Macabre (1st)

Macabre

– I –

“The Vendetta Masked Boy”

Staring by

Kai – Kim Jong In | Nora – Jung Krystal

PG15 | Series | Fantasy, Romance, Thriller, Memories

Macabre

A/N

Hanya sebuah cerita sederhana dari penulis amatir

Prolog 

Entah masa lalu yang bagaimana yang membayanginya. Ia hanya ingin meneruskan hidupnya masa kini untuk masa depannya. Dan meneruskan hidup berarti, dirinya harus percaya pada sang lelaki pembawa pesan kematian serta ‘Nora’

Tafunazasso’s Storyline

.

.

.

“Oh. Oh. Kau memungut benda dari jalanan lagi?”

Terlalu sibuk untuk meletakan gadis di dalam rengkuhannya, pria bertopeng Vendetta yang baru saja berjalan masuk dengan seluruh tubuh basah kuyup tersebut, memilih untuk tak menjawab pertanyaan yang baru saja dilayangkan oleh sosok lelaki jenjang yang menunggunya di depan pintu.

Lelaki itu dengan tergesa melepaskan topeng putih pucatnya kasar dan menatap tajam ke arah sosok tampan yang masih berdiri di ambang pintu.

Sosok jenjang tersebut terpaku ketika menemukan betapa tajam tatapan dari mata kelam itu dilayangkan untuknya. Dia lalu tersenyum seperti biasanya, terlalu picik dan angkuh. “Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu dan barang temuanmu itu.” Ia kemudian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah meskipun senyuman picik yang sama masih melekat di wajah tampannya. 

“Dimana Baekhyun?”

Langkah si pria jenjang terhenti dan senyuman piciknya semakin melebar seakan mencapai telinganya ketika ia berbalik dan menemukan lelaki yang tengah basah kuyup di depannya masih menatapnya begitu waspada. “Kurasa dia masih di lantai dua. Kau mau memanggilnya? Pergilah. Biar aku yang menjaga barang temuanmu itu di sini.”

Dalam sekali hentakan dan hitungan detik, lelaki berkulit gelap tersebut sudah berdiri di depan tubuh jenjangnya dengan jari-jemari dingin yang mencengkram erat leher milik pria di ambang pintu. “Panggilkan Baekhyun.”

Senyum picik dan dengusan geli menerpa wajah tampan sang pria yang terlihat begitu kalut. “Baiklah. Baiklah. Aku akan memanggilnya. Jangan berlebihan, dia tidak akan mati hanya karena kedinginan ditimpa hujan.” Cengkraman di lehernya terlepas begitu saja ketika lelaki jenjang itu mendorong perlahan bahu milik lelaki yang mencengkramnya.

Namun, lelaki jenjang itu justru dengan ringan melangkah menjauhi pintu dan memasuki ruangan lebih dalam. Langkah-langkah itu terhenti tepat di sebelah ranjang dengan kain putih, tempat dimana seorang gadis dengan keadaan tubuh basah sempurna serta berbagai memar di bagian tubuhnya. Saat itu, lelaki jenjang tersebut tersenyum miris menatap tubuh kurus yang terbaring di sana. “Menyedihkan,” gumamnya.

“Lee Taemin.” Kemudian untuk kedua kalinya, leher lelaki itu dicengkram kasar dari arah belakang. Hingga pukulan membabi buta diarahkan padanya tanpa sempat ia tangkis sehingga mengenai beberapa bagian tubuhnya dan semua berakhir ketika pukulan terakhir mengenai pipi kirinya dengan hasil debaman cukup kuat di lantai. Dia jatuh terduduk namun senyuman picik yang sama masih menghiasi wajahnya ketika melihat wajah kalut lawan bicaranya yang tampak begitu menggelikan.

Dia lalu berdiri dan dengan ringan menepuk pundak lelaki itu. Dengan perlahan ia menyandarkan dagunya di bahu lelaki itu dan membisikan, “Apa yang kau takutkan, Kai? Kau takut dia akan melihatku, begitu?”

