[Ficlet] Fried Noodle

fried noodle

®

ranabilah

|| Main Cast : Jung Soo Jung – Choi Minho || Length : Ficlet || Genre : Family, AU, Life? ||

|| Rating : G || Disclaimer : Plot cerita milik saya, para cast milik tuhan. ||

A/N

Sebelumnya pernah dipublish di sini.

Dan, anggap saja Minho dan Soojung itu saudara kandung ya.

®

Langkah kaki Soojung segera berlari kecil ke arah pintu utama Apartemen miliknya dan kakaknya ketika mendengar suara bel yang berbunyi, segera diraih olehnya dan memutar bagian kenop pintu tersebut.

Oppa!,” pekik Soojung riang ketika melihat sosok kakak laki-lakinya berdiri di ambang pintu. Soojung segera memeluknya, dan Minho-nama sang kakak pun membalas pelukan dari adiknya seraya mengusap-usap lembut surai halus milik Soojung.

“Kau sudah makan malam?,” tanya Minho sambil melepaskan pelukan Soojung, padahal sesungguhnya hari ini ia memang harus bekerja, namun belum sampai berhari-hari ia meninggalkan Soojung untuk dinas keluar kotanya lusa, ini saja sudah membuat Soojung merasakan parahnya sebuah  kerinduan.

“Belum, lagipula siapa yang pandai memasak disini selain oppa? Meskipun terkadang kurang enak sih.” Soojung mengerucutkan bibirnya seraya melangkah masuk ke dalam. Mendengar pernyataan adiknya itu membuat Minho menggeleng kepala. Sudah tahu tidak enak, kenapa masih dimakan? Batin Minho sambil melepas dasi dari jasnya dan berlalu memasuki Apartemen miliknya berdua bersama Soojung.

“Hhh, baiklah, kau tunggu saja di kamar, oppa yang akan memasak makan malam hari ini.”

®

“Wah, malam ini makan apa ya?,” ucap Soojung menebak-nebak dari arah belakang kakaknya yang sedang memasak hidangan makan malam sembari menduduki kursi meja makan.

Aktivitas memasak Minho akhirnya terhenti, kemudian dia berbalik dengan membawa dua mangkuk hidangan makan malam hari ini. Soojung yang sudah merasa tidak tahan dengan aroma masakannya pun mulai mengendus baunya untuk menebak apa isi dari mangkuk tersebut.

Glek

Bola matanya melebar, lalu berputar dan tautan di alisnya sudah semakin jelas terbentuk sekarang. Hembusan nafasnya yang berat sedikit menjadi bukti bahwa dia tidak suka dengan sesuatu yang berada di hadapannya– mungkin tepatnya, sesuatu yang baru saja diletakkan oleh seorang Choi Minho.

Mie goreng? menu makan malam seperti apa ini?.

“Ada apa? Kau tidak suka? Cicipi saja dulu, rasanya pasti enak kok,” ujar Minho sembari mulai memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.

Braaakk

 

Soojung membanting sendok dan garpu yang sedetik lalu masih berada di genggamannya seraya berdiri, di bantingnya kursi tempatnya bernaung dengan sisi samping meja makan, lumayan menghasilkan bunyi yang cukup keras tentunya.

“Aku tidak mau makan!.” Minho melongo, matanya yang bulat melebar, memandang salah satu dari sekian tingkah aneh Soojung untuk kesekian kalinya.

‘Kenapa? Bukankah ini enak? Coba saja Soo-“

“Tidak mau!,” ucap Soojung lantang seraya berbalik meninggalkan ruang makan, namun tangan Minho telah berhasil menggapai terlebih dahulu pergelangan kecil tangan Soojung, sehingga membuat gadis itu harus memutar arah lagi.

“Kenapa?” tanya Minho penuh selidik, Soojung hanya memasang raut kesal, sedikit kerut di pipinya membuatnya terlihat lebih dewasa.

“Pokoknya tidak mau!”

Oppa tanya serius, kenapa kau tidak mau makan?” ujar Minho lembut, berupaya agar setelah ini Soojung mau menjelaskan titik utama permasalahannya.

®

Nihil, tidak ada respon. Kepulan nafas Minho yang setengah kesal menguar di udara bercampur dengan asap dari Mi goreng punya-nya dan Soojung yang kini mulai tidak hangat. Tekanan cengkramannya terhadap tangan Soojung mulai melemah, seolah seperti baru saja memberikan peluang untuk suatu makhluk itu kabur dari kandangnya.

“Kau ini kenapa Soojung? Ayo makan, oppa tau hampir setiap masakan oppa itu tidak selamanya enak, tapi ini kan Mi instan, pasti akan enak hasilnya walaupun dimasak oleh orang yang tak pernah memegang kendali dalam urusan memasak sekalipun sebelumnya.” Jelas Minho panjang lebar, berusaha membuat Soojung segera berpolah ‘normal’ dan mau memakan makanannya meski ia sendiri pun tidak tahu penyebab dari kelakuan Soojung kini.

“Jika aku berkata tidak ya tetap saja tidak!.” Kali ini suara Soojung kian melemah, malah membuat bulu roma Minho sedikit tegang. Minho menghela nafas, bibirnya sedikit ragu untuk membuka suara kembali.

