Fun Day Sunday

Funday sunday

Title : Fun day Sunday

Author : Suciramadhaniy

Main Cast :

Jung Soojung, Kim Jongin ‘EXO K’, Lee Taemin ‘SHINee’

Additional cast :

Jessica Jung ‘SNSD’, members SHINee

Genre : AU, romance | Rating : Teenagers | Length : Oneshoot

Disclaimer :

They belongs to God and this story purely by imagination. So please appreciate with your comment and don’t copy paste or plagiarism.

Thanks

Note :

Kalian jangan sampai terkecoh sama tokohnya yaa ;p

Maaf kalau masih ada typo.

Happy reading!!!

Fun day Sunday

 

Seorang gadis masih terlelap dalam tidur cantiknya. Berkali-kali jam wekker miliknya berdering membangunkan tidurnya itu namun matanya masih setia terpejam – enggan untuk terbuka. Matahari pun semakin menyinarkan cahayanya seiring waktu yang terus berjalan dan kini menunjukan pukul 8 pagi sejak jam wekker yang berbunyi pada jam 6 pagi itu, ia masih terbang dalam alam mimpinya. Perlahan sinar matahari yang sudah sangat terang menerobos masuk ke kamarnya melalui celah-celah jendala lalu sinar itu menyentuh pipinya – hangat.

Gadis itu menggeliat ketika pipinya mulai memanas karena sinar matahari yang terus menyentuh pipinya. Perlahan ia membuka mata dan seketika matanya menyipit mendapati sinar yang begitu menyilaukan matanya. Dilihatnya jam wekker pada meja kecil yang terletak di samping tempat tidurnya. “Sudah jam 8 ternyata, ah untung ini hari minggu,” desisinya pelan seraya menyesuaikan matanya dengan sinar yang masuk ke retinanya.

Ia segera bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk minggu paginya yang cerah – yah walau bisa dikatakan ia terlambat bangun. Setelah ia sudah berbusana rapi mengenakan kaos biru muda dipadu dengan rompi dan  celana jeans biru gelap serta sepatu sneackers, ia segera turun menuju ruang makan dan ia pun di sambut hangat oleh Eomma-nya yang sedang menyiapkan sarapan. “Soojung-ah kau sudah bangun dan sudah rapi sekali,” ucap Eomma seraya melirik anaknya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Ne Eomma, aku mau jalan-jalan hari ini.” ujar gadis yang bernama Jung Soojung itu seraya menarik kursi lalu duduk di sebelah kakaknya. “Kau mau jalan-jalan dengan siapa Soojung-ah?” tanya kakaknya seraya menatap heran gadis itu. “Tunggu dulu! Jangan-jangan kau sudah mempunyai kekasih?” Jessica – kakak perempuan Soojung melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Soojung menghentikan aktivitasnya mengolesi selai coklat pada roti yang hendak ia makan dan beralih menatap kakaknya. “YAA! Eonni! Tidak! Aku tidak memiki kekasih untuk saat ini,” dengusnya menatap Jessica tajam seraya kedua tangannya dilipat di dada.

“Hahaha, aku kira kau memiliki kekasih karena kau hari ini beda dari biasanya. Sangat cantik!” Jessica tersenyum melihat tingkah adiknya itu namun diharaukannya ucapan Jessica tersebut oleh Soojung.

Setelah sarapan bersama Jessica dan Eommanya, Soojung – gadis itu siap mengawali hari minggunya. Ia tersenyum lebar ketika membuka pintu rumahnya dan menghirup udara segar di awal musim semi ini. “Benar-benar hari minggu yang cerah di awal musim semi,” ucapnya riang lalu ia berpamitan pada Eomma dan kakaknya untuk jalan-jalan. “Eomma, Sica Eonni aku berangkat yaa. Kalau ada sesuatu hubungi aku saja ya?”

Eomma-nya mengangguk seraya mengacak pelan rambut Soojung, “Ne, Soojung-ah. Bersenang-senanglah.”

“Soojung-ah, sampaikan salamku untuk kekasihmu itu yaa,”ujar  Jessica terkekeh melihat ekspresi wajah adiknya yang mengerucutkan bibir mungilnya.

 

***

 

Soojung melangkah keluar dari rumahnya dengan riang seraya bersenandung kecil. Ia mendengar kicauan burung dan suara beberapa kendaraan yang melintas. Sebenarnya ia pun tak tahu tujuan jalan-jalannya hari ini kemana, karena semalam pun ia hanya berniat untuk jalan-jalan. Samapi pada akhirnya ia berjalan-jalan di sekitar taman kota dan mendapati pemandangan yang sangat bagus. Kebetulan sekali ia membawa digital kamera sehingga ia bisa mengabadikan pemandangan itu.

“Ah, sepertinya view di sana sangat bagus,” Soojung kembali melangkahkan kakinya ke tempat yang ia maksud dan ia pun mengambil beberapa pemandangan bagus di tempat itu. Tiba-tiba seseorang menghampirinya seraya tersenyum dan menyapanya ramah, “Annyeong Nona, apakah kau ingin mengabadikan dirimu dengan pemandangan indah itu? Sini biar aku yang memotretnya.”

“Annyeonghaseo, hmmm iya tolong ya,” balasnya dengan tersenyum ramah membalas senyum orang itu lalu berjalan ke tempat yang ia maksud.

“Okay Nona, say Cheese….”

“Cheese…” Soojung tersenyum dan sedikit berpose.

Suara jepretan kamera pun terdengar bersamaan dengan blitznya.

“satu kali lagi Nona, say Cheese…”

“Cheese…” ia tersenyum namun kini dengan pose yang sedikit aneh.

Seseorang yang mengambil gambar tersenyum senang mendapatkan hasil jepretannya yang cukup bagus, karena ia bukanlah seorang fotografer – atau memang itu karena objek gambar yang diambil sangat memukau.

Soojung kembali menghampiri orang itu dan melihat hasil jepretan kamera digitalnya. “Wah, gambar yang keren!!” serunya senang melihat hasil jepretan orang itu yang begitu memukau di matanya.

“Ohyaa, terima kasih. Hmm kau pasti fotografer yaa? Hasil jepretanmu bagus sekali.” Ujarnya antusias menatap wajah laki-laki di hadapannya.

“Ah, bukan. Aku bukan seorang fotografer. Sepertinya itu karena pemandangannya yang bagus dan kamu yang terlihat seperti model sungguhan.”  Mendengar ucapan namja itu seketika itu Soojung tersipu, “Ah, kau bisa saja.”

“Kebetulan sekali aku ingin menikmati pemandangan taman ini di awal musim semi ini, kau mau ikut denganku?” tanya namja itu pada Soojung. Ia terlihat antusias lalu menerima tawaran namja itu mengingat hari ini ia juga belum tahu ingin pergi kemana. Toh pemandangan di tempat itu juga bagus kan?

