Believe (Chapter 2)

believe

 

BELIEVE || Written by pearlshafirablue || Staring by Jung Soojung [f(x)] – Kris Duzihang [EXO-M] || Action – Suspense – Thriller || PG-15 || Chaptered [2 of ?] ||

Previous Chapter
Teaser . 1

 Poster by almahonggi99

Disclaimer
The characters are God’s and themselves’. But the story is mine. Suzanne Collins’ novels are my inspiration, such as Hunger Games and Catching Fire. I don’t make money for this.

pearlshafirablue®

            “Buat apa kau mengikutiku, bodoh!”

“Maafkan aku! Aku hanya ingin memastikan bahwa kau selamat sampai tujuan!”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Duizhang-ssi. Lihatlah apa akibatnya! Jangan salahkan aku karena kau persis seperti penjahat tadi.”

Soojung melempar sehelai handuk dingin ke arah pangkuan Kris. Kris memandang Soojung dengan heran.

“Rawatlah lukamu. Aku tidak mau dituntut hanya karena hal bodoh seperti ini.” Ketus Soojung sambil berjalan keluar kamar.

Tiba-tiba, Sooyeon menghampiri Soojung. “Bagaimana keadaan temanmu, Soojung-ah? Dia baik-baik saja?” Tanyanya khawatir.

“Bukan urusanmu.” Kilah Soojung sambil berlalu. “Dan satu lagi. Dia bukan temanku.” Tambahnya.

Gadis itu berjalan keluar rumah, mencari obat luka untuk Kris. Dia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin tadi dia menghajar Kris? Bagaimana mungkin ia tidak sadar bahwa orang yang menguntilinya adalah seorang lelaki lemah seperti Kris?

Ya, setelah insiden tadi, Soojung baru sadar bahwa orang yang ia pukul adalah Kris Duizhang—lelaki menyebalkan yang telah mengganggunya tadi. Melihat luka di pelipis Kris yang begitu parah, Soojung membawanya ke rumah, dan berniat membalut lukanya.

Dasar bodoh. Umpatnya kesal.

pearlshafirablue®

            “Jung Soojung.” Nyonya Jung memanggil anak bungsunya itu saat Soojung baru saja menutup pintu depan. Kris baru saja pulang dari rumahnya.

“Apa?” Sahutnya ketus. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Minta maaf pada eonni-mu.” Perintah Nyonya Jung.

Soojung membulatkan matanya terkejut. “Minta maaf?! Memangnya aku salah apa?!”

“Kau masih tidak menyadari kesalahanmu?!” Nyonya Jung mendekati anaknya. “Apa menurutmu menjadikan eonni sebagai pesuruh bukan kesalahan?! Dia eonni-mu, Jung Soojung! Dialah yang telah menemani hari-harimu dari kecil!”

“Dia bukan eonni-ku!” Bentak Soojung. “Apa eomma tidak mengerti juga?! Aku bukan adik Jung Sooyeon dan aku juga bukan anakmu! Apa kau tidak pernah menyadarinya?! Aku hanya seorang anak terlantar yang tidak tahu siapa orangtuanya. Aku tidak pernah menganggap kau sebagai eomma-ku atau Jung Shin Ga sebagai appa-ku! Apalagi menganggap Jung Yunho dan Jung Sooyeon adalah saudaraku! Tidak akan pernah!”

Sekelebat tangan bergerak cepat dan langsung mendarat di pipi mulus Soojung.

PLAK!!!

Sebuah tamparan yang memilukan.

“Jaga omonganmu, Soojung!” Hardik Nyonya Jung. “Dasar anak durhaka! Sudah lelah eomma dan appa-mu ini merawatmu sejak kecil tapi kau tidak pernah menganggap kami sebagai orangtuamu?!”

“Ya, tidak akan per—”

Ya! Ada ribut-ribut apa ini?!” Tiba-tiba Yunho dan Sooyeon datang dari lantai atas. Mereka berdua memandang Soojung dan eomma mereka bergantian. “Soojung, kau berbuat masalah lagi?”

“Aku?!” Kemarahan Soojung meningkat. “Kenapa harus aku?! Kenapa di setiap ada masalah pasti akulah dalangnya?! Kenapa?! Apa menurut kalian aku sudah seperti masalah?!”

“Bukan begitu, Soojung. Maksud oppa—”

“Diam kau, Sooyeon!” Bentak Soojung. “Jika ada yang mau kalian salahkan, lebih baik salahkan wanita tua ini!”

Yunho dan Sooyeon terhenyak mendengar perkataan Soojung. Mereka berdua tidak menyangka adik bungsungnya bisa seketerlaluan ini.