Lelaki itu, Kai, terdiam dengan rahang mengeras sempurna. “Lee Taemin…” Dia mulai merasa jengah dengan semua ini. Darahnya sudah berdesir cukup cepat ketika lelaki di depannya ini dengan ringan berjalan mendekati gadis itu, tubuhnya sudah lelah tertimpa air hujan ditambah ketika ia berlari seperti kesetanan sambil membawa gadis tersebut di dalam rengkuhannya, ia lelah, ia tak sanggup untuk melawan.

“Kau takut dengan keberadaanku? Kau yang sempurna…takut kepadaku?” Lee Taemin mendengus geli.

Dengan sisa kekuatannya, Kai menghentakan tubuh lelaki di depannya. “Panggilkan Baekhyun sekarang. Kita akan menyelesaikan ini semua nanti, mengerti?” Tatapan tajam itu masih menempel di wajahnya ketika Lee Taemin melangkah mundur dengan salah satu alis diangkat seakan menantang.

Dan kini, setelah lelaki itu menghilang dari pandangannya, Kai merasakan betapa lututnya melemas hingga ia berlutut di atas lantai. Namun, tatapan matanya tak beralih barang sedetik pun dari tubuh yang tertidur di sana.

Tubuh itu, kini terlihat kurus dan menyedihkan. Raut wajah tidur gadis itu pun terasa begitu menyakitkan, tak ada ketentraman di dalamnya seakan hanya ada mimpi buruk di dalam tidurnya.

Ia lalu bergerak mendekati tubuh gadis itu dan menunduk untuk menilik lebih dalam wajah yang tertidur tersebut. Dengan perlahan, ia menyentuh jari-jemari gadis itu dan merasakan bagaimana jantungnya berdetak, ia merasakan hidup ketika menyentuh gadis itu, hidup yang ia rindukan. Lapisan bibirnya lalu menyentuh perlahan punggung tangan mungil tersebut.

“Demi Tuhan. Layaknya seorang ksatria pada puterinya, seorang budak pada nonanya, seorang bayangan kepada kenyataannya…aku akan melindungimu.”

Senyuman itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kembali mengalir dengan hangat di bibirnya.

Namun seiring dengan kesadaran dirinya yang kian meningkat dan tangannya  yang terus bergetar ketika menyentuh tubuh rapuh itu, ia memilih melepas tubuh itu dari genggamannya lalu  menggenggam topeng pucatnya dan mengenakan kembali topeng itu, menutupi wajahnya, menutupi senyuman langkanya.

Melangkah pergi menjauh, memilih untuk mengunci ruangan itu dan kembali dalam beberapa menit setelah mengatur kembali perasaannya yang berkecamuk.

.

.

.

Bau kayu manis dan daun cemara segar langsung menusuk tepat menuju indera penciumannya. Suara dentingan perlahan tuts-tuts piano juga sesegera mungkin menyambut telinganya ketika kelopak matanya terbuka perlahan dan menampakan iris coklat gelap yang begitu memukau. Mata kucingnya tampak bercahaya diterpa sinar rembulan yang tersirat mungil dari atap beton berlubang yang menyelimuti bangunan atau lebih tepatnya rumah tua tersebut.

Namun, ini bukanlah saatnya untuk menikmati suara dentingan piano ataupun bebauan menyenangkan yang menghampirinya. Ia sudah cukup panik ketika menemukan separuh badannya lumpuh, menyisakan bagian mata yang masih bisa berkedip sempurna serta hidung yang masih bisa menghirup, selain itu, semua bagian tubuhnya terasa mati.

Lapisan merah bibirnya pun terasa begitu kaku hingga tak sanggup sekedar berbisik untuk memastikan kepada dirinya sendiri bahwa ia masih hidup.

Jika dipikir sangat menyedihkan karena bahkan untuk meyakinkan diri jikalau masih ada nyawa yang berkutat di dalam raganya, ia tak mampu.

Namun jika saja ia bisa mengetahui keberadaan nyawanya, apakah ia akan bahagia? Karena kenyataannya adalah ia akan lebih memilih untuk mati dibandingkan dengan merasakan kehidupan tanpa memiliki ingatan bahkan sekedar namanya sendiri. Hidup tanpa ingatan jauh lebih konyol dan menyedihkan.