Ia tersenyum lebar, “ya kebetulan sekali aku juga sedang bingung ingin pergi kemana di hari minggu yang cerah ini.” ucapnya menatap namja itu dengan antusias.

“Kajja kalau begitu.”

 

Akhirnya mereka pun sampai di bawah pohon yang rindang dan di sekitarnya tumbuh bunga-bunga yang bermekaran. Sangat indah.

Mereka pun menyusun tempat dengan menggelar alas berupa kain segiempat yang bercorak garis putih biru dan meletakkan keranjang makanan di atas alas itu.

“Sudah selesai!” serunya senang seraya melepaskan sneakers yang ia kenakan lalu duduk di atas alas itu

Namja itu mengikuti Soojung lalu duduk di sebelahnya. Ia mengambil minuman soda untuk gadis itu dan mengeluarkan beberapa camilan kecil dari keranjang makanannya.

“Ini untukmu,” ucapnya. “Terima kasih,” Soojung menerima minuman itu seraya tersenyum.

Namja itu membuka kaleng minuman sodanya seraya bertanya pada gadis yang duduk di sebelahnya “Siapa namamu Nona?”

“Jung Soojung, hhm namamu?” jawabnya dengan menatap  namja itu.

“Kim Jongin, senang berkenalan denganmu Soojung.” Jongin berjabat tangan dengan gadis itu seraya keduanya melemparkan senyuman mereka satu sama lain.

Soojung kembali hanyut dalam pesona pemandangan taman itu, merasakan hembusan angin musim semi yang menyejukkan dan wangi bunga-bunga yang tumbuh – menguar dan masuk ke indra pernapasannya.  Semilir angin pun menerbangkan beberapa helai rambut gadis itu sehingga ia harus beberapa kali menyelipkan rambutnya pada daun telinganya.

Sedangkan Kim Jongin sangat menikmati minggu paginya yang begitu menyenangkan, bagaimana tidak? Ia bertemu dengan gadis cantik bernama Soojung yang kini sedang menikmati semilir angin yang membuatnya kerepotan merapikan rambut ikalnya. Tanpa Soojung sadari, Jongin tengah melihat wajah cantik gadis itu dan tersenyum melihat Soojung yang masih sibuk memandang keindahan taman dan mengurusi rambutnya itu.

Jongin pun beranjak dari tempat duduknya lalu memetik setangkai bunga putih yang berada di dekatnya – tanpa  sepengetahuan Soojung. Kemudian ia menyematkan bunga itu di telinga kanan Soojung – sekitika ia terhentak mendapati bunga yang telah tersemat di sela telinganya.

Ia pun tersenyum pada Jongin dan semburat merah pun terlihat di pipinya, “Terima kasih Jongin.”

Jongin membalas dengan senyumnya yang menawan, “kau terlihat sangat cantik.”

Pipi Soojung mungkin semakin memerah, ia pun tertunduk karena tersipu malu.

Jongin pun memulai pembicaraannya dengan gadis itu, “Nona Jung, sebenarnya apa yang membawamu hari ini ke taman ini?”

Gadis itu terkekeh mendengar pertanyaan Jongin, mengingat ia pun tak tahu apa alasan yang membawa kakinya melangkah ke taman ini. “Hhhm, entahlah. Tiba-tiba saja kakiku melangkah ke sini. Memang aku berniat jalan-jalan hari ini tapi entah kemana dan akhirnya aku dipertemukan denganmu di sini. Mungkin itu alasannya. Bagaimana denganmu?”

Jongin pun terkekeh mendengar jawaban gadis itu lalu ia pun mulai bercerita tentang paginya hari ini, “Kalau aku, aku memang sudah merencanakannya sejak kemarin tapi tak satu orang pun keluarga di rumahku yang mau menemaniku. Yaa akhirnya aku ke taman ini sendiri dan beruntung aku bertemu denganmu, Soojung.” Ucapnya tersenyum antusias.

“Hhhmm bagaimana dengan kekasihmu? Apakah ia juga tidak mau menemanimu?” tanya Soojung menatap Jongin serius.

Jongin kembali terkekeh dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan gadis itu, “bahkan aku tak mempunyai kekasih Soojung-ssi.” jawabnya masih terkekeh.

“Bahkan namja tampan sepertimu tak memiliki kekasih?” Soojung cepat-cepat menutup mulutnya – merutuki  pertanyaannya yang frontal.

“Hahahaha,” tawa Jongin memecah mendengar pertanyaan itu. “Maaf aku lepas kontrol, pertanyaanmu sungguh lucu.”

Soojung tersenyum malu dengan pertanyaannya itu sembari  menatap Jongin – memang Jongin terlihat tampan dihadapannya kini  dan alhasil sekarang pandangan mereka bertemu. Cukup lama mereka saling menatap dan akhirnya ia melepaskan tatapan itu lalu tangannya  memegang tengkuknya karena canggung.

 

 

“Ohiyaa, kau ingin melihat dance-ku tidak?” Jongin berdiri dan ia sepertinya mulai meliuk-liukan tubuhnya tanpa perintah dari Soojung. Gadis itu pun melihat gerakan-gerakan Jongin dengan antusias. Gerakan demi gerakan pun diperlihatkannya dengan sempurna dan begitu lihai seiring dengan lagu yang diputar. Semilir angin pun mengibaskan rambut Jongin yang menambah kesan cool padanya. Soojung menatap kagum Jongin yang masih meliuk-liukan tubuhnya.

“Come on Miss Jung. Lets dance with me!” Jongin menarik tangan Soojung cepat. Awalnya Soojung merasa canggung namun kini dirinya terbawa arus kelihaian Jongin yang membuatnya terus meliukan tubuhnya seirama dengan musik dan gerakan tubuh Jongin.  Napas mereka saling menderu dan peluh pun mengkilatkan wajah mereka hingga pada satu titik mereka kehabisan napas dan Soojung merasa limbung.  Dengan satu gerakan cepat Jongin menahan Soojung sehingga mereka berada di posisi sangat dekat, mata mereka pun saling bertemu hingga akhirnya Soojung pun tersadar dan tersipu. “Terima kasih, hampir saja aku terjatuh,” hanya itu yang dapat diucapkan Soojung ketika dirinya merasa canggung berada di dekat Jongin.  Jongin mengulas senyum membalasnya. Lalu ia meberikan sebotol air mineral padanya, “Ini! Kau pasti haus kan? Minumlah!”  Soojung menerima air mineral itu dan diminumnya sampai tak bersisa. Mungkin ia sangat haus setelah ia melakukan dance yang membuatnya kehabisan cairan.