“Soojung, cukup!” Hardik Yunho. Soojung langsung terdiam. Suara Yunho benar-benar tidak pernah sekeras ini. “Kau sudah keterlaluan! Dia ibumu, Soojung! Ibu yang merawatmu sejak kecil! Persetan dengan ibu kandung atau tidak, yang jelas eomma-lah yang telah merawatmu! Kalau tidak ada eomma yang menyelamatkanmu waktu itu kau pasti sudah mati sekarang!”

Suara bentakan Yunho menggema di seluruh ruangan. Nyonya Jung, Sooyeon maupun Soojung tidak ada yang berani berkomentar. Mereka diam dalam keheningan yang panjang.

Akhirnya suara Yunho kembali memecah keheningan. “Soojung, jika tingkahmu masih seburuk ini, tampaknya—”

“Pergi dari sini kan?” Soojung mengangkat kepalanya—di bibirnya terpasang senyuman lirih. “Tidak perlu kau suruh aku akan pergi dari sini.”

“Apa?!” Sooyeon dan Nyonya Jung tercengang. Sooyeon menatap Yunho meminta penjelasan. “Apa maksudmu, oppa? Kau tidak benar-benar berniat mengusir Soojung kan?”

Yunho menatap adik perempuannya itu lirih. Ia mengangguk perlahan.

“Ti-tidak, oppa! Soojung tidak boleh pergi!” Sooyeon mulai menangis. “Soojung, eonni mohon jangan pedulikan ucapan oppa-mu…”

Sooyeon menoleh ke arah Soojung.

Tetapi Soojung sudah tidak ada disana. Ia hanya mendapati daun pintu yang terbuka lebar.

pearlshafirablue®

            “Mereka pikir aku tidak bisa hidup tanpa mereka?!” Soojung mengumpat kesal dalam perjalanan.

Setelah Yunho membentaknya, ia benar-benar ingin angkat kaki darisana. Tapi ia menyesal tidak membawa sepeserpun uang dan sehelaipun baju.

Soojung terus berjalan di keramaian Pulau Jeju tanpa mempedulikan orang-orang yang berlalu di sampingnya. Ia berjalan tanpa arah.

Soojung melihat sebuah gedung penginapan yang tidak terlalu besar di ujung jalan. Gedung itu tampak rapuh dengan banyak retakan di setiap sisinya. Warna catnya pun sudah mulai memudar. Meskipun begitu, terlihat banyak orang mondar-mandir di sekeliling gedung penginapan tersebut.

Soojung tampak berpikir sebentar dan langsung berjalan menuju gedung tua itu.

“Permisi?” Ucapnya perlahan—sambil menjulurkan kepalanya ke dalam penginapan tersebut.

“Ah, selamat sore, nona. Ada apa?” Tanya seorang wanita paruh baya dibalik konter resepsionis.

“Apa penginapan ini… sedang tidak membutuhkan pekerja?” Tanya Soojung sembari berjalan mendekat ke arah konter tersebut.

“Duh, sayang sekali. Kami sedang tidak membutuhkan pekerja, nona.” Jawab ibu itu—terlihat menyesal.

“Wah, sebenarnya saya tidak punya tempat tinggal—”

“Kalau begitu, menginaplah disini. Masih ada beberapa kamar kosong, nona.” Potong ibu itu cepat.

“Tapi saya tidak punya uang sepeserpun.” Jawab Soojung lirih. Ibu itu terkejut mendengar perkataannya.

“Kalau begitu nona tidak bisa menginap disini. Lihatlah sendiri, betapa bobroknya penginapan ini. Kami butuh uang untuk memperbaikinya. Tidak mungkin kami membiarkan pelanggan yang tidak punya uang menginap disini.” Jawab Ibu itu—kini terdengar lebih ketus.

“Kumohon, Nyonya. Biarkan saya tinggal disini. Saya akan membayar setelah—”

“Biar saya yang membayar.”

Mendengar suara itu spontan Soojung dan Ibu tadi menoleh. Seorang lelaki yang sudah berumur memandang ke arah Soojung dengan seringai terpasang di wajahnya. Lelaki itu memakai tuksedo hitam. Kentara sekali bahwa dia kalangan berada.

“Maaf… siapa Anda?” Tanya Soojung sambil menaikkan satu alisnya. Lelaki itu berjalan mendekati Soojung sambil mengelus-ngelus janggut kelabu-nya. Soojung berjengit.

“Saya adalah pria baik yang kebetulan ingin membantumu, nona.” Jawab lelaki itu sambil menunjukkan senyum miringnya ke arah Soojung.

Jwesonghabnida, Tuan. Tapi—”

“Nyonya, berikan gadis cantik ini sebuah kamar yang paling mewah disini.” Pinta lelaki itu kepada Ibu resepsionis tadi. Ibu itu hanya bisa mengangguk pelan dan buru-buru memeriksa buku tamunya.