Bola matanya bergerak-gerak ke kiri dan kanan untuk mencari asal suara piano yang sedari tadi didengarnya. Hingga kemudian mata kucingnya membesar perlahan ketika menemukan sebuah kotak musik kecil tergeletak begitu saja di sebelah telinga kanannya. Sebuah kotak mungil yang tutupnya terbuka dan menampakan sepasang boneka plastik kecil menari-nari di atas sana.

Berputar. Berdekatan. Berputar lagi. Hingga kemudian kedua boneka yang sebelumnya terpisah itu menyatu seakan ada magnet yang menarik keduanya hingga berdekatan.

Salah satu boneka tersebut memakai tuxedo berwarna abu-abu, celana hitam dan berambut begitu gelap. Kulitnya yang tersembunyi di balik pakaian formal tersebut tampaknya berwarna coklat gelap, terlihat dari warna punggung tangan yang tidak ditimpa oleh pakaian dan dapat ia lihat sebuah jam saku berwarna keemasang mengkilat bergantung di saku tuxedo milik boneka itu.

Boneka yang lain memakai gaun abu-abu panjang hingga menyentuh lantai dansa di dalam kotak musik, rambutnya coklat bergelombang mencapai pinggang dengan hiasan mahkota bersinar di puncak kepalanya hingga diakhiri oleh sepatu perak bersinar di ujung kakinya.

Dari jarak sedekat ini, ia bisa menyadari betapa teliti seseorang yang rela menghabiskan waktu untuk membuat sepasang boneka plastik dengan detail yang sangat indah. Dari pakaian hingga sepatu sepasang boneka tersebut terlihat begitu manis.

Begitu juga dengan topeng yang dikenakan boneka-boneka penari tersebut. Topeng putih pucat bergambarkan Vendetta untuk si Pria Tuxedo dan Topeng kupu-kupu berwarna biru pucat untuk si Gadis Gaun. Begitu indah.

Dan kemudian, ia tidak menyadari ketika setetes air mata beningnya muncul dari ujung matanya, mengalir perlahan melewati tulang pipinya hingga terjatuh di sisi kepalanya, membasahi kain putih yang menyelimuti tempat tidur yang ia gunakan.

Entahlah. Ketika ia menyadari dirinya tengah menangis, ia benar-benar tak mengetahui penyebabnya. Apakah ini karena rasa melankolisnya setelah menemukan dirinya sendirian, tersesat seperti orang tolol di sebuah tempat asing hingga saat ini, ataukah rasa takutnya pada kematian setelah merasakan kelumpuhan di badannya, ataukah karena rasa yang membuncah di dalam dadanya setelah mendengarkan dengan seksama betapa nada-nada dari dalam kotak musik tersebut begitu menyedihkan, seakan—ada perpisahan di dalam sana.

Baiklah, perasaannya saat ini begitu ambigu, hingga dirinya tak lagi dapat mengetahui perasaan mana yang lebih dominan di dalam dirinya.

Di saat air matanya terus menerus mengalir dan membasahi kain putih di bawah tubuhnya, isakan kecilnya terlalu menyibukan telinganya, hingga ia tak menyadari selangkah demi selangkah milik seseorang tengah mendekatinya, meninggalkan bunyi deritan halus di lantai kayu.

Gadis itu bahkan terlalu sibuk menangis daripada untuk menyadari bahwa kini di tubuhnya terpasang sebuah gaun abu-abu dan sepatu perak bersinar menggantung di sepasang kakinya. Begitu pula dengan keberadaan mahkota mungil di puncak kepalanya yang menghiasi rambut coklat terang bergelombang sepanjang pinggang miliknya, dan sebuah topeng kupu-kupu berwarna biru pucat yang menutupi sebagian wajahnya, semua itu benar-benar di luar kesadarannya.

Derit demi deritan kayu terasa semakin mendekat. Hingga sepasang kaki jenjang berdiri di sana, di sebelah tubuhnya yang masih terbaring kaku tak berdaya walaupun sang pemilik tubuh terus mengeluarkan air mata.

Mata gelap itu tersirat dari sepasang lubang di balik topeng putih pucatnya. Topeng berbentuk wajah dengan raut wajah misterius serta hiasan kumis yang begitu kelam. Tubuh lelaki itu tampak sempurna ketika dibalut oleh tuxedo berwarna abu-abu gelap serta celana hitam mengkilat. Bunyi detik demi detik terus terdengar dari jam saku keemasan di dalam saku tuxedo-nya menandakan sekian menit telah dirinya habiskan untuk berdiam di sana dan hanya menatap seorang gadis menangis begitu menyedihkan di depan matanya.