“Tunggu sebentar Soojung! Aku segera kembali,” ujar Jongin seraya matanya mencari-cari sesuatu. Ia segera berlalu dan menghilang dari pandangan Soojung. Beberapa menit Soojung mencari-cari Jongin yang secepat kilat menghilang dari pandangannya namun tiba-tiba seseorang menepuk bahunya membuat dirinya terlonjak kaget dan menolehkan kepalanya, “Jongin!!” serunya seraya menautkan alisnya menatap apa yang dibawa Jongin. “Tadaaa! Es krim coklat untukmu dan vanila untukku,” seru Jongin tersenyum lebar lalu menyerahkan salah satu es krim yang baru saja ia beli – kepada Soojung.  Soojung tentu menerimanya dengan senang hati dan mengulas senyum senang, ” Ah, terima kasih Joongin-ah!”

“Tunggu? Joongin-ah? Sepertinya panggilan itu terdengar lebih baik dari pada sebelumnya hhm Soojung-ah? Bagaimana menurutmu panggilanku untukmu?” tanya Joongin antusias.  Soojung merasakan pipinya memanas, mungkin semburat merah pun terlihat di pipinya. “Hmm kedengarannya juga bagus Jongin-ah!” akhirnya mereka pun tertawa lepas sembari menikmati es krim dan bersenda gurau hingga Soojung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jongin yang sangat lucu. Gadis itu merasa hari ini sungguh menyenangkan. Bertemu dan berkenalan dengan Jongin membuat dirinya merasakan akhir pekan yang sangat berbeda. Berfoto dengan pemandangan taman oleh Jongin, disematkannya bunga  pada telinganya, menari bersama dan tertawa lepas seperti itu adalah sisi lain hari minggu ini.

Tak terasa waktu menunjukkan jam 12 siang. Tidak terasa memang keceriaan yang mereka lalui cepat berlalu dan akhirnya mereka pun harus berpisah sampai disitu.  “Soojung-ah, sepertinya matahari sudah berada di atas kepala kita ya? Tak terasa menghabiskan waktu denganmu di sini sangat menyenangkan.” Jongin menatap Soojung serius seraya tersenyum padanya.

“Hei kita bisa bertemu lagi di minggu-minggu berikutnya bukan?” Soojung mengulas senyum pada Jongin. “Haha kau benar juga ya,” ucapnya seraya membereskan beberapa makanan yang tersisa dan melipat alas duduk yang dibantu oleh Soojung.  Mereka pun mengulas senyum satu sama lain lalu berpamitan, ” Okay kalau begitu aku pulang ya Nona Jung. Aku tunggu di minggu berikutnya!” ujar Jongin semangat.

“Siap!” Soojung berdiri tegap seraya hormat pada Jongin. “Terima kasih Jongin-ah atas minggu pagi ini,” ia tersenyum lebar pada Jongin.  Jongin mengacak rambut gadis itu lembut seraya tersenyum padanya lalu melenggang pergi meninggalkan Soojung yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan padanya.

 

***

 

 

Soojung kembali melangkahkan kakinya. Kini ia tak tahu harus kemana lagi setelah bertemu dengan Jongin dan menghabiskan beberapa jam dengan namja tampan itu. Padahalnya hari minggunya masih tersisa 10 jam lagi untuk bersenang-senang. Ia terus berjalan pelan dipinggir jalan raya kota Seoul seraya berpikir mau kemana ia selanjutnya. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawanya ke sebuah rumah yang berbeda komplek dengan rumahnya. “Ini kan komplek sebelah rumah,” desisnya dalam hati. Ia terus dibawa oleh sosok itu tanpa menghiraukan siapa wajah orang itu. Mereka pun akhirnya sampai di rumah yang cukup megah. Soojung mengatur napasnya karena sedari tadi ia ditarik oleh sosok itu dengan berlari. Ia tak sempat untuk protes pada orang yang menariknya. Seketika Soojung baru menghempaskan tangannya yang dipegang erat oleh sosok itu. Ia menoleh dan terlonjak mendapati wajah yang ia kenali – beberapa jam yang lalu dan baru berpisah beberapa menit yang lalu.  “Kim Jongin!!!” pekiknya tak percaya.

Namja itu mengernyitkan alisnya tak mengerti. Lalu menarik kembali Soojung untuk masuk ke dalam rumah megahnya.  “Wah, kau berhasil mendapatkan seorang gadis Taemin-ah!” Minho berseru riang seraya menampakan smirknya, “Kalau begitu kau harus menciumnya!”   Soojung terhentak mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari seorang namja yang tak ia kenali. “Taemin?! Segera mencium?!” sontaknya dalam hati dan seketika membulatlan matanya bersamaan dengan mulutnya yang ternganga. Semua orang yang berada di seantero ruangan terkikik geli atas permainan yang begitu menggelikan ini. Selalu saja maknae mereka yang terkena sasaran.  “Ya!!! Permainan Truth or Dare macam apa ini hah?! Aku terus yang mendapatkan dare dari kalian!!!” dengus namja yang bernama Lee Taemin itu.  “Ayoolah Taemin! Lakukan!” seru Onew seraya terkikik.

Soojung semakin membulatkan matanya, ia berteriak “Yaaa!! Apa-apaan ini? Kalian siapa? Dan kauuu?! – ” ucap Soojung terputus, “Kau Kim Jongin kan? Lalu kenapa temanmu memanggil Taemin? Iyaa! kau Jongin!! Aku masih mengingatnya!” serunya.  Namja itu menautkan alisnya heran. “Jongin?” tanyanya. “Iyaa kau Kim Jongin!” seru Soojung lagi.

Ia berpikir keras dalam hati, “Jongin? Kenapa ia bisa berfikir kalau aku ini Jongin.”  Taemin terkekeh geli, gadis ini lucu juga dengan ekspesinya. Pikirnya dalam hati.  Dengan sedikit menampakkan smirknya namja itu pun mengangguk yakin, “Ne! Aku Kim Jongin. Lalu kau kenapa bisa mengenaliku?”  Soojung berdecak heran seraya alisnya mengernyit, “Ya! Kita baru saja bertemu. Kau lupa Jongin-ah?” cibirnya sebal.  Namja yang diakui Jongin oleh Soojung semakin terkekeh melihat ekspresi lucu gadis itu.  “Mianhae… Hmm siapa namamu?”

“Ya! Bahkan kau lupa namaku Jongin-ah?! ” Soojung kembali mendengus kesal. “Mianhae mianhae. Aku mengidap amnesia sesaat. Sebutkan saja namamu.”

“Oh baiklah. Namaku Jung Soojung,” Soojung pun menghela napas panjang.

“Hei Taemin-ah!! Kenapa kau mengaku sebagai Jo – ” seru Minho yang segera dibantah cepat oleh laki-laki yang dianggap Jongin itu. “Ssstt… Ayo lanjutkan permainannya? Mau aku apakan gadis ini?” tanyanya.  “Jadi aku terlibat dalam permainan ini Jongin-ah?” tanya Soojung seraya menatap Minho dan yang lainnya.  “Iya kau benar! Aku sedang mengikuti permainan Truth or Dare,”  Soojung mengangguk dan sepertinya ia tertarik mengikuti permainan ini. Akhirnya ia bergabung bersama Minho, Onew, Key,  dan Jonghyun. Ia duduk di antara Minho dan Taemin.

