingnya…… dialog antar tokohnya juga saya kurang yakinnn… aaaaaaaa ;____;

Dan, karena saya masih kurang yakin(lagi-lagi!) dengan kelayakan fic ini,

Review/komentar dibutuhkan! 

 

3 thoughts on “[Vignette] Hidden Feelings

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s