Soojung hanya bisa melongo melihatnya. Ia tidak tahu harus merasa senang atau malu. Bagaimana mungkin seorang lelaki tua asing menyewakannya kamar? Terdengar tabu.

“Te-terimakasih, Tuan. Tapi seharusnya anda—”

“Tidak apa-apa, nona muda. Bukan masalah besar. Lagipula sayang sekali jika gadis cantik sepertimu tidur di jalanan.” Ujar lelaki itu sambil memberikan Soojung senyuman.

Soojung hanya bisa membalas senyumnya dan membungkuk tanda terimakasih.

pearlshafirablue®

            “Hft… segar sekali.” Gumam Soojung sembari keluar dari kamar mandi. Ia menggosok-gosok rambutnya yang baru saja ia siram dengan air dan shampoo dengan handuk putih pemberian penginapan.

Ia berjalan ke arah lemari pakaian. Sekarang tubuhnya hanya tertutupi selembar handuk kimono putih.

Kosong.

“Bahkan aku lupa tidak memiliki selembarpun pakaian.” Ucap Soojung sambil menghela nafas. Ia menutup daun pintu lemari tersebut. Hingga akhirnya ia tercengang dan mundur ke belakang beberapa langkah saat menyadari bahwa di ruangan itu dirinya tidak sendirian.

Good evening, sweetheart.”

Soojung diam tidak berkutik. Rahangnya mengeras. Ia menatap sosok pria yang ada dihadapannya. Itu pria tadi.

“Kenapa? Tidak memiliki pakaian?” Pria itu beranjak bangkit dari tempat tidur yang seharusnya ditiduri Soojung malam ini, beringsut mendekatinya.

Soojung tahu ada yang tidak beres disini. Matanya dengan sigap mengawasi ruangan tempatnya berdiri sekarang. Orang ini tidak membawa teman.

Soojung menyumpahi dirinya sendiri karena tidak sadar apa maksud pria ini membayar biaya kamarnya. Ia kembali jatuh di lubang yang sama. Kepercayaan.

“Kemarilah, main sebentar dengan paman—”

Pria mata keranjang itu tidak tahu kemampuan Soojung.

Sepersekian detik kemudian, sebuah lebam merah menghiasi wajah nafsunya. Tubuhnya limbung dan jatuh ke tempat tidur.

Soojung memanfaatkan kesempatan ini dengan segera pergi dari tempat itu. Ia mengambil pakaian satu-satunya yang tergantung di belakang pintu dan langsung menyambar gagang pintu.

Terkunci.

“Aku tidak sebodoh itu.” Desisan lelaki tadi kembali menusuk telinga Soojung. Hatinya serasa diremas. Ia melemparkan tatapan tajam ke arah lelaki tadi—membuktikan bahwa dirinya tidak takut sama sekali.

“Kau menantang ya?” Lelaki itu menyadari tatapan Soojung. Ia mengusap pelan luka memar di kepalanya. “Kau harus membayar ini.” Lanjutnya—menunjuk luka tadi. “Dengan tubuhmu.”

Soojung berjengit jijik mendengarnya. Ia memutar otaknya berkali-kali, mencari kunci ruangan itu—atau apa saja yang bisa membantunya keluar.

Ia belum bisa menemukan apapun saat lelaki itu kembali mendekatinya. Tubuhnya menegang. Ia tidak mau wajahnya muncul di headline berita pagi ini—sebagai korban pemerkosaan. Apalagi kalau keluarga Jung melihatnya. Ia akan malu seumur hidup!

Ketika jaraknya dengan lelaki tadi hanya tinggal semeter, akhirnya Soojung melihat titik cerah. Jendela.

“Kemari… paman hanya mau main sebentar…” Desahan lelaki mata keranjang itu tidak dihiraukan oleh Soojung. Matanya menangkap sebuah vas bunga dan langsung berlari ke arahnya—kemudian ke arah jendela.

Terdengar bunyi memekakkan ketika punggung vas bunga berbenturan dengan kaca jendela. Serpihan-serpihan kaca berterbangan sehingga Soojung harus menutupi wajahnya dengan telapak tangan kirinya. Ia tersenyum lega saat melihat bahwa jarak antara tempatnya berdiri sekarang dan daratan di bawah sana tidak terlalu jauh.

Ya! Apa yang kau laku—”

Belum sempat pria itu melanjutkan, Soojung sudah melompat ke bawah. Handuk mandi yang ia kenakan tersingkap dan memperlihatkan paha mulusnya yang tidak terbalut apapun. Untung saja tidak ada orang di sana saat itu.