Hingga jam sakunya berbunyi nyaring, seperti biasa, menyanyikan nada-nada indah namun penuh dengan rasa kesepian.

Kemudian, nada-nada di dalam kotak musik dan jam saku tersebut seakan bersatu. Membentuk satu kesatuan utuh sebuah lagu yang seakan menyambut bagaimana merela saling bertatapan untuk pertama kalinya, meskipun dibalik sepasang lubang pada topeng-topeng itu, mata keduanya bertemu. Iris coklat gelap dan hitam kelam itu bertemu, saling menatap, seiring dengan lagu-lagu menyedihkan tersebut terus mengalir, dan mengalir…

Detik demi detik jam terus berdetak. Dan ketika suatu saat nanti jantung jam tersebut mati maka di saat itulah semua permainan kecil Tuhan di antara keduanya akan terselesaikan.

Namun jika jantung jam berhenti di saat yang tak tepat maka semua tetap tak akan ada gunanya. Karena itu berarti ada rahasia yang belum terungkap, juga ada rasa sakit yang belum disembuhkan.

Tetapi tetap saja, meskipun di saat yang tepat maupun tidak tepat, jika jantung jam berhenti berdetak di dunia ini maka itu berarti perpisahan yang menyakitkan telah menggapai keduanya. Tentu, baik untuk sang Nora maupun sang Pembawa Pesan Kematian, perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan.

 Jadi, lebih baik keduanya tetap diam dan membiarkan jam terus berdetak seakan membiarkan Tuhan terus mempermainkan keduanya di dalam permainan menyedihkan ini. Asalkan tak ada perpisahan di sana, asalkan tak akan ada rasa sakit, mereka akan membiarkan Tuhan terus mempermainkan keduanya.

Tanpa sadar, sang gadis membiarkan bagaimana tubuhnya melemah dan merasakan kehangatan di dalam pelukan pria asing ber-tuxedo. Begitu pula dengan si pria yang membiarkan lengan hangatnya membungkus tubuh kurus si gadis bergaun abu-abu.

Di sana. Tepat di samping keduanya. Sang kotak musik tetap terbuka dan menyanyikan nada indahnya sementara pasangannya, sang jam telah berhenti menyanyi beberapa detik lalu. Jangan lupakan bagaimana sepasang boneka penari yang terus berputar di atas sana. Menari perlahan dengan kaki-kaki kurusnya dan kemudian menyatu hingga berpisah, menari kembali

Seiring dengan nada-nada yang menceritakan kisah kecil yang pernah terjadi di sana, tentang sepasang boneka penari yang merupakan gambaran sepasang manusia yang tak akan sanggup untuk bersama hingga memilih untuk menjadi boneka mungil untuk tetap bersama.

Boneka wanita bergaun abu-abu dan si gadis amnesia pun mengenakan gaun yang sama.

Boneka lelaki ber-tuxedo abu-abu dan si lelaki pemakai jam pun mengenakan hal yang sama.

Dan, kisah kecil yang pernah terjadi dahulu, tentang perpisahan, rasa sakit, hingga akhir yang mengerikan…akankah semua akan terulang?

Nada-nada terus mengalir. Menelan keduanya dalam ketidakberdayaan dan ketidaktahuan mengenai perasaan yang berkecamuk di dalam tubuh keduanya.

Namun, sesungguhnya di dalam hati keduanya telah menyadari bahkan ketika kali pertama sepasang mata tersebut bertemu, keduanya telah menyadari, jika akan ada sebuah kisah yang menunggu mereka di depan sana, menunggu keduanya…dan tepat ketika tubuh keduanya menyatu dalam sebuah rengkuhan hangat, keduanya tersadar bahwa kisah yang akan mereka alami tak akan berakhir dalam sebuah pelukan hangat seperti saat ini…singkatnya, ini bukan sebuah kisah yang menyenangkan.

 “Aih. Kai! Bukankah kubilang untuk bertingkah seperti lelaki sejati? Apa kau pikir lelaki sejati akan memeluk sembarang perempuan?” Byun Baekhyun berdecak kesal sembari menghentakan kakinya di ambang pintu.

