Primitive Disease

primitive-disease-daesull

Primitive Disease || Written by pearlshafirablue || Staring by Choi Jinri [f(x)] – Jung Daehyun [B.A.P] || Fluff – Romance – Friendship || Teen || Ficlet

Disclaimer
All of the characters are belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their personality in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.

A/N
Cerita BAP pertamaku! Happy reading!

-o0o-

            “Kau pernah jatuh cinta?”

Jinri berhenti mengunyah French fries-nya seraya menoleh ke arah sumber suara. Daehyun duduk di sebelahnya, tangannya berkutat dengan sebuah balok kecil yang disebut remote. Seketika, film Twilight; Eclipse, langsung berganti menjadi sebuah acara masak.

“Sejak kapan kau datang?” Komentar Jinri—menghiraukan pertanyaan Daehyun yang menurutnya tidak penting itu.

“Kau pernah merasa harimu menjadi 2 kali lebih cerah, 2 kali lebih berwarna dan 2 kali lebih menyenangkan?”

Jinri menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ia kembali mengunyah kentang goreng yang teronggok di pinggir piring. Apa Daehyun sedang sakit?

“Pernahkah kau merasa bahwa darah di dalam tubuhmu mengalir lebih cepat? Atau jumlah detak jantungmu terasa lebih banyak?” Daehyun kembali mengucapkan pertanyaan-pertanyaan anehnya. Matanya menerawang ke atas—ke langit-langit kamar Jinri.

Ya! Kalau kau hanya ingin bersyair disini lebih baik kau keluar.” Keluh Jinri—tangannya meraba-raba piring kentang goreng yang sudah bersih tak bersisa. “Oiya, kalau kau keluar, sekalian bawakan aku kentang goreng lagi ya.” Pinta Jinri sembari memberikan piring melamin berwarna putih tadi kepada Daehyun. Matanya sibuk mencari-cari kertas tisu.

“Pernah tidak, merasa bahwa kau adalah orang paling bodoh di dunia, rela melakukan apa saja demi seseorang. Rela dilempar kapur oleh seongsaenim karena tidak memperhatikan pelajarannya dan hanya melamunkan sosok sempurna itu. Pernah tidak?” Senyum Daehyun mengembang lebih besar. Ia berbicara seolah-olah perintah Jinri barusan hanyalah suara televisi.

“Daehyun? Kau gila? Sinting? Siapa yang telah memukulmu?” Jinri mengangkat satu alisnya dan memasang wajah enek. Gadis tomboy ini benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Daehyun sekarang. “Tunggu sebentar.” Mendadak Jinri tersadar. Sekonyong-konyong kepala mungilnya itu berbalik—menghadap ke arah Daehyun yang masih melukis plafon kamar Jinri dengan imajinasinya. “Apa kau…”

“—sedang jatuh cinta, Daehyun?”

Mendadak wajah Jinri terkena hantaman keras. Ia menarik benda yang telah membuat hidungnya nyeri itu. Daehyun memukul wajahnya dengan sebuah bantal. “Ya! Apa-apaan?!”

“Kau yang apa-apaan! Kenapa kau baru menyadari bahwa aku jatuh cinta?! Bukankah aku sudah mengucapkannya tadi?” Gerutu Daehyun kesal. Bibir Daehyun yang awalnya melengkung ke bawah kini jadi rata seperti ekspresi wajahnya.

“Kenapa kau jadi menyalahkan aku? Apa normal seorang lelaki bodoh yang hobinya menggaruk pantat masuk ke dalam kamar perempuan cantik yang sedang nikmatnya menikmati kentang goreng dengan bumbu balado dan tiba-tiba saja membacakan puisi aneh di depannya? Ayolah, ini bukan kelas sastra.”

Pernyataan panjang-lebar Jinri tampaknya berhasil membuat Daehyun terkekeh. Jinri hanya bisa mendengus sebal dan menahan amarahnya menghadapi lelaki-bodoh-tukang-ngupil-dan-menggaruk-pantat—yang buruknya, sudah menjadi tetangganya selama lebih dari 2 tahun ini.

Anyway, siapa gadis bodoh yang berhasil membuatmu dimabuk cinta seperti ini?”

“Hm? Siapa? Kau benar-benar mau tahu? Dia—”

“Ah tidak penting. Lebih baik kau bantu aku mencari tisu. Apa kau tidak lihat mulut dan bibirku? Penuh dengan garam dan bumbu balado!” Jinri kembali menggerutu. Ia sangat sebal memiliki tetangga yang menyebalkan dan tidak ada gunanya seperti Jung Daehyun.