“Okay kalau begitu Soojung-ah, karena Tae – hmm maksudku Jongin tadi mendapatkan Dare. Ia harus memenuhi hukuman yang telah kita buat,” ujar Minho.  “Hukuman apa itu?” Soojung terlihat menyelidik ucapan Minho.  “Mencium seorang gadis, dan Jongin kebetulan menemukanmu.” Minho menjelaskan pada Soojung dan seketika pipinya memerah. “Haruskah?”

Cup.

Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Soojung, ia tertunduk tidak berani menatap siapa pun karena ia tahu pasti semburat merah ada pada pipinya karena ia mengetahui siapa orang yang mengecupnya.

Lee Taemin – laki-laki yang dianggap Jongin oleh Soojung itu – pun  hanya terkekeh geli melihat ekspresi gadis itu. “Ayoo lanjutkan lagi Truth or Dare nya!” serunya semangat. Soojung tersenyum kaku melihat Taemin yang dianggapnya sebagai Jongin itu.

Sekarang giliran Taemin yang memutar spidol papan tulis untuk menunjukkan siapa orang selanjutnya yang terkena Truth or Dare. Akhirnya spidol itu berhenti dan mengarah pada Soojung.

“Aku?” tanyanya tak percaya.

“Iyaa tentu saja kau Soojung-ah,”

“Okay, sekarang kau pilih Truth or Dare?” tanya Key pada gadis itu.

“Hhm kalau Dare, hukumannya apa?” Soojung menatap Key dengan tatapan menyelidik. “Hmm entahlah. Kau mengambil undian Dare itu,” jawab Key seraya tangannya menunjukan beberapa gulungan kertas kecil yang berisi Dare. “Oke baiklah aku pilih Dare!” ujar Soojung terdengar menantang. Minho, Jonghyun dan Taemin hanya terkikik geli menikmati permainan yang semakin seru. ”Ambil satu gulungan kertas kecil itu Nona Jung, lalu berikan padaku,” jelas Key padanya lalu dengan cepat Soojung memilih segulung kertas kecil itu dan berharap hukumannya tidak terlalu buruk.

 

“Ehem, baiklah aku bacakan Dare untuk Nona Soojung,” Key memulai membacakan Dare dan Soojung menatap Key dengan tatapan memohon ‘please jangan yang aneh-aneh’ mungkin itu maksud tatapannya.

“Sepertinya sedikit rumit di Dare ini, jadi di sini tertulis apabila yang mendapatkan Dare ini seorang namja maka ia harus melalukan 5hours date dengan seorang gadis yang ia temui dan di ciumnya tadi dan apabila yang mendapatkan Dare ini adalah seorang gadis maka ia harus melakukan 5hours date dengan seorang namja yang ia kenali dan namja itu harus sepenuhnya mengatur atau menghukum gadis itu sesuka hati. Di sini disebutkan apa saja yang harus dilakukan oleh pasangan 5 hours date ini.” ucap Key seraya menarik napas panjang. Terlihat Soojung membulatkan matanya heran dan panik pun mulai melandanya.

“Pertama, mengunjungi Lotte World dengan berjalan kaki.” Soojung pun terbelalak dan memekik, “Apa?! Jalan kaki?!”

“Kedua, menaiki arum jeram.” Ia terlihat biasa saja mendengar kata arum jeram karena ia sudah terbiasa.

“Ketiga, masuk ke rumah hantu.” Ia pun kembali terbelalak dan berteriak, “YAA!!! Permainan macam apa ini!!”

“Keempat, menaiki bianglala.” Soojung mendesah lega, “Akhirnya tidak yang aneh.”

“Yappp Nona Soojung, semuanya sudah selesai aku bacakan. Hmm, jadi siapa namja yang kau pilih?” Key bertanya serius seraya matanya menyeledik gadis itu – penasaran.

“Kim Jongin! Karena hanya dia yang aku kenal,” ucapnya lantang seraya menunjuk Taemin yang berada di sebelahnya.

Taemin tersenyum menyeringai, dalam hatinya ia terkekeh geli. “Okay, baiklah Nona Jung.”

“Kalian siap?!!” tanya Jonghyun semangat.

“Okay kami siap!!” teriak Soojung dan Taemin bersamaan seraya tangan mereka terangkat ke atas.

 

***

 

Taemin menarik paksa Soojung yang melangkah jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan dirinya. Soojung sudah mulai terengah-engah, terlebih – ia harus menyesuaikan langkahnya dengan Taemin – padahal mereka baru berjalan kira-kira setengah jam dari rumahnya dan harus menempuh kira-kira setengah jam lebih lagi untuk sampai di Lotte World.

“Jongin-ah, berhenti dulu sebentar. Aku lelah…” Soojung berhenti di tepi jalan seraya tubuhnya menunduk, tangannya memegang lututnya  dan mengatur napasnya yang terengah.

Taemin mendengus pasrah mendengar ucapan gadis itu. “Okay baiklah, aku beri waktu 2menit.”

 

2Menit…….

 

“Ayooo, Soojung-ah. Nanti kita akan mendapatkan hukuman bila tidak sampai ke sana secepat mungkin,” ujarnya seraya menarik tangan Soojung lagi.

 

Ya. Apabila mereka tidak sampai di Lotte world tepat waktu, maka Minho – yang sudah ditugaskan untuk mengawasi mereka – akan memberikan hukuman yang sangat kejam untuk mereka.

 

Soojung menatap lirih Taemin yang masih menguncangkan tubuhnya. “Tidak bisakah kau diam, Jongin-ah! aku benar-benar lelah.”   Ia benar-benar sudah tidak ada tenaga karena memang hari ini ia baru memakan setangkup roti tawar berselai coklat dan lagi – tadi ia harus beradu dance dengan Jongin. Terlebih ia tidak diberikan minuman atau makanan pun tadi selagi di rumah namja itu.

 

“Baiklah, naiklah ke atas punggungku.”  Taemin menunduk agak sedikit berjongkok seraya menarik tangan gadis itu untuk melingkarkan di lehernya.

Soojung terkaget, namun ia hanya bisa diam dan menurut apa kata namja itu. “Terima kasih Jongin-ah.” ucapnya lirih namun masih terdengar di telinga Taemin.

 

***

Akhirnya mereka pun sampai di depan pintu utama Lotte word dan Minho pun sudah berada di sana – memegang dua tiket untuk Soojung dan Taemin tentunya.

“WAH! Kalian berhasil sampai di sini tepat waktu! Selamat!” Soojung tersenyum simpul atas ucapan selamat yang diberikan Minho – sedangkan Taemin? Ia mengatur napasnya yang terengah-engah setelah menggendong gadis itu di punggungnya.