“Sudahlah, aku mau belajar saja,” kata Soojung. Dengan berat hati, Minho pun membiarkannya pergi.

“Tapi, beritahu aku dulu kenapa kau tidak mau makan, ya?” tanya Minho sekarang. Soojung menatapnya sendu, memutar bola matanya dan mengernyitkan dahinya kesal.

“Kau tahu bahwa besok adalah Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas, kan?” Minho mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang keluar dari Soojung. Memang benar bahwa besok adik kesayangannya itu akan mngikuti tes Ujian Akhir Nasional.

“Dan kau pasti tahu bahwa besok dan 3 hari kedepannya, kami semua akan di hadapkan dengan sebuah penantian yang pasti, penantian yang selama 3 tahun ini kami tunggu, sebuah penantian dimana selama ini kami selalu di gantungkan dan pada akhirnya pun penantian yang kami nanti itu hanya akan ditentukan oleh 4 hari yang selalu menurutku itu tidak berguna. Kau pasti tahu itu semua kan?” Kali ini Minho mengangguk yakin.

“Aku tahu itu semua,” ucap Minho seraya memandangi wajah adiknya lekat. Soojung menghelas nafas lega, lalu berucap kembali.

“Dan kau juga pasti tahu apa saja kerugian dari Mi Instan untuk pelajar yang akan menghadapi Ujian Nasional tersebut, bukan?. Mulai dari otak yang akan mengalami kebodohan, saluran pencernaan yang hanya akan sanggup untuk mencerna isi kandungannya yang selama ini di curigakan berasal dari plastik selama 3 hari berturut-turut. Daaa—“

“Kebodohan? Yatuhan, astagaaaa!!.” Tawa Minho yang mulai meledak sudah tak dapat di hindarkan, tawanya yang menggema ke seluruh ruangan itu bervolume sangat keras. Soojung yang mendengarnya itu pun memandangnya kaget. Lalu berusaha sadar dengan kondisi ‘Minho-tertawa-karenamu-anak-pintar’.

 

Minho mulai mengatur nafasnya kembali, degupan jantungnya yang keras akibat tertawa cukup kuat itu membuatnya hampir kehabisan separuh cadangan oksigen miliknya.

“Hhhh, ok- maafkan aku sebelumnnya karena telah menertawakanmu. Tapi yang benar saja? Makan semangkuk Mi hari ini dan besoknya kau akan menjadi bodoh? Yatuhan, mimpi apa aku semalam!.”

“Tapi tadi pagi saja aku sudah menghabiskan 5 mangkuk Mi instan!” sela Soojung cemberut, kalau tahu begini lebih baik dia tidak usah mengutarakan tujuan utamanya tadi. Huh, menyebalkan saja.

“Ckck, meskipun begitu, tetap saja tidak berpengaruh langsung terhadap kepintaran, pengaruhnya baru akan bisa dilihat beberapa tahun ke depan,” ujar Minho. Mulut Soojung setengah membuka, tidak menyadari akan kesalahan yang telah ia perbuat.

“Apa maksud oppa?” tanya Soojung. Minho segera meraih bahu Soojung dan merangkulnya.

“Anggap saja begini, setiap hari selama setahun penuh kau selalu memakan Mi Instan tersebut, dan selama setahun itupula kepintaran tidak akan berubah menjadi kebodohan, namun dampaknya berangsur-angsur akan tetap terlihat. Semakin lama kemampuan otakmu dalam menerima pelajaran akan berkurang, semakin lama, dan pada akhirnya, mungkin 5 tahun kedepan IQ-mu sudah menurun sejauh 50% dari IQ sebelummu. Kau mengerti?”

Soojung mengangguk ragu, kemudian menggigit bibir bagian bawahnya.

“Jadi.. “ ucap Soojung terputus.

“ya?” Minho melirik ke samping,

“Apa aku tetap boleh makan Mi, sekarang?” tanya Soojung gelagapan. Minho tersenyum jahil.

 

“Tentu saja boleh” Soojung ikut tersenyum lebar mendengar jawaban dari kakaknya tersebut, segara saja dia beralih kembali ke meja makan dan dengan terburu-buru langsung memakan Mi goreng tersebut.

“Padahal sehabis ini niatnya oppa ingin membeli Teriyaki, tapi karena kau sudah makan. Dengan senang hati Teriyaki itu akan oppa makan sendirian nanti.” Minho berjalan ke luar Apartemen dan menutup pintunya, Soojung membuka mata sesaat, melebarkan bola matanya yang seolah-olah akan segera keluar dari letaknya dan sebagian kunyahan mi goreng yang berada di ujung mulutnya terjatuh, lengkap dengan air liurnya.

 

End

A/N : Halo, perkenalkan saya author baru disini :) sebenarnya saya ingin mempublish ff pertama saya disini dengan ff yg masih segar/? kebetulan juga draft ff f(x) di komp lumayan banyak, tapi karena masih banyak yg harus dibenahi. Mungkin lebih baik ff ini menjadi pembuka(?)-nya (?) :)

Jangan lupa tinggalkan komentar ya :)

8 thoughts on “[Ficlet] Fried Noodle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s