Believe (Chapter 1)

believe

Believe || Written by pearlshafirablue || Staring by Jung Soojung [f(x)] – Kris Duizhang [EXO-M] || With Jung Sooyeon [GG] – Jung Yunho [TVXQ] as cameo(s) || Action – Suspense – Thriller || PG-15 || Chaptered [2 of ?]

Disclaimer
The characters are God’s and themselves’. But the story is mine. Suzanne Collins’ novels are my inspiration, such as Hunger Games and Catching Fire. I don’t make money for this.

A/N
Suspense, 15+!

pearlshafirablue®

Seoul, South Korea – November, 18th 1994

Malam itu jalanan kota Seoul lengang oleh kendaraan. Malam yang sudah sangat larut dan hujan yang turun deras tanpa ampun itu menjadi faktor utama kenapa kota Seoul menjadi sesepi ini. Hanya segelintir orang yang terdesak oleh hal penting yang masih berada di jalan raya.

  Termasuk sepasang suami-istri itu.

Seorang lelaki paruh-baya yang tampak ringkih dengan pakaian compang-campingnya itu berjalan tanpa gairah. Di sebelahnya tampak seorang wanita yang tak kalah buruknya. Mereka berdua tampak sangat lelah. Terlihat sekali dari seragam mereka berdua, kalau mereka adalah pekerja pabrik.

Ketika sepasang suami-istri itu berjalan melewati sebuah lorong sempit dan gelap, mereka berhenti karena tiba-tiba saja terdengar sebuah suara. Suara yang asing bagi mereka.

Tangisan bayi.

Sang suami menatap istrinya penuh tanda tanya—bingung. Si istri hanya mengangkat bahunya sembari menoleh ke arah sumber suara. Lorong itu gelap. Tidak terlihat apa-apa.

Merasa bahwa tangisan itu semakin keras, sang suami berjalan memasuki lorong sempit itu. Si istri mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan perlahan, tanpa membuat sepatu mereka bergesekan keras dengan aspal jalanan.

Akhirnya mereka tahu apa yang membuat suara itu terdengar sangat memilukan.

Seorang bayi tergeletak tanpa empu di atas tumpukan sampah yang mengeluarkan bau busuk. Si istri langsung terkejut dan tanpa basa-basi ia menghambur ke arah tumpukan sampah itu. Bayi tadi perlahan-lahan menghentikan tangisnya. Bayi berbaju putih yang sudah mulai menguning efek dari sampah-sampah itu mengemut jarinya sambil menatap wanita yang sedang menggendongnya saat ini. Wanita itu tersenyum. Diikuti kikikan riang dari si bayi.

Sang suami yang daritadi hanya menatap keharmonisan mereka berdua langsung bergabung dalam candaan kecil itu. Si istri menatap suaminya itu sebentar—meminta penjelasan atas nasib bayi kecil di tangannya ini selanjutnya. Tidak pikir panjang, sang suami mengangguk mantap.

pearlshafirablue®

Jeju, South Korea – January, 10th 2015

“JUNG SOOYEON!” Terdengar erangan keras dari salah satu rumah di daerah Timur Pulau Jeju. Seorang perempuan berlari tergopoh-gopoh ke arah sumber suara.

“A-ada apa, Soojung-ah?” Tanya perempuan bernama Sooyeon itu dengan ragu. Ia tampak gugup dan takut. Ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya daritadi.

“Kau masih bertanya ada apa?!” Perempuan yang diajak bicara—yang bernama Soojung itu kembali membentaknya. Kemarahan yang membara menyelimuti perempuan itu. “Apa kau tidak lihat?! Kamarku berantakan! Bukankah tadi pagi aku sudah menyuruhmu untuk membersihkannya?! Kau bodoh atau tuli sih?!”

Sooyeon sedikit terhenyak mendengar perkataan adik semata-wayangnya itu. Ia memang bisa melihat dengan jelas bahwa kamar adiknya yang baru tadi pagi ia bersihkan itu sekarang sudah persis seperti pasar ikan yang sering ia datangi bersama ibunya setiap minggu pagi.

Eonni berani sumpah kalau tadi pagi eonni sudah membersihkannya.” Ucap Sooyeon lagi dengan takut. Ia takut bila nada suaranya naik sedikit saja akan menyebabkan Soojung marah besar.

“Terus, kalau begitu, bagaimana caranya kamar ini berantakan lagi?! Kau pikir aku bodoh?! Tidak mungkin kamarku berantakan dengan sendirinya!” Hardik Soojung sambil menuding kakak perempuannya itu.