Taemin mengambil paksa tiket yang dipegang Minho, “Sini biar aku yang memegangnya. Bukannya ia atas kendaliku bukan?”

Soojung menatap tajam Jongin,”kenapa ia sepertinya berubah ya?” pikirnya dalam hati. Namun tidak digubrisnya pikiran itu dan kembali mengulas senyum. “Baiklah. Tidak masalah. Ayo Jongin-ah, kita akan memulai permainan di sini!” ia merangkul bahu Jongin.  Seketika Taemin tersentak dengan sikap gadis itu namun ia kemudian tersenyum seraya tangannya juga merangkul bahu Soojung.

 

“Selamat bersenang-senang!” teriak Minho kepada mereka yang mulai menjauh dari pandangannya.

 

 

Soojung memegang sebuah keras tentang Dare yang diterimanya beserta peraturannya.

“Jadi selanjutnya adalah arum jeram,” ujar Soojung seraya menatap Jongin.

“Lalu di kertas itu tertera peraturan apa?” Jongin menatap kembali gadis itu dengan tatapan menyelidik.

Soojung mengendikkan bahunya, “tidak ada. Okay baiklah. Kajja Jongin-ah!!” serunya bersemangat.

Taemin pun meresponnya dengan tersenyum lebar seraya menggenggam tangan Soojung – erat dan mereka pun memasuki wahana arum jeram.

Sekarang saatnya mereka naik diatas sebuah perahu yang sudah dirancang khusus untuk wahana arum jeram itu. Taemin naik ke atas perahu terlebih dulu selanjutnya diikuti oleh Soojung yang dibantu oleh sebelah tangan Taemin yang menggenggam tangannya.

 

“Apakah kalian sudah siap?” petugas pun bersiap menekan tombol otomatis untuk menjalankan perahu.

“Ready!!” teriak mereka bersamaan dan 1…2…3…. perahu mereka pun bergerak seiring arus yang mengalir masih dalam keadaan stabil namun semakin lama semakin cepat dan cipratan air pun mulai menyentuh permukaan kulit dan wajah mereka. Hingga pada satu titik perahu mereka akan terjun.

“Jongin-ah lihat di sana! Sebentar lagi kita akan meluncur! Bersiap!“ mereka pun saling memandang satu sama lain seraya tersenyum dan akhirnya mereka berteriak bersamaan.

“Yeaaah!!! Yuhuuuuuu!!!!”

 

Mereka pun menarik napas panjang setelah terjun kecil yang pertama mereka lalui dari rute arum jeram itu. Arus pun kembali normal dan sedikit demi sedikit mereka merasakaan – medan yang mereka lalui begitu berkelok dan beberapa batu-batuan pun mengguncangkan perahu mereka dan tanpa sepengetahuan mereka yang sedari tadi tertawa menikmati rute arum jeram – hingga akhirnya mereka tidak melihat ada air terjun yang lebih menantang dari sebelumnya. Refleks Soojung memegang tangan Taemin yang tidak menyadarinya.

“Yeaaaaaah!!!” teriak mereka lagi seraya tertawa senang.

“Hahahaha ini sangat seru Soojung-ah!” seru Taemin yang masih terkekeh.

“Iyaaa! Ini sungguh menyenangkan! Apalagi bersamamu Jongin-ah!”  serunya mengulas senyum senang di wajahnya. Taemin mendengar ucapan Soojung seraya tersenyum tipis.

 

Akhirnya rute arum jeram mereka telah berakhir. Raut wajah mereka pun terlihat sangat senang. Mereka keluar dari perahu saling menggenggam tangan seraya masih terbawa suasana lucu dan menyenangkan di dalam perahu tadi.

“Kau tidak lihat wajahmu Soojung-ah ketika perahu itu meluncur? Wajahmu sangat-sangat lucu!! Hahaha.” tawa Taemin pun memecah seraya tangan kirinya mencubit gemas pipi gadis itu dan tangan kanannya masih menggenggam tangan Soojung.

“Aishh, tanganmu usil sekali Jongin-ah!” pekik Soojung lalu sedetik kemudian ia sadar kalau tangannya menggenggam tangan Taemin. “Maaf Jongin-ah,” ujarnya seraya melepas tangannya dari genggaman tangan Taemin.

“Its okay, no problem Ms Jung.” Taemin mengulas senyum pada gadis itu. “Lalu selanjutnya apa?”

Soojung membuka lembaran Dare dan membaca apa yang harus mereka lakukan setelah arum jeram. “Ghost house! Rumah hantu Jongin-ah!” pekiknya menatap Taemin dengan pandangan ‘Oh God kenapa harus rumah hantu’

“Kau berani masuk ke rumah hantu, hhm?” tanya Taemin menyelidik seraya terkekeh dalam hati.

Soojung menggeleng cepat seraya menundukkan wajahnya, “Tidak. Aku tidak mau masuk ke rumah hantu.”

“Lalu apakah ada peraturan yang tertera di lembaran Dare itu?”

“Di sini tertulis, jika tidak masuk ke rumah hantu maka hukumannya adalah mengakui namja yang terlibat dalam permainan Dare ini di depan banyak orang sebagai kekasih  dan menggunakan pengeras suara lalu – “ Ucapnya terhenti dan seketika matanya membulat, “yaa!! peraturan macam apa ini!” pekik Soojung.

Taemin merebut paksa lembaran peraturan Dare itu. Matanya mengernyit ketika membaca peraturan yang tertera dan seketika ia tertawa terbahak-bahak, “HAHAHAHA.”

“YA! Jongin-ah itu tidak lucu!” Soojung menatap tajam Taemin seraya tangannya dilipat di depan dadanya dan mendengus kesal.

Taemin tersenyum menyeringai sembari menatap tajam gadis itu, “Jadi apa pilihanmu Nona Soojung? Memasuki rumah hantu atau melakukan peraturan itu?”

Terlihat raut wajah panik gadis itu. Ia berpikir keras seraya memegang pelipisnya yang sedikit berdenyut karena kegilaan permainan itu. Bagaimana pun juga hantu adalah makhluk yang paling ia takuti dan memasuki rumah hantu sama saja membunuh dirinya secara tragis namun jika ia tidak melakukan hal itu maka ia harus menuruti peraturan yang sangat gila itu.” Sungguh peraturan itu sangat gila,” pikirnya dalam hati ketika mengingat kalimat terakhir yang tidak ia bacakan karena memang kalimat trakhir itu adalah peraturan yang memang sangat gila. Ia berdecak frustasi seraya mengacak rambutnya. Taemin hanya berdiri disampingnya, menunggu jawaban yang dilontarkan gadis itu.

“Nona Jung?” setelah menunggu beberapa menit Taemin menegur Soojung yang belum menemukan titik temu jawaban yang paling tepat untuk pilihannya.

“Ya, sabar sedikit Jongin-ah!” decak Soojung menatap tajam namja yang berada di sampingnya.