Lelaki mungil itu mengerutkan bibirnya dan menghela napas panjang sambil terus berdecak ringan seiring kakinya terus melangkah mendekati lelaki bertopeng Vendetta yang masih terpaku memeluk tubuh sang gadis.

“Jangan membuat malu!” Baekhyun dengan segenap kekuatannya menarik sebelah pundak lelaki bertopeng Vendetta tersebut hingga tubuh yang jauh lebih tinggi darinya itu bergerak mundur dan melepaskan pelukannya. “Oh, kau membuat tamu manis kita ini ketakutan.” Dengan mata bulat besarnya, Baekhyun menatap gadis di depannya iba.

“Oh. Aku sampai lupa mengucapkan salam…Hai! Namaku Baekhyun, dan kau adalah nona termanis yang pernah kulihat dan aku juga tak percaya, kau akan sangat pantas memakai gaun itu, padahal itu satu-satunya gaun tua yang kami temui di bangunan menyedihkan ini dan kau benar-benar pantas memakainya.” Tanpa mengambil jeda untuk bernapas, lelaki itu terus berbicara dengan acuh seakan tak peduli dengan wajah pucat gadis di depannya yang menyimpan sejuta pertanyaan.

“Baekhyun, sudahlah, apa kau tak melihat Nona Manis kita itu ketakutan melihatmu?” Sebuah suara berat dari lelaki jenjang berkulit putih bersih yang sedang bersandar di daun pintu terdengar.

“Lee Taemin? Apa yang kau lakukan di sini?” Baekhyun tanpa sengaja mengarahkan ujung matanya pada sosok lelaki bertopeng Vendetta yang berdiri di sebelahnya. Tentu ia tak dapat melihat raut wajah tampan milik lelaki yang tengah memakai topengnya tersebut, namun setidaknya ia bisa merasakan bagaimana lelaki itu menggeram penuh kemarahan. “Bukankah seharusnya kau memakai topengmu, Lee Taemin?” Dengan nada bergetar, Baekhyun melayangkan pertanyaan tersebut pada pria berambut coklat terang itu.

Lee Taemin dengan ringan mengendikan bahunya dan justru berjalan cepat hingga berdiri berdampingan dengan lelaki bertopeng Vendetta. “Bukankah kita akan menyelesaikan apa yang kita bicarakan tadi, sekarang? Mari kita selesaikan, tapi oh, tunggu, biarkan aku mengenalkan diriku pada Nona Manis kita ini.”

“Tidak perlu. Kurasa, kau tidak perlu berkenalan dengan dia, Lee Taemin.” Suara Baekhyun mulai merendah seiring dengan pria bertopeng Vendetta yang mencengkram lengan atas Lee Taemin geram. Yah, Baekhyun sedikit berlega karena lelaki itu mengenakan topengnya karena setidaknya, ia tidak perlu untuk melihat dengan matanya sendiri bagaimana murkanya raut wajah lelaki itu.

“Aku akan menjadi lelaki yang tidak punya sopan santun jika tidak bertukar salam dengan tamu kita ini.”

“Tidak perlu.” Suara yang tertelan oleh topeng Vendetta berbahan kayu tersebut, terdengar sangat amat rendah dan berat.

“Namaku Lee Taemin. Kau mengingatku, Nona Manis?”

Di saat pria ber-jas dengan topeng Vendetta mulai mengeraskan cengkramannya di lengan atas pria bernama Lee Taemin, seiring pula dapat terdengar gemelutuk kekehan geli milik Lee Taemin yang kembali tersenyum tipis dan memuakan di mata siapa saja yang melihatnya, Baekhyun berteriak, “PARK CHANYEOL! KEMARILAH! AKU MEMANGGILMU!”

Namun, teriakan itu diakhiri oleh sebuah pukulan yang mendarat begitu keras di sebelah pipi Lee Taemin yang terus-menerus tertawa kecil seiring dengan belasan pukulan yang mendarat di beberapa bagian tubuhnya.

“Demi Tuhan!” Byun Baekhyun berbisik pelan melihat kedua lelaki di depannya.