Sooyeon tidak menjawab. Ia tahu apa jawaban dari pertanyaan adiknya tapi ia tetap tidak menjawab. Ia sadar, bahwa menjawab pertanyaan adiknya itu dengan jawaban sebenarnya malah membuat adiknya semakin menjadi-jadi. Ya, Soojung malah akan bertambah marah jika Sooyeon berkata bahwa anjing kesayangannya itu yang telah membuat kamar Soojung menjadi seperti ini.

“Aaarrggh! Sudahlah! Kau tidak becus! Aku tidak akan pernah percaya padamu!” Dengan kesal, Soojung menutup pintu kamarnya sampai membentur dinding sangat keras. Bisa dipastikan engsel pintu itu sebentar lagi akan lepas.

Suara pintu itu disusul dengan suara isakan seorang wanita dari dalam ruangan tadi.

Soojung menautkan kedua alisnya sambil menatap pintu ruangan itu dengan jijik. Cengeng, pikirnya.

Belum sempat Soojung melangkah, bahunya sudah dicengkram erat oleh seseorang. Tanpa menolehpun Soojung tahu siapa orang-yang-berani-macam-macam-dengannya itu.

Soojung menepis tangan kokoh tadi dengan kasar. Kemudian ia berbalik. “Something’s wrong?” Tanyanya dengan senyuman khas di bibir merah tipisnya itu.

All of these situations are wrong.” Jawab Yunho—orang-yang-telah-berani-macam-macam-dengan-Soojung tadi. Kakak lelakinya.

I don’t think so.” Jawab Soojung sekenanya. Dia memang merasa tidak ada yang salah dengan kejadian tadi. “Itu memang tugasnya. Dan dia tidak mengerjakannya. Apa menurutmu dia tidak salah?”

Yunho mendengus pasrah. Sudah setahun sikap adik bungsunya menjadi seperti ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar memang kesalahannya. Tapi, kenapa Soojung tidak bisa memaafkannya sama sekali? Bukankah jika tidak ada Sooyeon, ia, dan kedua orangtuanya Soojung tidak akan bisa tumbuh menjadi gadis cantik seperti sekarang?

“Dengar,” Yunho memegang kedua bahu Soojung perlahan. Matanya menatap Soojung dengan intens. “Sudah cukup semua ini. Tidak bisakah kau bersikap baik kepada Sooyeon dan aku? Bukankah kami berdua kakakmu? Kenapa kau sekasar ini? Bahkan kepada abeoji dan eomma kau bisa lebih parah daripada ini.”

Lagi-lagi, Soojung menyingkirkan kedua tangan kakak lelakinya itu dengan kasar. Ia menatap Yunho tajam. “Apa kau tidak salah? Kakak?” Sooyeon tersenyum miring. “Aku sudah tidak bisa dibohongi lagi, Jung Yunho.”

Yunho hanya bisa tersenyum kecut memandang Soojung. Ia tahu, tidak akan semudah ini membujuk adiknya itu. “Baiklah. Aku tahu kita memang bukan kakak-adik. Kita tidak sedarah-daging. Tapi tidak bisakah kita tetap berhubungan layaknya teman? Atau sepupu mungkin?”

Soojung menghentakkan kakinya dengan kesal. “Berhentilah, Yunho! Kau bukan siapa-siapaku! Dan aku juga bukan siapa-siapamu! Kau masih mengharapkan aku mau menjadi temanmu?!” Suara Soojung meninggi. “Bayangkan saja, Jung Yunho. Kau hidup selama duapuluh-satu tahun di dalam kebohongan. Kau tidak tahu siapa ibumu, siapa ayahmu, berapa saudaramu… apa menurutmu itu tidak menyakitkan?!” Air mata Soojung sudah menggenang di pelupuk mata. Menandakan bahwa dia sudah sangat marah.

“Soojung, dengar. Ini memang menyakitkan tapi bukankah—”

Bullshitslut.” Kata-kata kasar itu menohok hati Yunho. Ia tidak menyangka adik kecilnya yang dulu sering menangis ketika terjatuh dari sepeda itu kini sudah seperti singa liar kelaparan.

Dengan amarah yang bergejolak, Yunho mendesis, “kalau kau tidak menganggap kami siapa-siapa lagi, kenapa kau tidak pergi saja?”

Soojung hanya tersenyum sebelum sosoknya hilang di balik pintu—tentu saja, setelah mendengar kata-kata Yunho yang terdengar menyindir itu.