“Baiklah, aku beri waktu 1 menit.”

 

1menit….

“1 menit sudah berlalu Nona Jung, ayolah lebih dipercepat sedikit permainan ini!” dengus Taemin kesal karena menunggu jawaban Soojung yang sangat lama menurutnya.

“Okay, aku memilih masuk ke rumah hantu!” jawab gadis itu tegas.

Taemin terkekeh geli seraya tersenyum menyeringai mendengar jawaban yang begitu yakin dilontarkan oleh mulut Soojung. “Okay, baiklah. Ayo kita masuk!!” ia menarik tangan Soojung dengan cepat.

Soojung mengikuti langkah Taemin dengan gontai dan merutuki nasibnya sendiri.

 

Akhirnya sampailah mereka di depan pintu utama rumah hantu yang begitu megah di mata Soojung, dan tentunya sangat menyeramkan. Di depan pintu itu terpasangsarang laba-laba dan beberapa kelalawar pun berterbangan – entah itu kelalawar asli atau bukan yang jelas itu sangat menakutkan baginya. Di sebelah kiri pintu utama juga terpajang anak kecil yang wajahnya pucat pasi dengan pandangan kosong dan rambut yang lusuh yang membawa boneka dan sesekali menatap Soojung yang membuatnya seketika berjengit memegang lengan Taemin dengan kedua tangannya. Di sebelah kanan pintu utama rumah hantu itu juga terpajang drakula yang sedang tersenyum menampakkan gigi taringnya yang panjang seraya menyeringai ke arah Soojung. Ia semakin mengeratkan tangannya pada lengan Taemin karena ketakutan. “AAA… aku takut Jongin-ah.”

Taemin terkekeh geli dalam hati melihat ekspresi wajah Soojung ketika ketakutan, namun ia berusaha menenangkan gadis itu. “Sudahlah, kalau kau takut lebih baik tidak usah masuk ke rumah hantu.”

“Aku akan masuk. Aku yakin Jongin-ah,” ucap Soojung dengan bibirnya sedikit bergetar. Keringat dingin pun mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Taemin pun merasakan tangan Soojung yang mulai dingin.

Mereka pun melangkah perlahan memasuki rumah hantu. Soojung pun menutup matanya tapi seketika suara keras yang menyeramkan tiba-tiba mengagetkannya dan baru beberapa langkah mereka memasuki rumah hantu – dikagetkan dengan hantu jepang yang amat sangat seram. Sontak Soojung berteriak sekencang-kenjangnya ketika hantu itu tepat dihadapannya dan memegang tangannya. “AAAAA!!!” ia segera berbaik arah dan berlari keluar melalui pintu masuk utama seraya menarik tangan Taemin.

“Hahhh!! Baiklah aku menyerah Jongin-ah!” ucapnya pasrah.

“Baiklah, berarti kau harus mematuhi peraturan itu Nona Jung.” Taemin tersenyum menyeringai lalu menggenggam tangan gadis itu seraya menariknya ke tempat yang  ramai.

Soojung hanya mendengus pasrah. Ia mengutuk dirinya sendiri. “Kenapa aku mengikuti permainan Truth or Dare yang sangat gila ini?” desisinya dalam hati.

 

 

Soojung sudah bersiap-siap di depan pengunjung yang telah dikumpulkan oleh Taemin. Pengunjung yang dikumpulkan pun adalah remaja yang sedang berlibur dengan kekasihnya atau sahabatnya – karena Taemin tahu kalau tontonan ini tidak baik dilihat oleh anak kecil.

Kini gadis itu dan Taemin berdiri di sebuah panggung kecil yang mungkin secara kebetulan dipersiapkan untuk mereka berdua. Ini benar-benar diluar dugaan Soojung karena harus berdiri di atas panggung. Mike pun telah dipegangnya dan sekarang ia sungguh harus mengucapkan apa yang diperintahkan dalam peraturan itu. “Baiklah. Annyeonghaseo semuanya. Sebelumnya saya minta maaf kepada pengunjung karena telah mengurangi waktu kalian di sini,” ujarnya seraya menarik napas panjang.

Pengunjung pun mendengarkan dengan seksama dan menatap kedua manusia yang berada di atas panggung kecil – Soojung dan Taemin – dengan tatapan menyelidik.

“Okay. Saya akan to the point. Jadi namja yang ada di sebelah saya adalah namjachingu saya. Namanya adalah Kim Jongin.” Soojung mengucapkan dengan lantang namun dengan ekspresi yang sangat datar.

Pengunjung yang telah dikumpulkan pun bingung dengan apa yang diucapkan Soojung dan tidak percaya akan pengakuannya. “Apanya yang sepasang kekasih? Kalian terlihat biasa saja,” celetuk salah satu pengunjung yang membuat Soojung membulatkan matanya. Ia menarik napas panjang seraya memejamkan matanya dan sedetik kemudian ia menarik tangan Taemin. Mungkin sebentar lagi ia akan mematuhi peraturan yang  tidak diucapkannya tadi – yang membuat ia membulatkan matanya dan Taemin tertawa terbahak.

Suara gemuruh pengunjung yang seperti meminta tuntutan padanya untuk melakukan hal yang membuktikannya mempunyai status dengan namja itu pun semakin menyeruak ke dalam indra pendengarannya. “Ini mungkin adalah saatnya,”  desisnya pelan.

Dengan gerakan cepat ditariknya Taemin ke hadapannya, ia sedikit mensejajarkan tubuhnya dengan Taemin dan sedikit berjinjit.

Cup.

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir namja itu. Soojung mengecup singkat namja yang ada di hadapannya. Pipinya pun kini telah merona dan betapa kagetnya ia ketika tiba-tiba sebuah kecupan pun mendarat di pipinya yang sudah merona sehingga kini pipinya sungguh bersemu merah.

Taemin tersenyum ke arah gadis itu dan mata mereka pun saling bertemu. Soojung menatap Taemin yang ia kira Jongin itu – dengan tatapan teduh. Ia seperti mencari-cari tatapan mata Jongin yang sebelumnya pernah ia tatapnya sewaktu di taman, namun nihil. Ia merasakan tatapan itu begitu berbeda dengan tatapan Jongin – tatapan yang begitu lembut.

 

Pengunjung pun bersorak seraya bertepuk tangan. Bunyi siulan pun terdengar jelas di telinga mereka dan kemudian kemudian membungkuk hormat secara bersamaan seraya bergandengan tangan.

Akhirnya Soojung berhasil mengikuti peraturan itu. Peraturan yang sangat gila – yang tidak sanggup ia bacakan tadi dan membuatnya membulatkan matanya seraya memekik – yaitu mengecup bibir namja yang terlibat dalam permainannya di depan pengunjung.