Semua bergerak begitu cepat di mata sang gadis, ketika seorang lelaki bertubuh tinggi tegap yang entah darimana datangnya, mencengkram erat kedua pundak lelaki bertopeng Vendetta dari belakang dan menjatuhkan begitu saja tubuh itu ke atas lantai keramik. Baekhyun yang terus menerus berteriak dan menerjang Lee Taemin untuk keluar dari ruangan tersebut dan juga desisan-desisan pelan Lee Taemin yang entah mengapa selalu membuat si pria bertopeng geram hingga berusaha untuk kembali bergerak dan melayangkan pukulannya.

Hingga bisikan-bisikan Lee Taemin terdengar semakin jelas di sepasang telinganya. Bisikan itu…sebuah bisikan bagaikan sebuah mantera…bisikan yang di dengarkannya beberapa waktu lalu…

Nora…Nora…

“Kau mendengarnya, Nora? …Nora?” Lee Taemin entah sejak kapan menerjang dirinya, mencengkram kedua bahu kurusnya sehingga tubuhnya jatuh tertidur dan berada di bawah tubuh lelaki itu. “Nora…Gadis kecil yang kami sayangi…Gadis kecil penghianat…Gadis kecil yang telah kembali…ragamu akan hancur…mereka akan menuntut dosa masa lalumu…Nora Sayang…”

Gadis itu terpaku pada sepasang mata yang bersinar coklat terang di depannya. Kepalanya serasa melayang, serasa menghilang seiring dengan intimidasi mata itu. Bibirnya perlahan memucat, tubuhnya bergetar ketakutan…

Mata kucingnya bergerak ke kiri dan kanan, berusaha melihat apapun yang ada di sebelahnya untuk ia gapai, untuk ia gunakan sebagai pelindung, untuk ia gunakan agar menjauhkan tubuh lelaki yang menimpanya, ia ketakutan, sangat ketakutan.

“Jawabanmu untuk pertanyaanku saat ini…akan menentukan masa depanmu…jadi, jawablah dengan baik, Nona Manis…” Lee Taemin tersenyum tipis kemudian mendaratkan bibirnya perlahan di sebelah pipinya dan terdiam di sana, seperti mengendus wajahnya perlahan sebelum kembali menjauhkan bibirnya. “Siapa aku?”

Sang gadis terpaku. Siapa dia? Dia? Siapa?

“Kau—Lee…Taemin.” Hanya itu jawaban yang terlintas di otaknya.

“Manis sekali. Kau tahu namaku. Tapi Nona Manis, bukan itu maksud dari pertanyaanku, maksudku adalah…siapa aku bagimu? Jawablah.”

Lee Taemin kembali tersenyum tipis. Mata coklat itu masih mengintimidasinya, menjeratnya di dalam kegelapan yang tersimpan di sana. “Siapa?”

Gadis tersebut menelan ludahnya. “AKU TIDAK TAHU! LEPASKAN AKU! SEKARANG!” Dia mulai meronta seiring dengan bisikan-bisikan Lee Taemin yang semakin menyakiti kepalanya.

Mata kucingnya kembali bergerak hingga mendapati celah di antara lengan Lee Taemin yang menjulang di kedua sisi tubuhnya. Di sana, ia melihat sang pria bertopeng Vendetta berdiri tegak menghadapnya dengan tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya. Hingga, “Tolong aku! Kumohon! Apa kau hanya akan berdiri di sana dengan topeng memalukanmu itu?” Dengan sisa suara di tenggorokannya, ia kembali memekik nyaring dengan kedua mata coklatnya menatap lurus ke arah pria itu.

Air matanya mengalir seiring dengan cengkraman Lee Taemin di puncak kepalanya, memaksanya untuk mengangkat kepala dan menatap mata coklat milik lelaki itu kembali. “Lepaskan aku, Bajingan!” Napasnya putus-putus seiring dengan kalimatnya yang bergetar. Ia benar-benar ketakutan.

Hingga Lee Taemin kembali tersenyum picik seiring lelaki itu mengangkat tubuhnya namun tetap mencengkram rambutnya hingga tubuh sang gadis terpaksa bangkit di saat Lee Taemin menghentakkan cengkramannya. “Masih gadis dengan sifat menjengkelkan yang sama.”