“Kemari, biar aku bersihkan.” Sekonyong-konyong Daehyun menarik lengan mulus Jinri. Dan tanpa bisa Jinri sadari, Daehyun menempelkan bibirnya di atas bibir Jinri yang masih penuh garam. Ia menciumnya perlahan dan menjilat butir-butir garam yang tersisa disana.

Jinri meneguk salivanya dengan susah payah. Adrenalinnya seolah diminta untuk bekerja lebih keras. Ia tidak berani menatap iris almond Daehyun. Pandangannya kini menjadi terpaku pada tekel-tekel lantai kamarnya yang berwarna biru langit.

“Kau mendapat 2 keuntungan dari ciumanku tadi.” Tiba-tiba Daehyun bersuara. Dengan terpaksa Jinri mendongak. “Yang pertama, bibirmu sudah bersih dan kau tidak lagi harus mencari kertas tisu. Dan yang kedua, kau tahu sekarang siapa gadis bodoh nan tolol yang membuatku bersyair seperti tadi.”

Jinri terpana mendengar pernyataan Daehyun barusan. Ia yakin jika saat ini mereka hanya sedang bersenda gurau di depan televisi sambil menikmati popcorn sehat buatan Nyonya Choi, pasti Daehyun akan menertawai ekspresi bodohnya ini. Tetapi ini bukan saat yang tepat untuk tertawa. Bahkan jika Daehyun benar-benar tertawa Jinri tidak yakin akan bisa memberinya pelajaran—walaupun hanya sekedar mencubitnya.

Daehyun akhirnya mundur beberapa langkah ketika sadar bahwa Jinri tidak merespon apapun. Ia tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. Tubuhnya perlahan berbalik memunggungi gadis cantik bernama Jinri itu. Pintu kamar Jinri nyaris saja tertutup saat tiba-tiba terdengar sebuah suara,

“Apakah aku sebodoh itu, Daehyun?”

Yang bersangkutan, sekonyong-konyong menoleh. Mengangkat satu alisnya heran.

“Memang aku selalu mendapat nilai C untuk pelajaran sastra di kelas, tapi memangnya aku sebodoh itu?” Gumam Jinri—seulas senyum terbentuk di bibir mungilnya. “Betapa tololnya aku membuat lelaki sok tampan sepertimu berhasil membuat syair murahan seperti itu.” Jinri kembali berucap. Daehyun hanya bisa memandangi setiap gerakan bibir Jinri. “Dan yang lebih bodoh lagi…”

Hening.

Daehyun tetap menunggu.

“—kurasa, aku juga merasakan hal yang sama denganmu.”

-o0o-

Kau pernah merasa harimu menjadi 2 kali lebih cerah, 2 kali lebih berwarna dan 2 kali lebih menyenangkan?

Pernahkah kau merasa bahwa darah di dalam tubuhmu mengalir lebih cepat? Atau jumlah detak jantungmu terasa lebih banyak?

Pernah tidak, merasa bahwa kau adalah orang paling bodoh di dunia, rela melakukan apa saja demi seseorang. Rela dilempar kapur oleh seongsaenim karena tidak memperhatikan pelajarannya dan hanya melamunkan sosok sempurna itu. Pernah tidak?

Jika jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah ‘iya’, berarti kau sedang dalam lingkupan perasaan aneh yang tidak bisa didefinisikan secara harfiah maupun istilah. Setiap mahkluk di dunia ini pernah merasakannya—sekalipun hewan (walaupun aku tidak tahu pasti. Ayolah! Mencari tahu apakah hewan pernah jatuh cinta itu adalah kegiatan terbodoh di dunia!). Perasaan itu akan selalu meracuni pikiranmu. Dan ketika sindrom ini menyerangmu, kau sudah tidak bisa berpikir secara logis. Bahkan otakmu sudah tidak bisa kau gunakan. Kau hanya bisa mengandalkan hati saat ini.

Sindrom—penyakit—perasaan—gangguan—atau apalah istilahnya itu bernama cinta.

Primitif sekali bukan?

– Jung Daehyun –

.

.

|| THE END ||

 P.S:
Halohai~~ how about thisNeed your review, ya~^^

22 thoughts on “Primitive Disease

  1. Illa unnie…….kenapa ada suamiku di ceritamu?*Tarik dan sumputin Daehyun.
    Envy deh dengan Sulli yang hebat banget bikin Daehyun bikin syair yang dibilang Sulli itu murahan. ceritanya bagus. bahasanya juga keren..udah dewa deh…
    keep writing ya^^

  2. eonni~ aku barusan obrak-abrik(?) library fxfanfict;pp ketemu fanfict dengan authornya eonni. aku penasaran hehe:D ceritanya bagus, feelnya serius dapet, pemilihan kata-katanya juga bagus ga membosankan, idenya uhm what a good idea ga (italyc) pasaran haha. kep writing eonni^^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s