 

***

 

Kini mereka berjalan beriringan – masih di dalam area Lotte World. Mereka pun mencari sebuah bangku untuk beristirahat. “Liihat di sana ada bangku Jongin-ah!” seru Soojung seraya menarik tangan Taemin dan menggenggamnya tanda sadar.

“Hfft, akhirnya…. aku bisa lolos dari permainan yang sangat gila itu,” desis Soojung pelan.

Taemin tidak menanggapi ucapan yang baru saja ia dengar, justru ia merasa permainan Dare ini sangat menyenangkan untuknya. Ia bangkit dari tempat duduknya serayaa tersenyum pada Soojung yang seketika mengernyitkan alisnya, “Tunggu di sini Nona Jung, aku akan membeli minuman.”

Soojung mengangguk dan kemudian ia mengecek ponselnya yang tak tersentuh olehnya sama sekali dari pagi. Disentuhnya layar Iphone miliknya dan membaca pesan singkat yang masuk beberapa jam yang lalu.

 

From Jessica Eonni

At 04.45 pm

 

Soojung-ah, kau sekarang dimana? Apakah kau bersenang-senang? Hahaha tentu saja kau pasti sedang bersenang-senang dengan kekasihmu itu. Ohyaa Soojung-ah, Eomma berpesan bahwa kau tidak boleh pulang terlalu malam. Arraseo? Hmm kalau begitu sampaikan salamku untuk kekasihmu itu yaa^^

 

Soojung terkekeh geli membaca pesan singkat dari kakaknya itu, lalu ia pun menyentuh Iphone-nya dengan lihainya untuk membalas pesan singkat itu.

 

“Aku sekarang ada di Lotte world Eonni-ya. Tentu! Aku ssedang bersenang-senang di sini dan aku ditemani oleh seorang namja yang baru aku kenal. Tapi Eonni tenang saja, ia orangnya baik kok. Ne, arraseo Eonni. Aku tidak akan pulang terlalu malam.

 

Ia menyentuh tuts enter untuk mengirimkan pesan singkatnya. Kemudian ia memasukan ponsel berlogo Apple itu ke dalam tasnya. Ia memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depannya sembari menunggu Taemin yang pergi untuk membeli minuman. Namun alisnya seketika mengernyitkan mendapati sosok yang begitu ia kenali dan memfokuskan matanya pada seseorang yang sedang membeli gulali – orang yang ia kenali itu. “Kim Jongin? Membeli gulali? Untuk apa? Bukankah ia tadi membeli minuman?” Soojung terlihat berpikir sejenak sehingga terlihat beberapa lipatan kerut pada keningnya.

 

Seseorang menahan dan memegang tangannya erat, membuat orang itu mau tidak mau menoleh kepada siapa yang menahan tangannya. Ia terbelalak ketika mendapati sosok yang ia kenali beberapa jam lalu sebelum ia ke Lotte untuk mengisi waktu liburnya di hari minggu, “Soojung?” ia terheran. Kenapa ia bisa bertemu dengan gadis itu di sini? Jika Jongin tahu kalau Soojung ingin ke Lotte world juga, bukankah mereka bisa bersama-sama menghabiskan waktu di hari minggu dan bersenang-senang? Pikiran-pikiran itu terus berputar dalam otaknya seraya menunggu jawaban dari Soojung yang tak kalah herannya tatkala melihat Jongin yang sedang membeli gulali.

 

“Jongin? Kenapa kau membeli gulali?” Soojung semakin heran, ia pun tersadar baju yang dipakai Jongin pun berbeda dengan baju yang dipakainya sebelumnya. “Bajumu warna hijau toska? Sejak kapan kau berganti pakaian itu Jongin-ah? Kau tadi memakai baju warna biru tua kan?” Ia semakin menatap Jongin dengan tatapan menyelidik.

 

Jongin semakin mngernyitkan alisnya, bagaimana bisa Soojung mengira baju yang ia pakai sebelumnya berwarna biru tua, toh baju yang dipakai Jongin tetap berwarna hijau toska sejak tadi – bahkan sejak ia bertemu dengan Soojung.

Mereka pun saling memandang mencari sebuah penjelasan atau jawaban atas keheranan mereka dan bergulat dengan pemikirannya masing-masing.

 

Tangan Soojung diraih oleh seseorang dan menariknya untuk berhadapan dengannya, “Soojung-ah, aku mencarimu di kursi itu. Ini minumannya.” Ujar seseorang yang memang dari tadi bersamanya.

Soojung membelalakan matanya, “Kenapa kedua orang ini begitu mirip? Lantas mana Jongin yang sesungguhnya? Dan orang yang sedari tadi bersamaku siapa?” pikirnya dalam benak.

Ia menghempaskan tangan yang menariknya dan menatap lekat-lekat orang itu, mencari jawaban atas keheranan yang ia rasakan. “Kau?” ia masih menatap orang itu, lalu beralih menatap Jongin yang masih memegang gulalinya dan terpaku menatap orang yang memang benar-benar mirip dengannya yaitu Lee Taemin – sepupunya sejak kecil. Seharusnya ia biasa saja kalau bertemu dengan Taemin saat ini, tapi yang membuat Jongin heran adalah kenapa ia bisa bertemu dengan gadis yang bernama Jung Soojung juga.

“Kau kenapa mirip sekali dengan Jongin? Jadi yang mana Jongin yang asli?” Soojung menatap kedua namja itu dengan tatapan tajam. Ya. Soojung merasa dirinya telah dibohongi.

“Aku adalah Kim Jongin,” ujar Jongin menatap gadis itu dengan yakin sedangkan Taemin hanya tersenyum megiyakan.

“Lalu kau siapa?” jari telunjuk Soojung kini menunjuk orang yang sejak tadi bersamanya, melewati setiap jam hari minggu ini dengan penuh canda dan tawa walaupun mereka harus mengikuti permainan Dare itu, bahkan candaan dan kebersamaan mereka berujung pada sesuatu yang membuat Soojung merasa nyaman didekatnya.

“Aku, Lee Taemin. Maaf karena aku telah berbohong atas identitasku sendiri, karena kau yang mengiraku Jongin jadi yaa aku mengiyakan saja,” ucap Taemin santai.

 

Soojung mengepal tangannya, menahan emosi yang akan membuncah. Bagaimana bisa ia dipermainkan dengan permainan Dare yang begitu konyol dan lagi ia harus menanggung kenyataan bahwa ia telah jatuh dalam pesona orang yang selama setengah hari ini dianggapnya Jongin itu adalah Lee Taemin, bukan Kim Jongin – orang yang ia kenal saat di taman.

“Kau?!!”

Soojung berlalu begitu saja meninggalkan Taemin yang masih terpaku dan menatap heran Soojung yang mulai menghilang dari pandangannya. Sedangkan Jongin mengejar Soojung dan akan menjelaskan secara detail pada gadis itu.