“AH!” Gadis itu kembali memekik di saat Lee Taemin menarik rambutnya dan membisikan kata-kata yang membuat kepalanya berdenyut. Kini, ia dapat melihat dengan terang bagaimana lelaki bertopeng Vendetta berdiri kaku di depannya. “Tolong aku…”

Dapat ia dengar bagaimana lelaki itu menggertakan rahangnya keras. “Lepaskan dia, Lee Taemin.”

“Oh. Oh. Jangan coba untuk  maju selangkah pun, atau…bum! Gadis ini akan mati di tanganku…” Lee Taemin melingkarkan lengannya di bahu sang gadis dan tersenyum senang.

“Brengsek! Lepaskan aku, Bajingan!”

“Oh, dimana kau belajar kata-kata mengerikan seperti itu, Nora? Seorang Nona semanis dirimu tidak pantas mengatakan kata itu.” Lee Taemin mendengus geli dan kembali mencengkram rambut gadis itu dan senyumannya semakin melebar ketika sang gadis memekik kesakitan. “Itu hukuman kecil karena telah mengatakan kata-kata tadi.”

“Demi Tuhan! Lepaskan dia!” Suara Byun Baekhyun terdengar menggema di ruangan itu.

“Jangan mencoba menyerangku, Park Chanyeol. Apalagi dari belakangku. Kau tahu betul kekuatanku, benar?” Lee Taemin memutar badannya dan menghadap pria tinggi yang hendak menerjangnya dari belakang.

“Apa yang harus kulakukan, Lee Taemin?” Pria Vendetta berdiri tegap di sana namun dengan pasti, tangannya bergetar dan keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya, begitu pula darahnya yang berdesir kencang. Melebihi apapun, ia merasa ini adalah ketakutan terbesarnya.

Lee Taemin mendengus geli kemudian tertawa terbahak. “Lucu sekali. Kau? Akan melakukan apa saja? Konyol.”

“Aku akan melakukan apa saja.” Penegasan dari lelaki Vendetta semakin membuat Lee Taemin tertawa keras.

Taemin tersenyum tipis kemudian mencium kembali pipi sang gadis dan mengendus setiap garis wajah sang gadis. “Bagaimana dengan berlutut dan memohon padaku?” Kata-katanya diakhiri oleh cengkraman di rambut sang gadis dan menyebabkan pekikan nyaring itu terdengar. “Bagaimana?”

Tak perlu menunggu menit berganti, lelaki bertopeng Vendetta tersebut berlutut di depannya, menundukan kepalanya begitu dalam.

“Kai—lelaki sempurna yang begitu dielu-elukan…kau berlutut padaku yang selalu kau cela lelaki menyedihkan tanpa apa-apa ini?”

“Lepaskan dia…”

“Topengmu. Tunjukan wajahmu…”

Sang gadis tercekat. Walaupun ini terhitung kedua kali untuknya menatap wajah itu, namun tetap ia merasakan bagaimana jantungnya menggaung berdetak begitu cepat. Tertelan oleh wajah tampan berkulit kecoklatan dengan mata segelap malam, tulang pipi serta rahang yang tegas sempurna. Namun, melebihi kesempurnaan raga lelaki di balik topengnya, ia terpukau oleh raut wajah penuh kekhawatiran yang tersirat di sana, mungkin dirinya memang bukan tipe pengharap berlebih namun dapat ia akui, kali ini ia sungguh berharap kekhawatiran itu memanglah mutlak dilayangkan untuk dirinya.

Lee Taemin kemudian dengan kasar mendorong pundaknya dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke arah Park Chanyeol yang dengan sigap menangkapnya. Lelaki itu kemudian berjalan lurus ke arah sang pria Vendetta yang telah melepas topengnya, menunduk, menyamakan posisi wajah keduanya kemudian mendengus geli. “Aku mengalahkanmu, Tuan Sempurna.”

Langkah lelaki itu terdengar begitu berat hingga dengan sengaja mendarat di topeng Vendetta yang tergeletak di lantai setelah dilemparkan begitu saja oleh sang empunya. Meninggalkan topeng berwarna pucat itu dalam keadaan retak di bagian matanya.

Semua diakhiri oleh debaman pintu dan tawa tanpa henti milik Lee Taemin yang masih terdengar dari luar ruangan.