Yunho mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal. Ia sadar, bahwa perkataannya tadi telah membangunkan macan yang sedang tidur.

pearlshafirablue®

            “Damn!” Secara refleks Soojung mengerang saat butiran salju jatuh secara bersamaan ke atas kepalanya. Kini ubun-ubunnya terasa dingin dan membeku. Ia menoleh ke atas. Ingin rasanya ia menyumpahi ranting pohon maple yang telah menumpahkan saljunya ke atas kepala mungilnya itu.

Mendadak, ia merasakan ada sesuatu yang lain yang tengah berada di atas kepalanya.

Spontan, Soojung berbalik badan. Buku-buku jarinya sudah membentuk kepalan. Sifatnya yang waspada, keras kepala, dan tidak mudah percaya pada siapapun itu membuat nalurinya cepat menanggapi ancaman.

Meskipun ‘sesuatu lain’ yang tadi menyentuh kepalanya itu bukan sebuah ancaman.

Annyeonghaseyo, Soojung-ssi.” Sapa Kris Duizhang—murid lelaki paling populer di sekolah Soojung. Lelaki keturunan Cina-Kanada itu menatap Soojung dengan penuh keramahan.

Wajah Soojung tetap ia setel sedatar mungkin.

“Apa maumu, Duizhang-ssi?” Jawab Soojung ketus. Ia membersihkan salju yang masih menumpuk di puncak kepalanya. Hal inilah yang membuat Kris tampak sangat tertarik dengan Soojung. Selain ketidakpeduliannya pada lingkungan sekitar, Soojung juga satu-satunya orang yang memanggil Kris dengan sebutan Duizhang. Entah apa maksudnya, yang jelas Kris penasaran dengan gadis ini.

“Aku hanya…” Kris memutar bola matanya. “Ingin mengantarmu pulang. Ini sudah nyaris malam. Apa tidak apa-apa kau pulang sendiri?” Kris menggerakkan sedikit kepalanya hingga membuat poni pirangnya melambai dan jatuh tepat di atas jidatnya. Ia tahu bahwa semua wanita akan terpesona dengan hal itu.

Kecuali Soojung.

Aniya.” Desis Soojung. Gadis itu kembali melangkah meninggalkan Kris yang masih menatapnya heran. Apa Soojung tidak melihat gerakan poninya tadi?

“Tunggu.” Kris mencekal salah satu lengan Soojung—yang langsung ditepis kasar olehnya.

“Ada apa lagi, Duizhang-ssi?!” Kini suara Soojung terdengar kesal. Ia mulai risih dengan tingkah Kris. Matanya menelusuri setiap lekuk wajah Kris dengan tajam. Lelaki ini memang tampan, gumamnya. Tapi sangat mendayu dan payah, ucapnya lagi dalam hati.

“Aku bawa mobil. Dan aku sama sekali tidak keberatan jika kau menempati salah satu bangku di mobilku.” Desak Kris. Tangannya berusaha menahan Soojung.

“Apa kau tidak dengar? TIDAK.” Soojung mengulanginya dengan penuh penekanan. Ia melangkah lagi. Dan kali ini tidak ada suara Kris. Soojung bernafas lega.

pearlshafirablue®

            Langit sudah mulai gelap saat Soojung turun dari bis. Ia melangkah perlahan menuju salah satu rumah di deretan perumahan Jeju square. Tapi mendadak hawa dingin menusuk tubuhnya.

Dan ia juga mendengar bunyi gemerisik.

Soojung berbalik. Bersiap-siap membuat bonyok siapapun yang mengusiknya. Tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya salju yang menggenangi aspal.

Soojung kembali berjalan. Dan baru 3 kali ia melangkah, suara itu kembali terdengar. Dan kali ini… suara itu menunjukan wujudnya.

Suara hantaman keras terdengar. Disusul oleh suara erangan pahit yang memilukan.

Mendadak salju di atas Soojung berdiri menjadi berwarna merah darah.

TO BE CONTINUED

N.B:
Halo! Akhirnya ter-publish juga chapter 1! Maaf ya kalo agak lama c: dan aku gaktau kapan bisa publish chapter 2, soalnya masih banyak yang belum sreg :B Selain itu juga aku lagi ada projek FF lain #plakplak

But I’m trying to do the best~~^^

LEAVE YOUR COMMENT PLEASE

6 thoughts on “Believe (Chapter 1)

  1. wah wah songong nih anak. karma baru tau rasa loh…. ^^
    kan si kriss jadi anak flamboyan. dari tampangnya playboy lagi.

    huhuhhuhu *nangis bareng sica* kasian eonni lu tau ngga sih krys. liat tuh dia nangis dipojok wc.
    akhk abang yunho jadi kakanya krys ama jess.
    malah aku kira si yunho jadi bapanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s