 

 

Soojung telah mendengar semua penjelasan dari Jongin. Ia menghela napas panjang, ternyata di dunia ini banyak orang yang wajahnya sangat mirip. Tapi wajar kalau Jongin dan Taemin memang mirip karena mereka sepupu sedarah.

“Terima kasih Jongin-ah, kau sudah menjelaskannya padaku.” Soojung berterimakasih pada Jongin seraya menyunggingkan senyuman.

 

Jongin tersenyum lega karena ia berhasil meredam amarah Soojung. ”Kau masih mengikuti permainan Dare itu kan Soojung-ah?” tanyanya pada Soojung yang tadi ia juga menceritakan pertemuannya dengan Taemin karena permainan gila itu.

 

“Ne, masih ada satu Dare lagi yang aku harus lakukan. Hmm tapi dimana Taemin? Aku harus melakukan Dare ini selalu dengannya.”

“Hahaha ikuti kata hatimu Soojung-ah, aku yakin kau pasti menemukannya. Aku yakin itu.” Ucap Jongin dengan semangat.

Soojung mengernyitkan alisnya, menatap heran Jongin. “Kenapa kau yakin sekali?”

“Karena kau menyukainya kan Nona Jung?” Jongin tersenyum menampakkan smirknya yang khas. Namun smirk itu hanya dibalas dengan wajah Soojung yang semakin heran dengan kata-kata Jongin. Ia akhirnya berlalu dari Jongin seraya melambaikan tangan dan kembali melanjutkan Dare terakhirnya. Ia terus mencari Taemin yang menjadi partner Darenya sejak tadi, namun sosoknya tak kunjung ia temukan. Ia menghela napas panjang karena sudah mengelilingi Lotte world yang begitu luas. Ada sedikit rasa menyesal karena ia harus meninggalkan Taemin saat emosinya sedang membuncah dan sekarang namja itu tak dapat ditemukan lagi.

Ia berjalan gontai sembari wajahnya tertunduk, ia terlihat tidak bersemangat menuju bianglala – Dare terakhirnya yang harus ia lakukan dengan Taemin – namun keadaan pun berbeda.

Ia menaiki salah satu tempat duduk yang masih kosong dari bianglala yang akan membawanya mengelilingi lingkaran  dan mencapai puncak lingkaran yang paling tinggi. Ia tidak menghiraukan orang yang berada disebelahnya, toh orang itu bukan Lee Taemin kan?

Ketika bianglala mulai terangkat ke atas Soojung menoleh ke arah orang yang duduk di sebelahnya dan ia dikagetkan dengan orang yang sedari tadi ia cari. “Lee Taemin?” pekiknya keras.

Taemin menoleh seraya tersenyum pada gadis itu, “Kau tidak mengenaliku, hhm? Dasar!”

“Miahae, aku tadi meninggalkanmu.”

“Tidak perlu meminta maaf justru aku yang harus minta maaf padamu, maafkan aku Soojung-ah.”

Taemin mentap lekat mata Soojung yang indah bagaikan kristal. “kristal,” desisnya pelan.

“Kristal?” Soojung mengernyit heran karena tatapan Taemin padanya yang sangat berbeda. “Matamu indah seperti kristal, nona Jung.” Ujar Taemin seraya tersenyum pada gadis itu yang mungkin pipinya mulai bersemu memerah.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu, Krystal?”

“Krystal? Tidak terlalu berlebihankah?”  Tanya Soojung menatap heran Taemin.

“Tentu saja tidak Jung Krystal. Kau sama seperti Kristal-kristal yang begitu mempesona dengan keindahan sinarnya.” Jawab Taemin menjelaskan.

“Benarkah?” pipi Soojung mungkin semakin bersemu.

“Tentu, karena aku terpesona denganmu Nona Krystal.”

Blush!

Ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Lee Taemin membuat pipinya mungkin sudah semerah tomat dan ia tertunduk karena tersipu.

Taemin hanya terkikik geli melihat ekspresi wajah Soojung, ia tahu kalau ucapannya itu berhasil membuat Soojung tersipu malu.

 

 

Akhirnya bianglala pun berhenti berputar dan itu tandanya mereka harus turun dan Soojung menarik napas panjang karena Dare yang sangat gila ini telah berakhir.

Minho, Key, Onew, dan Jonghyun ternyata sudah menunggu mereka dan satu persatu dari mereka memberikan selamat pada Soojung.

“Selamaat Soojung-ssi kau telah sukses melakukan Dare ini!!”  seru Minho dan diikuti dengan suara sorak sorai.

 

Soojung tersenyum lebar kepada semuanya termasuk tersenyum pada Taemin yang telah menjadi partnernya. Ia merasa hari ini sungguh menjadi hari minggu yang paling menyenangkan untuknya karena bertemu dengan dua orang namja yang sangat mengisi hari minggunya menjadi lebih menyenangkan daripada minggu-minggu sebelumnya.

“Yeaay, akhirnyaa!!!” seru Soojung senang seraya tangannya diangkat ke atas.

“Okay kalau aku pulang dulu yaa. Terima kasih atas hari permainan yang begitu gila ini!” serunya lagi seraya berjalan meninggalkan mereka dan melambaikan tangan.

 

Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di hadapan gadis itu, menyuruhnya untuk naik ke atas motor, “Naiklah, kau pasti tidak mau pulang jalan kaki lagi kan?” ucapnya seraya memberikan helm pada Soojung.

“Taemin?!” pekiknya heran karena baru saja ia meninggalkan Taemin bersama teman-temannya dan sekarang ia melihatnya lagi dan disuruhnya untuk naik ke motor sportnya.

Taemin hanya tersenyum. Lalu setelah Soojung naik ke motor sport itu, ia langsung melesat ke arah rumah Soojung.

 

 

 

“Terima kasih, Taemin-ssi karena telah mengantarkanku. Ohyaa terima kasih atas hari minggu yang sangat menyenangkan ini.” ujar Soojung tersenyum seraya memberika helm itu pada Teamin ketika ia telah sampai di depan pintu pagar rumahnya.

“Kembali kasih Nona Krystal, aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu dan mendapatkan sebuah…..Ah! sudahlah, selamat beristirahat Nona Krystal.” Taemin tersenyum sebelum ia menjalankan motornya kembali untuk pulang ke rumahnya.

Soojung pun melambaikan tangan ke arah Taemin yang mulai menjauh dari rumahnya.

 

Soojung pun tersenyum dan bergumam pada dirinya sendiri seraya menutup pintu pagar rumah, “Hari minggu yang sangat menyenangkan, bertemu dengan dua orang namja yang wajahnya sangat mirip dan keduanya sangat tampan, Kim Jongin dan Lee Taemin.”

 

END

 

A/N : Mohon tinggalkan komentar sebagai tanggapan dan apresiasi kalian terhadap fanfiction ini. semoga terhibur! Kunjungi juga blog saya di suciramadhaniyworld.wordpress.com Terima kasih /deepbow/

4 thoughts on “Fun Day Sunday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s