Soojung mendarat dengan mulus di atas kanopi ruangan lantai bawah. Mata elangnya kembali mengawasi keadaan sekitar.

Terdengar seruan pria tadi dari atas. Soojung tidak mengindahkannya dan langsung berlari keluar dari wilayah penginapan itu.

Dan tidak sampai 5 menit, pria itu sudah berhasil mengejarnya.

Soojung mendecak.

Kendati gadis ini sangat ahli dalam olahraga beladiri, tetapi dirinya tidak memiliki keahlian sama sekali dalam berlari. Kaki ramping nan panjangnya itu sama sekali tidak bisa diandalkan dalam hal yang satu ini.

Pikirannya terlalu fokus dengan pria tadi hingga ia tidak sadar sebuah tubuh besar berdiri tepat di hadapannya.

Bruak!

Tabrakanpun tak dapat dihindari.

Soojung mengerang, kepalanya terbentur keras sekali. Ia mengangkat pandangannya ke atas. Perlahan-lahan, manik coklatnya membesar.

Kris Duizhang.

“Soo-Soojung?!” Lelaki yang ditabrak Soojung—Kris Duizhang—tak kalah terkejut dengannya. Bibirnya tidak mengatup saking syoknya. “Kau ternyata ada disini! Yunho hyung menyuruhku mencarimu! Dan… kenapa kau mengenakan pakaian seperti itu?”

Soojung mendesis—menghiraukan ucapan terakhir Kris, “minggir. Aku tidak ada waktu mengobrol denganmu.” Soojung menepis tangan Kris yang berniat menolongnya. Ia beranjak pergi meninggalkan Kris dengan sejuta pertanyaan.

“Soojung! Tunggu!” Kris berteriak memanggil. Sekonyong-konyong kaki panjangnya mulai mengejar Soojung.

Sial. Dua pengejar sekarang, batin Soojung.

Ia mempercepat larinya saat mendengar seruan Kris lagi. Pria mata keranjang tadi sudah tidak terdengar. Dan Soojung sama sekali tidak mau kembali ke rumah. Ah, bukan tidak mau, tidak sudi.

Soojung akhirnya berlari tidak tentu arah. Ia sudah keluar dari pusat kota Jeju sekarang. Dirinya lambat laun berlari ke arah hutan. Pikirannya berkecamuk. Tidak ada waktu untuk memikirkan tujuannya sekarang. Yang terpenting adalah lari.

Saking paniknya, Soojung sampai tidak memperhatikan keadaan di sekeliling. Matanya hanya menatap lurus ke depan—ke arah gelondong batang-batang pohon besar yang semakin lama semakin rimbun. Sekonyong-konyong, kakinya—yang hanya beralaskan sandal penginapan—berbenturan dengan akar pohon besar.

Terdengar pekikan memilukan dari bibir Soojung.

Dan sejurus kemudian, dirinya sudah berguling-guling di sepanjang lereng yang tidak berujung. Soojung mengerang, mengeluh, memekik, tapi tentu saja, tidak ada yang bisa mendengarnya.

Handuk mandinya robek dan kotor, kini tubuh Soojung terlihat jelas—kendati masih dibalut pakaian dalam. Perutnya bersentuhan langsung dengan tanah, ranting, daun kering, dan segala macam benda yang dapat melukai kulitnya.

Akhirnya, dataran kembali mulus. Tidak ada lagi lereng atau turunan. Tubuh Soojung berhenti berguling. Kepalanya penat, sekujur tubuhnya luka-luka.

Dengan kesadarannya yang masih bersisa, Soojung menarik celana jeans-nya hingga menutupi setiap inci kaki jenjangnya. Dengan susah payah ia mengenakan kaos merahnya tadi. Kaos itu sudah penuh debu dan pasir. Tapi ia tidak peduli, yang penting sekarang dirinya tidak mati kedinginan.

Soojung mendesah. Matanya berkunang-kunang.

Sepersekian detik kemudian, tubuhnya kembali jatuh,

…dan kesadarannya hilang total.

-to be continued-

P.S
Wow! Akhirnya kelar juga-_- maaf banget kalo ceritanya semakin nggak jelas ya. Still need your review and comments~^^

2 thoughts on “Believe (Chapter 2)

  1. kok keren banget min?

    suka banget karakter soojung disini. mandiri ya.😀
    gamau melibatkan oranglain dlm masalahnya. mungkin kalo aku jadi dia udah minta tolong sama kris. /apa/

    masih agak gapaham nih, jadi kle guling2 gakaruan gitu masih megang kaos sama jeansnya ya?😀

    intinya… ini ff kerber!! pokoknya ditunggu next chapter ya thor~ ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s