Masochist? Psikopat? Aih, kata-kata itu terlalu sederhana untuk mendeskripsikan dia.” Byun Baekhyun berusaha untuk menaikan atmosfer di antara keempatnya walaupun jelas terdengar napasnya masih memburu.

“Siapa dia?” Sang gadis mulai menenangkan dirinya dan memilih untuk menatap pria Vendetta yang mulai bangkit dari lututnya.

Pria itu memilih diam dan memungut topeng malangnya yang teronggok di tanah.

“Lee Taemin.” Park Chanyeol dengan senyuman khasnya menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh gadis di dalam rengkuhannya.

Byun Baekhyun tersenyum tipis. “Lepaskan dia, Chanyeol. Kau benar-benar mencari kesempatan untuk memeluk tamu manis kita ini.”

Park Chanyeol masih dengan senyuman lebarnya mengangkat kedua tangannya yang sebelum ini melingkar di tubuh sang gadis. “Oh, maaf untuk sikap tidak sopanku.”

Debaman langkah berat milik si pria Vendetta merubuhkan begitu saja percakapan hangat yang berusaha dibangun oleh Park Chanyeol serta Byun Baekhyun. Tanpa kata-kata keluar dari bibirnya, dengan menggenggam topeng, dengan langkah panjang dari kaki jenjangnya, lelaki itu bergegas keluar dari ruangan. Ya, tanpa sepatah kata apapun.

Meninggalkan puluhan pertanyaan yang menyangkut di tenggorokan milik sang gadis. Meninggalkan ribuan pesona yang tertinggal di dada sang gadis. Begitu pula dengan ratusan perasaan yang berkecamuk di seluruh tubuhnya.

Nora…Nora…

Selamat datang di dunia tanpa eksistensi.

Dosa adalah dosa.

Masa lalu adalah masa lalu.

Tebuslah semuanya…dengan jiwa dan ragamu…

Gadis manis penghianat…

Macabre (I)

The Vendetta Masked Boy

– Fin –

3 thoughts on “Macabre (1st)

  1. sumpah demi janggut merlin, ini fic fantasy terbagus yang pernah aku baca! apapun aku bahkan perlu mencerna tiap kata-kata selama beberapa menit, baru meneruskan membaca, dan itu mengasyikkan!
    aku suka tiap penuturan kata-kata di fic ini yang benar-benar buat aku ke dunia fantasy khayalannya author..😀 dan mungkin (bukan mungkin lagi sih ya) ada banyak kalimat yang sama sekali kurang bisa aku pahami TT

    dan aku masih ngga paham gimana bisa si Krystal ketemu sama Kai, terus peran Baek-Chan-Taemin aku juga belum sepenuhnya paham -__-
    terlalu banyak kalimat yang buat aku pusing, tapi yah karena ini fic fantasy dan emang seharusnya begitu😀 tapi, serius deh aku suka banget sama ff ini xD sebenarnya aku udah lama pengen baca, cuman baru kesampaian sekarang, dan aku sedikit menyesal ngga baca dari dulu u,u tapi gapapa😀
    ah mungkin kalau ff ini dikirim ke IFK, responnya bakal lebih bagus😀

    at least, aku sangat menantikan kehadiran 2nd chapternya😀

    • Annyeong^^
      Kyaaa~ ini commentnya panjang, aku suka :*
      Jeongmal? Fic fantasy terbagus? Aih, Unnie, ini masih berantakan kok penulisan dan macam”nya, keke~^^ masih butuh belajar^^
      Apa kata-kata yang kupakai terlalu rumit ya? Sulit dimengerti kah? Mian, kalau banyak kalimat yang kurang bisa dimengerti ne😦
      Yup, di chap ini memang sengaja masih banyak yang burem (?) tentang Krystal, tentang Kai, tentang BaekChan, tentang Taemin, di chap ini masih belum terlalu diusut🙂
      Oh, IFK ya? Aku pernah mampir ke sana, and yup, banyak FF fantasy di sana yang keren” dan kurasa aku belum sampai di level author” IFK deh Unnie, keke~^^
      Ne, makasih udah mau membaca dan comment di FF-ku^^
      Ditunggu yaa 2nd chap-nya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s